
Hari sudah sore tomi dan tania kini sedang berada di jalan menuju pulang penat rasanya mengikuti suami kerja padahal tania hanya duduk saja.
Tania menyandarkan punggungnya di kursi ia membuka jendela mobilnya sedikit rasa mual membuat nya harus menghirup udara luar, tania sangat tidak bisa jika orang lain yang mengendarai mobil karena sudah pasti perutnya akan bergejolak.
Tomi melirik ke sebelah kanan nya menatap sang istri yang sedang gelisah di duduknya itu "Kamu kenapa?" tanya tomi tangan kanan nya mengusap perut tania.
"Enggak papa mas" ucap tania berbohong padahal kepalanya sudah pusing daripada tomi khawatir jadi tania memilih untuk bohong, Tania mengusap punggung tangan tomi yang berada di perutnya.
"Pasti mual kan? mas tau sayang, nanti pulang langsung makan ya, atau sekarang mau mampir ke warung makan deket deket sini?" Tanya tomi ia melirik tania lewat ekor matanya.
"Pulang aja deh mas, mau buat mie rebus aja, enak anget anget"
"Enggak boleh" ucap tomi melarang tania.
"Mas? enggak boleh, aku lagi pengen makan yang berkuah"
"Yang lain aja"
"Mau mie"
"Bakso?"
"Lagi mau mie"
"Soto?"
"Lagi mau mie!!!!"
"Tania aqela putri, saya ini suami kamu"
Tania menghembuskan nafas panjang ketika mendengar tomi menyebut nama lengkapnya "Apa mas tomi ergio sanjaya?!"
"Jangan makan mie terus"
"Cuma sekali!!!!"
...-...
"Mau marah sama mas" ucap tania sebelum keluar dari mobil, tomi hanya menggelengkan kepala nya.
Baru keluar tania sudah di kejutkan dengan ke empat teman nya. "NIAAAA SAKIT APA LO!!" Teriak alika berjalan ke arah tania, spontan tania langsung menutup lehernya dengan. kedua tangan, kenapa alika bisa tahu rumah nya?
Tomi datang memasangkan syal yang tadi di tinggalkan di mobil membuat tania bernafas lega "Bawa temen temen kamu masuk ya sayang, mas mau mandi" ucap tomi berbisik kemudian mencium kening tania sangat lama setelah itu sang suami melesat masuk menuju kamarnya.
"Nah kan, gimana rasanya" tanya alika tanpa malu ia langsung merangkul tania berjalan bersama menuju dalam rumahnya itu.
__ADS_1
"Apaan sih!"
"Kalian ngapain sih kesini, tau dari mana rumah mas tomi?" tanya tania setelah sampai di depan ilham dan wawan yang sedang bersandar di tiang dinding depan rumah tania
"Anj*Ir udah mas mas an Cok!!" seru wawan sedikit heboh
"Berisik lo"
Tania langsung masuk kedalam rumah meninggalkan ketiga temen nya, karena alika orang nya pantang nyerah ia menarik kedua cowo itu untuk ikut masuk kedalam rumah tania, cukup besar. ruang tamu nya sangat nyaman di pandang, rumah seperti ini yang alika mau jika sudah hidup dengan wawan
"Duduk dulu, biar gue ambilin minum" ucap tania menyuruh ketiga sahabatnya untuk duduk di sofa kemudian dirinya berjalan ke dapur, hanya membuat es jeruk karena di dapur persediaan minuman nya hanya tersisa sirup rasa jeruk itu.
Grepp
Tania terkejut ketika tangan kekar melingkar sempurna di perutnya kemudian bahu nya berat karena cowo itu menempelkan dagu nya di sana, bahkan deru nafas cowo itu terasa menusuk di kulit lehernya walaupun leher tania tertutup syal.
Cowo yang ingin menyusul tania ke dapur merasa jenggah dengan pandangan di depan nya, cowo itu mengepalkan jemarinya menahan rasa cemburu di dada. Baru kali ini ia melihat tania mau sedekat itu dengan laki laki.
Ekhem!
Cowo itu sengaja batuk lalu berjalan mendekat ke arah mereka berdua, bukan nya melepaskan pelukan cowo itu malah melirik sekilas itu kemudian semakin bergelut manja kepada tania sungguh rasanya ia panas ketika tomi berbicara "Nanti anaknya mau mirip aku atau kamu?" sambil mengelus perut tania yang datar, maksudnya apa? apakah saat ini tania sedang hamil anak cowo itu?
Wawan, ya cowo itu sudah lama mengagumkan tania seharusnya yang memeluk tania seperti itu saat ini adalah dia bukan cowo lain, setelah melihat itu membuatnya kesal. Wawan langsung pergi meninggalkan keduanya.
