PRIA BRANDAL Itu TERNYATA SUAMIKU

PRIA BRANDAL Itu TERNYATA SUAMIKU
Pelampiasan


__ADS_3

Gadis ini masih setia tidur sambil memeluk guling, padahal sang suami sudah membangunkan nya.


"Niaaaa, bangun!"


Gadis itu hanya menggeliat saja, lalu kembali mengeratkan pelukan nya pada guling. Penampilan tomi sudah rapi dirinya hanya tinggal pergi ke kantor namun melihat tania yang masih tertidur tomi tidak mau meninggalkan nya


"Bangun dulu lo enggak laper? gue udah masak tan" ucap tomi ia duduk di tepi ranjang samping kepala tania sambil mengelus lembut rambut tania.


"Nanti keburu dingin makanan nya" ujar tomi lembut tangan nya setia mengusap surai cokelat milik tania itu.


"Ihhh jangan pegang pegang" Ucap tania dirinya merasa terusik dengan sentuhan di kepalanya.


"Bangun dulu, lo mau gue tinggal?"


Mendengar itu tania membuka matanya menatap tomi yang sedang duduk di samping nya, ia mengucek matanya menatap pria itu sebentar lalu ia mengerjapkan mata lucu dan melirik jam di nakas yang sudah menunjuk pukul 10.00 pagi.


"Busett, gue kan ada kuis hari ini!!!" Pekik tania dirinya langsung berdiri untuk melesat ke kamar mandi namun tangan nya di tahan oleh tomi.


"Apa?"


"Gue udah izin sama Alika" ucap tomi, tadi ia membuka handphone tania untuk tipsen kepada Alika, tania langsung mengambil handphone nya yang terletak di atas nakas.


"Lo kok bisa tau password nya?" tanya tania panik padahal semua aplikasi sudah ia kunci dan menggunakan sidik jari, namun mengapa tomi dapat membuka nya?


"Jari lo" singkat tomi "Gue udah izinin lo, ayo makan gue mau ke kantor" lanjutnya menarik paksa tania untuk turun ke meja makan.


Saat sampai meja makan tania merasa malu karena tomi yang menyiapkan dirinya makan padahal seharusnya tania lah yang menyiapkan semuanya ini untuk tomi.


"Baca doa dulu dong" ucap tomi melihat tania yang ingin memasukan sesendok nasi ke mulutnya namun tertahan oleh ucapan tomi tadi tania segera mengangkat tangan sedada ia berdoa kemudian setelah selesai berdoa tania mengusap wajah nya dan langsung menyantap makanan yang sangat lezat itu, sungguh! ini memang enak.


"Enak banget, sorry ya gue enggak sempet masakin lo"


Tomi merasa tidak sepenuhnya salah tania, lagian juga ia sangat suka memasak "Santai aja, lagian ini kemauan gue buatin lo sarapan" ucapnya lalu ikut duduk di meja makan untuk makan.


.


"Pak, selama satu bulan ini bapak tidak mengerti perasaan saya?" Tanya velia kepada bos nya, sudah ada satu bulan dirinya berkerja dan selama itu baru kali ini velia bener bener merasa tidak di respon sama sekali bahkan dahulu di kantor kantor lain ia cepat mendapatkan hati bosnya walaupun terkadang velia menjadi simpanan.


Tomi mengerutkan kening nya bingung, dia tidak mengerti maksud dari perkataan velia "Maksudnya?" ucap tomi begitu santai


"Saya menyukai bapak" Ucap velia to the point tanpa ragu dan malu


"HAH?!"


Mendengar respon tomi yang kaget, ia langsung menjelaskan seluruh perasaan nya selama ini terhadap tomi "Saya mau jadi pacar bapak"

__ADS_1


Lagi lagi tomi tidak habis fikir dengan ucapan velia, mengapa dirinya seperti kebelet menginginkannya? "Tapi saya tidak suka dengan kamu" ucapan tomi terkesan tidak perduli dengan perasaan velia. lagian menurut tomi mengapa dirinya harus menjaga perasaan wanita itu? sedangkan wanita itu dengan terang terangan menggoda dirinya.


"Tapi kenapa pak, diri saya kurang dari segimana nya?" tanya velia terdengar berlebihan.


"Akhlak kamu tidak ada"


Bukan tanpa sebab tomi mengucapkan kata kata itu, tapi selama ini velia selalu melakukan berbagai cara seperti menggunakan baju yang kurang bahan, bahkan seringkali velia dengan lancang memeluk dirinya.


Cklekk..


"Assalamualaikum, su----su---su" ujar gadis cantik menenteng rantang di tangan kanan nya dengan semangat dirinya memegang knop pintu tidak mengira jika ada seseorang di dalam ruangan suaminya itu. Ia harus memutar otak buat melanjutkan kalimatnya, karena tomi bersikeras pernikahan nya belum boleh di ketahui dengan orang kantor "Su--susu kemuning datang" ucapnya cepat sambil berjalan menghampiri meja tomi dan meletakan rantang nya di atas meja.


"Waalaikumsalam"


Tania tersenyum menunjukan deretan gigi rapi dan putih nya "Gue bawa nasi goreng, semoga enak ya." ucap tania ragu dengan masakan nya, dia minder dengan tomi yang lebih pandai memasak ketimbang dirinya.


