
...HAPPY READING!!!...
.......
.......
.......
Tania POV on
Hari hari tania kembali seperti biasa lagi, tidak ada yang menyindirnya lewat kata kata kasar lagi, semua nya sudah seperti biasa. Tania mengetahui penyebab vanya yang tiba tiba meminta maaf itu semua berkat suaminya, dirinya sudah salah kemarin ngambek tidak jelas cuma karena tomi pergi dulu ke kantor padahal sang suami menemui Vanya untuk memberi pelajaran.
Flashback on
Tania menuju gedung f untuk menghampiri vanya, saat sampai di sana ia melihat vanya sedang berjalan menuju sebuah taman dengan wajah yang sulit di artikan, tania mengikuti langkah vanya dengan hati hati supaya tidak ketahuan.
"L-lo mau apa lagi?"
samar samar tania mendengar suara vanya di balik pohon yang cukup besar, tidak jauh dengan tempat vanya, vanya sedang berbicara sama siapa? ia memperhatikan kursi panjang ada seseorang dengan postur tubuh seperti laki-laki, ia memakai hoodie dengan tudung kepala nya di tutup, membuat tania sulit melihat siapa lelaki itu.
"Enggak ada"
atensi tania tidak terlepas dari interaksi mereka berdua, mendengar suara laki laki itu seperti tidak asing di telinga tania.
"Jangan pernah sentuh tania, kalo lo masih mau hidup"
Merasa nama nya disebut tania mengerutkan kening bingung, siapa lelaki itu?
"I-iyaa gue enggak bakal ngulangin hal bodoh kaya gitu lagi"
Lelaki itu bangkit dari duduknya lalu, tania menajamkan penglihatan nya karena lelaki itu sedikit memiringkan kepala sambil memukul bahu vanya tidak kencang namun bisa buat vanya merintis
"See u, thanks for the game. Bye bicth."
"MAS TOMI!!"
Karena tidak tertahan pekikan di mulut tania keluar gitu saja membuat atensi keduanya spontan menatap tania, buru buru tania lari menjauh dari taman itu menuju kelas nya
grepp
"HUAAAAA, LEPASI--EMPHHHH"
Tania kalah cepat dan berakhir tertangkap dengan suaminya, karena tania bisa memicu keramaian tomi membekap mulut tania dengan tangan lalu mengajaknya untuk keluar bersama.
"Kamu yang aku bunuh, mau?"
Tania menggeleng tegas di dalam rangkulan tomi.
"Bercanda"
Flashback off
Ternyata tomi segitunya melindungi tania, merasa di jaga bener bener membuat tania yakin bahwa tomi mencintainya.
Tania POV end
"Nia, lo ngelamunin apa sih?" ucap alika menatap jengah ke arah sahabatnya itu
"Mikirin sih suaminya lah" ujar wawan dengan nada menyindir.
Tania menoleh ke Wawan, ia bingung sahabat nya ini kenapa? tidak seperti biasanya Wawan seperti ini.
"Sensian bener sih lo wan" ujar alika menatap penuh selidik ke arah wawan
"Iya nih" Ilham ikut nimbrung
"Enggak jelas banget, lagian tania mikirin suaminya sendiri bukan suami orang. Sewot aja lo" ucap alika menjelaskan karena kesal wawan langsung meninggalkan kelas.
"Aneh" gumam alika heran, saat ini sudah jam istirahat namun tania dan ke dua teman nya itu memilih untuk tetap di kelas terlebih lagi tania yang dari tadi merasa perutnya sangat tidak enak bahkan ia tidak bisa menahan mual nya.
"Tuh anak makin hari makin aneh aja" ucap alika kesal menatap pintu kelas padahal cowo itu sudah tidak kelihatan batang hidung nya.
"Jangan jangan wawan suka sama lo, tania?" selidik alika menatap wajah tania dengan intens
"Ngaur aja lo, Lik" bukan Tania yang menjawab melainkan Ilham ia tertawa renyah menanggapi ucapan alika
Alika memukul bahu ilham agar berhenti menertawakan nya "Ih, bisa jadi"
HUEKK HUEKK
__ADS_1
Tania menengadahkan untuk menutup mulutnya rasa mual seakan menyerang tiba tiba, segera tania berlari menuju toilet kampus di ikutin dengan ilham dan alika karena toilet itu khusus perempuan jadi hanya alika saja yang masuk sedangkan ilham menunggu dari jarak yang lumayan jauh agar tidak di kira dirinya sedang menguntit cewe.
Huekk ... huekk ... huek
Tania memuntahkan nya di wastafel toilet dengan air keran yang di biarkan menyalah, alika mengikat asal rambut tania supaya tidak menganggu atensi nya.