"Mas, kenapa bilang kaya gitu?" tanya tania bingung setelah Wawan jauh dari jangkauan.
"Oh, kalo aku mau nya cowo. Mas mau nya apa?" tanya tania kini ia melanjutkan membuat minuman itu.
"Apa aja, yang penting kamu sama anak nya sehat"
Tania manggut manggut saja "Mas, lepas dulu. Aku mau bawa nampan nya susah"
Tomi melepaskan rengkuhan nya terhadap sang istri, setelah tomi melepaskan pelukannya tania langsung melesat ke ruang tamu menghampiri ke tiga sahabatnya. Dan menata minuman nya di atas meja kemudian tania duduk di sebelah alika.
"Lo sakit apa Tan?" tanya ilham dengan nada khawatir setelah melihat pesan yang tania kirim lewat alika itu membuat ilham menjadi kepikiran
"Lagi enggak enak badan aja" lontar tania sambil meregangkan otot kepalanya
"Lagi hamil kan lo?" serkah wawan dengan wajah sewot, tania mengerutkan keningnya bingung melihat perubahan wajah Wawan yang sangat tidak bersahabat
"Lo hamil????" Pekik alika menutup mulut tidak percaya dirinya akan mempunyai keponakan
Ilham tersenyum kecut, ia harus bisa mengikhlaskan perempuan yang dulu pernah jadi masa lalu nya ini "Selamat ya"
"Wawan di percaya?"
__ADS_1
...-...
"Mas, besok abis pulang kuliah aku mau ke rumah mamah" ucap tania meminta izin kepada tomi.
Rintik hujan membuat suasana dingin yang sangat menusuk nusuk di kulit mereka apalagi melihat tania yang menggunakan tanktop dan juga hotpants bahan membuat tubuh tomi panas.
"Nanti aku suruh bara buat antar kamu" ucap tomi berjalan mendekati ranjang lalu naik dan langsung memeluk tubuh tania
"Mau naik fufu aja"
"Nanti di sita lagi, sayang" suara serak tomi membuat tania merinding
"Mas, berat!!"
Tomi menjauhkan dirinya dari tubuh tania, ia menatap dalam dalam mata cokelat milik istrinya itu "Enggak tahan! pakaian kamu terlalu terbuka!" ucap tomi dia langsung menerjang tubuh tania hingga tania spontan membaringkan tubuhnya dan tangan menyilang di depan dada
"Arghhh"
Tomi tersenyum miring ketika sudah berada di atas tania yang sedang menurut matanya itu, lalu kemudian dengan iseng tomi mengecup bibir tania berkali kali.
"Mas ihh, mau tidur"
"Nanti aja tidurnya, kita ibadah dulu"
Setelah mengucapkan itu tomi menurunkan tali tanktop tania setelah berhasil terbuka dengan mudahnya tomi melakukan aktivitas.
"Mas shh, pelan pelan"
"Iya sayang"
Suara ******* dan rintik hujan menghiasi malam mereka berdua, suasana dingin di luar melebur hangat di dalam, keduanya saling terhanyut dengan kenikmatan itu tidak bisa di pungkiri tania sangat suka setiap belaian yang cowo itu berikan.
Tomi tidak ingin kehilangan di setiap inci tubuh istrinya itu, tubuh indah milik tania. tomi tidak pernah merasakan nikmat yang sangat nikmat, dirinya bersyukur bisa menikah dengan tania walaupun di jodohkan dan sempet tidak menerima namun setelah di jalan kan ternyata pacaran setelah menikah itu lebih enak dan bebas melakukan apapun itu.
"Mas, jangan telat lagi yaa. Takut di marahin dosen" ucap tania setelah mereka selesai di pelepasan ke tiga kali nya, tomi sudah tergeletak di samping tania dengan nafas sedikit terengah engah
"Hm"
Sayup sayup mata tania ia berusaha mengambil ponselnya yang ada di nakas sebelah tomi, namun melihat tangan tania yang tidak sampai tomi yang meraih ponsel itu lalu ia berikan kepada tania
"Mau apa?"
"Pasang alarm mas biar enggak kesiangan, aku enggak percaya sama kamu" ucap tania setelah selesai menyeting alarm dirinya langsung meletakan ponselnya di sebelah kepala nya
"Aku bangun subuh, kamu nya aja yang susah di bangunin" lontar tomi ia menarik hingga dada lalu memeluk tubuh tania dan menenggelamkan kepalanya di antara gundukkan kenyal dan sedikit berisi itu.
__ADS_1
Tania mengelus rambut tomi tidak berselang lama mereka berdua menjelajahi alam mimpi.
^^^- bersambung -^^^