Praja

Praja
34. Jauhkan Gadis Ini!


__ADS_3

...🍃🍃🍃...


Suara tawa terdengar di dalam sebuah ruangan tamu. suara tawa itu berasal dari Sumbawa dan Sandigo yang kini tengah asyik duduk sambil menikmati secangkir kopi di ruang tamu.


"Yah sekarang aku sangat yakin cepat dan lambat mereka berdua akan saling mencintai."


"Benar, pak yang bapak katakan sangatlah benar. Sepasang antara lelaki dan perempuan jika selalu bersama maka akan menimbulkan sebuah rasa."


"Lambat laun mereka akan selalu jatuh cinta dan aku tau tidak akan ada pertengkaran di antara mereka."


Sumbawa mengangguk sambil tersenyum bahagia lalu kembali bicara, "Yah, kau benar Sandigo. Aku tidak sabar menerima kabar yang baik jika mereka berdua telah saling jatuh cinta dan tidak lama lagi aku akan mendapatkan seorang cucu, hahaha," tawanya di akhir kalimat.


"Betul, pak," itu sangat betul sahut Sandigo yang setelahnya ia meraih secangkir kopi dan meneguknya secara perlahan menikmati setiap tegukan kopi yang mengalir di kerongkongannya.


"Uci tidak mau!"


"Uci tidak mau!"


"Uci mau balon!"


Suara teriakan Uci terdengar membuat Sandigo dan Sumbawa bangkit dari sofa secara bersamaan menatap Praja yang nampak menyeret masuk ke dalam rumah gadis manja itu.


"Ada apa ini?" tanya Sumbawa yang begitu kebingungan.


Dari sini ia bisa melihat wajah kesal Praja diiringi dengan kedua alisnya yang terlihat bertaut, dia sepertinya benar-benar marah saat ini.


Praja menghentikan langkahnya tepat di hadapan kedua orang yang masih menatapnya itu. Ketika bersamaan ia menghentikan langkahnya ia melempar gadis itu dengan pelan namun, siapa sangka gadis itu lemparan mengakibatkan gadis itu terhempas ke sofa.


Yah, untung saja Uci terhempas ke sofa bukan di lantai jadi Praja tidak terlalu panik. Praja masih memiliki hati nurani ia bukanlah orang jahat yang ingin menyakiti seorang gadis seperti Uci. Walaupun ia anti dengan perempuan dan tidak menginginkan perempuan di dalam kehidupannya tapi tetap saja ia tidak ingin menyakiti seseorang yang disebut perempuan.


"Ada apa ini Praja kenapa kau melemparnya seperti itu?" tanya Sumbawa yang tidak terima.


Praja menarik nafas lalu menahan amarah yang ingin meledak di detik ini juga. Disaat seperti ini bagaimana bisa opahnya itu bertanya.


"Opah bertanya atau Opah sedang berpura-pura tidak tahu?"


"Apa maksud kau, nak? Opah tidak mengerti."


Praja mendecakkan bibirnya dengan kesal. Ia menopang pinggang lalu menyentuh keningnya yang terasa pening dan ia kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan berusaha untuk tidak menggeretak opahnya itu.


"Gadis ini..." tunjuknya sambil menjeda ujarannya.

__ADS_1


"Gadis ini telah membuat aku malu," sambungnya.


"Malu?"


"Yah, apa opah tidak tahu bagaimana rasanya menahan malu di tempat umum karena kelakuan gadis ini?"


"Gadis ini yang opah pilih untuk menjadi istriku adalah gadis yang benar-benar seperti anak kecil. Mengapa opah tidak memeriksa otaknya terlebih dahulu sebelum Opah menikahkan dia dengan aku?"


"Praja-"


"Cukup Opah, cukup! Gadis ini benar-benar telah membuat aku muak. Opah tidak tahu sepanjang perjalanan pulang ke rumah gadis ini terus mengoceh dan meminta untuk dibelikan balon."


"Bukan hanya itu, gadis ini bahkan berteriak di dalam mall dan di tempat antrian berlagak seakan aku ini adalah seorang penculik."


"Apakah tidak ada gadis yang lebih pintar daripada gadis ini untuk menjadi istriku?"


"Praja opah tau tapi-"


"Tapi apa opah?" potong Praja.


Sandigo meneguk salivanya. Baru kali ini ia mendengar Praja berbicara panjang lebar. Selama ini bos yang sangat ia kenal pendiam itu tidak pernah berbicara panjang tapi kali ini Praja berbicara panjang lebar.


"Tapi apa? Gadis ini benar-benar telah membuat aku menjadi gila, opah. Apa Opah mau aku juga gila seperti gadis ini?"


Praja yang terlihat masih marah-marah itu dengan perlahan menoleh menatap Uci yang sedang menatapnya bukan hanya Praja yang menatapnya tapi Sumbawa dan Sandigo juga.


