Praja

Praja
17. Latihan


__ADS_3

"Heh, Tuan jelek!" teriak Uci membuat kedua mata Sumbawa dan Sandigo membulat kaget.


Mereka menelan ludah ketakutan lalu menoleh menatap Praja yang menghentikan langkahnya di depan sana.


Langkah Praja terhenti. Nafasnya di dadanya seakan tertahan. Ia menggerakkan kepalanya menatap 90 derajat dengan kedua matanya yang melirik menatap Uci dengan sangat tajam bagai mata elang yang melihat mangsanya.


Praja membalikkan badan menatap gadis yang ada di hadapannya terlihat menopang pinggang persis seperti anak kecil yang sedang menantang lawan.


Apa gadis ini sadar debhan siapa ia berhadapan?


"Apa kau bilang?" tanya Praja dengan nada suara yang begitu mengerikan membuat bulu kuduk Sandigo merinding.


"Memang benar kau itu jelek. Dasar jelek, bweeee!!!"


Uci menjulurkan lidah, mengejek seakan Praja adalah anak kecil.


"Dasar penyihir," kesal Praja yang melangkah berniat untuk mendekati Uci namun, dengan cepat Sumbawa berlari dan menahan Praja agar berhenti untuk melangkah.


"Praja!"


"Menyingkir lah, Opah!"


"Praja dengarkan Opah!"


"Menyingkir Opah!"


Sumbawa tak menghiraukan perintah Praja. Ia berusaha untuk mendekati Uci yang menjulurkan lidahnya di sana membuat Praja semakin kesal namun, dengan sekuat tenaga pula ia menarik tangan Praja.


"Praja! Opah mohon! Dia hanya gadis kecil yang tidak mengerti apa-apa."


"Tidak mengerti apa-apa maksud Opah? Apa Opah tidak mendengar apa yang dia tadi katakan! Dia bilang kalau aku jelek."


Opah memejamkan kedua matanya dengan erat, menyentuh keningnya yang terasa pening.


"Ah, Praja! Jangan dengarkan dia! Kau ini adalah cucu Opah yang sangat tampan jadi jangan pikirkan omongan gadis itu!" bisiknya.


"Tapi gadis itu-"


Sumbawa mendorong dada Praja pelan berusaha untuk tetap menahan cucunya itu.


"Tenang lah dan jangan pikirkan omongan gadis itu. Dia bahkan masih berusia 17 tahun."


Gerakan tubuh Praja yang masih memaksa untuk lepas itu terhenti. Kedua matanya melirik menatap Sumbawa yang begitu serius menatapnya.


"A-apa?"


Sumbawa menghela nafas. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Yah maksud Opah satu bulan lagi gadis itu berusia 17 tahun."


Kedua bibir Praja terbuka tak menyangka. Menatap Sumbawa tidak percaya. Ia menoleh menatap gadis yang masih mengejeknya di sana sementara Sandigo menggeleng sambil menggerakkan tangannya berusaha untuk melarang Uci untuk melakukan hal yang tidak sopan.

__ADS_1


"Apa? Opah-"


Praja menghentikan ujarannya. Ia mengusap rambutnya seakan tak mampu untuk memikirkan hal ini


"Opah menjodohkan aku dengan anak kecil?"


Sumbawa tak menjawab apa-apa. Mengangguk pun ia takut untuk melakukannya.


Praja membuka bibirnya berniat untuk protes namun, rasanya ia tak sanggup lagi untuk berkata-kata.


Praja mendecapkan bibirnya kesal. Menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya.


"Praja! Opah mohon untuk memaklumi!"


Praja membuka kedua matanya lalu mengangguk.


"Baik! Aku tetap akan menerima perjodohan ini tapi jauhkan gadis ini dari aku!" Tunjuknya lalu melangkah pergi menuju pintu lift.


Sumbawa mengusap wajahnya yang sejak tadi berkeringat. Sumbawa menghela nafas panjang lalu melangkah dan duduk di sofa. Ia menatap Uci sejenak lalu kembali menghela nafas.


"Pak!"


Sumbawa dengan cepat menoleh menatap gadis itu yang terlihat cemberut sambil menyentuh perutnya.


"Ada apa?"


"Uci lapar."


"Sandigo! Urus bayi ini!"


"Baik pak."


Semenit kemudian Sandigo kini telah berada di meja makan. Ia menopang dagu menatap gadis yang ada di hadapannya begitu lahap. Gadis yang tetap cantik walau ia makan dengan berantakan.


