Praja

Praja
11. Rencana


__ADS_3

Suara alarm pada jam yang berada di atas meja terdengar dengan nada dering suaranya. Sebuah tangan putih yang terlihat agak kekar menekan di bagian atasnya hingga suara itu lenyap.


Praja melangkah merapikan jam tangan hitam bermerek yang ada di tangannya setelah mematikan alarm jamnya yang berada di atas meja. Lihat lah pria dingin itu kembali mengalahkan jam. Ia lebih dulu bangun dari tidur dari pada jamnya.


Praja membuka gorden besar berwarna hitam, menarik nafas panjang membuat angin subuh yang masih gelap itu masuk leluasa pada indra pembauannya.


Bagi Praja sudah biasa ia bangun dan telah siap-siap dengan jas di tubuhnya di jam yang masih menunjukkan pukul 4 lebih itu. Hari ini ada miting pukul tujuh pagi dan ia tak boleh terlambat untuk datang walaupun perusahaan itu adalah miliknya sendiri.


Praja melangkah keluar dari kamarnya yang berada di lantai tiga. Menelusuri anakan tangga dengan langkah yang begitu berwibawa.


Langkah Praja terhenti mendapati Sumbawa yang sedang melakukan senam di ruang tamu dengan musik dangdut yang agak menganggu pendengaran Praja.


Sumbawa menoleh menatap Praja yang terlihat melangkah menuju meja makan.


"Ah, Praja!"


Sumbawa berlari menghampiri Praja yang terlihat dilayani oleh beberapa pelayan untuk sarapan seperti biasanya. Roti dengan selai kacang bercampur coklat, ya itu makanan saranpan kesukaan Praja.


"Apa kau ingin makan?"


Praja melirik dengan paras wajah datar. Seperti biasa tak ada senyum pada pria dingin itu.


Sumbawa tak menghiraukan tanggapan Praja, ini sudah biasa bagi Sumbawa. Jika mengambil hati tanggapan Praja ini maka setiap hari orang akan merasakan sakit hati.


Sumbawa menarik kursi tepat di samping Praja membuat Praja melirik tajam. Sumbawa meneguk salivanya, sepertinya ia telah salah duduk.


"Ah, maaf!"


Sumbawa bangkit, mendorong kursi agar kembali seperti semula dan berlari kecil menghampiri kursi yang berada cukup jauh dari Praja. Selama ini memang tak ada yang berani duduk di samping pria itu.


"Em, boleh Opah bicara sesuatu?"


"Bicaralah!"


Sumbawa meneguk salivanya. Ia menyentuh dadanya, semoga saja ia tidak jantungan.


"Kau tau besok adalah hari apa?"


"Apa aku perlu menjawab pertanyaan yang telah Opah ketahui?"


Sumbawa membuang pandagannya sambil mengunyah tak jelas. Nasib sekali punya cucu seperti ini.


"Ah, kau tau besok adalah hari minggu. Bukankah kita sudah merencanakan tentang pernikahan?"


Gerakan pisau yang memotong roti tawar yang telah dioles selain kacang coklat terhenti. Praja menoleh menatap Sumbawa yang langsung menunduk gugup. Apa ia salah bicara kali ini.


"Atur saja!"


Kalimat itu yang terlontar dari bibir pria dingin. Setelah memasukkan sepotong roti yang tersisa ke dalam mulutnya ia meneguk habis susu coklat lalu bangkit dari kursi dan melangkah pergi meninggalkan Sumbawa yang tersenyum bahagia.

__ADS_1


Sumbawa bangkit dari kursi lalu menoleh menatap Praja.


"Em, Praja!"


Praja menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Sumbawa yang masih tersenyum sumringah di sana.


"Besok adalah hari pernikahan jadi aku berencana untuk mengatur dekorasi pernikahan di belakang rumah saja. Apa kau setuju?"


"Ya," jawab Praja lalu kembali berpaling dan melanjutkan langkahnya pergi.


Sumbawa mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia tak menyangka jika hanya jawaban singkat itu yang terlontar dari bibir cucunya.


"Em, hari ini aku berencana untuk menjemput gadis itu bersama dengan Digo. Apa aku boleh menjamin Digo selama satu hari ful ini?"


