Praja

Praja
33. Terlalu Banyak Bicara


__ADS_3

"Masuk atau kupukul!"


Sebenarnya Praja tidak berniat untuk benar-benar memukul gadis ini, hanya sedikit mengancam dan alhasil membuat bibir Uci bergetar. Oh Tuhan, gadis ini kembali ingin menangis.


"Cepat masuk!" tunjuk Praja dengan wajah dingin membuat gadis itu menurut. Ia melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk tenang seperti anak kecil yang habis dimarahi oleh ayahnya.


Praja bernafas lega, ternyata cukup mudah untuk menghadapi gadis ini, hanya sedikit bentakan dan ancaman membuat ia mampu mengendalikannya.


"Oh Tuhan, semoga ini semua cepat berlalu. Gadis ini benar-benar membuat aku gila," ocehnya sambil melangkah mengitari mobil untuk masuk ke dalam.


Praja mengelokkan posisi duduknya, menatap gadis itu sejenak yang juga ikut menatapnya namun, sedetik kemudian gadis itu menunduk seakan tak ingin menatapnya.


Paja tak peduli. Siapa yang akan peduli dengan gadis ini, gadis yang telah membuatnya malu di tempat pembayaran mall, ada banyak orang di sana.


Uci nampak diam, kedua matanya menatap ke arah pemandangan perjalanan dari balik jendela kaca mobil. Ia menggerakkan tubuhnya mendekati jendela, merapatkan kedua telapak tangannya ke permukaan jendela saat melihat balon berwarna-warni yang ada di pinggir jalan. Kepalanya bergerak menatap balon berwarna-warni itu yang telah berlalu saat mobil melintas.


Praja mengernyitkan keningnya menatap bingung pada gadis kekanak-kanakan itu. Apa yang gadis itu lihat sampai tubuhnya bergerak ke belakang seperti itu namun, Praja menggeleng sejenak. Untuk apa ia peduli, ia tak memiliki urusan dengan gadis ini.


"Tuan tampan!" panggilnya.


Praja tak menoleh. Ia begitu serius menyetir mobilnya.


"Tuan tampan!" panggilnya lagi dengan sedikit meninggikan nada suaranya membuat Praja menoleh.


Praja menatap bingung menatap gadis ini yang terlihat begitu cemas dengan tangannya yang menunjuk ke arah belakang seakan ada yang ketinggalan di belakang sana.


"Ada apa?" tanya Praja dengan dingin seakan ia tidak tertarik untuk mendengar jawaban dari Uci.


Sebenarnya dia juga penasaran setelah melihat wajah Uci yang terlihat cemas.


"Balon," jawab Uci senang.


Praja melongo. Apa yang dia katakan? Apa ia tidak salah dengar atau gadis ini yang salah bicara.


"Balon?"


Uci mengangguk semangat.

__ADS_1


"Untuk apa beli balon?" tanya Praja bingung dan kesal.


Bagaimana mungkin gadis ini yang menurutnya sudah cukup bisa berpikir dewasa meminta balon. Apa gadis ini sudah gila.


"Ayah, Ayah suka membelikan balon untuk kucing setelah pulang kerja. Uci selalu diberikan balon," jelasnya senang.


"Tidak perlu," tolaknya mentah-mentah.


Uci seketika cemberut, senyumnya hilang begitu saja membuat Praja sedikit merasa bersalah tapi untuk kesekian kalinya apa pedulinya ia kepada gadis ini.


"Tapi Uci mau balon."


"Uci mau balon."


"Uci suka balon."


"Kenapa tuan tampan tidak membelikan Uci balon sedangkan Ayah Uci selalu membelikan Uci balon-"


"Diam!" teriak Praja yang membentak membuat gadis itu tersentak kaget bersamaan saat praja menepikan mobilnya di siring jalan.


Uci menjauhkan wajahnya dari Praja, ia menggigit ujung jari tangannya yang begitu merasa takut. Untuk pertama kalinya ada yang membentaknya seperti itu.


