Praja

Praja
23. Tidur!


__ADS_3

Giveaway


Hai semua para membaca yang Author sayangi๐ŸŒธ


Mengenai syarat dan ketentuannya, yaitu


1. Peserta diwajibkan memfollow akun noveltoon Author {Nurcahyani Hayati} Jika peserta ditemukan tidak memfollow akun Author maka hadiah dinyatakan batal.


2.Giveaway akan berakhir dan pengumuman pemenang akan diumumkan di karya ini saat karya ini tamat.


3.Pemenang wajib mengirim alamat ke nomor (+628970810918)


4.Hadiah akan dikirim melalui kantor pos atau J&T.


5.Pemenang untuk kategori juara 1,2 dan 3 wajib mengirim foto bersama dengan hadiah untuk menjadi tanda bukti jika hadiah telah diterima dan foto para pemenang akan di masukkan ke dalam bab pengumuman dalam karya ini.


Untuk Info lebih lanjut silahkan hubungi nomor yang tertera di atas.


Selamat berjuang, ya ๐ŸŒธ


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Kedua mata Praja mengerjap beberapa kali. Semudah itu? Praja tertawa di dalam hati melihat gadis itu yang memejamkan kedua matanya dengan rapat dan terlihat sesekali kelopak mata gadis itu bergerak membuat Praja yakin jika gadis itu memaksa dirinya untuk tidur.


Praja menghembuskan nafas lega, akhirnya gadis itu tak menatapnya seperti tadi dan kali ini ia bisa bersantai tanpa merasa dipantau.


Praja kembali membuka buku dan meluahkan fokusnya di sana. Ia menyadarkan tubuhnya ke sandaran kursi menatap satu persatu laporan pemasukan keuangan pada salah satu restoran miliknya yang ada di Jakarta.


Resotoran yang ia bangun itu cukup menguntungkan walau pendapatannya tak sebanyak yang ada di Bali. Yah, Praja memang tak punya satu cabang saja tapi tersebar di beberapa kota.


Praja mengernyitkan keningnya merasa aneh pada suasana kamarnya. Rasanya ada yang sedang melihatnya di sini. Praja menurunkan buku itu dari arah wajahnya membuatnya terkejut menatap sosok Uci yang berdiri persis di depannya.


"Aaaa!!" teriak Praja.


Ia melempar buku itu dan nyaris mengenai tubuh Uci yang juga ikut terkejut. Ia menyentuh dadanya dengan wajah kaget.


"Kenapa?"


Praja meneguk salivanya. Sudah dua kali gadis ini membuatnya terkejut seperti ini.


"Kau! Apa yang kau lakukan di sini?"


"Uci minta maaf tapi Uci tidak bisa tidur."


"Kenapa tidak bisa? Kau hanya perlu berbaring dan menutup mata lalu setelahnya kau akan tidur."


Uci menggeleng pelan.


"Biasanya Uci ditepuk-tepuk kalau mau tidur."


Bibir Praja terbuka. Ia dibuat melongo mendengar hal tersebut.


"A-apa?"


"Uci mau ditepuk-tepuk dan dinyanyikan lagu sebelum tidur."


"Hah? Tepuk saja sendiri dan nyanyi sendiri!"


"Tidak bisa."


Praja tersenyum. Ujung bibirnya terangkat menatap gadis yang ada di hadapannya begitu tak percaya. Yang benar saja gadis ini.


"Lalu kau ingin aku menepuk-nepuk dan bernyanyi sebelum kau tidur?"


Uci mengangguk membuat Praja bangkit dari kursi dan menyentuh kepalanya yang terasa ditekan dari dalam. Kepalanya terasa pening berhadapan gadis ini.


"Oh, Tuhan. Opah sepertinya sengaja memberikan aku musibah dengan keberadaan gadis ini," batinnya.

__ADS_1


"Pria jelek!"


"Heh!" tegurnya sambil menunjuk ke arah Uci yang sedikit menjauhkan wajahnya saat Praja menunjuk.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!"


"Lalu? Uci panggil apa?"


Praja berpikir sejenak membuat sebelah alisnya terangkat.


"Em, panggil saja Tuan tampan!"


Uci mengangguk begitu polos. Ia menurut dengan mudahnya membuat Praja kembali tersadar jika gadis ini cukup mudah untuk dihadapi.


"Tuan tampan!"


"Hem?"


"Uci mau tidur. Boleh tolong nyanyikan satu lagu untuk Uci sambil menepuk-nepuk Uci!"


Praja terdiam. Mata dinginnya menatap serius pada gadis yang ada di hadapannya. Gadis ini tidak sedang mempermainkannya bukan.


"Yah, baiklah! Setelah aku melakukannya kau akan tidur bukan?"


Uci tersenyum lalu mengangguk cepat.


"Hem, baiklah cepat naik ke tempat tidur!" pintanya membuat Uci segera berlari menaiki tempat tidur.


Praja tersenyum kecil. Gadis ini seperti anak kecil dengan pakaian tidur yang cukup lucu. Lucu? Praja rasanya ingin memukul kepalanya karena telah berpikir seaneh itu. Sejak kapan ia mengagumi seorang gadis.


