
Tania terbangun pukul tiga karena rasa mual tiba tiba menyerangnya lagi buru buru ia ke kamar mandi pelan pelan karena tidak mau membangunkan suaminya.
huek ... huek
Kali ini berbeda tania hanya memuntahkan cairan putih saja setelah di rasa cukup tania langsung mencuci wajahnya ia keluar dari kamar mandi melihat tomi masih terlelap ia mencari sesuatu di dalam tasnya, setelah mendapatkan kantung kresek hitam itu tania langsung kembali masuk kedalam kamar mandi.
Dengan nafas tidak beraturan tania menaruh ketiga benda panjang itu di dekat wastafel dengan terbalik ia belum siap.
Tania menatap dirinya dari pantulan cermin ia meyakinkan dirinya untuk melihat salah satu testpack itu
Dengan mata terpejam dan pelahan ia membuka matanya.
Degh!
"Dua garis? positif?" tania meneguk ludah nya kemudian ia kembali memperhatikan ke dua testpack tadi, dan tetap saja hasil nya sama, garis dua.
"Gue hamil?" tanya nya melihat pantulan wajah di cermin
Kaki tania seperti jelly ia menjatuhkan dirinya di lantai "Mama belum yakin kalo papah mencintai mama, kenapa sekarang?"
Tania berjalan gontai, sebelum nya ia membuang ke dua alat kontrasepsi itu, satu testpack nya ia bawa untuk ia simpan.
"Tumben, udah bangun" suara serak khas orang bangun tidur membuat tania terkejut, setelah menyimpan benda panjang itu tania langsung duduk menghampiri tomi.
"Mas, mau tanya?"
Tomi menyipitkan matanya "Tanya aja, kamu mau tanya apa?"
"Kamu marah enggak kalo aku hamil?" tanya tania dengan kepala menunduk
Tomi tertawa meledek membuat tania semakin takut kalo cowo itu tidak menginginkan tania untuk hamil saat ini.
"Aneh, kabar gembira kaya gitu masa aku marah" ucap tomi berhasil membuat tania menatap mata tomi yang masih berbaring dengan badan menyamping "Kamu hamil?" tanya tomi singkat tapi mampu mengintimidasi tania
"Kamu enggak marah? kan kita mau nikah mas pasti kamu mau enak enak dulu kan? maaf kalo aku kebabl-"
"Sttt, aku tanya kamu hamil?"
Bukan menjawab tania memilih untuk berjalan mengambil benda panjang yang tadi ia simpan lalu ia berikan ke tomi yang masih berbaring.
"Maaf"
Tomi berdiri sambil lompat lompat di kasur dengan girang lalu memeluk tania gemas hingga membuat tania terjatuh ke ranjang "Mass!!! aku tau aku salah tapi jangan bunuh aku jugaaaaa" ucap tania ia merasa tubuhnya seperti dihantam rumah berat banget.
"Kamu aku tikam ya" ucapan tomi membuat tania mengidik serem
"Tuh kan pasti kamu mau bunuh anak aku, enggak mauuuu!"
"Aku tikam pakai cinta banyak banyak"
"Mas enggak marah?"
"ENGGAK TANIA, I'M SO HAPPY!!!"
__ADS_1
"Tapi ini puasanya 9 bulan lho mas? kamu kuat" tanya tania menatap tomi dari bawah
"Enggak, kalo hamil tua kan bisa kali aku jenguk seminggu dua kali"
"Aku enggak nyangka secepat ini mas" ucap tania terharu
"Aku juga, but thank you, my wife" Tomi mengecupi seluruh wajah tania, sungguh tania menangis haru, ia fikir tomi akan marah karena kehamilannya ini, tapi ternyata berbanding terbalik dengan yang tania fikiran. Pernikahan yang mendadak masih membuat tania ragu dengan semuanya
-
"Jangan cape cape ya, nanti pulang kampus aku jemput sekalian ke rumah sakit" ucap tomi sambil mengelus rambut tania dan membukakan seatbelt tania
"Enggak di suntik kan mas?" tanya tania takut
Tomi sangat ingin tertawa cuma ia tidak tega menertawakan sang istri yang ternyata takut jarum suntik.
"Udah mau jadi ibu enggak boleh takut jarum suntik, kamu bakal sering di suntik nantinya."
"Tuh kan mas, aku enggak mau!!!!!" Ucap tania sambil mengendus sebal ia melipat kedua tangannya di atas dada, melihat itu Tomi hanya menggelengkan kepalanya sebab sejak tadi tania mengeluh tidak mau di suntik.
"Harus mau, kan ada aku yang bakal nemenin kamu"
"Ck! yakin?" tanya tania berubah ketus
"Yakin tan, kamu ragu?"
"Iya, sapa tau kan? mana ada yang tau hati manusia"
"Turun, nanti telat. Kiss nya dulu sebelum turun" ucap tomi mengalihkan pembicaraan kemudian menunjuk pipi nya dengan telunjuknya.
