Praja

Praja
13. Masak


__ADS_3

Jalan yang berlubang membuat mobil terguncang halus menikmati perjalanan menuju ke desa yang sepertinya sudah tak jauh lagi. Sumbawa hapal betul dengan jalanan ini karena itulah sejak tadi Sumbawa tak pernah berhenti bicara untuk menunjukan jalan.


"Yah! Berhenti lah!" pinta Sumbawa membuat Sandigo menepikan mobilnya tepat di depan rumah yang kemarin.


Sandigo tak akan pernah lupa pada rumah tua yang telah menyajikan singkong rebus dengan teh hangat di dalam gelas yang pinggirannya berkarat.


Sumbawa melangkah turun dari mobil. Baru saja ia ingin tersenyum dan menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati udara sejuk, hal itu tertahan setelah melihat sosok gadis berbaju pink dengan rok sebatas lutut yang sedang jongkok di samping tangga dengan tangannya yang terlihat mencungkil-cungkil tanah lalu ia letakkan ke dalam batok kelapa.


Kedua matanya tak berkedip sedikit pun menatap nanar pada calon menantunya itu. Gadis itu sedang bermain! Main tanah! Apa tidak ada kegiatan bermain yang lebih baik dari itu.


Sandigo menepuk jidat.


"Tuhan, apa yang dilakukan gadis ini?"


"Ah, diam lah Sandigo dan ikuti aku!"


Sumbawa melangkah masuk ke pekarangan rumah menatap gadis itu dengan penuh serius. Gadis itu bicara tak jelas seakan-akan ia punya teman bermain.


"Tuan?"


Sumbawa mendongak menatap Fatia yang berada di pintu menatapnya dengan pandangan tidak percaya.


Fatia tak menyangka jika ia akan kedatangan tamu istimewa ini lagi. Ia pikir setelah kejadian kemarin dimana Uci mengotori mobil milik cucu orang kaya itu, mereka tidak akan datang lagi.


"Apa aku boleh masuk?"


"Iya tentu saja, Tuan! Silahkan!" jawab Fatia yang tersadar dari lamunannya.


Ia membuka pintu lebar-lebar dan merapikan rambutnya yang terlihat kusut karena telah mencuci pakaian di sungai.


Sumbawa melangkah menaiki anakan tangga setelah melepas alas kakinya. Langkahnya yang menelusuri anakan tangga itu terhenti setelah ia tak mendengar suara langkah Sandigo.


Sumbawa menoleh menatap Sandigo yang terlihat mematung menatap Uci yang masih sibuk dengan permainannya.


"Sandigo!"


Sandigo tersentak kaget. Ia dengan cepat melepas sepatunya dan ikut melangkah masuk ke dalam rumah sambil sesekali menoleh menatap Uci.


Fatia meletakkan dua gelas teh hangat ke atas meja dan duduk ke kursi sambil memeluk nampan yang terlihat usang.


"Silahkan diminum, Tuan!"


"Iya, terima kasih."


Sumbawa meneguk teh hangatnya sedikit dan kembali meletakkannya ke atas piring kecil yang menjadi alas pada gelasnya.


"Jadi maksud Tuan datang ke sini untuk menjemput Uci?"


Sumbawa mengangguk sambil melemparkan senyum hangatnya.


"Iya. Aku juga telah memutuskan untuk menggelar pernikahan besok."


"Be-besok? Bukan kah itu terlalu cepat?"


"Yah aku tau tapi cucuku itu hanya punya waktu di hari itu saja. Setelahnya dia tidak punya waktu lagi. Apa anda keberatan?"

__ADS_1


"Ahahaha, tidak sama sekali Tuan. Saya bahkan merasa senang."


Sumbawa mengangguk. Ia meneguk tehnya lagi dan kembali bicara.


"Em, mungkin aku tidak bisa lama-lama. Aku harus menyiapkan dekorasi pernikahan dan mungkin aku akan langsung membawa putri anda saja."


Senyum Fatia berangsur lenyap dari bibirnya. Apa itu berarti hanya Uci yang pergi ke kota dan bagaimana dengan dirinya.


"Ahaha, apa hanya Uci yang-"


Ujaran Fatia terhenti. Ia menutup bibirnya yang hendak protes itu setelah melihat Sumbawa mengeluarkan beberapa ikat uang berwarna merah dari balik jas bermerek yang ia kenakan.


"Ini ada sedikit uang. Anggap saja ini adalah hadiah untuk anda."


Sumbawa meletakkan uang itu ke atas meja membuat Fatia mengerekkan kedua tangannya berniat untuk meraih uang itu, namun berusaha ia tahan.


"Hadiah untuk saya?"


"Ya tentu saja."


Fatia berusaha untuk menahan tawanya. Ia meraih uang yang jumlahnya tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan menjadi miliknya. Tangan gemetarnya menelusuri pinggiran uang lembaran berusaha untuk menghitungnya.


