
Tania membuka helm nya melihat kericuhan, tania melihat ke sisi lain ada seseorang cowo yang masih kuat berdiri sambil memegang perutnya dan telapak tangan cowo itu berdarah. Buru buru tania menghampiri cowo tersebut karena pertahanannya akan tumbang.
"Shhh" desis cowo itu ketika tania membopong nya.
"Lo laki harus kuat" ujar tania menguatkan cowo yang bernama baron.
Tak lama kenny datang menghampiri mereka berdua dengan kursi roda segeralah tania meletakan baron di kursi roda tersebut "Udah panggil ambulance?" tanya tania
"Udah, sebentar lagi sampai"
"Yaudah, gue ke sana ya" ucap tania lalu melesat menuju pertikaian suaminya dan cowo tidak tahu nama nya, namun tangan tania di cekal oleh Kenny.
"Bahaya" ujar kenny dengan nada sangat khawatir "Udah ada kurnia" lanjutnya
Tania tidak mengubis indah perkataan Kenny dirinya melepaskan cengkraman Kenny lalu berlari ke arah suaminya berkelahi.
"STOPPP!" Teriak tania memekik dirinya bisa melihat wajah amarah dari tomi yang sangat menyeramkan, tomi tidak membiarkan lawan nya bangun. Dirinya terus menghajar erwind dengan membabi buta. Tomi bangkit sebelum itu dirinya menyuruh Kurnia untuk membereskan semuanya, setelah itu atensi tomi terfokus kearah tania.
"Gue bilang lo jangan kesini!" Bentak tomi tepat di wajah tania "Tuli Lo!" seru nya lalu meninggalkan tania begitu saja
Tania mengerucut bibirnya, rasanya beda seperti bukan tomi. Dirinya memilih untuk mengikuti tomi lagian juga kenapa tomi sangat marah? tania hanya mengkhawatirkan nya saja, bukan nya itu wajar?.
"Tomiiii mau ikut" ujar tania menusuk nusukan telunjuknya di punggung lebar milik tomi
"Pulang!"
"Enggak mau, gue mau ikut" ucapnya lagi kekeh
"Gue bilan---"
"Masuk tania, tomi lagi emosi dia bakal susah di bujuknya" Ucap joshua yang sudah naik ke mobil ambulance.
"Tomi naik apa?" tania yang mau masuk mengurungkan niatnya
"Dia naik mobil sendiri" Ucap joshua
"Enggak, gue mau sama tomi aja" ujar tania lalu kembali mengejar tomi, bisa gawat kalo tomi mengendarai mobil dengan keadaan kesal! yang ada lampu merah ia terobos, bisa jadi janda muda tania kalo itu terjadi. Membayangkan saja sudah membuat tania merinding
Tomi baru ingin membuka mobilnya di kagetkan dengan tania yang berlari kearahnya, dengan tatapan malas tomi bertanya "Mau apalagi?"
"Ikut, gue yang bawa ya" ujar tania meminta izin untuk mengemudi
"Bisa?" tanya tomi mendapat anggukan mantap dari tania, tomi melempar kunci mobilnya ke tania setelah itu dirinya naik di kursi penumpang.
...***...
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya dok?" tanya tomi kepada dokter yang baru saja keluar setelah luka nya di jahit baron di pindahkan ke ruang rawat.
"Sudah baik baik saja, luka nya tidak parah. Sebentar lagi juga dia akan tersadar setelah obat bius nya hilang" jelas dokter itu di akhiri dengan senyuman "Saya permisi"
Kurnia masuk diikuti dengan Kenny dan juga Joshua yang masuk kedalam ruangan itu tersisa tomi dan tania yang berada di depan ruangan.
"Maaf" ucap tomi pelan sangat pelan namun masih bisa tania dengar.
"Gapapa, kenapa minta maaf?"
"Gue udah bentak lo tadi, jangan tinggalin gue ya" pinta tomi ia menggenggam kedua telapak tangan tania dan menatap manik cokelat milik tania dalam dalam
"Enggak, buktinya gue disini kan bareng lo" ucap tania tersenyum tipis walaupun tadi dia sempet sakit hati karena di bentak tapi tania berusaha untuk tidak tersulut emosi, tania tau tomi membentak nya seperti itu karena ada sebab.
Grep
Tomi langsung memeluk tania dengan erat, mendapatkan perlakuan seperti itu tania membalas pelukan tomi dengan sukarela ia mengusap punggung lebar suaminya itu menghirup wangi maskulin yang sangat mencolok.
"Gue sayang banget sama lo" Ujar tomi berbisik
Tuh kan, apa gue bilang! berubah kan kata kata nya. Kemarin dia bilang apa yaaa, mau ngeledek tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
"Hm"
"Lo enggak sayang gue hah?!" Ujar tomi terkesan lucu di mata tania.
"Iya, wlee!" ujar tania sambil menjulurkan lidah nya meledek.
