
Selesai sholat subuh tania turun ke dapur untuk memasak, tidak lupa ia menyiapkan pakaian suaminya terlebih dahulu. Hari ini tania hanya memasak nasi goreng saja dan telur dadar.
Setelah selesai tania mendudukan dirinya di kursi sambil menunggu kehadiran sang suami, tidak lama suaminya datang dengan penampilan yang sudah rapi.
Jika tomi dan tania berfoto sudah jelas seperti majikan dengan pembantu bayangkan saja tomi dengan tampan menggunakan kemeja berwarna putih yang di baluti jas biru dengan celana bahan berwarna biru juga, sedangkan tania dirinya hanya menggunakan daster dan rambutnya yang ia kuncir asal karena masih basah bekas keraman.
Kecupan manis mendarat di kening tania dan ucapan selamat pagi padahal tadi sudah, namun suaminya mengulang lagi.
Tania tersenyum tangan nya menarik tomi untuk segera duduk di kursi, tanpa bantahan Tomi sudah duduk manis kemudian tania menyiapkan piring untuk suaminya itu dan menuangkan dua centong nasi goreng yang tadi dia buat.
"Mas harus makan banyak, kan abis donor pasti capek" ucap tania ia ingin menuangkan satu centong nasgornya namun Tomi menahan tangan tania.
"Udah cukup segitu aja"
Tania menatap piring yang ada di pegangan nya lalu meletakan di meja depan tomi "Dikit banget makan nya"
"Masih pagi tania, aku enggak bisa makan banyak" tomi mulai menyendok sesendok nasi goreng itu kedalam mulut, mengunyah, hingga menelen, sampai habis.
"Hati hati ya mas" ucap tania setelah mencium punggung tangan suaminya
Tomi mengusap lembut surai cokelat milik tania "Bara udah aku suruh buat jemput kamu, nanti pas pulang bareng dia aja ya ke rumah mamahnya, setelah selesai meeting aku langsung ke rumah mamah"
Setelah mengucapkan kalimat panjang itu tomi mengecup singkat kepada puncak kepala tania.
"Mas? sendiri aja ya, naik taksi" ucap tania ia merasa tidak enak hati jika harus merepotkan seseorang
"Nurut sama aku, surga kamu memang ada pada mamah, tapi sekarang surga kamu itu aku"
"Mas punya tiket surga kah?"
Tomi tidak menanggapi nya, ia hanya menggelengkan kepala kecil lalu melesat masuk kedalam mobil.
...-...
"Ngerepotin!!"
Tania menerima helm dari cowo yang di utus tomi untuk mengantarnya pergi ke kampus.
Mendengar ucapan bara yang seperti itu membuat tania enggan, ia rasa memang bener. Dirinya merepotkan
"Gue pesen taksi aja deh" ucap tania lalu memberikan helmnya kepada bara kembali.
"Lo mau gue di penggal kepalanya sama tomi? Cepet naik" Bara mengangkat dagunya seolah menyuruh tania untuk segera duduk di jok belakang motornya
Tania menahan tawa lalu langsung naik ke atas motor sport milik bara sambil memakai helm.
"Pelan pelan aja, gue takut jatuh kebelakang nanti" ucap tania, ia memegang sedikit jaket bara karena kalo tidak berpegangan sama sekali diri bisa hilang keseimbangan dan berakhir terjatuh.
"Peluk aja"
Tania memukul punggung lebar milik bara tanpa ragu, jika tania melakukan nya di kampus pasti cewe cewe atau fans nya cowo ini akan histeris karena tania bisa memukul si bara api.
"Gila aja lo, bisa bisa gue langsung di mutilasi sama mas tomi"
Tidak ada sahutan lagi kini motor bara berjalan menuju kampus
Hening..
Sampai kampus pun tidak ada pembicaraan membuat tania langsung turun dari motor sport milik bara yang sudah berada di tempat parkir, banyak yang menatap tania dengan tatapan elang sudah jelas itu adalah penggemarnya bara.
"Lo sih, gue bilang luar gerbang aja!" omel tania sambil memberikan helm nya ke bara dan merapikan rambutnya yang ia biarkan tergerai.