"Lo makan apa, Nia? sampai gini, mana sekarang lo pucet banget. Pulang aja ya?" ucap alika dengan nada khawatir setelah melihat tania sudah tidak muntah.
Tania menatap dirinya lewat pantulan cermin bener saja yang di bilang alika bibir tania berwarna putih pasi, kepalanya sedikit berkunang kunang.
"Oh iya gue lupaa!!" pekik alika, tania mengerutkan kening bingung yang masih bisa alika lihat lewat pantulan cermin itu
"Apa?"
"Telat berapa minggu? siapa tau dede nya jadi disini" ucap alika dengan senyum senyum tidak jelas mengelus perut datar tania
"Enggak telat, bulan ini gue udah dapet" ucap tania
"Terus lo ngelakuin itu nya kapan? setelah beberapa hari selesai haid?" tanya alika kepo
"Kepo lo ah"
"Ihhh ini bukan kepo, Nia. ayo jawab"
Tania menanggapi nya dengan malas lalu "Sehari selesai haid"
"NAH KAN FIKS" Teriak alika spontan membuat tania langsung menutup mulut sahabat itu
"Berisik lo mah"
Alika hanya nyengir kuda "Menurut internet, masa subur perempuan itu setelah selesai haid jadi kalo ngelakuin itu pasti jadi baby" jelas alika yang menurut tania ngaco.
"Internet di percaya, udah ah gue mau makan"
"Tapi kan bisa jadi tania, lo enggak mau coba test dulu?" tanya alika dengan serius.
"Enggak Lik, gue enggak hamil!"
-
Ucapan ucapan alika membuat tania kepikiran, ia takut kalo harus test dan jika hasilnya positif bagaimana dengan kuliahnya?
Tania hanya menggelengkan kepalanya pelan, merasa ada yang aneh dengan istrinya itu tomi menyentuh telapak tangan tania dan menautkan jemarinya.
"Ada apa sayang?" tanya tomi lagi mata nya fokus dengan jalan.
"Enggak ada apa apa, mas"
"Kalo ada yang jahatin kamu bilang aku aja ya" tania langsung menoleh menatap suaminya yang sedang menatap jalan.
"Iya mas" jawab tania pelan
Tania memperhatikan tangan tomi yang berada di genggaman nya, melihat jari jempol cowo itu mengusap lembut punggung tangan tania, apa saat nya tepat?
Apa tomi sudah sepenuhnya mencintai tania dalam waktu satu bulan lebih ini?
"Mas, kalo liat apotik kita berhenti dulu ya. Aku mau mampir" mendengar itu tomi spontan menoleh ke arah tania ia melepaskan genggaman nya berpindah meletakan pungging tangan ke kening, pipi, dan juga leher tania. saat mengecek suhu tubuh tania normal membuat tomi bernafas lega.
"Kamu sakit?"
"Enggak, nanti berhenti aja ya"
Tomi mengangguk sebagai jawabannya, ia merasakan ada yang aneh kepada istrinya itu. Karena tidak mau memperburuk mood sang istri tomi segera mencari apotik.
Beberapa menit kemudian mobil tomi berhenti di depan apotik, ia melepaskan seatbelt miliknya "Mau beli apa? biar aku aja yang beli" ucap tomi yang sudah bersiap untuk keluar mobil.
"Aku aja"
"Yaudah aku temenin" tomi ingin membuka pintu mobil tetapi tangan nya di tahan oleh tania
"BISA ENGGAK SIH? ENGGAK USAH NGIKUTIN AKU TERUS!! AKU BISA SENDIRI" Ucap tania dengan mengeraskan suaranya
Tomi mengerutkan keningnya bingung menatap dalam dalam manik cokelat milik istrinya itu, tomi menganggapinya dengan tersenyum tipis lalu mengelus pipi tania "Yaudah, aku tunggu sini" ucapnya ia mencoba untuk memadamkan emosinya.
Tania langsung turun setelah turun dari mobil tomi ia sangat merasa bersalah telah membentak suaminya, dirinya bener bener di pusingkan dengan keadaan maka nya emosi tania tidak stabil, ia memejamkan matanya seolah untuk meredam semua amarah yang tidak jelas menyerang dirinya.
Tania beberapa kali menengok kebelakang takut jika tomi nekat mengikutinya.
"Ada yang bisa saya bantu mba?" tanya resepsionis apotik itu
__ADS_1
Tania kembali memfokuskan pandangan nya kedepan ketika melihat tidak ada tomi di belakang "Gejala hamil itu seperti apa ya mba?" tanya tania kepada seorang resepsionis itu yang kebetulan adalah seorang wanita.
"Banyak mba, tapi yang umumnya ada mual mual, sakit kepala, dan kelelahan" jelas wanita resepsionis apotik itu dan semua gejalanya bener bener ada pada tania dari pagi dirinya merasakan mual banget hingga mudah capek.
