
Praja menatap tak senang pada foto yang berada di dalam box yang baru saja telah dihantar oleh pelayan ke dalam kamarnya dan tentu saja ia kini berada di dalam ruangan kamarnya yang berada di lantai dua persis bersebelahan dengan kamar gadis yang telah membuatnya pusing.
Praja menghembuskan nafas berat. Ia menutup box itu dan mendorongnya jauh-jauh. Lihat saja wajahnya yang terlihat kaku persis seperti orang yang ketangkap basah setelah mencuri.
"Tuhan, kenapa harus gadis itu?"
Ia meremas kepalanya yang pening. Baru genap 24 jam gadis itu di rumah ini tapi ia telah pusing seperti ini.
Praja melirik menatap permukaan pintu yang telah diketuk dari luar. Ia kembali menunduk seakan tak memiliki niat untuk menyahut. Praja tau siapa orang di balik pintu kamarnya itu.
"Praja!" panggil Sumbawa yang akhirnya memanggil.
Tak ada jawaban dari Praja. Pria itu tetap diam membisu sambil memasang jam tangannya.
"Apa kau gantung diri di dalam?"
"Diamlah dan masuk saja!"
Sumbawa tersenyum dari luar setelah mendengar jawaban dari cucunya. Sumbawa membuka pintu lalu tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
"Apa Opah boleh masuk?"
"Apa Opah tidak mendengar apa yang aku katakan tadi?"
Senyum Sumbawa lenyap dari bibirnya. Ia menghela nafas pendek lalu melangkah masuk ke dalam ruangan kamar.
"Apa kau sudah mandi?"
Kening Praja mengernyit menatap Opahnya sesaat dan meraih buku yang ada di atas meja lalu membukanya.
"Menurut Opah?"
Sumbawa tertawa kaku. Sepertinya pertanyaan yang ia berikan sangatlah salah. Tentu saja pria itu telah mandi dengan pakaiannya yang sudah terganti dan bahkan ia bisa mencium aroma wangi pada tubuh Praja walaupun cucunya itu tidak terlalu dekat dengannya.
Praja melirik diam-diam menatap Opahnya yang nampak menggaruk kepalanya dan menyisir rambut berubannya ke belakang.
"Apa tujuan Opah datang ke sini?"
Sumbawa tersenyum lagi. Ia berniat untuk melangkah mendekati Praja tapi melihat wajah datar pria itu membuatnya mengurungkan niatnya.
"Ah, Opah ingin mengajak kau makan malam di bawah. Anggap saja makan malam ini adalah hadiah pernikahan. Di bawah juga tidak ada Sandigo-"
"Apa ada gadis itu juga ada?" potong Praja membuat kedua bibir Sumbawa tertutup rapat. Nafasnya seakan tertahan di dada.
"Em, yah tentu saja, hahaha."
"Aku tidak ingin makan jika gadis itu ada di meja makan."
"Kenapa seperti itu?"
"Karena aku tidak suka."
"Hah, Praja! Ayo lah, Nak! Dia hanya gadis biasa yang tidak tau apa-apa. Jadi itu berarti kau takut dengan gadis itu?"
Praja menatap bingung. Ia yang sejak tadi duduk di pinggir kasurnya mendongak menatap Sumbawa yang tersenyum jahil sambil mengangkat kedua alisnya.
Praja tersenyum sinis. Ia menutup buku itu dan fokus menatap Sumbawa.
__ADS_1
"Siapa? Siapa yang takut?"
"Kau, siapa lagi? Kau menolak untuk makan malam dengan alasan gadis itu juga ikut makan bersama jadi apa itu tidak bisa dikatakan takut?"
"Aku tidak takut."
"Kau takut, sangat takut."
"Tidak!"
"Baik kalau begitu ikutlah makan malam bersama kami dan jika kau tidak turun untuk ikut malam maka otomatis kau takut dengan gadis itu," ujarnya sambil melangkah mundur keluar dari kamar dan terakhir ia menutup pintu dengan rapat.
Praja mendengus kesal. Kedua matanya menajam. Opahnya seakan menantangnya.
"Takut? Siapa yang takut? Praja tidak pernah takut dengan siapa pun kecuali Tuhan."
Praja bangkit dari kasur, melangkah keluar dari ruangan kamar menuju meja makan. Ia harus datang dan menunjukkan kepada Opahnya jika ia tidak takut dengan gadis itu.
Praja memelankan langkahnya ketika ia telah tiba di meja makan membuat Sumbawa dan Uci menoleh secara bersamaan.
Praja melirik gadis itu sekilas. Membuang pandang pada tatapan polos Uci yang menatapnya saat berjalan sampai ia duduk di kursi. Ia menggerakkan kepalanya menatap Sumbawa dan Uci yang masih menatapnya.