"LO JAHAT!" Pekik tomi sambil membuang wajah ke arah lain dengan tangan melipat di dada dan bibir di monyongkan, bener bener seperti anak kecil!
"Malu sama otot dong" sindir tania
"Biarin! lo enggak sayang gue kan? yaudah gue mau cari cewe lain aja" setelah mengucapkan itu tomi langsung melengos untuk masuk ke dalam ruangan Baron.
"Cari sana, di cium cewe aja lo nangis!" Teriak tania membuat tomi menghentakkan kakinya lalu membalikkan badan
"Lo enggak bisa jaga rahasia!!!" Seru tomi kesal, bisa turun harga dirinya jika teman teman nya mendengar bahwa ia tadi menangis.
Tania berlari kecil "Enggak ada yang denger tom" ujar tania ia tersenyum penuh kemenangan
Saat tania sampai di hadapan tomi ia sedikit berjinjit lalu mendekatkan bibirnya ke telinga tomi "Gue juga sayang sama lo"
...***...
Malam hari setelah pulang dari rumah sakit pasangan sejoli itu sedang main ke rumah afifah, entah mengapa tania sangat merindukan sang ibunda.
__ADS_1
"Kamu gemukan, lagi ngisi?" tanya sang ibunda menatap pipi chubby milik tania, putri nya sekarang lebih berisi ketimbang dulu.
"Belum, bahagia kali ya nia hidup bareng tomi mah" ucap nya ia bisa menatap tomi yang sedang menahan senyum nya
"Alhamdulillah, tapi mamah mau cucu dari kalian. Kapan kalian kasih?" tanyanya membuat tomi dan tania terdiam.
"Betull, ara penasaran liat anak kalian" ucap ara entah dari mana tiba tiba muncul di belakang tania.
"Nanti ya, lagi di proses" ujar tomi melirik singkat tania yang sedang menahan malu.
"Papah juga udah enggak sabar buat gendong cucu pertama dari kalian" ucap wisnu yang tiba tiba datang, dirinya baru saja pulang dari kantor tidak sengaja mendengar perkataan afifah dengan anak dan menantunya.
Tomi berdiri meraih tangan kanan wisnu dan menyium punggung tangan beliau dengan sopan, begitupun dengan tania.
"Insyaallah pah"
Setelah berbincang banyak kini mereka berdua menuju jalan pulang, suasana malam hari yang dingin membuat tania mengeratkan pelukannya dengan tomi.
"Dingin, takut" cicit tania walaupun tomi menggunakan helm ia masih bisa mendengar suara itu karena jalan memang sudah sangat sepi bayangkan saya dirinya memaksakan pulang pukul setengah satu malam padahal kedua orang tania menyuruhnya untuk singgah saja di tempat mereka.
"Lo enggak sendiri jadi jangan takut. Gue bakal lindungin lo Tania" ucap tomi sedikit teriak, tania mendengar itu makin mengeratkan pelukannya kepada tomi, namun perasaan memang tidak enak. Dirinya malah mengingat pengalaman berkendara malam bersama Ilham dulu mereka sempet kejar kejaran oleh gangster.
"Gue takut ada gangster, huaaa"
Tomi tersenyum didalam helmnya ia melirik wajah panik tania dari kaca spion "Gue gangster nya" ucap tomi membuat tania langsung menoyor kepala tomi sambil memasang wajah remeh.
"Becanda aja lo"
Cittt
Tomi menginjak pedal rem mendadak membuat tubuh tania spontan maju kedepan dan dadanya makin nempel dengan punggung tomi, sial. Kenapa tomi berhenti di tempat yang sepi seperti ini?
"Kok berhenti sih?" tanya tania sedikit panik ia menoleh ke kanan dan kiri takut takut jika ada anak geng motor yang berkeliaran tania bisa jaga diri, saat tania menolehkan kepalanya ke depan ia sudah tidak mendapatkan sosok cowo yang tadi menjadi pengemudi nya. Mengapa dirinya tidak sadar? tomi meninggalkan nya di tempat sepi seperti ini?.
"TOMIIIII ENGGAK LUCU, GUE KEBELET PIPIS" Teriak tania wajahnya sudah memerah diri nya bener bener takut, di tambah lagi panggilan alam ini tiba tiba muncul.
"Mau pipiss bangett"
Ia turun dari motor sport tomi, dengan tangan memeluk tubuhnya sendiri "Tomi mah enggak lucu tau, kalo tiba tiba ada gangster dateng terus mereka gilir gue gimanaa!!" tutur tania membayangkan hal yang tidak seharusnya ia bayangkan, kotor banget otaknya.
"Yang boleh per*kosa lo itu cuma gue!" Suara berat itu membuat bulu kuduk tania berdiri, tania langsung di tarik oleh cowo tersebut.
"Arghhh tolong gue mau di cabulin"
...- BERSAMBUNG - ...
__ADS_1