
"Kalau begitu tidak usah berbelanja!" ujarnya lalu bangkit dan melangkah pergi.
...🍃🍃🍃...
Wajah Praja mendatar tanpa ekspresi bahkan kini perasaanya tak nyaman saat semua pengunjung mall menatapnya. wajah yang mendatar itu kini menunduk menatap Uci yang nampak tersenyum bahagia.
Apa yang membuatnya tersenyum bahagia, yah tentu saja saat ini Praja sedang menggandengnya karena sebuah keterpaksaan. Harus apalagi apa yang perlu Praja lakukan untuk gadis ini jalan satu-satunya adalah menuruti kemauan Uci jika tidak maka Praja akan terus terbelenggu di dalam sebuah masalah.
Mengenai tatapan para pengunjung kepada dirinya sepertinya jika dilihat-lihat Praja nampak seperti seorang ayah sedangkan Uci nampak seperti gadis kecil bertubuh pendek yang hanya sampai di bawah ketiaknya saja. Sebenarnya Praja baru menyadari hal itu saat ia melihat pantulan dirinya dan Uci di sebuah cermin tempat perbelanjaan pakaian.
Ah, dia tidak terlalu tua bukan umurnya bahkan baru 27 tahun tapi Praja sebenarnya harus sadar jika gadis yang sedang ia gandeng ini berusia 17 tahun tepatnya satu bulan lagi ia akan memasuki usia itu.
Jika kamu mengira bahwa Praja akan menggandeng gadis ini dengan mesra persis seperti sepasang kekasih yang saling menggandeng tapi itu tidak terjadi pada mereka. Ternyata Praja salah mengira, Praja mengira jika sepasang kekasih menggandeng maka seorang gadis akan memegang tangannya tapi tidak seperti itu. Yang gadis ini dilakukan adalah menggenggam erat jari kelingkingnya!
Oh, Tuhan dia persis seperti anak-anak. Lihatlah jari kelingking Praja saja bahkan pas untuk genggaman gadis kecil itu.
"Apa kau suka ini?" tanya Praja, tetap dengan wajah datarnya.
Uci mendongak menatap wajah praja yang terlihat begitu datar dingin dan nampak seperti tak punya sebuah kebahagiaan.
"Uci tidak suka," jawab Uci dengan wajah cemberut.
Praja menghela nafas panjang, menariknya lagi dan menahannya di kerongkongan.
"Kenapa? Kenapa kau tidak mau? Baju ini bagus bukan?" tanya Praja yang mengangkat sebuah baju yang ia ambil asal-asalan. Ia berharap jika ini semua cepat selesai dan ia bisa jauh dari gadis ini.
Uci menggerakkan kepalanya mengalihkan pandangan dari Praja yang melongo. Apalagi salahnya di mata gadis ini. Ia bahkan meletakkan kedua lipatan tangan ke depan dadanya.
"Ada apa lagi?"
"Uci tidak mau."
"Kenapa kau tidak mau?"
"Karena tuan tampan marah-marah, Uci tidak suka."
Wajah Praja mempias. Ia bahkan merasakan jika bagian bawah matanya itu bergetar setelah mendengar apa yang gadis ini katakan. Tuhan mengapa ia selalu salah di mata gadis ini.
"Tidak aku tidak marah. Siapa yang bilang kalau aku marah?"
__ADS_1
"Tidak usah berbohong tuan! Aku bisa melihat wajah marah itu dari wajah tuan. Tuan tidak tersenyum kalau tuan tidak tersenyum berarti tuan sedang marah kalau tuan tersenyum berarti tuan tidak marah," jelasnya begitu lancar.
Praja tersenyum, kedua bibirnya rapat dan mengangguk pelan. Gadis ini ternyata lebih menyebalkan dari apa yang ia pikirkan saat ini.
"Lalu sekarang bagaimana? Bagaimana caranya agar kau tidak mengira jika aku ini sedang marah?"
"Senyum?"
Kedua alis Praja bergerak naik. Kedua matanya berkedip beberapa kali berusaha untuk memastikan apa yang gadis ini katakan kepadanya.
"Senyum! aku mau tuan tampan tersenyum."
"Kalau aku tidak mau tersenyum bagaimana?" tanya Praja seakan sedang menentang.