"Aku bukan Ayah kau yang selalu datang pulan dari kerja dan memberikan balon yang indah."


"Tapi Ayah Uci-"


"Aku tidak peduli dengan ayahku itu. Apakah aku juga harus pergi kerja dan setelah pulang aku akanmemberikan balon untuk kau."


"Dan setelah sampai di rumah, aku akan berteriak seperti ini 'Uci Ayah sudah pulang, Ayah telah membawa balon untuk gadis kesayangan Ayah. Apa kau senang?'" jelas Praja yang memeragakan tingkah laku seorang Ayah sementara Uci masih terdiam.


"Dan setelahnya kau akan tersenyum dengan mata berpinar lalu kau akan bilang, 'Ayah terima kasih'," sambungnya sambil mengikuti gaya bicara Uci yang manja.


"Apa seperti itu? Hah? Apa kau mau seperti itu?"


"Uci tidak seperti itu," jawab Uci yang begitu polos sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Praja meremas keningnya yang begitu terasa pening berdenyut di dalam sana. Mengapa bisa ada gadis polos ini di dunia ini Tuhan?

__ADS_1


"Bisakah kau diam di saat aku menyetir mobil karena jika aku marah aku akan menabrakkan mobil ini ke jembatan dan kita akan jatuh sama-sama di laut yang dalam itu bersama dengan mobil ini.


"Setelah itu kita akan tenggelam dan mati di dalam laut karena kehabisan nafas saat air laut akan masuk ke dalam hidung dan memenuhi paru-parumu."


"Paru-paru itu apa?"


"Oh Tuhan!" teriak Praja yang menjambak rambutnya sendiri dengan sangat kesal.


"Kenapa kau begitu bodoh?"


"Uci bodoh?"


Kedua bibir Praja terbuka. Apa gadis ini benar-benar bertanya kepadanya? Apakah gadis ini paham dengan pertanyaannya.


"Tidak kau tidak bodoh, hanya sedikit," jawabnya sambil cengengesan namun, sedetik kemudian raut wajahnya kembali menjadi kesal.


"Mengapa kau tidak tahu apa-apa? Lalu apa yang orang tuamu ajarkan kepada kau itu?"


"Apakah dia hanya mengajarkan tentang balon dan es krim?"


Uci menggeleng pelan.


"Lalu apa yang kau tau? Hah? Apa sekarang aku tidak peduli dengan apapun tentang dirimu itu. Duduk diam dan jangan bicara sedikitpun karena jika kau bicara kau hanya akan membuat aku menjadi semakin gila."


"Tuan tampan gila?"


Praja dibuat terdiam. Sekali lagi gadis ini kembali bicara dan berhasil membuat Praja bungkam membuat suasana menjadi hening.


Praja menggerakkan bibirnya berniat untuk bicara tapi dia mengurungkan niatnya. Ia menggerakkan tangannya dan menggaruk tak jelas pada tubuhnya lalu menyentuh setiran mobil. Ia menarik nafas sejenak hingga akhirnya memutuskan untuk bicara.


"Aku akan mengantarmu pulang sekarang juga," ujarnya yang dengan cepat menancapkan gas.


"Tapi Uci mau balon."


Praja tak menghiraukan, baginya permintaan gadis ini hanyalah hal yang tidak berguna. Balon, untuk apa gadis seusianya meminta balon?


Gadis ini sepertinya sedang sakit, bukan fisiknya yang sakit tapi otaknya. Apakah Sumbawa tidak memeriksa otak gadis ini sebelum menikahkannya dengan cucunya ini.

__ADS_1


Sekarang apa hasilnya? Walaupun Praja menyuruh gadis ini untuk diam dan bahkan sampai mengancamnya seakan Praja merasakan dirinya seperti seorang penjahat atau pria yang sedang menculik anak-anak tapi tetap saja gadis ini terus mengoceh seperti burung beo yang belum dikasih makan.


__ADS_2