"Sandigo!"


Kedua mata Sandigo mengerjap. Ia tak menyangka jika gadis kekanak-kanakan ini baru saja menyebut namanya.


"Siapa pria pemarah itu?"


Sandigo tertawa kecil.


"Dia Tuan Praja."


"Praja?"


"Em, ya tapi kau harus menyebut dia Tuan Praja, Tuan!"


Uci mengangguk.


"Tuan Praja?"

__ADS_1


"Yah, bagus. Kau adalah gadis yang pintar."


"Dan Tuan Praja adalah pria yang bodoh, hahaha."


Senyum Sandigo menghilang dari bibirnya. Ia dengan cepat menoleh ke segala arah. Semoga saja tak Tuan Praja di sini jika sampai Tuannya itu ada di sini maka jelas saja Tuannya itu kembali marah persis seperti tadi.


...🍃🍃🍃🍃...


Sumbawa meletakkan kertas putih ke atas meja membuat Praja melirik menatap tulisan yang tertera di sana. Praja menoleh menatap Sumbawa yang menatapnya begitu serius.


"Opah menyuruh aku datang ke kamar Opah hanya untuk kertas ini?"


"Praja! Kertas ini bukan kertas biasa maksudku isinya yang tidak biasa. Itu adalah kalimat akad nikah yang akan kau ucapkan besok."


Praja mengangkat kertas dan menatapnya dingin. Sepenggal tulisan yang menurutnya tidak terlalu panjang.


"Besok aku ingin kau bisa mengucapkan akad nikah dengan baik."


"Tenang saja! Aku sudah milyaran kali berbicara di depan umum. Kalimat pendek seperti ini tidak akan menjadi masalah bagi aku"


"Yah, aku percaya kepada kau, Nak. Hanya saja sudah sejauh ini aku melihat ternyata orang yang sehebat apa pun dalam berbicara tetap saja akan merasa gugup jika mengucapkan kalimat akad nikah."


"Sekali pun tidak panjang tapi tetap saja ini sulit dan Opah berharap kau ingin belajar dan latihan."


Praja menghela nafas panjang lalu mengangguk. Hanya ini yang bisa Praja lakukan jika tidak maka Opahnya itu tidak akan berhenti untuk bicara.


"Yah, baiklah. Aku akan kembali ke kamar."


Praja bangkit dari sofa dan melangkah keluar dari kamar meninggalkan Sumbawa yang terlihat tersenyum. Sumbawa tau jika hal ini adalah hal yang begitu berat bagi Praja. Menikahi gadis yang sama sekali tak pernah ia kenal selama hidupnya memanglah menjadi hal yang paling sukar untuk diterima.


...🍃🍃🍃...


Praja merapatkan kepalanya ke batal, kedua sorot matanya menatap langit-langit kamarnya. Apakah sesusah itu kalimat akad nikah hingga Opahnya harus memperingatinya untuk latihan. Praja memejamkan kedua matanya dan tak lama ia kembali membukanya.


Ia bangkit dari kasur lalu mengusap rambutnya yang masih terlihat rapi. Jiwa berwibawanya tak hilang meski ia sedang menggunakan pakaian tidur.


Ia melangkah ke arah meja kerjanya, meraih kertas yang Opahnya berikan dan menatapnya serius. Ia duduk bersandar di pinggir meja sambil menatap setiap tulisan yang tertera di sana.


Praja melangkah kembali ke arah kasurnya dan merebahkan tubuhnya kembali. Ia menatap kertas itu sekali lagi dan meletakkan di atas dadanya.


Praja menghembuskan nafas panjang. Kali ini Praja tak akan tau bagaimana nasibnya jika ia telah menikah dengan gadis itu nanti.


"Hah, aku bahkan merasa pusing setelah memikirkan gadis itu."


"Gadis itu seperti anak kecil sedangkan aku tak suka dengan anak kecil."


"Dia adalah gadis yang berisik sedangkan aku tak suka dengan orang yang banyak bicara."


"Gadis penyihir. Baru sehari ia ada di rumah tapi dia sudah memecahkan vas bunga yang ada di dalam ruangan pribadi ku."


Praja menyentuh keningnya dan mengusapnya pelan. Semoga setelah pernikahan ini bukan menjadi awal yang buruk baginya. Yah, semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2