"Udah nebeng ngatur lagi"
"Gue bilangin mas tomi, biar lo di penggal kepala nya" ancam tania sama sekali tidak membuat bara takut, karena bagi dia tomi tidak mungkin asal penggal kepala orang gitu aja tanpa sebab dan dirinya juga sudah mengantarkan sang pujaan hati tomi sampai selamat di kampus.
"Cih, tukang ngadu" ucap bara ia turun dari motornya meninggalkan tania yang masih terdiam di samping motornya
"Selesai matkul lo susul gue di rooftop" ucapan nya dengan sedikit mengeraskan suara tanpa menoleh kebelakang
"Gue aduin mas tomi, masa istrinya disuruh nyamperin lo" ucap tania yang tiba tiba sudah ada di samping bara.
"Anjir, kaya setan lo. Tiba tiba di samping gue"
"Gue selesai matkul jam 1, lo harus udah ada di depan kelas gue!! tau kelas gue kan? kalo ga tau tanya" setelah mengucapkan itu tania langsung melesat menjauh dari bara.
tania berjalan santai tangan nya sibuk menguncir rambut panjang nya yang tadi ia biarkan tergerai.
Tak lama tania sampai depan kelas dirinya masuk dan mendudukan diri di kursinya.
...-...
"Pak tom -Aww aww" pekik perempuan itu saat mengejar tomi kaki nya malah tergelincir
Velia melihat tomi berhenti dan membalikan badan membuat senyumnya mengembang, pasti bosnya akan menolong diri nya.
__ADS_1
"Cepet, atau saya tinggal!"
Setelah itu tomi langsung berjalan menuju parkiran mobilnya, senyum velia pelahan pudar ia melanjutkan jalan nya dengan melepas sepatu tingginya itu.
Velia membuka pintu mobil untuk duduk di sebelah tomi namun belum saja mendaratkan pantat nya, tomi malah berkata "Belakang" velia menghembuskan nafas pelan lalu segera duduk di kursi penumpang.
Velia sedikit mengurut kakinya yang sudah terlihat membengkak, bahkan saat kesakitan seperti ini tomi sama sekali tidak melirik dirinya, rasanya velia sangat ingin menjadi kekasih tomi, velia ingin memeluk tubuh bos nya itu dengan erat, lalu mengecup bibir tomi, velia sudah sangat tidak tahan menahan hasrat di dalam dirinya untuk memiliki tomi sepenuhnya, ia merasa tomi masih single tidak seperti om om tua yang menjadi pacarnya.
'Gue harus bisa nikah sama dia'
Velia tidak mengedip menatap tomi yang sedang fokus menyetir, dari belakang saja bos nya itu sangat tampan apalagi jika berada di atasnya, ughh membayangkan itu membuat hati velia semakin menggebu gebu untuk segera memiliki tomi.
Tomi menginjak pedal rem secara mendadak membuat velia tersungkur ke depan, melihat sedang di amati tomi melirik velia lewat rear vision mirror yang sedang menggigit bibir bawahnya sambil menatap ke arah tomi.
"Mikir kotor tentang saya?" pertanyaan itu sangat mengintimidasi seolah ketahuan sedang berfikir kotor velia pura pura tidak mengerti maksud bosnya itu
"M-maksud pak tomi?"
"Sudahlah, tidak penting. Sekarang turun"
Velia menoleh ke kanan dan kiri ia tersenyum kikuk ternyata karena memikirkan tomi dirinya tidak sadar bahwa sudah sampai di depan gerbang kantor.
"Kenapa tidak sampai dalam saja pak?" tanya velia tangannya sudah memegang knop pintu mobil tomi namun niat buat keluar terurung karena tomi tidak ada pergerakan ingin keluar juga.
"Turun!"
Mendengar seruan itu velia cepat cepat turun dan setelah velia turun tomi baru memasukan mobil nya menuju parkiran mobil.