"Ada apa? Apa kalian kenyang setelah melihat aku?" tanya Praja tak nyaman.
Sumbawa tersenyum kecil. Ia menunduk menatap makanannya yang masih banyak. Praja menghela nafas, akhirnya ia terbebas dari tatapan Opahnya. Gerakan mata Praja terhenti menatap gadis yang sedang memakai baju tidur bergambar hello Kitty itu yang tetap menatapnya.
"Ada apa?" tanya Praja di tengah keheningan membuat Sumbawa menoleh.
"Ada apa lagi?" tanya Sumbawa.
Praja mengedikkan dagunya menunjuk Uci yang masih menatapnya dengan wajah pasang polos.
"Lalu apa yang salah kalau dia melihat kau?"
Praja terdiam dan ikut menatap gadis itu dengan sorot mata yang membuat suasana menjadi dingin.
"Dia terus melihat aku, Opah!" ujarnya tak terima.
"Dia punya mata. Opah tidak mungkin menutup kedua matanya agar tidak melihat kau."
Praja menghela nafas. Ia membuang pandang berusaha untuk mengabaikan tatapan gadis kekanak-kanakan itu tapi itu tidaklah mudah. Ia tetap saja terusik membuatnya menjadi tidak nyaman.
Gadis itu terlihat sesekali menyuapi mulutnya sambil kedua matanya yang tetap menatap ke arah pria yang berusaha untuk tetap tidak peduli.
"Pak!"
Kening Praja berlipat-lipat disertai kedua alisnya yang mengernyit setelah mendengar suara mungil yang baru saja gadis itu ujarkan.
"Ada apa, Nak?"
"Uci mau ayam!" mintanya. Ia menyodorkan piringnya yang telah kosong itu membuat Sumbawa menganga.
Sumbawa menoleh menatap Praja yang terlihat masih sibuk pada kegiatan makannya seakan tidak terkejut dengan apa yang Uci katakan.
"Kau mau apa?"
"Ayam."
__ADS_1
Sumbawa tertawa. Sekarang ia yakin jika menantunya yang tidak memiliki tubuh tinggi seperti istri dari Sandigo ini adalah gadis yang benar-benar seperti anak kecil.
"Baik kau mau berapa?"
"Uci mau-"
"Kenapa kau tidak mengambilnya sendiri saja?" potong Praja membuat Sumbawa yang sedang mengangkat piring berisi ayam itu menoleh menatap Praja.
"Uci biasanya diambilkan. Uci tidak pernah ambil makanan sendiri."
"Aku tidak peduli. Kau punya tangan, kan? Jadi ambil sendiri dan jangan merepotkan orang lain!"
Uci terdiam dengan wajah cemberutnya membuat Praja tersenyum di dalam hati. Akhirnya ia bisa memarahi gadis itu.
Suara isakan kecil terdengar membuat Praja terkejut. Kedua matanya membulat menatap tak menyangka pada sosok gadis yang sedang mengusap matanya yang basah. Bahu gadis itu naik turun membuat Praja yakin jika gadis itu benar-benar menangis.
Sumbawa menghela nafas berat. Ia menopang kepalanya yang terasa pening.
"Lihat! Kau membuatnya menangis!"
"Tapi aku tidak melakukan apa-apa."
"Hem!" Tolaknya sambil menggerakkan jari telunjuknya.
"Kau jelas-jelas telah melakukan kesalahan."
"Tapi aku-"
"Kau memarahinya."
Praja tersenyum sinis. Tuhan, manja sekali gadis desa ini.
"Uci! Berhentilah menangis! Opah akan memberi ayam yang banyak untuk kau! Kau setuju?"
Uci menggeleng. Ia masih menangis sesegukan.
"Lalu kau mau apa?"
"Di-di-dia marah," tangisnya lagi pecah membuat Praja menyentuh keningnya yang terasa sakit setelah mendengar suara tangis itu.
"Sudah tidak usah menangis! Em, dia akan minta maaf."
Praja tersentak kaget. Ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali tak percaya pada apa yang Opahnya katakan.
"Iya, kan Praja?"
"Apa?"
"Kau mau, kan minta maaf?"
Praja mendecakkan bibirnya kesal.
"Opah, aku-"
"Lakukan saja agar gadis itu tidak menangis lagi!"
Bibir Praja mengatup kuat. Menahan kekesalannya yang tak mampu lagi ia tahan. Ini tidak mungkin meminta maaf. Di dalam kamusnya tak ada kata maaf.
__ADS_1
Seorang Praja mengatakan kata maaf, ini tidak mungkin.
"Praja! Ayolah!"