Praja ikut naik ke tempat tidur. Ia duduk cukup jauh dari Uci yang terlihat membaringkan tubuhnya di samping Praja yabg menatap risih. Untuk pertama kalinya ia berada di atas ranjang bersama dengan seorang gadis.


"Lagu apa yang ingin kau dengar?"


"Cicak."


"Cicak di dinding," ujarnya sambil sedikit bernyanyi dengan suara yang terdengar serak, sepertinya gadis ini memang telah mengantuk.


Praja menghela nafas. Ia bahkan telah lupa bagaimana cara menyanyikan lagu itu.


"Tuan tampan!"


Praja menoleh.


"Uci ingin tidur biasanya Uci sudah tidur dari tadi kalau jam seperti ini."


Praja menoleh menatap jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul 10 malam.


"Jam berapa kau biasa tidur?"


"Jam delapan."


Lagi dan lagi ia dibuat tak percaya pada apa yang gadis ini katakan. Secepat itu gadis ini tidur? Hah, yang benar saja. Itu adalah jam tidur anak-anak bahkan akan kecil pun akan tidur di atas jam tidur gadis ini.


"Kalau begitu cepat tidur!"


"Tuan tampan belum menepuk-nepuk Uci."


"Ya, sudah. Apa yang ingin aku tepuk?"


"Ini!" Tunjuk Uci pada bokongnya membuat kedua mata Praja membulat kaget.


"A-apa?"


"Ka-ka-kau menyuruh aku me-"


Praja tak melanjutkan ujarannya. Ia bangkit dari kasur membuat Uci yang telah mengantuk itu bangkit dan duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


Praja menghela nafas berat. Dadanya seakan begitu berat tertahan di dadanya. Tak mungkin ia melakukan hal ini. Benar, sangat benar. Opahnya itu telah membawanya pada masalah yang sangat besar.


"Tuan-"


"Diamlah sebelum aku marah lagi!" Tunjuknya membuat Uci melipat bibirnya ke dalam.


"Jangan berusaha untuk membodohi aku! Okay!"


"Tapi Uci tidak bisa tidur."


"Kalau begitu tak perlu tidur! Kalau kau tetap tidak bisa tidur karena tidak ada yang menepuk dan bernyanyi untuk kau maka panggil saja Opah untuk menepuk-nepuk dan bernyanyi."


"Pria tua itu yang membawa kau ke dalam rumah ini maka susahkan saja pria tua itu dan jangan menyusahkan aku!" jelasnya.


Ia meraih bantal lalu melangkah ke arah pintu. Ia menggerakkan ganggang pintu berniat untuk membukanya.


"Tuan Tampan!"


"Apa lagi?" ujarnya meninggikan nada suaranya.


"Tolong jangan membuat aku pusing! Kau ini sudah besar jadi tolong bersikap sesuai usia kau!"


Praja terdiam sejenak. Ia baru ingat jika gadis ini baru berusia 16 tahun dan bulan depan umurnya telah memasuki usia 17 tahun.


Praja kembali membelakangi Uci lalu menggerakkan ganggang pintu berusaha untuk membukanya.


"Tuan tampan!"


"Apa lagi?" kesalnya melotot tajam.


"Pintunya telah dikunci dari luar!" Tunjuknya membuat Praja seketika mendengus kesal.


Bagaimana bisa ia lupa jika pintu kamarnya ini memang telah dikunci oleh Opahnya dari luar.


"Aku tau, jadi tidak perlu memberitahu aku!" jelasnya berbohong. Ia hanya tak ingin terlihat bodoh di hadapan gadis yang masih menatapnya.


Praja melangkah menuju sofa panjang berwarna coklat diiringi tatapan Uci yang masih terus menatapnya.


"Tidur dan jangan melihat aku seperti itu!" Tunjuknya sebelum meletakkan bantal di atas sofa.


Praja menekan saklar membuat kamar menjadi gelap gulita.


"Aaaa!!!"


Suara jeritan terdengar membuat Praja dengan cepat menyalakan lampu. Ia menatap syok pada Uci yang terlihat bertelungkup memeluk lututnya di atas kasur.


"Kenapa kau berteriak?"


"U-uci takut gelap."


Praja menghela nafas berat. Ia menekan dahinya yang begitu tak sanggup lagi. Gadis ini benar-benar menyusahkan dirinya.


"Ah, Tuhan! Mengapa kau ini merepotkan sekali?"


Uci terdiam.


"Baik! Tidurlah!" putusnya.


Praja membaringkan tubuhnya di atas sofa membelakangi Uci yang nampak diam di belakang sana.


"Biarkan dia tidur. Walau pun aku tidak suka cahaya lampu saat tidur tapi tidak apa-apa untuk malam ini daripada gadis itu menjerit terus dan membuat aku pusing."


"Ini semua karena kesalahan Opah. Malam ini ia tidur dengan nyenyak sedangkan aku harus menderita seperti ini."


"Tuhan, semoga aku bisa tidur malam ini."


Uci mematung di belakang. Wajahnya terlihat heran mendengar ocehan Praja yang mengelokkan posisi tidurnya di atas sofa.

__ADS_1


__ADS_2