"Saya mau testpack nya tiga dengan merek yang berbeda"
"Oke, sebentar ya mba"
Tidak lama wanita itu berjalan ke depan membawa tiga alat kontrasepsi itu kepada tania, setelah membayarnya, tania langsung menyembunyikan bungkusan itu ke dalam tas kemudian kembali mendekati mobil tomi.
Uhukk... uhukk..
Saat membuka pintu mobil tania tersedak asap yang mengepul di dalam mobil milik tomi, penyebabnya siapa lagi kalo bukan tomi yang merokok di dalam mobil dengan hanya sedikit menurunkan kaca mobil.
Tania mengipas ngipaskan asap mengunakan tangannya supaya asap itu keluar dari mobil tomi, seolah tidak memperdulikan tania, cowo itu tetap mengisap rokoknya
Tania yang geram menarik rokok yang tersemat di bibir suaminya itu lalu membuang nya ke saluran pembuangan air "Udah abis berapa batang?"
"Baru lima"
Mata tania membulat sempurna nafasnya menggebu gebu ingin menonjok cowo di hadapannya sekarang ini "Baru lima? kamu bilang baru lima? perasaan aku belum ada setengah jam di apotik kamu ngabisin lima batang rokok???"
Tania duduk dengan menutup pintu kencang lalu membuang wajah kasar.
"Cuma satu batang sayang nya aku" Ucap tomi tersenyum simpul ia menangkup kedua pipi tania bersiap mencium wanitanya itu tapi satu jari tersemat di bibirnya
"Bau rokok, aku enggak suka" Ucap tania menjauhkan wajah tomi, ia kembali membuang muka kali ini tidak karena kesal namun karena mukanya pasti merah, ia tidak mau terlihat salting seperti ini padahal tadi tania sedang marah bisa jatuh harga dirinya.
"Tadi kamu beli apa?" tanya tomi penasaran sambil ia mulai melajukan mobil nya
"Obat" ucap tania seadanya
"Iya, obat buat apa?" tanya tomi semakin penasaran
"Obat cewe" jawab tania singkat
"Obat cewe itu apa?"
"Enggak tau lah, ini punya temen aku" ucap tania sengaja bicara itu agar Tomi tidak lagi bertanya
Tidak butuh waktu lama kini tania dan tomi telah sampai di pekarangan rumah, tomi turun terlebih dahulu lalu memutari mobilnya untuk membuka pintu tania, setelah tania turun tomi langsung menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
"Mas" panggil tania setelah sampai di kamar ia meletakan tas nya di atas nakas lalu mendudukkan diri di atas ranjang
"Iya sayang?" tanya tomi padahal tinggal satu langkah lagi Tomi masuk kamar mandi namun terurung karena panggilan tania "Kangen ya, mandi bareng sini" ucap tomi mengajak dengan seringainya
Tania turun dari ranjang menyusul tomi untuk ikut masuk kedalam kamar mandi, dan melakukan kegiatan mandi bersama, tanda kutip hanya mandi tidak melakukan apapun itu
Setelah selesai mereka keluar dengan wajah yang bersinar dan lebih segar dari yang sebelumnya "Cantik nya istriku" ucap tomi ketika tania mendudukan dirinya di depan meja rias
Tania melempar tatapan sangar kearah suaminya "Mas, aku gampar ya! lagi jelek gini enggak usah muji muji" ucap tania kesal.
Tomi menghampiri tania memeluk istrinya dari belakang menghirup aroma sampo yang soft "Cantik banget, mana harum sekali ini"
"Mas!!!"
Sialnya tania memang sangat muda salah tingkah, ia memilih untuk segera mengambil baju dan memakai nya di kamar mandi.
"Sayang, kenapa enggak disini aja pakainya? aku kan udah liat semua"
"DIEM YA, MAS. JANGAN SAMPAI AKU GAMPAR"
"Aku salah lagi, aku di marahin lagi, aku di bentak lagi, aku siap salah kalo sama kamu, tania" keluh tomi ia segera memakai bajunya
Tania keluar menatap tomi yang sedang memeluk guling, rupanya cowo ini lagi ngambek "Ya ampun, suami aku kalo ngambek gini yaa" ucap tania naik keranjang
"Mas, ketua geng motor kaya gini?"
"Jangan bawa bawa geng motor!" titah tomi mukanya masih ia sembunyikan di balik guling
"Maafin aku ya mas bayi"
"Enggak mau!!" tolak tomi ia semakin mengeratkan pelukannya pada guling.
"Mas bayi jahat, masa gitu sama istrinya sendiri"
"Yaudah kiss dulu" ucap tomi ia memunculkan wajahnya dengan rambut yang sedikit berantakan, gemes banget heran!!
-
__ADS_1