
Setelah tomi mengantar tania untuk pulang ke rumahnya, ia tidak ikut pulang melainkan malah pergi lagi tetapi ia hanya menaruh mobil di garasi rumahnya berganti dengan motor sport nya.
Tania menghembuskan nafas pelan, ia tidak tau suaminya itu ingin kemana, sebab tadi tania tanya tomi hanya menjawab "Sebentar doang" Seolah ada yang tomi tutupi dari dirinya.
"Gue sendirian di rumah gede begini? Sepi bangettt" ucap tania berbicara sendiri dengan langkah gontai menuju sofa sambil menghidupkan benda kotak yang gepeng dan lumayan besar itu.
"Ara gue suruh kesini aja kali ya, tapi udah malam. Rumah tomi kan lumayan jauh nanti kalo sepupu gue di apa apain bisa abis gue sama tante sekar" cerocos tania pada dirinya sendiri menghindari sunyi yang tiba tiba sangat melanda.
-
Saat ini tomi sudah berada di sebuah tempat rahasianya, tomi melonggarkan dasi di lehernya lalu masuk ke rumah yang sudah tidak layak pakai itu, dinding nya sudah penuh coretan abstrak dan juga kumuh.
"Vanya sealice?"
Tubuh gadis ralat wanita itu membeku ketika nama nya di panggil oleh seseorang cowo yang masuk kedalam. Tangan dan kaki nya terikat serta mulutnya juga yang di ikat dengan kain.
Tomi berjalan mendekati wanita itu, iya vanya. Tomi langsung membuka ikatan pada mulut wanita tersebut.
"Lo siapa?!!" Ucap vanya ia sedikit berontak
Tomi sudah menyuruh anak buahnya untuk meninggalkan tempat ini jadi di sini hanya ada dirinya dan juga ******* satu ini.
"Mau tau?"
Vanya menganggukkan kepalanya cepat, tomi membelai rambut Vanya dengan lembut bahkan sangat lembut, tapi tidak bertahan lama kini tomi menguatkan tarikan rambut Vanya membuat sang empu merintis kesakitan.
"S--ssakitt, lepaskan gue mohon!!"
Tomi melepaskan jambakan nya, ia tersenyum miring lalu mengeluarkan pisau lipat yang selalu ia bawa kemanapun dirinya pergi.
"S---sebenernya lo siapa-Awwww" pekik vanya menahan sakit karena tiba tiba tomi menancapkan ujung pisau nya ke dengkul milik vanya, tomi membuat luka yang sama dengan luka yang ada pada istrinya walaupun yang tania punya tidak cukup dalam.
Vanya menangis menatap kakinya yang sudah mengalih darah rasa perih membuat Vanya semakin ketakutan.
"Minta maaf sama tania"
Degh
Ada hubungan apa cowo itu dengan tania? Vanya menggeleng lemah ia tidak mau minta maaf, bisa bisa harga dirinya turun.
"Gue enggak mau!!" Ucap vanya menantang
"Oh, jadi lo lebih milih buat keluar dari sini dengan tubuh terpotong potong? Baiklah kalo itu yang lo mau." Lontar tomi ia berdiri membersihkan pisau lipat yang ada sedikit noda darah dengan pipi vanya. Tomi hanya menggesek untuk membersihkan darah yang ada di pisaunya.
Setelah itu tomi mengambil beberapa alat yang tersimpan rapi di dalam koper yang berukuran sedang, tomi membuka koper itu di depan vanya, setelah di buka bau busuk terhirup, dan bau amis yang sangat kental.
"Lo mau mati kan?"
"ENGGAK!!!" Tolak vanya ketika tomi mencekokin beberapa obat kemulut Vanya namun sayangnya Vanya menutup mulut rapat rapat.
PLAK!
"Buka mulut anj*ing"
"Emphhhh, GUE BAKAL MINTA MAAF SAMA TANIA"
Mendengar itu tomi menjauhkannya dari vanya lalu kembali meletakan obat tadi ke dalam toples plastik.
"Oke, selamat tidur. Jika besok tania tidak memaafkan lo, siap siap mati ya"
"Dan jangan coba-coba untuk kabur dari sini!"