"Nyebelin!! bukan nya tolongin ihh -Aduhh, Aww!!" ucap velia ia kesal melihat mobil tomi melewati dirinya begitu saja, padahal kaki nya sangat sakit dan harus di bantu untuk masuk ke kantor tetapi bos nya ini sangat tidak peka, karena tidak hati hati velia kembali jatuh dirinya tidak melihat ada sebuah pembatas jalan.
"Aduhh neng, pelan pelan atuh kalo jalan" ucap satpam yang berlari mengejar velia lalu membangunkan perempuan itu dengan hati hati.
"Udah pelan pelan, emang pembatas jalannya aja ini yang caper -Awww" pekik velia karena ia menendang pembatasan jalan itu dengan kaki yang tergelincir tadi
"Bapak urut kaki nya, mau neng?" tanya satpam itu menawarkan
"Enggak usah!"
...-...
Tania memasukan buku buku nya kedalam tas, ingin sekali dirinya pergi ke kantin tapi apa boleh buat rasa malas geraknya sangat merajalera.
"NIAAA!!" Pekik alika mengejutkan tania yang baru saja menelungkupkan kepalanya di antara kedua tangan yang ia lipat di atas meja.
"Apa sih?"
"Oh ini orang nya, murah!"
"Pelacur!"
"Di bayar berapa sih tidur sama bara?!"
"Kampus ini enggak butuh pelacur!!"
Tania mengerutkan keningnya bingung lalu menerobos keramaian untuk melihat isi di mading itu, ternyata ada foto dirinya dengan bara saat di parkiran dan saat mereka jalan bersamping sampingan. Tania langsung menarik kertas itu lalu merobek robek nya hingga menjadi potongan potongan kecil.
"Bacot lo semua!!!" Seru tania kesal ia ingin kembali tetapi...
Bughh!
"NIA!!!" Alika langsung menghampiri tania yang terjatuh dan membantu tania untuk berdiri.
"Ups!!! sorry gue enggak sengaja" ucap wanita yang tadi mengulurkan kakinya sehingga tania tersandung dan terjatuh mereka ternyata Vanya sosok yang sangat mengagumi bara.
"An*jing lo!! pasti ini lo kan yang buat??"
Vanya mengetukkan jari telunjuknya ke dagu seolah sedang berfikir "Siapa ya?"
"Yang pelacur itu lo bukan guee!" seru tania tangan nya ingin menjambak rambut vanya namun ditahan oleh alika
Vanya mendekat kearah tania lalu menaikan rambut tania dan yang sedikit menutupi leher jenjang nya.
"Look! Bekas nya aja masih ada?" ucap vanya membuat mata mahasiswa itu langsung tertujuh kepada leher tania yang ada beberapa tanda merah ke ungu an di sana.
"Lo yang pelacur, bekasan!"
Plak!
Alika menampar keras wajah Vanya membuat tania menoleh terkejut "Jaga congor lo ya! Sadar diri setiap pulang kampus kan lo kerjaan nya mangkal? bawah lo tuh udah kendor enggak usah sibuk ngurusin orang kencengin lagi tuh bagian bawah lo biar usaha jual diri lo makin laku!!!!!"
Setelah mengucapkan itu, Alika langsung menarik tangan tania menuju kelas
"Kurang ajar!!" vanya mengepalkan tangan nya lalu kemudian langsung meninggalkan tempat itu.
Alika langsung membawa tania ke kamar mandi kampus untuk menutupi tanda merah itu dengan beberapa perlengkapan make up yang ia bawa.
__ADS_1
"Ngaca! liat"
Tania menatap dirinya lewat pantulan cermin dengan sedikit hembusan nafas pelan
Alika membuka tas make up nya lalu menuangkan foundation ke telapak tangan kemudian alika menata nya di tanda tanda yang berada di leher tania dengan telaten hingga semua nya tertutup.
"Makasih ya, Lik" ucap tania melirik lehernya yang sudah tidak kelihatan tanda bekas kegiatan nya sama tomi.
"Santaii"
Tania tersenyum kecil "Gue udah di cap buruk sama anak anak kampus, Lik? pasti mereka mikir kalo gue ini murahan"
Alika menggelengkan kepalanya "Sejak kapan ya, Nia nya gue tuh mikirin ucapan orang?"
