
Tania dan tomi sudah selesai mandi, tania sangat canggung malam ini sepertinya akan jadi malam yang sangat berharga dalam dirinya.
Tomi berjalan mendekati tania yang sudah duduk di tepi ranjang pelahan tomi mengusap punggung tangan tania membelai lembut rambut cokelat milik tania dan membaringkan tubuh tania, tomi menyentuh ranum bibir tania mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibir nya kecupan itu awalnya biasa saja namun semakin lama tomi ******* lembut bibir yang selama ini selalu bikin dirinya candu.
Tania melingkarkan tangan nya di leher tomi membiarkan sang suami menjamah tubuhnya, tomi membuat banyak tanda kepemilikan di leher tania menandakan bahwa saat ini tania milik nya.
"Shh eunghh"
Tomi berdiri menyudahi percumbuan nya membuat tania menatap heran, apa dirinya salah? kenapa tomi tidak melanjutkan?,
Tomi menuju saklar lampu untuk ia matikan, setelah lampu padam tomi berjalan menghampiri tania yang ada di ranjang dengan pencahayaan lampu tidur yang berada di atas nakas saja.
Tomi naik ke ranjang, membuka kaos putih polosnya, kemudian membuka satu persatu kancing baju tania hingga tubuh tania tidak memakai apapun itu. Ia mematikan lampu tidurnya lalu mengecup bibir tania tangan nya tidak tinggal diam.
"Pelan pelan aja"
"Hem"
"Ini pertama tom, pelan pelan ya"
"Iya sayang"
Tomi melakukan semuanya dengan sangat hati hati dan lembut ia tidak mau hal pertama yang Tania rasakan membuatnya sakit. Malam ini menjadi saksi bahwa mereka berdua telah menyatukan diri, suara yang menghiasi mereka seperti pengantin baru.
"Tom"
"Hem"
"Aww mau panggil lo mas boleh enggak?"
"Hemm"
"Mas tomi, pelan pelan gue nya enggak pergi. ini udah sakit tau"
"Eh?"
Tomi langsung memelankan permainan nya, tania sangat menikmati setiap sentuhan yang tomi berikan, mereka berdua terlarut dalam suasana.
...-...
Alika menunggu di gerbang kampus, pukul sudah menunjuk kan angka 9 yang artinya setengah jam lagi ada matkulnya. tetapi sudah dua jam menunggu tania tidak datang padahal kemarin sudah bilang bahwa tania masuk. kini di chat dari tadi hanya centrang satu.
...Tania ankny Wisnu...
^^^Nia, lo masuk g sii?^^^
^^^Gue tinggal aj lah y, baii!^^^
Setelah mengirim pesan itu Alika langsung masuk ke dalam kelas nya, beberapa menit kemudian dosen datang memberikan materi tak terasa sudah ada satu jam tania tetap tidak datang, kemana sahabatnya itu sebenernya?.
"Lik, nia enggak Dateng?" tanya wawan ia langsung duduk di kursi kosong sebelah alika
"Enggak tau wan, kaya nya sih enggak lagi" ucap alika pelan ia takut ketahuan mengobrol disaat dosen itu sedang menjelaskan.
"Tania aqela putri?" ucap dosen itu yang sedang mengabsen.
"Tania?"
"Enggak masuk pak" ucap salah satu teman nya
"Kenapa?"
"Enggak tau pak, enggak ada kabar"
Dosen yang usianya sudah kepala empat itu membenarkan kacamatanya
"Dia ada acara keluarga pak, Nia titip absen ke saya" Ucap Alika berbohong.
"Seharusnya ia izin kepada saya"
__ADS_1
...-...
"Mas, tau enggak sih"
"Enggak tau" ucap tomi yang sedang menggendong tania di punggung nya menuju ruangan tomi, saat ini tania sudah berada di kantor, ia kesiangan bangun. jadi daripada di rumah sendirian ia memilih untuk ikut tomi berkerja.
"Masih ngantuk, mau ke rumah mamah tapi tanda merah ini gimana?" tanya tania saat ini tania menggunakan syal untuk menutupi lehernya ada bekas ke merahan disana.
"Kamu tutup aja"
"Kalo di buka?"
"Bilang di gigit nyamuk" ucap tomi ia menekan tombol lift nya.
"Nyamuk nya kamu ya"
Mereka berdua terbahak hingga pintu lift terbuka dan mereka sampai di lantai yang di tuju, berpas pas an dengan velia tania semakin mengeratkan dirinya pada tomi. Merasa lebih unggul tania tersenyum puas, lagian suami orang di goda goda.
"Mas, laper, mau makan."
"Sebentar aku pes---"
"Mau ke mbak desti deh mas" ucap tania memotong perkataan tomi, sekarang mereka menetapkan untuk menggunakan aku-kamu karena bagi nya sekarang ini tomi kepala keluarga nya jadi ia harus sopan.
Awalnya hanya tania saja namun tomi mengikuti nya tanpa di suruh, huh sungguh peka.
"Bisa jalan?" tanya tomi sebab dari tadi tania mengeluh tidak bisa jalan di sebabkan karena bagian bawahnya terasa ngilu.
"Aku bisa bisain" ucap nya
"Enggak usah, desti nya aku suruh kesini aja ya"
"Dih jangan, biar aku aja. Lagian juga udah enggak sakit banget kaya tadi, udah bisa jalan ini mah AWW-" ucap tania berusaha untuk berdiri dan berjalan namun belum ada beberapa meter kaki nya seperti jelly ternyata ngilu nya masih ada.
