Praja

Praja
22. Satu Kamar


__ADS_3

Praja melangkahkan kakinya dengan langkah yang begitu tergesa-gesa menuju kamar setelah ia meninggalkan meja makan.


"Enak saja aku harus minta maaf, memangnya dia siapa. Dia hanya gadis manja yang tidak perlu diberikan perhatian berlebih."


"Opah selalu memanjakannya. Hanya karena sebuah ayam saja dia sampai menangis seperti itu."


"Gadis menyebalkan."


"Kenapa Opah harus menjodohkan aku dengan gadis itu, menyebalkan."


"Praja! Praja!" panggil Sumbawa yang berlari mengejar Praja yang masih melangkah.


Praja tak peduli. Ia tetap saja berjalan seakan tak mendengar suara panggilan dari siapa pun.


"Praja!" tahan Sumbawa yang langsung berada di depan pintu mencegah Praja masuk ke dalam kamar.


Praja menghentikan langkahnya. Wajahnya menatap malas lalu mengalihkan tatapannya.


"Ada apa lagi?"


"Opah mau bicara."


"Aku sudah mendengar banyak ujaran dari Opah lalu apa lagi yang harus aku dengarkan?"


"Ayolah Praja! Opah hanya ingin kau-"


"Meminta maaf, begitu?"


Sumbawa terdiam. Diamnya ini membuat Praja yakin jika pertanyaannya telah terjawab. Ia menopang pinggang dan mengelus wajahnya sejenak.


"Opah, tolong jangan mengikuti kemauan gadis itu!"


"Praja! Dia bukan seorang gadis tapi istri! Okay! Istri!" Tunjuknya.


Praja memilih diam. Berdebat bukan kebiasaan Praja.


"Uci! Kemari lah!" panggil Sumbawa membuat Praja melirik ke kanan menatap Uci yang terlihat tertunduk sambil melangkah melintasi Praja.


Praja menghela nafas berat setelah melihat Sumbawa yang sedang merangkul bahu Uci membuat Praja menatap ke arah lain. Gadis itu begitu pendek bahkan ia hanya setinggi di bawah telinga Opahnya.


"Praja! Minta maaf!"


"Tidak," tolaknya membuat Sumbawa menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk.


"Baiklah kalau seperti itu berarti kau setuju untuk satu kamar dengan Uci."

__ADS_1


Kedua mata Praja membulat sempurna. Kepalanya langsung bergerak menatap sosok Sumbawa yang terlihat tersenyum.


"Apa?"


Sumbawa tak menjawab. Ia membuka pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam sambil merangkul Uci meninggikan Praja yang mematung di belakang sana dengan wajah tak percaya.


"Opah!" panggil Praja yang ikut melangkah masuk.


"Opah! Apa yang ada di pikiran Opah? Apa Opah sudah kehabisan akal?" ujar Praja tak terima.


Sumbawa tak peduli. Ia menghentikan langkahnya sambil tersenyum menatap menantunya yang terlihat mendongak dan menoleh kiri, kanan melihat setiap sudut ruangan kamar.


"Uci! Malam ini Uci tidur di sini, ya!"


"Di sini?"


Sumbawa mengangguk.


"Tidak! Kau tidak boleh tidur di sini!" larang Praja membuat kedua mahluk yang saling bertatapan itu menoleh kompak menatap Praja.


"Ah, Uci!"


"Iya?"


"Kau jangan dengarkan dia, ya! Dia itu memang seperti itu. Seperti yang Opah beritahukan tadi-"


Sumbawa menatap sekilas pada cucunya yang terlihat khawatir itu. Praja takut jika Sumbawa menceritakan tentang hal buruk dan aneh-aneh mengenai dirinya.


"Uci sekarang kau tidur di sini, ya! Setelah kau tidur di sini bersama pria jelek itu maka Opah akan memberikan permen untuk Uci."


Kedua mata Praja membulat. Ia tak menyangka jika Opahnya juga akan ikut-ikutan memanggilnya dengan sebutan pria jelek seperti apa yang selalu gadis itu katakan jika ia mengejeknya.


"Permen? Uci suka permen."


Sumbawa tertawa rasanya ia memiliki anak kecil di dalam rumah ini.