"Kalau tuan tampan tidak mau tersenyum berarti tuan tampan sedang marah maka. Tuan tampan harus tersenyum tapi kalau Tuhan tampan tidak mau tersenyum berarti tuan tampan marah dan aku tidak mau beli baju," jelasnya.
Ah, Tuhan rasanya Praja ingin mengacak-ngacak rambutnya, menarik dan membotakkan kepala ini. Ah, mengapa gadis ini sangat menyusahkan sekali.
Kedua mata praja yang sejak tadi bergerak berpikir itu kini kembali menatap ke arah Uci yang nampak sedang menatapnya.
"Tapi sayangnya aku tidak bisa tersenyum."
Kedua mata Praja membulat. Dengan cepat ia meraih pergelangan tangan Uci, mencegahnya agar tidak pergi.
"Mau kemana?"
"Tidak tau. Uci mau pergi jauh."
"Jauh kemana?"
"Uci, kan sudah bilang kalau Uci tidak tau kalau Uci tau pasti Uci kasi tau tapi saat ini Uci tidak tau," ocehnya panjang tanpa jeda membuat Praja melongo.
Genggaman pada pergelangan tangan Uci terlepas di saat Praja beradu dengan pikirannya sendiri membuat Uci melangkah pergi hingga sedetik kemudian Praja sadar dari lamunannya.
"Hei!" panggil Praja sambil berlari mengejar Uci.
Semenit kemudian ia baru sadar jika ia sedang berlari. Oh, Tuhan baru kali ini ia berlari seperti itu. Seorang Praja, bos paling dihormati oleh banyak orang akhirnya dibuat berlari hanya gadis kekanak-kanakan ini.
"Hei!" teriak Praja yang dengan cepat meraih pergelangan tangga di situ mencegahnya agar tidak lari.
__ADS_1
Praja menatap tajam ke arah kedua bola mata Uci yang juga mendongak menatapnya sedetik kemudian Praja menoleh menatap ke sekelilingnya dimana beberapa para pengunjung sedang menatapnya, yah tentu saja Praja baru sadar jika ia telah berteriak tadi.
"Ikut aku!" bisiknya dengan nada ditekan.
Ia menariknya ke tempat sepih dan bersembunyi di balik jejeran pakaian yang terpajang.
"Lepaskan aku!" pintanya sambil menghempaskan tangannya.
Sudut bibir Praja terangkat, apa gadis ini baru saja menolaknya.
"Kalau aku mau, aku juga tidak mau melihat kau. Tapi sekarang kau harus menuruti apa kemauan aku. Pilih baju dan setelah itu ayo kita pulang!"
"Uci tidak mau pilih baju," jawab Uci yang meletakkan kedua lipatan tangannya di depan dada dan menggerakkan kepalanya ke arah lain.
Hentikan!
Sudah cukup!
Sampai di sini saja! Kesabaran Praja benar-benar telah habis. Bisa-bisa ia gila jika harus menghadapi gadis ini.
Ia menyentuh keningnya beberapa saat dan setelahnya ia memutuskan untuk meraih asal beberapa pakaian yang terpanjang dan setelahnya ia menarik pergelangan tangan Uci lalu menariknya dengan terburu-buru ke tempat pembayaran.
Lima menit kemudian kini mereka telah berada di area parkiran di mana ada banyak jejeran mobil-mobil yang terparkir di sini.
Praja membuka pintu mobil, melempar belasan tas-tas belanjaan ke dalam mobil dengan perasaan kesal. Bagaimana ia tidak kesal jika sepanjang antrian gadis yang masih ia pegang ini terus berteriak meminta untuk dilepaskan membuat para pembeli lain menatapnya dengan tatapan yang begitu membuatnya risih.
"Masuk!" pinta Praja.
"Tidak mau."
"Kenapa kenapa kau tidak mau?"
"Karena Uci tidak mau kalau Uci tidak mau berarti tidak mau."
Nafas Praja seakan berhembus dengan helaan nafas yang cukup panas. Rasanya amarah di kepalanya ini ingin meledak di detik ini juga.
Ia ia menatap tajam gadis itu membuat gadis itu mendongak dengan wajahnya yang terlihat begitu lugu. Kedua rahang Praja menegang ia merendahkan sedikit kepalanya mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu yang seketika menciut.
"Masuk atau kupukul!"
__ADS_1