
"Tapi buat saat ini pernikahan saya masih jadi rahasia mbak, jadi jangan kasih tau siapa siapa kalo saya istrinya pak tomi" ucap tania menatap desti.
"Lho kenapa?" tanya desti penasaran.
"Udah, enggak ada rahasia rahasiaan lagi. Lo istri gue, mereka harus tau kalo lo itu istri gue" ucap tomi menarik tangan tania untuk berdiri dari duduk nya.
"S---sekarang?"
...- ...
Kedua pasangan itu baru saja selesai menunaikan ibadah sholat isya nya, masih menggunakan mukena tomi menarik tania untuk berada di dekapan nya. Tomi meluruskan kakinya membiarkan tubuh tania lebih dekat berada di pelukan nya, sambil menciumi wajah tania.
"Tomi!!! gue masih mau baca Alquran lo malah nempel nempel begini" ucap tania yang berada di dada bidang suaminya itu
"Lo nolak? dosa lho nolak suami" ujar tomi membuat tania cemberut, kalau sudah membawa dosa membuat tania tidak dapat membantah.
"Enggak nolak ihh, yaudah nii" ucap tania menyodorkan wajah nya di depan tomi
"Enggak ikhlas juga dosa"
"Gue ikhlas tomi, ikhlas lahir batin ini mah mau diapain aja ridho gue" ucap tania wajahnya semakin mendekat dengan memonyongkan bibirnya ia menutup mata menunggu tomi untuk melanjutkan tetapi tomi malah memundurkan kepalanya.
"Gue mau cerita"
Tania membuka mata menatap wajah serius suami nya itu, tania teringat di kantor tomi mau menceritakan semua nya, tania langsung menunjukkan mimik wajah yang serius dan duduk tegak dengan kaki menyilang.
Bagaimana bisa tania saat ini sangat lucu, seperti gadis kecil yang sedang menunggu ustadz berceramah, menggemaskan sekali!
"Santai aja, janji jangan tinggalin gue ya" ucap tomi ia menarik tangan tania dan mengeluarkan jari kelingkingnya kemudian dia pautkan dengan jari kelingking miliknya berjanji seolah takut kehilangan tania jadi ia membuat perjanjian terlebih dahulu.
"Janji ya?"
Tania mengerutkan keningnya, sebelum akhirnya dia mengangguk, ia ragu sebenernya. apakah masa lalu tomi membuat pernikahan nya akan hancur? mengapa tomi sampai memohon seperti ini, jika ia tania tidak mau pernikahan yang seumur jagung ini kandas.
"Mau mulai dari mana?"
Pertanyaan itu membuat tania memejamkan matanya singkat meyakinkan dirinya untuk mendengarkan cerita tomi "Cewe masa lalu lo"
"Kaluna nama nya"
"Ih bodoamat sama nama nya"
Tomi mengelus kepala tania lembut melihat perubahan wajah tania membuat tomi ragu dia tidak mau kehilangan perempuan yang sekarang sangat berharga dalam hidupnya "Ceritaa" ucap tania tidak sabaran.
__ADS_1
"Gue sebut nama ya"
Tania mengiyakan perkataan tomi, tomi menarik tania untuk lebih dekat dengan dirinya.
"Dulu waktu ketemu luna itu di rumah sakit jiwa, gue yang di rawat disana,-"
"Lo gila?" Pekik tania terkejut matanya membulat sempurna
Tomi mengangguk, dirinya tidak tersinggung lagian juga bener yang tania bilang dirinya ini memang gila.
"Iya, gue gila. Gue depresi sama semua nya, padahal gue enggak segila itu Tan, tapi ayah sama bunda sengaja masukin gue ke rumah sakit jiwa biar mereka bisa lebih fokus sama kerjaan nya, mereka enggak mau ngurus gue. Mereka capek mungkin punya anak yang nyusahin, untung aja gue enggak di bunuh" Tomi berusaha mengingat semuanya walaupun sebenarnya ia sudah mengubur dalam dalam kenangan pahit itu.
"Penyebab depresi lo karena apa?"
"Karena mereka juga, lo tau? seharusnya rumah itu jadi tempat kita buat pulang! tapi enggak buat gue, rumah itu kaya neraka dunia buat gue, mereka selalu berantem, bahkan gue yang jadi samsak mereka lebih tepatnya ayah"
Tania menutup mulut tidak percaya, cowo yang berada di depan nya ini mempunyai masa lalu yang kelam ia kira hanya sekedar cinta saja namun keluarga juga.
"Giliran gue udah gila, dia buang gue ke rumah sakit jiwa, sering banget gue kabur dari sana ke markas, gue muak sama semuanya, Gue itu waras cuma setengah stress aja, lo ngerti kan tan?" ucap tomi gregetan
"Gue ngerti tom, gue juga paham kenapa emosi lo suka enggak stabil" ucap tania ia langsung memeluk tubuh tomi dengan erat seolah tidak mau kehilangan cowo itu.
