Praja

Praja
18. Pernikahan


__ADS_3

Dekorasi pernikahan berwarna putih yang dipadukan dengan bunga mawar putih yang terlihat begitu indah. Kursi-kursi putih yang disusun sedemikian rupa membuat tatanan dekorasi pernikahan yang semakin cantik.


Para pelayan yang kompak menggunakan jas putih dan gaun putih terlihat sedang sibuk menyusun hidangan dan menyelesaikan beberapa dekorasi yang masih mereka rasa belum sempurna. Walau pun pernikahan ini bisa dikatakan rahasia dan tidak digelar untuk umum tapi tetap saja bagi mereka ini adalah hal yang paling istimewa.


Para pelayan juga merasa bahagia pasal akhirnya Tuannya itu bisa menikah dan menambah anggota baru di rumah ini.


"Ah, Tuan! Aku sudah bilang kan untuk mengukur lingkar kaki Tuan. Lihat ini begitu sempit di kaki Tuan," oceh Sandigo yang sedang menunduk untuk merapikan celana Praja yang sejak tadi hanya diam.


Sandigo bangkit dan merapikan bunga mawar yang ada pada jas yang Praja kenakan. Urusan memakai jas pengantin putih pun harus ia yang melakukannya, ini semua karena tukang penjahitnya yang tak berani untuk memasangkannya pada tubuh Praja.


"Tuan!"


Praja melirik menatap jemari tangan Sandigo yang menepuk kedua bahunya.


"Aku mohon untuk menahan emosi. Okay?"


"Ya," jawabnya singkat membuat Sandigo tersenyum bahagia.


Tuhan, sudah bertahun-tahun mereka bersama akhirnya Tuannya itu mau menurut kepadanya.


"Baiklah. Em, Tuan aku ingin keluar sebentar."


Praja mengangguk membuat Sandigo melangkah keluar dari ruangan meninggalkan Praja yang terlihat merapikan rambutnya di depan cermin besar.


Sandigo melangkah menuruni anakan tangga mendapati Sumbawa yang sedang berbincang dengan Putri, istri Sandigo.


"Putri!"


"Mas," ujar Putri yang mendekati Sandigo dan memeluknya sebentar.


"Kau sudah tiba?"


"Baru saja."


"Oh, iya ngomong-ngomong apa yang dikatakan pria tua ini kepada kau?" ujar Sandigo membuat Sumbawa melotot.


Putri tertawa kecil lalu memukul pelan lengan tangan suaminya.


"Dia tidak mengatakan apa-apa."


Sandigo mengangguk sambil tersenyum dengan senyum yang bisa dikatakan mengejek.


"Berhentilah seperti itu! Hari ini aku tidak akan marah karena hari ini adalah hari yang spesial untuk Praja."

__ADS_1


"Hah, aku juga merasa bahagia karena Tuan Praja akan menikah, em lalu dimana calon istri Tuan Praja?" tanya putri yang menoleh ke kiri dan kanan.


"Em, dia ada di kamar. Aku ingin saat dia berjalan keluar menuju acara kau yang menggandengnya."


"Aku?" tanya Putri sambil menyentuh dadanya.


"Yah, kau juga kan adalah menantu ku."


"Tapi bukankah yang melakukannya adalah keluarga dari mempelai wanita itu sendiri?"


Sumbawa tersenyum kaku. Sepertinya Sandigo tidak memberitahu istrinya jika pernikahan ini bukanlah kemauan dari Praja dan wanita yang akan dinikahi Praja adalah gadis yatim piatu dan hanya memiliki ibu tiri yang hanya mencintai uang.


"Sayang!"


Putri menoleh menatap Sandigo yang merangkul pinggangnya.


"Lakukan saja!"


Putri mengangguk. Sejujurnya ia gugup jika harus mendampingi calon istri Tuan Praja. Putri tau bagaimana sikap Tuan Praja dan kemungkinan istri Tuan dari suaminya itu adalah orang yang begitu terhormat.


Sifatnya juga pasti tidak akan jauh beda dengan Tuan Praja. Pria dingin, tegas dan kadang suka marah-marah.


...🍃🍃🍃 ...


"Praja! Ini bukan lomba jalan tercepat! Pelan-pelan lah!"


"Untuk apa pelan-pelan?"


"Praja! Saat ini kau bukan Tuan Praja tapi penggantian mempelai pria. Pengantin! Apa kau mengerti?"


Praja tak menjawab. Ia hanya menurut perkataan Opahnya itu.


Praja duduk di kursi putih yang berada di depan meja dimana pria tua yang merupakan penghulu pada pernikahan ini sudah dari tadi menunggu.


"Silahkan duduk, Tuan! Apa Tuan sehat hari ini?" sapa pria itu sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya.


Praja tak menanggapi. Ia duduk ke kursi dengan wajah datarnya seperti biasa. Sandigo melangkah mendekat penghulu itu dan berbisik di sana.


"Pak! Tolong dimengerti! Pengantin yang satu ini sangat berbeda dari yang lain."


Sandigo tertawa kecil. Senyumnya itu lenyap dari bibirnya setelah melihat Praja yang menatapnya tajam.


Praja menghela nafas panjang. Ia menunduk menatap jam tangannya. Ia menggerakkan jari telunjuknya memangil Sandigo yang langsung mendekat.

__ADS_1


"Cepat panggil penggantinya! Aku tidak nyaman dengan pakaian pengantin ini!" kesalnya.


"Akh, tunggu sebentar Tuan! Dia pasti sudah akan datang. Tenang saja!"


Praja mendecakkan bibirnya kesal. Ia kembali menatap jam bermerek pada tangannya. Ini sangat membosankan.


"Digo, kemari!"


Sandigo melangkah mendekati Sumbawa yang berbisik kepadanya.


"Apa kau sudah menyuruh istri kau itu untuk menjemput calon istri Praja?"


"Sudah, pak. Tunggu saja! Dia pasti sudah bersiap untuk ke sini."


...🍃🍃🍃 ...


Putri terdiam di depan pintu sambil memainkan ponselnya. Ia sudah sejak tadi menunggu di depan kamar. Ia pikir orang di dalam sudah mendandani calon istri Praja namun, ternyata belum.


Pintu terbuka membuat Putri menoleh menatap wanita muda yang melangkah keluar sambil memeluk koper yang berisi alat makeup. Wajahnya mereka terlihat berkeringat dengan rambut yang terlihat acak-acakan.


Putri mengeryit bingung.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa Nona hanya saja calon pengantinnya sedikit nakal," ujar salah satu dari mereka.


"Sedikit nakal? Apa maksud kamu?"


"Iya, Nona. Dia berlari ke sana kemari dan itu yang membuat kami lelah."


Kedua bibir Putri terbuka. Wajah bingungnya tak mampu ia tahan. Ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh mereka. Lari? Apa calon istri Tuan suaminya itu adalah anak kecil hingga harus lari-larian seperti itu atau mungkin ia yang salah dengar.


"Saya permisi dulu Nona."


"Yah, terima kasih."


Dua wanita itu melangkah pergi meninggalkan Putri yang masih kebingungan. Ia penasaran bagaimana rupa calon istri Tuan dari suaminya.


Putri melangkah masuk ke dalam kamar setelah ia mendorong pintu kamar. Kedua matanya membulat kaget menatap sosok gadis berpakaian gaun pengantin putih yang sedang duduk diam di atas kasur.


Apa dia calon istrinya?


... ...

__ADS_1


__ADS_2