Praja

Praja
30. Tak Menyangka


__ADS_3

"Opah hanya berpura-pura," jawabnya membuat praja melongo.


"A-apa?" tanya Praja yang tidak mengerti.


Sumbawa menarik nafas dalam-dalam dan ia kembali menghembuskannya dengan pelan diiringi dengan senyum manisnya yang begitu sangat bahagia. Kali ini rencananya telah berjalan berhasil, ya terbukti sekarang cucunya itu, Praja telah datang ke mall.


Di satu sisi kini Praja masih sangat kebingungan ia menatap ke arah dua Bodyguard yang berdiri agak jauh darinya. Seingatnya Opahnya itu tadi bilang kalau tak ada bodyguard yang ikut.


"Apa yang Opah katakan tadi?"


"Apa Opah bener-bener hanya pura-pura? Opah tidak benar-benar sakit? Opah berusaha untuk membohongi aku?"


"Apakah Opah sedang berusaha untuk menipu aku?" cerocos Praja tanpa henti sambil menunjuk ke arah wajahnya. Bukan malah takut namun, Sumbawa malah tertawa kali ini kebahagiaannya mengalahkan rasa ketakutannya kepada cucunya itu.


"Hah, Praja, Opah hanya ingin kau menemani gadis itu untuk membeli beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya. Apakah itu sulit bagi kau?"


Praja tak menjawab. Pria berjas itu terlihat diam.


"Apa Opah salah jika melakukannya? Kau tidak akan datang jika tidak dibohongi."


"Ya, Opah tapi bukan berarti harus membohongi aku."


"Hah, Opah tahu. Kau tidak akan datang ke tempat ini jika aku tidak membohongi kamu jadi terpaksa aku harus berbohong dan sekarang lihat!"


Sumbawa mengangkat kedua tangannya ke arah kiri dan kanan dengan seimbang lalu kembali berujar, "Lihat sekarang kau telah datang ke mall ini jadi sekarang kau harus menemani Uci dan mengantarnya pulang ke rumah setelah berbelanja!"


"A-ap?" tanya Praja tak menyangka.


"Sepertinya Opah tak perlu untuk mengulang kalimat itu, iya, kan?"


Tak ada jawaban dari Praja. Cucunya itu masih tak menyangka.


"Sandigo!"


"Iya pak," sahut Sandigo cepat.


"Cepat ikut aku! Kita tinggalkan mereka berdua!" minta Sumbawa lalu melangkah pergi meninggalkan Praja yang membulat kedua matanya, ia tak mengerti dengan jalan pikiran Opahnya itu.


"Opah! Opah mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri di sini, Opah!" teriak Praja namun, Sumbawa dan Sandigo tak menghentikan langkahnya mereka bahkan mereka terlihat bahagia setelah melakukan semua ini.


Praja memijat pelepisnya yang terasa begitu pening, ia kembali menghela nafas panjang sambil menompang pinggang. Harus apa sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Gadis ini adalah mahluk yang paling berusaha untuk ia jauhi tapi Opahnya itu malah menyatukannya di dalam mall ini.

__ADS_1


"Tuan tampan, tolong pilihkan Uci baju untuk Uci!"


"Uci ingin baju kucing!"


Suara kecil itu terdengar membuat Praja yang sejak tadi hanya dia menahan kekesalan beralih untuk menoleh menatap sosok gadis mungil yang tengah berdiri sambil memegang gantungan celana.


Praja menghela nafas panjang gadis ini tidak tahu apa-apa. Ia baru saja berdebat dengan Opahnya tapi gadis ini malah mengajaknya untuk mencari pakaian, dasar bodoh!


Uci melangkah mendekati Praja menarik tangan pria bertubuh tinggi itu membuat Praja tersentak kaget. Ia menunduk menatap jemari tangan Uci yang menggenggam jemari kelingkingnya.


"Jangan sentuh aku!" ujar Praja yang langsung menghempas tangannya.


Gadis itu tersentak hingga nyaris terjatuh ke lantai membuat Praja menatap bingung. Gadis ini begitu lemah, baru dihempas saja gadis itu hampir jatuh ke lantai lalu bagaimana jadinya jika gadis ini ia pukul mungkin gadis ini akan kritis di detik itu juga.


Uci mencibirkan bibir, pria ini begitu sangat kasar kepadanya. Ia bahkan tak mengerti mengapa pria ini terlihat begitu tidak suka kepadanya padahal Uci merasa jika dirinya tidak pernah berbuat kesalahan sedikitpun ya, itu yang dipikirkan Uci sekarang.


