Praja

Praja
24. Mimpi Buruk


__ADS_3

Gadis kecil berambut hitam sebahu itu menangis sesenggukan di hadapan pria berkemeja yang sedang berlutut di hadapannya. Sejak tadi ia berusaha untuk menyuruh putrinya untuk tidak menangis tapi tetap saja putrinya yang manja itu tak kunjung berhenti menangis.


"Sudah Uci! Tak perlu menangis! Ayah akan pergi sebentar untuk bekerja setelah itu Ayah akan pulang dan membawakan Uci boneka sapi. Uci mau, kan?".


Tangisan gadis itu terhenti. Ia mengusap pipinya setelah berhenti menangis.


"Janji?"


Deni tertawa kecil disaat putrinya menjulurkan jari kelingkingnya di hadapan Deni.


"Janji," jawabnya yang juga ikut mengaitkan jari kelingkingnya.


Tak cukup sampai di situ Deni mendorong kening putrinya membuat gadis kecil itu tertawa terlebih lagi dorongan itu berhasil membuat wajahnya mendongak.


Kini gantian Uci yang mendorong kening Ayahnya membuat Uci tertawa ciri khas anak-anak.


Suara motor terdengar setelah Deni menyalakan mesin motornya. Ia tersenyum sejenak menatap putrinya yang terlihat tersenyum menatapnya sebelum ia berangkat kerja.


"Dada! Ayah!" teriaknya sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian Ayahnya yang telah melajukan motornya pergi meninggalkan Uci di depan rumah.


Bibir Uci bergetar. Rasanya ia tak ingin jika Ayahnya pergi. Uci ingin menangis namun, tangisan itu tertahan saat ibunya tirinya yang menikah beberapa bulan yang lalu dengan Ayahnya memanggil membuatnya mau tidak mau Uci berlari masuk ke dalam rumah.


Angin yang pada sore hari ini terhembus terasa begitu menenangkan baginya. Di pinggiran sungai terlihat sekelompok anak-anak yang sedang saling bermain air sementara Uci nampak duduk di atas batu.


"Apa kamu serius?"


"Uci serius. Ayah Uci akan pulang dan membawa boneka untuk Uci. Dia sudah janji dan Ayah Uci tidak pernah mengingkari janji.".


"Besok Uci akan memperlihatkan boneka baru Uci kepada kalian semua."


Anak-anak yang ada di hadapannya terlihat begitu kagum. Mereka berbisik dan saling beradu komentar. Ayah gadis yang masih duduk di atas batu ini memang baik.


"Uci!!!" teriak Yusuf membuat sekelompok anak-anak menoleh.

__ADS_1


Pria berkulit sawo matang itu terlihat berkeringat. Dadanya naik turun mencari pasokan udara setelah berlari. Uci tak tahu mengapa anak laki-laki itu terlihat begitu kelelahan.


"Ada apa?"


"Ada mobil ambulance yang datang!!!"


Uci menatap bingung. Ia menoleh menatap beberapa teman sebayanya yang juga terlihat bingung tidak mengerti.


"Apa ada suntik gratis lagi dari puskesmas?" tebak Uci.


"Bukan!!!"


"Lalu?"


"Ayah kau meninggal!!!"


Raut wajah Uci mendatar. Jantung kecilnya seakan berhenti untuk berdetak setelah mendengar apa yang Yusuf katakan. Ia berlari tanpa aba-aba meninggalkan teman-temannya yang terlihat terkejut.


Uci berlari kencang. Kaki kecilnya melewati tanaman kebun teh yang menghijau dan membentang cukup luas. Yusuf ikut berlari disusul beberapa anak-anak yang dibuat penasaran.


"Kasian kamu, Nak. Kamu masih kecil, Ibu kamu telah meninggal dua tahun yang lalu dan sekarang Ayah kamu juga pergi."


Wanita setengah baya itu mengelus sejenak kepala Uci yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Ia tetap melangkah menaiki anakan tangga dan diam berdiri di bibir pintu.


Dadanya seakan dihantam keras saat melihat sang ibu tirimya yang sedang menangis sambil memeluk wanita tetangga dekat rumah yang juga akrab dengan keluarga mereka.


Kedua matanya menatap ke arah lantai kayu menatap kain putih yang tergelar menutupi sesuatu yang berbaring di atas kasur. Ada banyak orang di dalam rumahnya yang berpakaian hitam.


Uci meneguk salivanya. Ia melangkahkan kakinya yang tiba-tiba saja lemas bahkan sesekali ia nyaris terjatuh tetapi tenaga kecilnya berusaha untuk tetap bertahan.


Ia berlutut menatap dari kiri dan kanan sesuatu yang masih ditutupi kain panjang itu. Ia mengangkat jemari gemetarnya dan menyibak sedikit kain yang menutup sesuatu di sana.


Kedua mata Uci membulat menatap kaget pada rambut yang mulai terlihat. Ia menjauhkan jemari tangannya dan memeluknya takut. Ia terdiam sejenak. Ada orang di balik kain itu. Pikirannya seakan melayang entah memikirkan apa kali ini.

__ADS_1


Ia menoleh menatap orang-orang yang terlihat menangis sesegukan. Uci tak mengerti. Di usianya yang masih lima tahun ini, ia belum bisa mengerti.


Uci kembali menunduk menatap rambut yang sempat terlihat membuatnya memberanikan diri untuk mengangkat kain putih itu membuat tubuh Uci terlempar menjauhi sosok menyeramkan yang sedang terbaring di atas kasur.


"Aaaa!!!" teriaknya ketakutan.


Wajah hancur penuh darah itu membuat Uci gemetar begitu histeris. Salah satu wanita setengah baya yang sejak tadi menangis dengan cepat memeluk Uci berusaha untuk menenangkannya


"Sabar, Nak! Ini ujian dari Tuhan. Ayah kamu pasti sudah tenang di surga."


"Ayah?" bisiknya.


Kedua matanya yang gelagapan itu menatap ke arah wajah menyeramkan yang masih terpampang jelas di sana.


Ia menggeleng. Itu tidak mungkin Ayahnya namun, gelengan itu terhenti setelah menatap kemeja yang masih terpasang di tubuh berdarah itu.


Bibir Uci bergetar. Uci kenal dengan baju itu, Itu baju Ayahnya.


"Ayaaaaah!!!" teriak Uci.


Ia mendorong wanita yang sejak tadi memeluknya dan merangkak mendekati sosok Ayahnya yang begitu menyedihkan.


"A-a-a-ayah!!!"


"A-ayah ja-jang-jangan tinggalin Uci!!!"


"Ayah janjikan bawain Uci boneka tapi kenapa Ayah tidur?!!"


"Kenapa Ayah berdarah?"


"Ayah ba-bangun!!!"


"Uci nggak mau ditinggalkan sama Ayah!!!"

__ADS_1


"Ayaaaaah!!!"


__ADS_2