"Setelah hari pernikahan nanti aku pastikan bahwa aku akan mengirim uang cash untuk anda dan jumlahnya jauh lebih banyak dari pada ini."


Fatia mengangguk cepat. Kedua matanya masih sibuk menghitung nominal pada lembaran merah yang sampai saat ini belum ia ketahui berapa jumlahnya.


"Em, kalau begitu silahkan minum!"


"Ya. Terima kasih."


"Ah, tidak perlu! Semuanya akan aku persiapkan."


Fatia mengangguk mengerti. Ia memeluk erat uang itu seakan takut kehilangan.


"Pak!" bisik Sandigo membuat Sumbawa menoleh.


"Aku akan menunggu di luar!"


Sumbawa mengangguk membuat Sandigo bangkit dari kursi yang sejak tadi ia takuti akan roboh lalu melangkah keluar menuruni anakan tangga.


Sandigo memutuskan untuk duduk di anakan. tangga paling bawah. Ia menatap gadis itu dengan pandangan serius, memantau setiap pergerakan gadis itu lakukan. Sandigo baru sadar jika gadis itu tidak bermain masak-masak. Ada batu yang disusun menyerupai kompor dan kayu yang berada di bawah batok kelapa yang telah diisi dengan tanah.


Sandigo menggaruk tidak mengerti. Apa gadis ini sedang memasak tanah?


"Ehem!"


Tak ada tanggapan dari Uci. Ia masih sibuk dengan kegiatannya.


"Apa yang kau lakukan?"


Uci menoleh menatap Sandigo yang berusaha untuk tersenyum. Ia bangkit dari anakan tangga lalu duduk di depan Uci yang kembali sibuk mengaduk tanah.


Sandigo mengernyit bingung.


"Apa kau sedang bermain tanah?"

__ADS_1


Gerakan tangan Uci terhenti. Ia melirik menatap Sandigo lalu meletakkan jari telunjuk di depan bibir mungilnya.


"Jangan bicara! Nanti apinya mati."


Kedua bibir Sandigo terbuka tidak menyangka. Ia melirik menatap kayu kecil yang berada di bawah batok kelapa. Tak ada api di sana.


"Apa kau lapar?" tanya Uci dengan senyum yang tak pernah pudar.


"Ti-tidak," jawab Sandigo begitu gugup.


"Ih, kenapa bilang tidak? Bilang saja iya! Ini kan hanya pura-pura."


Sandigo melongo. Ia menggaruk kepala yang tak gatal.


"Apa Tuan lapar?"


Sandigo mengangguk seperti orang bodoh. Kali ini ia menurut saja.


"Tunggu, ya aku akan mempersiapkan makan untuk anda, Tuan!"


Sandigo tak menjawab. Ia menatap bingung pada Uci yang terlihat mengangkat batok kelapa yang ia alas dengan kain kecil seakan batok kelapa itu panas. Ia meraih dedaunan kecil, mencincang daun itu dengan kayu tumpul dan menaburkannya di atas tanah.


"Telah siap! Ini adalah makanan spesial. Nasi goreng dengan daun bawang."


Uci tersenyum lebar. Ia menjulurkan batok kelapa itu dengan begitu bahagia.


"A-a-apa itu untuk aku?"


Uci mengangguk.


Sandigo mengerjapkan kedua matanya dengan tatapan tak menyangka. Tuhan, gadis apa yang akan menjadi istri Tuannya ini. Sandigo tertawa kecil, ia berpura-pura tertawa lalu meraih batok kelapa itu dengan takut.


"Wah, terima kasih."


"Sama-sama," jawabnya lugu.


Sandigo meneguk salivanya. Ia mengaduk-aduk tanah itu membuat dedaunan cincang itu bercampur. Lihat lah dia tanpa sadar juga ikut bermain.


"Tunggu! Aku melupakan sosisnya!"


"Sosis?" tanya Sandigo tidak mengerti.


Uci berpaling membelakangi Sandigo dan setelah ia berbalik badan ia meletakkan sesuatu ke atas tanah pada batok kelapa yang ada di tangan Sandigo.


"Tadaaaaa!!!"


"Aaaaa!!!" teriak Sandigo setelah melihat cacing hitam yang menggeliat di atas batok kelapa.


Sandigo melempar batok kelapa itu jauh-jauh darinya. Tubuhnya gemetar ketakutan menatap cacing yang masih menggeliat di atas tanah.


"Sandigo!"


Sandigo menoleh menatap Sumbawa yang terlihat berlari menuruni anakan tangga untuk menghampirinya. Sepertinya ia juga terkejut setelah mendengar suara teriakannya.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Pak! Gadis ini bermain dengan cacing!" aduhnya sambil berusaha menahan geli.


__ADS_2