
"Bacakan apa kegiatan aku besok dan satu minggu ke depannya!" pinta Praja sambil merapikan jasnya.
"Baik Tuan," ujar Digo lalu mengeluarkan buku catatan dari balik jasnya.
Buku catatan berwarna hitam itu merupakan buku catatan yang berisi tentang jadwal kegiatan Praja. Kemana pun Digo pergi maka buku catatan itu akan selalu ada di jas Digo dan oleh karena itu, semua kegiatan Praja hanya akan diketahui oleh Digo sebagai pendamping pribadi Praja.
"Besok ada rapat jam 8 pagi dan setelah itu jam sepuluh ada kunjungan ke kantor yang ada di Surabaya dan kunjungan kantor di Kalimantan jam 3 sore."
"Hari selasa, rabu, kamis juga seperti itu namun, kunjungannya di daerah yang berbeda."
"Hari jumat ada kegiatan-"
"Jangan dibacakan yang bagian itu!" tegur Praja saat Digo ingin membacakan jika ia akan membagikan uang kepada fakir miskin dan kali ini ia ingin terjun langsung, biasanya Digo yang selalu pergi tapi kali ini Praja ingin melihat langsung.
"Baik Tuan, hari Sabtu ada jadwal-"
"Digo hentikan!" suruh Sumbawa yang sangat tak tahan mendengar jadwal yang begitu sangat padat.
"Iya Pak?"
"Aku tau Praja memang sibuk. Tolong bacakan jadwal kosong Praja saja!" suruh Sumbawa sambil menunjuk ke arah buku yang dipegang oleh Digo.
Digo mengangguk lalu membuka satu persatu helai kertas buku catatan hitam itu membuat Praja dan Sumbawa menatap serius ke arah Digo.
Praja melirik buku catatan itu dengan penuh harap, ia sangat ingin jika tak ada jadwal kosong untuknya.
"Sepertinya tidak ada jadwal kosong."
Mendengar hal tesebut membuat Praja tersenyum di dalam hati sementara Sumbawa membulatkan kedua matanya tak menyangka.
"Apa yang kau katakan? Lihat baik-baik jadwalnya! Jangan sampai aku menusuk mata kau itu!" ancamnya membuat senyum Digo lenyap dari bibirnya.
"Ah baik lah pak daripada Anda menusuk mata saya ini," putusnya dan kembali membolak-balik kertas.
"Hari minggu pak," ujar Digo membuat Praja memejamkan kedua matanya dengan perasaan kesal. Rasanya Praja menyesal setelah memanggil Digo datang ke sini.
"Yah, itu yang aku tunggu!!!" teriak Sumbawa begitu sangat gembira lalu tertawa.
"Praja kamu dengar itu?" Tunjuk Sumbawa ke arah Digo sambil melangkah mendekati Praja yang kini hanya mampu mengangguk pelan.
__ADS_1
Sumbawa tersenyum bahagia lalu merangkul bahu Praja begitu sangat hangat.
"Opah sudah putuskan bahwa pernikahan kamu akan dilaksanakan hari minggu."
"Wah, itu berita baik," ujar Digo sambil memasukkan buku catatan hitam ke dalam jasnya.
"Ini berita baik, kan?" tanya Sumbawa sambil menatap Digo.
"Iya Pak tentu saja ini berita baik, hahaha"
"Lihat Praja! Semua orang terlihat senang dan bahagia. Kamu tenang saja yang perlu kamu lakukan adalah mengucapkan ijab kabul sementara pakaian pernikahan, panggung, dekorasi-"
"Dan makanan," potong Digo.
"Yah dan makanan akan diurus," jelas Sumbawa membuat Digo mengangguk sepertinya kali ini ia tak perlu bersusah payah untuk membantu acara pernikahan Tuannya itu.
"Kue bertingkat, gedung dan cincin atau sebagainya akan di urus oleh Digo," jelas Sumbawa membuat Digo melongo, senyumnya kini lenyap dari bibirnya.
"Saya Pak?" tanya Digo sambil menunjuk ke arah wajahnya.
"Eh saya, em yah tentu saja saya mau, Pak. Bagaimana caranya saya menolak Pak hahaha," jelas Digo sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
...🍃🍃🍃...