Tak ada jawaban dari pria itu. Sumbawa mengira jika Praja akan berhenti pergi jika ia bicara.


"Ah, pergi lagi. Tapi tak apa dia sudah setuju dan itu berarti hari ini adalah hari yang cukup menyibukkan."


"Berarti hari ini kita akan menjemput gadis itu."


Sumbawa tersenyum kegirangan. Ia berlari kecil menghampiri telpon rumah lalu menekan beberapa tombol di sana.


Triiiiing!!!


Suara nada dering panggilan pada ponsel Digo terdengar dan bergetar di atas meja yang diterangi lampu meja yang cukup redup. Sebuah tangan dengan jari manisnya yang terdapat cincin putih dengan kulit berwarna kuning langsat itu keluar dari selimut putih lalu merabah permukaan meja mencari ponselnya.


Digo meraih ponsel itu dan meletakkannya di telinga hingga suara dari sebrang terdengar.


"Pak Sumbawa?"


Sumbawa mejauhkan telpon dari telinganya. Suara serak Digo menunjukkan jika ia baru saja bagun dari tidurnya.


"Apa kau masih tidur?"


"Pak, jika aku masih tidur maka aku tidak akan menjawab telpon dari Bapak."


Sumbawa tertawa.


"Ah, kau ini. Apa kau telah berolahraga semalam bersama istrimu sehingga kau terlambat bangun. Lihatlah Tuan kau itu telah berangkat ke kantor."


Mendengar hal itu Digo bangkit dari kasurnya dengan kedua mata yang membulat karena terkejut.


"Berangkat? Yang benar saja, Pak?"


"Kau pikir aku berbohong?"


Digo menoleh menatap jam dinding yang masih menunjukan pukul lima pagi.


"Tuhan, pria itu kebiasaan sekali. Pak, tolong nikahkan lah Tuan Praja dengan cepat agar dia tidak bangun awal terus."

__ADS_1


"Ah, kau tenang saja! Sekarang mandi dan siap-siap lah kita akan berangkat ke desa untuk menjemput gadis itu."


Digo menepuk kepalanya dan mengusap rambutnya yang acak-acakan itu.


"Apa desa itu lagi? Pak, apa Bapak tau?"


Digo menoleh menatap istrinya, Putri yang terlihat masih tidur dengan nyenyak tanpa menggunakan sehelai benang sedikit pun.


"Istri ku marah karena jas ku yang terkena muntah."


"Ah, jangan mau dimarahi istri. Kalau dia suka marah-marah maka ganti saja yang baru," ujarnya lalu tertawa.


"Mencari istri memang mudah tapi menikahinya yang sulit."


"Ah, sudah lah Digo! Sekarang jemput aku di rumah! Hari ini kita tidak perlu membawa supir dan hari ini kau yang membawa mobil agar kepala kau tidak pusing seperti kemarin."


"Baik Pak."


"Cepat lah!"


"Eh, tapi pak bagaimana dengan miting?"


"Miting apa?"


"Tuan Praja ada jadwal miting hari ini jam tujuh pagi."


Sumbawa menopang pinggang. Ia mengusap keringat pada wajahnya menggunakan handuk kecil yang berada di atas lehernya.


"Tenang saja! Aku sudah meminta izin kepada Praja.".


"Dia mengizinkan?"


"Tentu saja," jawab Sumbawa bangga.


"Em, baiklah Pak. Aku akan mandi dan berangkat."


"Iya cepat lah. Kau tau hari ini akan menjadi hari yang cukup menyibukkan bagi kita. Aku sudah memutuskan untuk menggelar pernikahan di belakang rumah saja."


"Selain di belakang rumah yang cukup luas, tak ada juga yang akan mengetahui pernikahan ini."


Digo menggaruk kepalanya yang terasa gatal itu.


"Lalu tamunya?"


"Ah, untuk apa mengundang tamu kalau kita punya banyak pelayan untuk dijadikan tamu."


Digo mengangguk dengan kedua matanya yang masih tertutup.


"Tapi Tuan apa gadis itu sudah tau kalau dia ingin dijemput?"

__ADS_1


"Tak perlu pikirkan itu! Cepat bangun dan bersiap lah!"


Sambungan terputus membuat Digo menatap layar telponnya dengan kedua mata yang masih ingin terpejam.


__ADS_2