"Tapi, kalo mereka semua pandang gue rendah gimana Lik? terus juga kalo tiba tiba gue hamil? bisa mampuss gue!!"
"Enggak usah mikirin ucapan orang, lagian mereka enggak tau apa apa, kalo hamil pun lo enggak perlu takut kan ada bapak nya"
Ucapan alika memang bener tetapi namanya manusia yang iri sama kita pasti akan ngelakuin segala cara untuk menjatuhkan nama kita.
Alika dan tania jalan beriringan menuju kelasnya saat sampai kelas terlihat cowo jangkung sedang berdiri dengan menyandarkan punggungnya di tembok sebelah pintu.
"Bara?" tanya tania dengan kerutan di keningnya
"Hm, udah jam 1" ucap bara melirik jam tangan nya.
"Oh iya, bentar."
Tania langsung masuk di ikutin Alika dari belakang "Lo mau pulang Tan?" tanya alika
"Mau kelonan sama suaminya lah" ucapan Wawan membuat tania geram untung saja kelas sedang sepi, cowo itu daritadi terus menyindir dirinya, entah sedang kenapa tania tidak perduli
"Lo pada ikut kelas tambahan? gue enggak, mau ke rumah mamah" tanyanya
"Yaudah, hati hati ya."
...-...
"Makasih ya, bar. Sorry kalo gue ngerepotin"
Bara merasa ada yang aneh dengan perempuan itu "Hm"
Tania tersenyum simpul kemudian masuk kedalam rumah yang selama ini ia tinggal, rindu rasanya membaringkan tubuh di kasur kesayangan nya itu
"Assalamualaikum mamah?"
"Waalaikumsalam, ya ampun sayang kamu kesini sama siapa?" tanya afifa dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya memeluk tania.
"Sendiri, abis dari kampus. Kangen mamah" ucap tania membalas pelukan afifah dengan badan bergetar, bayangan memalukan tadi di kampus membuatnya tidak bisa menahan air mata, dari tadi dirinya hanya menahan tangis saja, jika sudah pulang ke rumahnya sudah jelas air mata itu akan terjun bebas dari matanya.
"Nia? kamu kenapaa?" tanya Afifah khawatir dirinya melepaskan pelukan lalu mengajak tania untuk duduk di sofa, sebenernya ada apa dengan tania, apa yang terjadi?
"Nia? jawab mamah, kenapa kamu nangis? tomi sakitin kamu, atau ada masalah lain?" tanya afifah beruntun membuat tania bingung mau menjawab dari mana.
Tania menunjuk dengkul nya yang terluka, hanya itu.
"SUAMI KAMU KDRT?!"
"HUAAAAA MAMAHHH HIKS BUKAN MAS TOMI"
Mendengar itu afifah merasa tenang "Syukurlah, mamah kira tomi kdrt, kalo enggak kenapa kamu nangis? karena jatuh doang kamu nangis iyaa? lebai banget sih anak ini"
"..."
"Sebel!"
"Mamah bercanda, coba cerita kenapa?"
Tania menarik nafas dalam dalam lalu ia keluar secara pelahan "Mamah janji, jangan ngadu ke mas tomi yaaa" Afifah mengangguk "Jadi ceritanya .... "
Tania menceritakan semuanya dari tomi menyuruh nya untuk berangkat bareng bara sebelum itu ia menceritakan siapa bara terlebih kepada sang mamah supaya mengerti kemudian tania menceritakan seluruh kejadian di kampus tadi dengan amat detail.
"Ya Gusti, masih ada jaman sekarang pembullyan?"
"Enggak tau!"
"Jangan di pikirin nanti kamu sakit, sekarang mending makan" ucap afifah membuat tania langsung melesat menuju meja makan.
Tania mengambil lauk dan nasi dengan porsi sedang dirinya sangat rindu dengan masakan sang mamah, setelah selesai makan ia mengusap usap perut nya sedikit membuncit namun setelah beberapa menit pasti kecil lagi.
"Mamah, tania mau tidur ya. Ngantuk"
"Iya, sana istirahat"
__ADS_1
...- bersambung -...
^^^Typo bertebaran^^^