
"Sepertinya tempat ini bergerak!" ujarnya takut.
Ting!!!
Pintu lift terbuka membuat Uci kembali berteriak. Dadanya naik turun tak beraturan dengan tubuhnya yang masih bersandar di permukaan lift.
Sandigo menepuk jidat. Ia meraih pergelangan tangan Uci membuatnya terdiam sesaat. Kulit gadis mungil ini begitu lembut bagai kulit bayi. Tak berselang lama ia menarik pergelangan tangan Uci dan membawanya keluar dari pintu lift dengan cepat lalu melepasnya. Ia tak mau terlalu berlama-lama menyentuh tangan calon istri Tuannya itu.
"Hah? Kita dimana?" tanya Uci
Kedua matanya menatap ke segala arah dengan kakinya yang memutar pelan. Sandigo tersenyum kecil. Gadis ini begitu sangat lucu, sangat persis seperti anak kecil.
"Bukannya ruangan tadi bukan seperti ini?"
"Yah."
"Hah, kenapa bisa itu terjadi?"
"Yah itu semua karena kita naik pintu lift!" Tunjuk-nya pada pintu lift yang telah tertutup.
"Waaaaah! Apa itu pintu ajaib?"
Sandigo menutup mulutnya berusaha untuk menahan tawa.
"Ah, sepertinya begitu."
Sandigo melangkah menuju sebuah pintu kamar yang masih tertutup meninggalkan sosok Uci yang masih berdiri sambil menatap kagum pada pintu lift.
"Nah, sekarang untuk sementara ini adalah kamar kau dan jika kau menginginkan sesuatu maka kau boleh meminta pelayan untuk melakukan apa yang kau butuhkan."
Sandigo mendorong pintu kamar lebar-lebar. Ia menoleh menatap Uci yang terlihat menekan salah satu tombol pada dinding yang berada di samping lift.
Pintu lift itu terbuka membuat Uci menjerit ketakutan dan tak berselang lama ia tertawa.
"Uci!"
Uci menoleh. Ia tersenyum menatap Sandigo yang terlihat tersenyum begitu lembut kepadanya.
"Kemari!"
Uci berlari kecil menghampiri Sandigo yang menyambutnya di pintu kamar.
"Lihat! Kamar ini adalah kamar kau sekarang."
"Kamar Uci!" Tunjuknya ke arah wajahnya yang begitu lugu.
Sandigo mengangguk. Ia melangkah masuk ke dalam kamar membuat Uci mengikut di belakang persis seperti ekor. Uci tersenyum, kedua matanya berbinar menatap kamarnya yang begitu luas dan megah.
"Apa ini kamar Uci?"
__ADS_1
"Yah, emmm, tapi kamar ini hanya sementara. Setelah kau menikah maka kau akan tidur di kamar paling atas bersama Tuan Praja."
Senyum Uci berangsur hilang dari bibirnya.
"Tuan Praja? Siapa itu Tuan Praja?"
"Em, dia adalah calon suami kau. Apa kau mengerti?"
Uci terdiam. Ia berpikir keras kali ini tapi pada akhirnya ia menggeleng.
"Aku hanya tau pernikahan."
"Ah, bagus. Apa yang kau tau tentang pernikahan?" tanya Sandigo semangat. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya seakan siap untuk mendengar jawaban.
Jujur saja kali ini ia baru pertama kali merasakan bersemangat dalam berbicara kepada seseorang. Ia akui gadis ini adalah gadis yang begitu lucu dan ia suka jika gadis ini bicara.
"Aku tau."
"Iya, apa yang kau tau?"
"Emmm."
Uci terdiam ia mengetuk-ngetuk dagunya lalu mengangkat jemari tangannya seakan bersiap untuk menghitung.
"Yang aku tau adalah ayam goreng, mie kuning, emmmm..."
Sandigo menggeleng. Ia tersenyum kecil setelah mendengar apa yang Uci sebutkan. Ia tak menyangka jika calon Tuannya itu akan selugu ini.
Sandigo melangkah menjauh, ia mengangkat telpon dan meletakkannya ke pipi.
"Halo pak."