Sumbawa menepuk jidatnya. Bagaimana bisa gadis ini bertanya di saat-saat seperti ini. Sumbawa menutup separuh wajahnya, lihat saja tanduk Praja tidak lama lagi akan naik jika seperti ini.


"Lihat! Lihat dia! Dia bertanya apa dia gila atau tidak!" tunjuk Praja yang sudah tidak habis pikir.


"Praja!"


"Sudah cukup! Gadis ini benar-benar telah menguras seluruh tenagaku. Aku telah pusing memikirkan masalah di perusahaan bagaimana bisa aku-"


"Bagaimana kau tidak pusing jika perusahaanmu itu ada banyak," potong Sumbawa.


"Iya aku tahu tapi gadis ini menambah beban di pikiranku. Opah tidak perlu menyuruh aku untuk menemaninya ke mall, bukankah perjanjian kita dulu hanya-"


"Praja!" tegur Sumbawa.


Ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir berusaha memberi kode agar Praja tidak melanjutkan ujarannya.

__ADS_1


Praja menarik nafas, membungkam mulutnya sendiri itu menahan ujarannya yang sedikit lagi terlontar. Ia hampir mengungkapkan rahasia itu.


Sumbawa melangkah mendekati Praja, membisikkan sesuatu ke telinganya dan melangkah pergi. Praja mematung menatap Uci sejenak yang terlihat dia menatapnya.


"Jangan terlalu dekat dengan dia jika tidak maka kau juga akan ikut gila," ujar Praja kepada Sandigo yang nampak mengangguk hingga tak berselang lama Praja melangkah meninggalkan Sandigo dan Uci yang ikut mematung.


...🍃🍃🍃...


"Opah tahu kalau gadis itu cukup kekanak-kanakan."


"Bisakah opah menarik perkataan opah? Bukan cukup kekanak-kanakan tapi sangat sangat kekanak-kanakan."


"Opah tidak menjodohkan aku dengan seorang perempuan tapi telah menjodohkan aku dengan anak kecil. Anak kecil yang masih ingin bermain bersama dengan teman-temannya," sambungnya.


"Dia bukan anak kecil lagi Praja. Bulan depan gadis itu akan berulang tahun ke-17 tahun."


"Iya aku tahu tapi sikapnya sama seperti anak kecil usia 5 tahun. Dia bahkan meminta balon, es krim, ingin digandeng dan sebagainya. Apakah itu bisa dikatakan gadis yang akan berusia 17 tahun. Hah, dia bahkan seperti gadis ingusan."


"Jika opah menginginkan seorang cucu maka opah bisa menjodohkan aku dengan gadis yang lain, tidak seperti gadis itu."


"Praja, aku menjodohkan kamu dengan gadis itu bukan hanya karena opah menginginkan cucu tapi karena karena opah telah menabrak ayah dari gadis itu."


"Iya aku tahu. Tapi mengapa harus aku yang mendapatkan semua resiko dari kesalahan yang opah buat?"


"Opah yang menabraknya dan aku yang mendapatkan imbasnya, apakah itu bisa dikatakan adil?"


"Hust! Pelan-pelan jika kau bicara! Nanti gadis itu mendengarnya," bisik Sumbawa yang menoleh ke belakang.


Semoga saja gadis itu tidak mendengarnya. Walaupun ia berada di dalam ruangan kerja milik Praja tapi tetap saja gadis itu mungkin saja bisa menguping pembicaraan mereka.


"Oh jadi rupanya opah takut jika gadis itu mengetahui siapa sebenarnya pembunuh ayahnya-"


"Praja! Bisakah kau menarik ujaran kau itu? Opah tidak membunuhnya. Saat itu opah hanya mengantuk dan setelahnya opah tidak sengaja menabrak pria itu hingga-"


"Bukan hanya pria itu yang meninggal tapi kedua orang tuaku juga," potong Praja yang membuat raut wajah Praja kini menjadi sedih.


Setiap kali ia mengungkit tentang kematian kedua orang tuanya itu ia merasakan jika dadanya seakan dihantam dengan benda tajam membuat nafasnya menjadi sesak namun, ia berusaha untuk tidak memikirkan kejadian itu. Ia tidak ingin menangis lagi.


Saat ini tangis hanyalah di saat ia berusia 10 tahun dan itu sudah cukup baginya, tak ada lagi tangisan di usianya sekarang ini.


"Sekarang begini saja, kalau opah masih menginginkan aku untuk bersama dengan gadis itu maka jauhkan gadis itu dari aku."

__ADS_1


"Aku tidak ingin gadis itu ada di sampingku dan opah tidak perlu untuk mengharapkan aku memberikan cucu karena sampai kapanpun gadis itu tidak akan pernah menjadi bagian dariku," jelasnya lalu melangkah pergi.


Sumbawa terpatung, kedua matanya menatap nanar ke arah jendela. Ia terduduk, menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan raut wajah sedihnya.


__ADS_2