
Apa dia calon istrinya?
...🍃🍃🍃...
Sumbawa menatap jam tangannya. Sudah sejam lebih mereka menunggu dan kali ini ia juga tidak nyaman melihat Praja yang sejak tadi menatapnya.
"Digo!" panggil Sumbawa sambil mengerakkan jari tangannya memangil Sandigo yang langsung mendekat.
"Cepat panggil Putri dan calon istri Praja! Beri tau dia kalau Praja akan mengamuk semenit lagi."
"Baik Pak."
Sandigo menegakkan tubuhnya. Langkah kakinya yang berniat untuk masuk terhenti setelah melihat sosok Putri yang melangkah di atas karpet merah sambil menggandeng gadis berpakaian pengantin putih.
Semua pelayan menoleh, mereka bahkan tak sempat bangkit dari kursi karena dibuat terkesima dan terkagum melihat paras cantik gadis yang melangkah begitu tenang.
Sandigo mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan tidak menyangka jika gadis yang super kekanak-kanakan itu bisa disulap menjadi bidadari cantik seperti ini.
"Pengantinnya sudah datang."
"Cantik sekali."
"Wah, ternyata Tuan Praja tidak salah pilih."
Suara bisikan-bisikan terdengar dari para pelayan membuat Praja yang sejak tadi sibuk menghitung waktu kini mendongak menatap gadis berparas cantik yang masih melangkah di sana.
Kini yang ada di pikiran Praja adalah apakah gadis ini yang telah ia lempar kemarin karena telah berani masuk ke ruangan pribadinya, menjulurkan lidah, mengatainya dengan sebutan jelek dan memecahkan vas bunga miliknya yang seharga milyaran itu.
Praja tak berkedip sedikit pun hingga gadis itu benar-benar telah duduk di sampingnya dengan tenang. Praja melirik memandangi wajah cantik yang dipoles dengan makeup dengan begitu sempurna.
Praja mengalihkan pandangannya ketika gadis itu menggerakkan kepalanya ke arah Praja. Secantik apapun gadis ini tapi tetap saja dia adalah gadis penyihir, yah itu yang Praja pikirkan. Gadis penyihir yang telah menyihir Opahnya sehingga pernikahan ini terjadi.
"Tuan Praja, calon istri Tuan sangat cantik. Aku yakin kalau Tuan pasti juga terpesona dengan kecantikannya."
"Tuan bahkan tak berkedip sedikit pun saat gadis ini datang," bisik Sandigo.
__ADS_1
Praja melirik menatap Sandigo yang terlihat tersenyum senang.
"Berhentilah bicara sebelum aku membuat mulut kau berdarah!" ancamnya membuat Sandigo menutup mulutnya lalu dengan cepat-cepat menjauh dari Praja.
Sumbawa tak henti-hentinya tersenyum. Ia juga tak menyangka jika pria yang telah ia tabrak hingga meninggal itu memiliki putri yang secantik ini.
"Pak penghulu mungkin akad nikahnya sudah bisa kita mulai."
"Ya tentu saja, pak," jawab penghulu itu lalu menjulurkan tangannya ke arah Praja membuat pria yang sejak tadi terdiam santai itu menegang.
Jantungnya berdetak sangat cepat membuat tubuhnya gemetar. Ia menatap semua orang yang juga terlihat serius menatap ke arahnya. Praja tak mengerti apa yang sedang terjadi kepadanya. Ia sudah milyaran kali melakukan pertemuan pada banyak orang tapi tak ada satu pun yang membuatnya jadi gemetar seperti ini.
"Praja!" bisik Sumbawa membuat Praja menoleh.
"Kau sudah menghapal kalimat akad nikah yang aku berikan kemarin bukan?"
Praja meneguk salivanya lalu mengangguk penuh gugup namun, berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Ia menoleh menatap Sandigo yang terlihat mengangkat jempolnya.
"Tuan! Bisa Tuan menjabat tangan saya?"
