PRIA BRANDAL Itu TERNYATA SUAMIKU

PRIA BRANDAL Itu TERNYATA SUAMIKU
Khawatir?


__ADS_3

...HAPPY READING UYUYY...


...----------------...


"Kalo mual lagi, langsung kabarin aku ya?" ucap tomi khawatir sebab semalam dirinya tidak tertidur karena tania yang mual mual.


"Iya mas, maafin aku ya?" ucap tania merasa sudah sangat merepotkan tomi


Tomi menggelengkan kepala nya sambil tertawa pelan, ia mengusap puncak rambut tania dengan lembut "Jangan minta maaf terus, kamu enggak salah"


Tania juga bingung tadi malam tiba tiba saja perut seperti di gejolak dan ingin sekali mengeluarkan isi di dalam perutnya padahal yang keluar hanyalah cairan bening saja.


"Aku masuk ya" ucap tania lalu meraih tangan kanan tomi dan menciumnya, tania merasakan tangan kekar mengusap rambutnya. Setelah selesai ritual nyungkem nya tania membuka knop pintu mobil nya bergegas untuk segera masuk kedalam kampus namun tangan kanan nya di tahan oleh tomi, tania melirik tangan nya yang di genggam oleh sang suami lalu pandangan nya beralih ke tomi.


"Kenapa mas?"


Cup!


Satu kecupan mendarat di kening tania membuat tania tersenyum tipis ia buru buru keluar dari mobil sang suami dan berlari menuju kampus tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Salting kan tuh bocah"


...---...


Hari ini mendadak dosen tidak masuk kelas, jadi kelas sudah seperti pasar sangat ramai, ada yang bermain game di handphone, ada yang sedang bergosip, ada yang tidur, dan masih banyak lagi.


Saat ini tania dan alika sedang duduk di pojok kelas, tepat yang paling nyaman untuk bergosip ria.


"Gimana tan? lo hamil apa enggak?" tanya alika tiba tiba, membuat wajah tania berubah menjadi sedih.


"Ga, gue udah cek sama tomi ke rumah sakit katanya kecapean" jelas tania, karena mereka ada di pojok belakang kelas jadi tidak ada yang dapat mendengar pembicaraan mereka too kelasnya berisik dan murid murid pada fokus dengan kegiatan nya masing masing


"yahhh ... enggak jadi punya keponakan dong gue?" tanya alika dengan mimik wajah lesu kecewa


"Lo kecewa ya?" tanya tania pelan


"Apa tomi juga sama kaya lo? dia kecewa sama gue?" tutur tania mata nya sendu melihat itu membuat alika merasa bersalah telah berbicara seperti itu.


"Eh? demi enggak, gue ga kecewa sama lo nia" ucap alika, dirinya merasa sangat bersalah karena telah membuat sahabat nya sedih


"Tomi? dia pasti kecewa sama gue, lik!!"

__ADS_1


"Enggak nia, percaya sama gue" ucap alika menangkan tania


"Sorry ya nia" ucapnya "Hari ini Abang gue ada di rumah mau main kerumah gue ga?" tanya alika mengalihkan pembicaraan yang membuat sabahat nya ini sedih


Hening...


Alika menghela nafas pelan melihat tania yang masih saja melamun, tidak mengerti apa yang di alami oleh sahabatnya ini alika memilih untuk bungkam karena takut merusak mood tania.


"Heyy" alika menyenggol tubuh tania dengan sikutnya membuat tania tersadar dari lamunan


"Hah? kenapa?" tanya nya linglung


"Abang gue hari ini di rumah, mau main ga? shopping kita sekalian habisin uang dia, kapan lagi yakan" ucap alika sambil terkekeh


"Gue izin ke tomi dulu ya"


...---...


Waktu istirahat tiba, tania dan sahabat sahabat nya kini sedang duduk di satu meja dengan menikmati makanan nya masing masing.


"Gimana tan?" tanya alika membuat kening tania mengerut


"Apanya?"


"Oh itu" tania melirik ke Ilham dan wawan "Kalian ikut?" tanya nya


"Iya, gue ikut" ucap ilham


"Lo?" tanya tania pada wawan, lelaki itu masih saja menatap sinis ke tania rasanya bener bener risih


"Ikut"


Tania manggut-manggut sambil ber'oh' ria "Gue izin ke tomi dulu" ucap nya lalu mengeluarkan benda pipi persegi panjang itu, tania mengotak atik handphone, kontak lelaki yang beberapa bulan bersama nya ini tersemat rapi di beranda aplikasi hijau.



Tania tersenyum menatap layar handphone nya, melihat tomi yang sangat mengkhawatirkan dirinya.



Tania mengigit bibir bawah nya tak tahan melihat pesan yang tomi kirim kan, lucu! teman teman nya yang melihat tania tersenyum bahkan terkekeh pelan membuat mereka menggelengkan kepalanya heran

__ADS_1



Tania langsung meletakan handphone nya di meja dirinya tidak kuat, apalagi emoji yang suaminya itu pakai, sungguh rasanya tania ingin guling guling di tanah.


"Nia? stop anjir, lo waras kan?" tanya alika heran


"You think i'm crazy?" wajah tania kembali berubah menjadi datar.


"Hehe datar amat wajahnya mba" ujar alika tersenyum kikuk


"Ribet!!!"


"Lo balik sama siapa?" tanya tania kepada alika


"Niatnya gue mau bareng lo, tapi kaya nya lo di jemput ayang lo itu kan?"


"Yaudah, ramean kita naik mobil suami gue" ucap tania antusias


"Engga!!" seru wawan tidak suka


"Kenapa? bareng aja kali gapapa"


"Enggak, mending gue sendiri" ucapnya sarkas


"Lo kenapa sih? kalo ga suka sini bilang, ga usah kaya anak kecil main nya diem diem an. Bocah!"


"Ngotak!" ujar wawan ngotot


"Sebelum suruh orang buat ngotak, lo harus ngotak sendiri, pikir lo udah bener atau belom" final tania ia langsung meninggalkannya kantin dengan kesal


"Lo, kenapa si wan?" tanya alika


"Gue ga suka dia nikah sama cowo brengsek itu lik" ucap wawan dengan dada naik turun


"Kenapa?" kini ilham yang bertanya


"Karena gue suka sama nia" ucapnya setelah itu pergi meninggalkan kedua nya


Alika tersenyum kecut menatap punggung Wawan yang menghilang di belokan koridor


"Lik? are u okay?" tanya ilham mengusap lembut punggung tangan alika yang terkepal di atas meja.

__ADS_1


Alika tersenyum tipis "Iya, gapapa kok"


...---...


__ADS_2