
"Iya Pak, ini putri saya. Namanya Suci, tetapi dia lebih sering dipanggil Uci," jelas Fatia membuat Sumbawa mengangguk sementara Digo masih melongo.
...🍃🍃🍃...
Praja melangkah masuk ke dalam mobil dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu menghela nafas panjang. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Opahnya itu pikirkan sehingga ia bisa dijodohkan oleh seorang gadis berlumpur yang bahkan masih sibuk ingin bermain.
Entah cobaan apa yang akan Tuhan berikan kepadanya jika harus menikah dengan gadis yang masih kekanakan-kanakan seperti itu. Praja menghembuskan nafas panjang berusaha untuk berpikir jernih. Yah, pernikahan ini hanya karena janjinya kepada Opahnya saja dan setelah itu selesai, ia tak ada lagi hubungan dengan gadis itu.
Praja menyalakan AC mobil mewahnya lalu merebahkan kursi dan membaringkan tubuhnya ke kursi. Sepertinya ia perlu untuk tidur saat ini mengistirahatkan pikirannya yang saat ini sedang kacau.
"Uci!!!" teriak gerombolan anak-anak yang kini berdiri depan rumah tua itu.
Anak-anak itu berjumlah kurang lebih lima orang yang rata-rata berusia 10 tahun ke bawah. Mereka nampak berteriak sambil memegang layangan yang sepertinya siap untuk diterbangkan.
Uci yang mendengar namanya itu disebut dengan pelan melirik ke arah pintu sambil tersenyum, ada teman-temannya di luar sana.
"Oh jadi ini anaknya."
"Iya, Nak."
"Sangat cantik sekali, yah, Bu dan-"
Digo menghentikan ujarannya saat melihat Uci berlari ke luar rumah dan berlari pergi bersama dengan teman-temannya.
"Uci!!!" teriak Fatia yang kini masih duduk di kursi kayunya.
Sumbawa dan Digo melongo dengan tatapannya yang tak menyangka. Baru saja mereka dibuat kagum dengan kecantikan gadis itu kini mereka dibuat terkejut dengan sikap Uci yang sangat kekanak-kanakan yang bisa-bisanya bermain dan bergaul dengan Anak-anak.
Lihat saja! Sekarang dia pergi saat masih ada tamu di rumah ini, tanpa permisi atau bicara apa pun.
"Eh maaf kan, rm maafkan Uci, dia memang seperti itu," ujar Fatia berusaha tersenyum walau ini sulit.
"Em tak masalah, iya kan Digo?" jawab Sumbawa lalu ia melirik menatap Digo yang masih melongo.
"Digo!" tegur Sumbawa sambil menyikut perut Digo yang tersentak kaget.
"Ah, ada apa?"
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Fatia meletakkan piring berisi singkong rebus ke atas meja dan kembali duduk sambil memberikan senyum hangat pada Sumbawa dan Digo.
"Silahkan dimakan, kami hanya punya ini," ujar Fatia.
"Terima kasih, ini sudah lebih dari cukup," jawab Sumbawa.
"Wah, ini pasti sangat enak sekali," kagum Digo lalu meraih singkong rebus dan mencium aroma harum dari singkong yang masih panas itu.
Fatia tersenyum bahagia. Sedari tadi perilaku Digo lebih baik daripada cucu Sumbawa yang akan dijodohkan untuk putrinya itu.
"Apa cucu Bapak tidak diajak makan singkong rebus?" tanya Fatia.
"Em dia-"
"Dia tidak pernah makan singkong rebus seperti ini jadi dia tidak mungkin mau-" potong Digo yang berhasil memotong ujaran Sumbawa.
Digo menghentikan senyumnya saat ditatap tajam oleh Sumbawa, sepertinya ia salah bicara kali ini.
"Maksudku dia tidak suka makan singkong rebus tapi dia lebih suka makan singkong goreng," ujar Digo berbohong lalu tertawa. Yap, dia tak mau membuat Sumbawa marah karena ia telah salah bicara lagi.
Digo tahu betul Tuannya itu yang tak pernah makan makanan seperti ini dan di rumah tak ada makanan jenis seperti ini. Digo kembali melirik Sumbawa yang masih menatapnya dengan tatapan tak senang.
"Oh jika seperti itu maka saya akan menggorengkan singkong ini untuk cucu Tuan," ujar Fatia lalu bangkit dari kursi.
"Ah tak usah repot-repot!" tahan Sumbawa membuat Fatia kembali duduk ke kursinya.
"Kenapa? Ini tak repot. Ini sudah kewajiban saya untuk melayani tamu yang datang dari jauh."
"Tidak usah! Tak perlu repot-repot! Ini saja sudah sangat membuat kami kenyang. Bagaimana kalau kita langsung membahas tentang pernikahan saja," jelas Sumbawa membuat Fatia tersenyum.
Jujur saja Fatia mengira jika Sumbawa tak jadi untuk menjodohkan Praja dengan putrinya itu setelah melihat Uci yang begitu sangat memalukan dengan tubuh berlumpurnya.
"Apakah perjodohan ini tetap berlanjut?"
"Yah tentu saja," jawab Sumbawa.
Fatia tersenyum, rasanya ia sangat bahagia setelah mendengarnya.
__ADS_1
Semenit kemudian kini suasana menjadi sunyi. Sumbawa dan Digo terlihat menikmati singkong rebus.
"Pak!"
"Hem, iya?"
"Eh sebenarnya Uci adalah gadis yang baik hanya saja dia sedikit kekanak-kanakan saja. Dia adalah putri dari pernikahan pertamanya tapi jujur saya sangat menyayangi putriku itu."
"Saya selalu memanjakannya dan tolong dimaklumi jika dia mungkin akan sedikit manja persis seperti anak kecil yang berusia lima tahun," jelas Fatia.
"Kalau boleh tau anak Ibu itu kira-kira usianya berapa?" tanya Digo penasaran.
"Digo, pertanyaan apa itu?" bisik Sumbawa dengan perasaanya yang tak nyaman setelah mendengar pertanyaan Digo.
"Saya hanya ingin tau, Pak," bisik Digo.
"Tak masalah, Pak," ujar Fatia membuat Sumbawa dan Digo menoleh.
"Uci itu masih berusia 17 tahun," ujar Fatia.
"Apa?!!" teriak Digo begitu sangat terkejut begitupula juga dengan Sumbawa yang kini terbelalak kaget setelah mendengarnya.
Singkong yang ada di tenggorokannya seakan tertahan membuatnya terbatuk.
"Mau minum, pak?" panik Digo yang langsung menjulurkan segelas teh setelah Sumbawa mengangguk.
"Ada apa, pak?"
"Ah, tidak apa-apa. Maklum Tuan saya ini punya masalah dalam mengunyah karena giginya sudah banyak yang hilang."
Sumbawa menatap tajam membuat Digo tersenyum penuh salah.
Sumbawa hanya tak menyangka jika gadis yang akan ia jodohkan kepada cucunya itu adalah gadis yang masih berusia 17 tahun.
"Apa anda serius?" tanya Sumbawa yang begitu tak menyangka.
"Em sebenarnya Uci akan berusia 17 tahun bulan depan."
"Bulan depan?" tanya Sumbawa dan Digo dengan kompak.
__ADS_1