"Opah akan memberi dua permen tapi dengan syarat pria jelek itu tidak boleh keluar dari kamar ini. Mengerti?"


"Mengerti," jawab Uci semangat.


Sumbawa menoleh menatap Praja yang masih diam dengan sumpah serapah yang ia tabur di dalam hatinya. Sumbawa sudah dua kali mengatakan kata pria jelek.


"Semoga berhasil."


Bibir Praja terbuka seakan tak menyangka dengan apa yang Opahnya katakan. Apa itu berarti Opahnya sedang merencanakan sesuatu. Praja mendecakkan bibirnya kesal, ia baru ingat dengan ucapan Sumbawa jika ia menginginkan cucu. Jadi ini sudah berarti jika menyuruh gadis ini tidur di dalam kamarnya adalah sebagian dari rencananya.

__ADS_1


Praja berlari kecil mendekati pintu berusaha untuk mencegah Sumbawa menutup pintu namun, terlambat pintu itu telah ditutup dan dikunci dari luar.


Praja bahkan baru sadar jika kunci kamarnya juga telah diambil oleh Opahnya.


"Opah!!!" teriak Praja yang menghentak-hentakkan ganggang pintu berusaha untuk membukanya.


"Opah! Cepat buka pintunya!"


"Opah! Opah tidak boleh mengurung aku di dalam kamar seperti ini bersama dengan gadis itu!!!"


"Opah!"


Tak ada jawaban dari luar membuat Praja mendengus kesal. Ia menendang permukaan pintu itu membuat Uci tersentak kaget.


"Apa kau marah?"


Suara manja persis seperti anak kecil itu terdengar dari belakang membuat Praja menoleh menatap Uci yang sedang duduk di pinggir kasur sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.


Praja tak menjawab. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Baik, ia tidak boleh kalah. Gadis ini hanya gadis kecil yang tidak tau apa-apa. Ia telah milyaran kali menghadapi banyak orang jadi menghadapi gadis bernama Uci ini bukan masalah baginya, ya ia harap seperti itu.


Praja melangkah ke arah meja sambil melepaskan jam tangannya dan meletakkan jam tangannya itu di atas meja. Ia sesekali mencuri-curi pandang menatap sosok Uci yang terlihat sedang menatapnya begitu serius.


"Ada apa? Kenapa kau melihat aku seperti itu?"


"Uci punya mata dan mata itu untuk melihat," jelasnya membuatnya tersenyum sinis. Ia yakin jika apa yang telah dikatakan oleh Uci adalah pelajaran yang telah diberikan oleh Opahnya.


Praja duduk di kursi kerja pribadinya, meraih buku yang ada di rak dan berpura-pura sibuk di sana. Ia mendengus kesal setelah mengetahui jika Uci masih tetap menatapnya.


Praja menghiraukan. Ia membolak-balikan kertas dengan perasaan tidak nyaman. Jika ia bisa ia ingin menutup kedua mata gadis itu agar berhenti untuk menatapnya seperti ini.


Praja menutup buku itu dengan keras membuat Uci tersentak kaget di pinggir kasur. Tatapan tajam Praja berhasil membuat gadis itu cemberut.


"Kenapa kau melihat aku seperti itu?"


"Karena Uci punya ma-"


"Mata!" potongnya.


"Yah, aku tau kau punya mata dan jangan melihat aku seperti itu jika kau masih melihat aku seperti itu maka aku akan menusuk mata itu!" ancamnya membuat Uci terkejut.


Ia menutup bibirnya persis seperti anak kecil yang berpura-pura terkejut. Ia dengan cepat menutup matanya membuat Praja menatap bingung. Apa yang gadis ini lakukan?


"Uci tidak mau!"


Praja tersenyum kecil. Mudah sekali gadis ini diancam.

__ADS_1


"Kalau begitu cepat tidur!" Tunjuknya membuat Uci dengan cepat membaringkan tubuhnya ke atas kasur.


Kedua mata Praja mengerjap beberapa kali. Semudah itu? Praja tertawa di dalam hati melihat gadis itu yang memejamkan kedua matanya dengan rapat dan terlihat sesekali kelopak mata gadis itu bergerak membuat Praja yakin jika gadis itu memaksa dirinya untuk tidur.


__ADS_2