"Ini sebagai pembayaran nya, tania" ucap tomi menahan tangan tania untuk membuka pintu mobil nya
"Oh gitu, enggak ikhlas" ucap tania ia kembali membenarkan posisi nya, lalu merogoh totebag ia mengambil dompet mini yang berwarna biru dan mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah. "Nih, uang bayaran nya"
"Enggak mau uang, sayang"
Cup!
Tomi mengecup pipi tania tiba tiba, tania langsung membalas mengecup pipi tomi sebelum akhirnya ia keluar dari mobil suaminya itu
Ia menunggu mobil tomi hingga menjauh dari pekarangan kampusnya setelah mobil suaminya tidak kelihatan lagi tania segera masuk kedalam kampus menuju kelasnya, ia berjalan di koridor dengan sedikit terburu buru karena tidak hati hati dirinya hampir saja tersungkur ke depan karena tersandung dengan kaki nya sendiri.
Namun tania tidak terjatuh ia menubruk dada bidang seseorang, dengan kepala mendongak ia menatap cowo itu.
"Hati hati" ucap cowo itu dengan nada dingin
"Ck! ketemu lo lagi lo lagi, bosen gue liatnya" keluh tania yang sudah berdiri sempurna sambil merapihkan baju nya
"Sama"
Tania langsung menubruk bahu cowo itu dengan kencang dan berlalu dari lorong itu menuju kelas. Bara syalan!
"Sumpah, gue pengen ngomong kasar" ucap tania kesal ia baru saja mendudukan bokong nya di kursi.
__ADS_1
"Lo kenapa sih tania? dateng' mukanya lecek gitu" tanya alika heran menatap kehadiran tania
Tidak menjawab, tania membuka totebag nya namun matanya membulat sempurna, tangan tania bergerak cepat mengeluarkan seluruh isi tasnya.
"Lo cari apaan?" tanya ilham yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi depan tania yang masih kosong.
"Dompet gue, liat enggak?" Ilham menggelengkan kepala sebagai jawabannya, tania memutar otak apakah dirinya tadi melupakan dompetnya di mobil tomi atau terjatuh saat dirinya menabrak cowo itu?
"Astagfirullah" tania menepuk jidat nya lalu berdiri ia menyelusuri koridor yang tadi ia lalui untuk menuju ke kelas.
"Dompet gue"
Keringat sudah bercucuran di keningnya, dia tidak begitu panik dengan uang bahkan kartu atm nya yang ia pikirkan cuma cincin pernikahan nya, tadi tania sengaja menyimpannya di sana.
"Mana sih?! lo jangan gitu dong nanti kalo mas tomi marah gimana?" gerutu tania ia terus menyapu setiap sudut ruangan.
"Please ya... kalo mau ambil ambil aja uangnya jangan cincin itu yaa"
"TANIA AQELA PUTRI"
Degh!
Mendengar suara yang menggelegar itu tania sontak membalikan badan nya dan menatap takut ke arah pria parubaya yang sedang bercak pinggang "Masuk tania"
"Maaf pak saya lagi car-"
"Banyak alasan, cepat masuk kelas!" titah dosen yang terdengar killer di kampus tania.
Tania merosotkan kedua bahunya ia membuang nafas berat mengikuti langkah dosen nya itu dengan gontai "Semoga yang nemuin dompet gue orang baik deh" gumam nya
-
"Suami lo belum datang tan?" tanya ilham yang sudah berada di atas motor sportnya melihat tania sedang berdiri di samping pagar.
"Iya, macet kaya nya" ucap tania seadanya ia tidak yakin jika suaminya terjebak macet.
"Mau bareng gue enggak?" ajak ilham yang mendapatkan gelengan dari tania.
Ilham menghargai keputusan tania ia tersenyum simpul lalu berpamitan dengan sahabat nya itu.
Tania melihat motor ilham yang sudah melaju menghembuskan nafas pelan, ia mendudukkan dirinya di kursi besi dengan ukuran panjang sambil mengayunkan kaki nya untuk mengusir keheningan sebenernya tomi inget engga sih kalo ada istrinya disini?
Bolak balik tania mengecek handphone genggam nya berharap pesan yang ia kirim di balas namun nihil tidak ada balasan.
Tidak berselang waktu lama seorang cowo datang berlari menuju ke arahnya.
"Mas? kamu naik apa?" tanya tania celingak celingukan mencari kendaraan tomi.
"Ojek, mobil aku tiba tiba mogok sayang. Maaf ya telat jemput kamu" ucap tomi sambil menatap manik cokelat milik tania
Tania mengelus rambut tomi yang sedikit berantakan "Gapapa mas, ayo pulang" ucap tania ia beranjak berdiri
"Mau naik apa? aku pesen taksi dulu"
__ADS_1
"Enggak usah, kita naik angkutan umum aja mas"
-