"Apa yang kau lakukan di atas? Cepat turun dan atur dekorasi di belakang. Tim yang akan mendekorasi belakang rumah sudah datang."
Kedua bibir Sandigo terbuka. Ia mengusap jidatnya. Bagaimana bisa ia lupa dengan semua itu.
"Maaf, pak. Aku lupa. Baiklah aku akan turun sekarang."
"Iya cepatlah!"
Sambungan terputus. Sandigo memasukkan ponselnya itu ke dalam saku jasnya.
"Em, Uci-" ujarannya terhenti menatap gadis mungil itu yang telah tertidur di atas kasur sambil memeluk lututnya.
Sandigo tertawa kecil. Bagaimana bisa gadis mungil ini tidur dengan gaya seperti ini.
Sandigo melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar Uci tak terbangun dari tidurnya. Sandigo yakin jika gadis itu pasti sangat lelah dan itu sebabnya ia sampai tertidur seperti ini.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Praja melangkah turun dari mobil setelah pintu itu di buka oleh para pelayan yang sudah menunggu sejak tadi. Praja yang berniat untuk melangkah kakinya memasuk pintu utama tertahan setelah melihat truk besar yang masuk ke pekarangan rumah dan lewat di samping rumah.
"Truk apa itu?"
"Izin menjawab Tuan, itu truk yang membawa peralatan dekorasi pernikahan, Tuan," jawab salah satu pelayan sambil menunduk.
Praja menghembuskan nafas panjang ia pikir Opahnya hanya bercanda tapi sepertinya ini adalah hal yang sangat serius.
Praja melanjutkan langkahnya memasuki rumah dan mendapati sosok Sumbawa yang sedang asik menunjuk beberapa cincin.
"Ah, Praja! Kau sudah pulang?" sambutnya.
Ia bangkit dari sofa dan menghampiri Praja yang memasang wajah datar. Ia merangkul cucunya itu dan membawanya ke sofa.
"Duduk lah! Dan lihat cincin ini!"
Praja menghembuskan nafas panjang. Ia duduk ke sofa dengan perasaan berat.
"Lihat ada banyak cincin di sini! Kau pilih model cincin yang kau suka dan setelahnya mereka akan mengukur besar ukuran jari tangan kau!"
Praja tak menjawab. Ia melirik model cincin yang ada di atas meja lalu menghela nafas panjang. Ia tak tertarik untuk ini semua
"Praja!"
"Sudah lah Opah! Opah pilih saja cincin yang Opah suka!" ujarnya lalu bangkit dari sofa membuat Sumbawa mendongak.
"Bukan Opah yang menikah lalu mengapa Opah yang harus memilih?"
"Bukan kah gadis yang akan aku nikahi itu adalah pilihan Opah bukan pilihan aku."
"Ah, Praja jika kau yang memilih maka nyawa Opah ini akan lebih dulu melayang. Sepotong gadis pun tak ada yang berani menyentuh tangan kau itu."
Tak ada jawaban dari Praja. Ia melangkah berniat untuk pergi namun, baru selangkah ia dibuat terhenti menatap Sandigo yang terlihat keluar dari pintu lift.
"Tuan Praja! Hah, Tuan ini lama sekali. Tuan pergi ke kantor begitu cepat dan pulang begitu lama."
Sandigo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Praja yang melirik menatap beberapa wanita yang memeluk koper.
"Mbak yang cantik, sekarang ukur tubuh Tuanku ini, ya dia sedikit kaku jadi aku mohon untuk memaklumi, hahahaha."
Dua wanita yang berada di sampingnya itu tertunduk setelah mendongak menatap wajah datar Praja.
"Kenapa? Hem? Kenapa tidak diukur?" tanya Sandigo.
Ia menoleh menatap Praja yang masih memasang wajah datar di sana. Sandigo tersenyum paksa. Ia juga dibuat takut jika seperti ini.
"Ah, Tuan tersenyum lah sedikit! Mereka bahkan takut melihat anda lalu bagaimana cara mereka mengukur tubuh Tuan?"
Praja hanya terdiam. Ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah Sumbawa yang tersenyum lebar di belakang sana.
__ADS_1
"Sepertinya cincin ini cantik."