"Maaf ya, tan. Gue ketemu luna ketika ayah berhasil temuin gue dan dia bawa gue ke rumah sakit jiwa lagi, luna temuin gue yang lagi duduk sendiri di taman, dia duduk di samping gue tanpa takut padahal kalo bunda jenguk gue dia enggak pernah mau dekat sama gue, bunda takut. Tapi luna enggak, dia selalu ada di samping gue, kasih semangat. Saat itu juga gue rasa luna beda,-"
Tomi merasakan ada air yang menetes mengenai tangan nya ia menundukan pandangan menatap tania yang masih memeluk dirinya tapi badan nya bergetar, menangis?!
"Tania? lo nangis? udah ya udah, enggak gue lanjutin kok" ucap tomi ia melepaskan pelukan nya lalu menangkup kedua pipi tania, sial! tomi malah membuat tania menangis, seharusnya memang ia tidak usah membahas luna!.
Sungguh, tania tidak kuat menahan air matanya sesak rasanya mendengar suami menceritakan perempuan lain, nyesel tania. namun dirinya harus mengetahui semuanya!
"Lanjutin" ucapnya lirih ia menghapus sisa sisa jejak air mata yang berada di pipinya
"Tan? udah gue enggak mau lanjutin lagi"
"Tomi, gue mau denger semua nya, biar gue tau, sejauh apa lo mencintai luna!" lontar tania sesak menyebutkan nama itu.
"Gue cinta nya sama lo, bukan Luna"
"Iya, lanjutin lagi. Ayo" ucap tania ia kembali menetralkan sesak di dada nya dengan senyuman menyatakan bahwa dia baik baik saja.
"Gue lanjutin ya?" ada perasaan tidak enak tapi sebaiknya ia menyelesaikan ceritanya daripada tania berfikiran yang tidak tidak tentang dirinya. "Udah kenal lama sama luna, dia yakinin ayah sama bunda kalo gue ini enggak gila. Mereka percaya, setelah keluar dari penjara itu gue sama luna semakin dekat, bahkan sangat dekat. Akhirnya kita berdua mutusin buat pacaran, saat itu juga gue takut banget kehilangan dia jadi apapun yang dia pinta pasti gue kasih padahal bocil SMA kelas 1 punya apa sih? tapi gue kasih semuanya,-"
"Yang di bawah belom lo kasih kan?"
__ADS_1
"Tenang aja, sayang. Aman" ucap tomi berbisik sedikit lega namun ia tidak tau cara mengecek lelaki perjaka atau tidak perjaka.
"4 Tahun pacaran makin lama luna minta yang lebih, mobil, rumah, bahkan tas bermerek. gue kasih, karena dia selalu ngancem bakal ninggalin gue kalo gue enggak penuhi keinginan nya, karena gue bego tolol goblok ya gue kasih. 6 tahun bareng dia gue ngerasa bener bener bahagia walaupun di makin minta yang lebih, di hari mau ngerayain anniversary yang ke 6 gue datang ke apartemen nya buat kasih surprise gue enggak bilang sama dia mau ke sana, tapi malah gue yang kaget, luna malah bersetubuh sama erwind sahabat gue sendiri"
"WHAT KOK BISAAA?! CEWE LO MURAHAN BANGET"
"Mantan gue, cewe gue sekarang itu lo"
Seperti ada kupu-kupu di perutnya tania tersipu malu mendengar itu, ia bergelut manja di lengan kekar suaminya itu.
"Yang bikin lo musuhan sama erwind karena itu?" tanya tania penasaran
"Iya, luna ternyata mata duitan, dia cuma mau sama harta gue aja, sebenernya dia cinta sama erwind bukan gue"
Bener bener plot twist, tania tidak bisa menyangka padahal hubungan mereka berjalan lama.
"6 tahun lama nya tom? dia enggak bisa cinta sama lo, ckck gue yang baru sebulan aja udah cinta banget sama lo UPS!! Eh enggak anjing" Ucap tania ia terkejut dengan perkataan nya barusan sambil menutup mulutnya bagaimana bisa dirinya keceplosan.
Senyum tomi mengembangkan, ia langsung mengendong tania dan meletakan tania di ranjang dirinya kemudian ikut berbaring di samping tania yang masih mengenakan mukena itu.
"Mandi sana" ucap tomi membuat tania mengerutkan keningnya bingung, apakah dirinya bau?.
"Kan tadi udah? kenapa mandi lagi" ucap tania heran
"Gue mau, lo enggak mau?"
"Mau apa tom?"
"Mau itu, tania"
"Itu apa?"
"Ayo jalanin sunnah Rasul"
"Yaudah bentar gue mandi dulu, abis itu lo kan yang mandi?" tanya tania gugup, jantung nya berdebar sangat kencang. tidak mungkin juga dirinya menolak, dosa.
"Iya"
-
...BERSAMBUNG ...
^^^Like ny mn ya kka?!^^^
__ADS_1