Praaja menghembuskan nafas yang cukup panjang setelah menariknya dalam-dalam. Wajah yang sengaja disedihkan itu membuat Praja seakan muak untuk menghadapi gadis ini. Praja menatap jam yang ada pada tangannya, menatapnya sejenak dan kembali melipat kedua tangannya di depannya.


"Sekarang cepat cari pakaian yang kau suka dan kita pulang!"


"Pulang kemana?"


"Siapa yang akan mengantar Uci?"


"Aku yang akan mengantarmu!" ujarnya tegas.


Uci kembali mencibirkan bibir bawahnya membuat Praja menatap bingung ditambah lagi di saat Uci mengalihkan kepalanya menolak untuk menatap Praja.


Praja menatap bingung pada gadis ini. Gadis ini persis seperti anak kecil yang sedang ngambek.


"Ada apa lagi?" tanya Praja yang tak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini.


Uci tak menjawab, ia hanya diam sambil terus menatap ke arah pakaian yang ada.


"Hei, kau kenapa? Aku sedang bertanya dengan kau!"


"Uci tidak mau bicara dengan Tuan tampan," ujarnya seperti anak-anak.


"Kenapa? Kenapa kau tidak ingin berbicara dengan aku?"


"Tuan tampan ini sangat jahat! Uci tidak suka!"

__ADS_1


Tuhan, tolong berikan kesabaran kepada hambamu ini. Mendapat cobaan dengan kedatangan gadis ini rasanya membuatnya gila.


"Iya baiklah, aku minta maaf. Apa kau suka? Apa kau senang sekarang?"


Gadis itu tersenyum sejenak, pria tampan Ini akhirnya minta maaf juga kepadanya tapi senyum itu kembali sirna dari bibirnya. Uci kembali berpura-pura untuk marah membuat Praja kembali menghala nafas cukup panjang.


"Ada apa lagi? Aku kan sudah minta maaf sama kau sekarang apalagi yang kau inginkan?"


"Kau jangan membuat aku marah!" kesal Praja yang rasanya ingin mengigit Uci.


"Kau sepertinya tidak ikhlas dalam meminta maaf."


Kedua mata Praja mengerjap beberapa kali. Apa? Apa yang gadis ini katakan?


"Kata Ayahku orang yang meminta maaf akan tersenyum tapi Tuan tampan tidak tersenyum sedikitpun untuk Uci."


"Jadi Uci ragu sepertinya Tuan tampan tidak tahu cara berterima kasih kepada orang. Uci tidak suka," jelas Uci membuat Praja melongo.


Banyak sekali bicaranya gadis ini. Baru kali ini ada yang bicara sepanjang itu di hadapannya.


"Ya, baiklah. Sekarang apa yang kau inginkan hah? Aku akan minta maaf dan setelah minta maaf kita akan membeli baju dan setelah itu kita akan pulang. Apa kau setuju?"


Uci berfikir sejenak ia meletakkan jari telunjuknya di dagu sambil mengetuk-ngetuk dagunya, kali ini ia harus berpikir.


"Uci akan memaafkan Tuan tampan kalau Tuan tampan ingin membelikan aku ice cream yang banyak," ujar gadis itu dengan penuh ceria.


Praja tersenyum kecut, hanya itu permintaan gadis kekanak-kanakan ini. Sebuah ice cream dan gadis itu akan menurut.


"Iya baiklah, aku akan membelikan ice cream yang banyak untuk kau tapi sebelum itu pilih baju yang ingin kau gunakan, kau tinggal memilih beberapa kain atau perlu kita akan beli semuanya agar aku tidak berlama-lama lagi di sini," ujarnya.


Praja melangkah melintasi Uci yang kini menatap kepergian Praja. Uci tak melangkah sedikitpun, ia diam menatap kepergian Praja yang meninggalkannya.


Praja yang asik melangkah itu baru sadar jika tak ada suara langkah yang mengikutinya membuat Praja menoleh menatap ke arah sosok gadis yang masih berdiri di sana persis seperti patung


"Kau! apa yang kau lakukan di sana cepat kemari!!!"


Uci tak menjawab. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan menoleh ke arah lain seakan tak ingin menatap Praja.


Praja menghembuskan nafas kesal. Apakah seperti ini gadis yang Opahnya jodohkan untuk untuk dirinya. Gadis manja yang begitu keras kepala, ya persis seperti dirinya tapi dia tidak manja. Praja melangkah mendekati gadis itu, menghentikan langkahnya tepat di hadapan Uci yang masih tetap dia membisu


"Ada apa lagi? kau kenapa?" tanya Praja.

__ADS_1


__ADS_2