Badrul berlari melewati sawah yang menghijau tanamannya yang begitu terlihat sangat subur dengan beberapa orang-orangan sawah yang berdiri di tengah-tengah petakan sawah yang luas.
Badrul menghentikan larinya lalu menunduk menatap Uci dan beberapa anak-anak lainnya yang tengah bermain air di sungai yang jernih serta air terjun yang tinggi dan terlihat sangat indah. Setelah mereka mengotori mobil Praja kini mereka tanpa rasa bersalah bermain air di sungai ini sambil mencuci pakaian mereka yang kotor karena terkena lumpur.
"Uci!!!" teriak Badrul.
Badrul mendecapkan bibirnya kesal saat Uci tak mendengar suara teriakannya lalu Badrul kembali berlari melewati bukit yang agak miring untuk menuju ke bawah sana.
"Uci!!!" teriak Badrul yang kini terlihat ngos-ngosan setibanya ia di tempat.
"Kenapa teriak-teriak?" tanya gadis berponi tebal, sebut saja ia Melati.
"Dikejar anjing gila?" tebak Dodo yang kini mengusap bawa hidungnya yang penuh dengan ingus itu.
__ADS_1
"Bukan! Aku tidak dikejar anjing gila tapi ini lebih mengerikan dibandingkan anjing gila," jelasnya.
"Lalu?" tanya Uci.
"Uci, cepatlah pulang jika tidak Ibu kamu akan marah."
"Dia menyuruh Uci pulang?" tanya Uci.
"Iya jadi sekarang cepatlah pulang sebelum Ibu kamu marah," jelas Badrul lalu menarik pergelangan tangan Uci dan menariknya naik.
"Uci! Cepat lah pulang. Ibu kamu itu sangat menyeramkan kalau marah," sahut Melati membuat Uci dengan cepat berlari.
Melati, Dodo dan beberapa anak lainnya kini terdiam menatap kepergian Uci dan Badrul.
"Apakah Tante Fatia akan marah?" tanya Melati.
"Aku rasa mungkin tapi kita tidak tau," sahut Titi yang kini duduk di atas batu berukuran paling besar.
"Apa mungkin Tante Fatia akan marah setelah mengetahui jika mobil orang kaya itu kotor karena ulah kita?" tanya Dodo membuat anak-anak lainnya menggeleng tidak tahu.
Badrul menghentikan langkahnya saat pria bertubuh tinggi berkulit sawo matang berdiri itu berdiri menghalangi jalannya di tengah sawah.
Pria itu melepas topinya lalu menurunkan cangkul yang ia letakkan di bahunya. Pria dengan wajah tampan itu tersenyum setelah mengetahui jika ada Uci di sini.
Afar, pria bergigi ginsul ini adalah pria yang terkenal sangat tampan di desa ini. Banyak yang menyukainya, selain karena ia yang memiliki wajah tampan ia juga terkenal dan dikagumi karena ia adalah pria yang sangat pekerja keras.
"Mau kemana?" tanya Afar sambil tersenyum ramah.
"Bang Afar, tolong menyingkir! Tante Fatia ingin Uci cepat pulang jadi tolong menyingkir sekarang juga!" ujar Badrul.
"Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Afar yang kini tersenyum.
"Bang Afar, asal Abang tau Tante Fatia akan memarahi aku jika lambat membawa Uci pulang ke rumah," jelas Badrul.
"Oh kalau begitu biar aku yang menyingkir," ujar Afar lalu segera turun membuat kakinya kini tenggelam di telan lumpur sawah.
"Terima kasih Bang Afar. Ayo cepat Uci!" ujar Badrul lalu kembali menarik pergelangan tangan Uci dan menuntunnya untuk melewati jalanan sawah yang kecil.
Afar tersenyum lebar saat menatap kepergian Uci yang kini melintasinya tanpa pernah menoleh untuk menatapnya sedikit pun.
__ADS_1
Agar tersenyum lagi menatap Uci yang masih berlari sambil ditarik oleh Badrul. Sebenarnya ia sangat kagum pada kecantikan Uci. Andai saja Ibu dan Bapaknya setuju mungkin ia sudah melamar gadis itu.