"Pasti enak dong, kenapa ragu gitu?" tanya tomi dirinya sekali pun tidak pernah mengomentari apa yang Tania buat lalu mengapa istrinya ini sangat ragu dengan masakan nya sendiri?


"Takut enggak seenak masakan lo" ucap nya pelan


Tomi terkekeh "tetep masakan lo juaranya"


Velia melirik tidak suka ke arah tania diri nya menjadi di cuekkan seperti ini padahal sedikit lagi ia bisa mendapatkan tomi bos nya.


"Saya permisi" ucap velia ia berdiri lalu melesat dari ruangan tomi.


"Tom, tadi kata karyawan lo, gue kegatelan nyamper lo terus" ujar tania membayangkan ia di bilang seperti itu padahal tania hanya mau melihat suaminya saja.


Tomi melirik tania yang berada di sebelahnya "Siapa?" tanyanya dengan wajah merah padam bisa bisanya karyawan tomi berkata seperti itu terhadap pujaan hatinya


"Enggak tau namanya"


Tomi menarik tangan tania untuk berdiri dan menyuruh untuk duduk di paha nya, Tomi melingkarkan tangan kekar nya di perut tania lalu hidung mancung nya itu mendusel di punggung milik tania.


"Tom, sampai kapan pernikahan kita disembunyikan seperti ini?" tanya tania dengan nada serius


"Lo enggak sayang beneran sama gue ya?" selidik tania pandangannya lurus ke depan dengan air mata yang menetes ia tidak kuat jika harus seperti ini.


"Tomi jawab gue!! kalo iya biar gue mundur tom"


"Gue enggak mau jadi pelarian lo"


DEGHH


"Gue bakal cerita semuanya sama lo Tan, tapi lo harus janji setelah gue cerita lo jangan tinggalin gue ya" Tania menoleh kebelakang mata mereka berdua saling bertemu ada rasa kasihan terhadap tomi namun dirinya juga lebih kasihan jika hanya di jadikan pelampiasan Tomi.

__ADS_1


"Jangan nangis tania" ucap tomi serak tangan nya dengan cepat membalikkan badan tania setelah mereka berhadapan tomi mengusap lembut pipi tania yang sudah basah karena nya.


"Ayo cerita" desak tania ia mengusap air matanya yang kembali lolos dari mata nya itu.


"Nanti pulang ya"


Tania menggelengkan kepalanya "Mau nya sekarang!"


Tomi menggelengkan kepalanya juga karena bagi dia waktu yang tepat yaitu setelah pulang bekerja, tanpa menjawab pertanyaan tania tomi menarik pinggang tania supaya lebih dekat dengan dirinya.


"Lo bukan pelampiasan gue untuk ngelupain dia, sebelum lo hadir juga gue udah bisa buang semua perasaan gue dulu sama dia." ujarnya


Cklek!


"Pak tomi say-- eh? Astaghfirullah maaf ganggu" ucap wanita itu matanya membulat sempurna melihat bos dan wanita yang beberapa bulan ini selalu bersama tomi dalam keadaan yang sangat dekat, bisa perempuan itu kira bahwa wanita itu sebenarnya adalah pacar dari bos nya itu.


Tania sontak langsung menyempurnakan dirinya dari posisi tadi kemudian berdiri jantung seakan ingin copot seperti ia ketahuan sedang berbuat zina dengan tomi.


Tomi melirik wanita yang bernama desti kemudian merapikan kemeja nya "Ada apa?"


"Kalian berdua mau berbuat zina?" bukan nya menjawab pertanyaan tomi kini desti malah membuat pertanyaan seolah menjebak.


"Ya Allah dek, kamu masih kecil. Jangan mau kalo di kasih embel embel handphone doang, kasian ibu kamu. Astaghfirullah nanti kalo saya tidak masuk bagaimana kejadian selanjutnya ya Gusti Allah" Cerocos desti ia menghampiri tania yang sedang mematung bingung harus menjawab apa, desti tipikal seperti emak emak. Desti membayangkan kejadian selanjutnya yang bisa menyebabkan tania itu akan menyesal.


"Hah?"


Melihat respon tania membuat desti gemas "Ayo, jangan disini. Banyak setannya nanti yang ada kalian ngelakuin zina beneran, kamu yang rugi lho dek, nanti hamil gimana?"


"Gapapa, kalo hamil juga mbak"


Mendengar jawaban tania, desti menghentikan langkahnya ia mengerutkan kening bingung mengapa gadis di depan nya ini begitu polos?


"Ya enggak boleh lah! kamu mau hamil di luar nikah?"


"Dia istri saya" suara berat itu membuat desti menatap keduanya secara bergantian dengan kerutan di keningnya.


"Bohong?"


"Enggak mbak, tomi memang suami saya" ucap tania


"Kenapa enggak bilang dari tadi?" tanya desti menahan malu ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gimana saya bisa bilang kalo mbak ngoceh terus dari tadi"


Sungguh desti sangat malu jika sudah begini, bagaimana bisa dirinya tidak bisa menahan bibirnya ini untuk tidak terus berbicara.

__ADS_1


...- BERSAMBUNG - ...


__ADS_2