Setelah mengucapkan itu tomi langsung meletakan kopernya ketempat yang aman lalu keluar dari rumah tersebut dan menguncinya rapat rapat
-
"MASSS!!" Pekik tania heboh ketika ada tangan kekar yang melilit sempurna di lehernya, sontak tania langsung membalikan badan.
"Udah malam, kenapa masih di sini?" Tanya tomi menangkup kedua pipi tania
"Nungguin kamu lah, kata nya sebentar, tapi lama" ucap tania sambil mengerucutkan bibirnya lucu
"Maaf ya, tadi ada kerjaan mendadak banget. Harusnya kita dari tadi udah kelonan ini" ucap tomi mengusap surai cokelat milik tania.
"Ayo tidur" lanjut tomi membawa tania kedekapan nya walaupun masih terhalang oleh sofa.
"Mas mandi dulu sana, masa mau langsung tidur"
"Kamu mau ibadah lagi?" tanya tomi antusias dengan senyum yang mengembang
"Enggak mas, badan kamu bau amis, abis ngapain?"
"Aku mau mandi, siapin airnya ya" sengaja tomi memotong ucapan Tania tadi
Merasa tidak di jawab Tania memilih untuk diam dan tidak melanjutkan pertanyaan lagi ia segera menyiapkan tomi air hangat untuk mandi.
Selesai mandi tomi langsung menghampiri tania yang sudah berada di ranjang dan memeluk guling, tangan tomi perlahan mengambil guling yang berada pada pelukan istrinya itu setelah berhasil ia memarahi guling tersebut sambil meninju ninju seolah guling itu adalah saingan nya.
"Enak aja lo peluk peluk bini orang!"
"Punya bini maka nya kalo mau di peluk!!!"
__ADS_1
Tuingg
Tomi melempar guling itu hingga terjatuh ke lantai bahkan pas jatuh ke lantai tomi tertawa meledek melihat guling itu sambil menjulurkan lidah bangga.
"Mas? Kamu gila?"
Tomi menoleh ke arah belakang ternyata Tania sudah duduk sempurna, apa jangan jangan dari tadi tania tidak tidur?
"Hah? Iya, aku kan mantan pasien rumah sakit jiwa"
"WOIII GELAP GELAP" Ujar tania menutup matanya
"Beneran sayang"
"Depresi sama gila itu bedaa" ucap tania mencubit tangan tomi
"Beda tipis"
Daripada berbicara seperti ini tania memilih untuk langsung menarik tomi untuk tidur bersama.
Malam berganti pagi, tania merasakan disebelahnya sudah tidak ada sosok makhluk hidup, tania mengerdapkan matanya berkali kali.
"Mass?!!" panggil tania ia menyibakkan selimut nya lalu menginjak kaki ke lantai ia mengetuk pintu kamar mandi siapa tau suaminya sedang mandi tetapi di dalam kamar mandi itu tidak ada aktivitas atau percikan air dan benar saja saat pintu kamar mandi di buka tania tidak melihat sosok suaminya.
"Mas tomii"
Tania berjalan ke arah nakas sudah ada nasi dengan telur mata sapi dan sosis di sebelah piring ada selembar kertas kecil.
...Aku duluan ke kantor, sarapannya di makan ya, aku buru buru ngeliat kamu tidur pulas enggak tega bangunin. Tadi aku udah bilang bara buat antar kamu ke kampus, kalo kamu enggak mau boleh naik fufu tapi pelan pelan ya sayang, i love you more tania...
Tania tersenyum melihat kertas itu lebih lagi melihat isi suratnya yang membuat kupu kupu berterbangan di perutnya, bagaimana bisa tomi seromantis ini.
Tania segera memakan makanan yang tomi buat lalu kemudian ia langsung melesat ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritualnya tidak lama namun sedikit lama, ia keluar dengan wajah fresh walaupun rambutnya tidak ia basahkan.
Tidak lupa sebelum turun ia membawa piring kotor ke wastafel dan mencucinya kemudian setelah selesai mencuci tania langsung menitip pesan kepada sang suami.
...Mas bunny ...
^^^Mas, makasih ya. And i love you to ^^^
^^^Aku berangkatnya naik fufu aja ^^^
^^^send ^^^
Setelah selesai mengirim pesan tania langsung berjalan menuju garasi mobil namun saat keluar ia terbingung menatap mobil tomi masih terparkir rapi di garasinya sedangkan motor sport tomi tidak ada? suaminya pakai motor ke kantor?