Praja mengangguk. Ia menautkan jemari tangannya pada tangan penghulu yang terlihat begitu serius. Praja memejamkan kedua matanya sejenak. Seharusnya ia ingat kalimat pada kertas yang semalam Opah beri untuknya.
"Saudara Praja Ragarndra bin Rahaja Ragarndra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan gadis bernama Suci Reinari Mahmud binti Abdul Mahmud dengan mahar kalung emas seberat 25 gram dan seperangkat alat sholat karena Allah."
Praja terdiam. Ini bukan sebuah permainan. Kalimat ini sakral dan hal ini melibatkan atas nama Tuhan.
"Praja!" bisik Sumbawa membuat Praja tersadar dari kegugupannya.
Ia menoleh menatap Sumbawa.
"Ada apa? Apa kau tidak menghapal kalimat yang Opah berikan semalam?"
Praja hanya terdiam. Ia tak menjawab apa-apa.
"Ah, baiklah mungkin kita bisa ulang sekali lagi. Tuan Praja mohon untuk bisa berkonsentrasi."
__ADS_1
Praja tak menanggapi apa-apa. Ia masih saja diam walau ia bisa mendengar apa yang dikatakan oleh penghulu itu yang masih menjabat tangannya.
Sandigo yang sejak tadi berada di kursi tepat di samping Sumbawa segera bangkit dari kursi dan melangkah mendekati Praja.
"Tuan! Aku pernah di posisi Tuan dan aku tau apa yang Tuan rasakan. Tuan hanya perlu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan."
Praja mengangguk dan melakukan apa yang Sandigo katakan. Sandigo kembali duduk di kursinya membuat Sumbawa tersenyum.
"Baik ijab kabulnya kita ulang sekali lagi, Tuan."
Praja mengangguk pelan. Ia menoleh sejenak menatap gadis berparas cantik yang terlihat mengerakkan bibirnya kanan dan kiri persis seperti anak-anak.
"Saudara Praja Ragarndra bin Rahaja Ragarndra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan gadis bernama Suci Reinari Mahmud binti Abdul Mahmud dengan mahar kalung emas seberat 25 gram dan seperangkat alat sholat karena Allah."
"Saya terima nikah dan kawinnya Suci Reinari Mahmud binti Abdul Mahmud dengan mahar kalung emas seberat 25 gram dan seperangkat alat sholat karena Allah," ujar Praja begitu lancar dalam satu tarikan nafas.
"Sah?"
"Sah," jawab para pelayan dan yang lainnya sambil memberikan tepuk tangan.
"Sah!!! Yeeeee!!!" teriak Uci lalu melompat-lompat kegirangan membuat semua orang melongo.
Penghulu yang ingin membacakan doa itu mendongak dengan wajah kaget menatap Uci yang masih melompat seperti anak kecil yang sedang menonton pertandingan tujuh belasan.
Putri membulatkan kedua matanya. Ia menoleh menatap Sandigo yang menutup wajahnya karena malu.
Di tempat yang sama Praja terlihat memejamkan kedua matanya sambil memijat keningnya yang terasa pening.
Tuhan, selamatkan ia dari gadis kekanak-kanakan ini!
Sumbawa bangkit dari kursi, menarik tangan Uci membuatnya kembali duduk ke kursi.
"Duduk tenang, ya cantik!"
"Tapi mana coklatnya? Katanya kalau Uci bisa diam saat pria jelek ini bicara Bapak akan memberikan Uci coklat!" ujar Uci sambil menjulurkan tangannya meminta.
__ADS_1
Sumbawa mengangguk. Raut wajahnya ingin menangis mendengar apa yang Uci katakan. Rasanya ia ingin menyumbat mulut gadis ini agar berhenti bicara.
Praja menghela nafas. Ia bangkit dengan kesal meninggalkan semua orang membuat para pelayan dengan cepat berjejer dan memberi hormat saat Praja melintasi karpet merah.