"Tuh kan, ngeyel sih, biar desti aku suruh kesini"
Tania mengangguk lemah, lalu kembali duduk, kenapa ngilu?.
Tania mengangguk anggukan kepalannya "Kamu enggak laper? belom makan kan tadi, terus gendong aku, emang enggak lemes? abis donor padahal" cerocos tania
"Lagi pesen makanan kok"
Sambil menunggu desti tania membuka ponselnya terkejut dengan notif dari Alika buru buru ia membuka pesan itu
...Lika Liku...
Nia, lo masuk g sii?
Gue tinggal aj lah y, baii!
^^^Likaaa maaf banget tiba tiba gue ga enak badan^^^
Anjing lo, gue tungguin g dtng'
Tp gpp lah krn gue baik,gue maapin lo
^^^Y emng hrus maafin laa^^^
Balik kmpus gue ke lo aja gmn?
^^^JANGANNN!^^^
Lah knp njir? lo kan bestie gue,mana lagi sakit gue mau jenguk lo masa g di bolehin?
^^^Pkok ny jngn, lgian gue jg ud mendingan^^^
Curiga gue, abis bikin dede yaaa
Tania langsung mematikan ponselnya, pandangan nya beralih kepada wanita yang masuk ke dalam ruangan suaminya itu.
__ADS_1
"Permisi pak, apa tadi bapak memanggil saya?" tanya wanita itu, ialah desti dengan sedikit membungkukkan tubuh tanda hormat ke hadapan tomi.
Tomi menggeleng, karena memang dirinya tidak memanggil wanita itu, Tomi menunjukkan ke sisi kanan "Istri saya yang panggil kamu" ucapnya membuat atensi desti beralih ke tania yang sedang senyum ramah ke arahnya
"Mbak sini" panggil tania dengan happy menyuruh desti untuk duduk bersama nya, desti sempat panik karena tadi bos nya itu memanggil nya desti takut dirinya melakukan kesalahan tapi ternyata pikiran buruk dia salah.
"Kenapa bu?" tanya desti sopan sambil berjalan menghampiri tania.
"Tania aja jangan pake bu, saya masih muda tau" ucapnya dengan bibir mengerucut
"Takut enggak sopan bu"
"Ihhh jangan panggil bu, mbak!!" tolak tania ia tidak terima di panggil seperti itu.
Disisi lain ada yang curi curi pandang kearah kedua wanita itu dengan tatapan lebih ke pada sang istri.
"Mas? itu dering ponselnya bunyi terus"
Skamat!
Tomi membuang arah pandangan nya ke sisi lain, ia panik seolah telah ketahuan mencuri pandang, dengan cepat ia langsung menekan tombol hijau.
"Titip di satpam saja" ucap tomi di dalam telepon bisa di tebak makanan nya sudah datang yang tadi menelpon nya adalah sang kurir.
"Siapa mas?"
"Janda mas yang ada di jepang" ucap tomi hanya bercanda.
"Ihh mas!! berani selingkuh aku potong itu nyaa!!!! Liat nii yaa..." tania mengangkat bantal yang berada di sofa itu lalu mengambil aba aba untuk melempar ke tomi, dengan sekali hentakan itu berhasil mengenai kepala tomi.
"Sayang! enggak boleh gitu, untung kacamata aku enggak rusak" ucap tomi menyelamatkan kacamatanya itu, setelah kacamatanya aman tomi kembali duduk dan melanjutkan perkerjaan nya
Desti tersenyum simpul melihat interaksi dari dua pihak itu, sungguh lucu memang. seperti menikah muda itu membahagiakan, membayangkan itu membuat desti tersenyum senyum sendiri.
"Mbak? kenapa senyum senyum?" tanya tania membuyarkan lamunan desti yang sedang memikirkan jodoh di masa depan nya.
"Eh gapapa bu eh tania maksudnya"
Cklek!
Pintu terbuka mendapatkan sosok pria yang sudah tidak muda lagi dengan seragam satpam menenteng makanan masuk kedalam ruangan tomi dan menaruh nya di meja tomi.
"Ini pak makanan nya, saya permisi dahulu" ucap satpam itu
Tomi melihat tiga bungkus makanan itu lalu menatap sang satpam seharusnya tadi ia beli lebih "Pak, ambil satu."
"Hah tidak usah pak"
"Ambil!"
Satpam itu mengambil satu lalu kembali berpamitan untuk keluar dari ruangan tomi, setelah satpam itu keluar tomi memberikan kedua makanan itu kepada tania dan desti.
"Lho mas enggak makan?" tanya tania menatap makanan milik tomi tadi tomi berikan kepada satpam itu.
"Buat kalian saja, saya kenyang"
"Lahh nanti lemes mas, kamu kan abis don---Eh maaf" Melihat tomi menggeleng sambil mengode lewat mata bahwa tania tidak boleh melanjutkan perkataannya lagi.
"Udah makan aja, tadi bilang nya laper"
"Pak, punya saya aja ini buat bapak" Ucap desti memberikan makanan nya kepada sang bos.
"Tidak usah"
Desti merasa tidak enak, namun melihat wajah tomi yang sangat datar ketika dirinya menolak itu malah membuat desti takut.
"Kita makan berdua ya mas"
...-...
__ADS_1
...- BERSAMBUNG -...