Tania mengangkat kedua bahu acuh seolah tidak terlalu memikirkan itu kemudian ia mengeluarkan fufu menghidupkan mesin nya lalu melajukan dengan pelahan.
-
Cowo yang baru saja masuk ke dalam rumah itu melempar kasar paperbag yang berisi baju kepada wanita yang baru saja terbangun.
"Jangan bunuh gue .... "
Tomi menghembuskan nafas kasar ketika mendengar gumaman yang keluar lewat bibir wanita tersebut.
"BANGUN!!" Bentak tomi menggoyangkan tubuh wanita yang adalah vanya itu dengan kasar membuat sang empu tersedak ia menatap nanar kearah tomi.
"Lo siapa sih?" tanya vanya pelan
Tomi mencengkeram kedua pipi vanya memaksanya agar bisa menatap tomi "Gue pacarnya tania, cepet ganti baju sebelum kesabaran gue habis!!" setelah mengucapkan itu tomi menepis tangan nya dengan kasar membuat kepala vanya terbentur tembok
"Maafin gue" cicit vanya dengan badan gemeteran karena sekarang tubuhnya seakan remuk oleh perlakuan kasar dari tomi.
"Jangan sakitin gue, gue janji enggak bakal ulangi kesalahan gue lagi sama tania, tapi gue mohon bebasin gue!!"
Tomi tidak mengubis perkataan vanya ia memanggil anak buahnya untuk mengawasi vanya saat berganti baju, kemudian dirinya keluar dari dalam rumah tersebut
Tomi mengambil benda berbentuk persegi panjang dengan isi di dalam nya ada beberapa tembakau kering kemudian ia menyalakan tembakau kering itu dengan korek api lalu mengisapnya dan mengepulkan asap di udara, sudah lama dirinya tidak menyentuh benda panjang itu rasanya rindu namun ia lebih suka bibir tania, _sialan_
Selama menunggu vanya selesai berganti pakaian tomi sudah menghabiskan tiga batang rokok ia mengeluarkan handphone di dalam sakunya melihat ada notifikasi dari sang istri buru buru ia melihat. Pesan itu sudah ada lebih satu jam setengah
...Nia paporit human🤘🏻💖...
Mas, makasih ya. And i love you to
Aku berangkatnya naik fufu aja
^^^Sudah sampai kampus?^^^
Sudahhhhhhhh mas, ih kamu kenapa ninggalin aku sih? belum ada dosen ayo von
^^^Eh? ^^^
^^^nanti dulu ya aku ada rapat sama karyawan^^^
"Tom, udah beres" ucap salah satu anak buah tomi sambil menuntun vanya kemudian tomi meletakan kembali handphone nya ke dalam saku lalu melempar putung rokok yang sebelumnya sudah ia matikan.
"Ikut gue" tomi menyalakan motornya membuat vanya bingung
"Gue naik?"
__ADS_1
"Iya, cepet." ucap tomi datar dan dengan nada dingin
Tanpa lama lama lagi vanya naik ke atas motor itu ia bingung harus berpegangan apa? ia juga takut dirinya terjauh.
"Sedikit aja tubuh lo kena gue, jangan harap lo hidup!"
Vanya bergidik ngeri bahkan menengguk air liurnya saja vanya kesulitan.
Tak lama mereka sudah sampai di kampus nya, tomi sengaja berhenti lumayan jauh agar tidak ada yang melihat dirinya kemudian vanya turun dari motor besar itu dengan tubuh gemetaran bagaimana tidak? tomi seperti ingin membawa vanya mati dengan mengendarai motornya dengan sangat kencang.
-
"Taniaaa" panggil seseorang membuat tania menoleh dirinya sedang berjalan bersama ketiga sahabatnya itu di kejutkan dengan vanya yang berjalan ke arahnya dengan wajah pucat dan memar di pipi nya.
"Mau apa loh?!!"
Ini bukan tania yang menjawab melainkan alika ia memutar kedua bola mata malas ketika melihat seniornya ini datang.
"Udah, Lik"
Bruk!
Tania terkejut ketika melihat vanya menjatuhkan dirinya di depan tania dengan berlutut sambil memegang kaki tania
"Eh?"
Tania memegang kedua baju Vanya membantunya untuk berdiri "Gue minta maaf Tan, yang gue lakuin kemarin sama lo itu udah salah banget, gue udah fitnah lo berhubungan badan sama bara terus gue udah buat lo jatuh dan malu, maafin gue" ucap permohonan maaf vanya membuat tania mengerutkan kening heran biasanya vanya tidak pernah mau minta maaf kepada seseorang yang ia bully.
"Gapapa kali, gue enggak marah kok" ujar tania membuat vanya membulatkan mata sempurna
"Lo maafin gue?"
Tania mengangguk, lagian fitnah yang vanya kasih itu tidak bener karena dirinya memang tidak melakukan itu kemudian luka kaki akibat jatuh oleh sandungan kaki dari vanya juga tidak parah hanya luka biasa. Jadi untuk apa tania marah?
"Makasih Tan, gue bakal bersihin nama lo lagi" ucap vanya serius.
"Iya santai aja sih"
"Gue balik ke kelas lagi ya, thanks banget tania"
Ketika sudah melihat vanya menghilang alika membuka mulut "Kesambet apaan tuh nenek lampir" ucap alika ceplos karena bingung
"Aneh ya"
"Vanya ngapain emang nya?" tanya ilham penasaran sebab pas kejadian ilham sedang berada di kantin bersama Wawan
"Ada problem dikit, tapi ya udahlah" jawab tania seadanya
Wawan lebih milih diam karena cowo itu dari tadi seperti patung. Apa Tania melakukan kesalahan? yang membuat Wawan jadi marah kepadanya? setelah beberapa hari menjenguk tania sikap wawan berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ayo, perut gue udah meronta meronta" ucapan alika membuyarkan lamunan tania segera mereka berempat pergi ke kantin dan menuntaskan makan nya
-
"Lo naik motor? suami lo kemana, kenapa enggak di antar?" tanya ilham, kini jam terakhir sudah tiba mahasiswa sudah pada berhamburan tinggal mereka berempat saja yang masih ada didalam yang masih sibuk mencatat materi yang belum selesai.
"Kerja lah, lo pikir suami gue pengangguran" ucapan ketus tania membuat ilham terdiam
"Alah paling suami lo cari cewe lagi, lagian segampang itu ngasih tubuh ke cowo yang bahkan enggak lo kenal!" cerocos wawan tanpa beban membuat tania geram ia meremas bolpoin nya lalu membalikan badan nya kebelakang mengebrak meja wawan dengan kencang.
"Bacot! lo kenal mas tomi aja belum, kalo enggak tau apa apa mending diem. Congor lo nanti gue robek baru tau rasa!!" omel tania melayangkan pulpen nya di depan wajah wawan
"Lo kenapa sih wan? lagian juga tania sama tomi kan udah nikah memang nya salah kalo meraka ngelakuin hubungan yang lebih intim lagi, lo sebagai sahabatnya harus bisa support tania bukan malah mojokin tania, aneh lo wan!" jelas alika geram
"Kalo tania bahagian kita harusnya bisa ikut bahagia, kecuali kalo tomi udah kasar sama sahabat kita baru lo boleh jadi tameng buat nia" lontar ilham, merasa tersuduti wawan merapikan bukunya lalu keluar dari kelas dengan buru buru.
"Gila!"
Tania kembali lanjut menulis tidak terlalu banyak kemudian setelah selesai ia merapikan buku nya kedalam tas lalu bergegas untuk keluar kelas namun saat tangan nya di tarik oleh seseorang membuat tania berteriak dan mengundang alika serta ilham keluar betapa terkejutnya ketika mereka keluar
"Aman aman" ucap cowo yang tadi menarik tania, itu adalah tomi
Alika menarik nafas panjang "Astaghfirullah, gue kira lo mau di culik tan" ucap alika dengan nada panik dengan jalan terburu buru eh selepas di lihat malah ada adegan peluk pelukan.
"Sorry"
"Yaudah gue pulang dulu, mau nebeng sama sih ilham" Tania mengangguk kemudian alika menarik tangan ilham kuat menuju parkiran, alika tau ilham tidak kuat melihat pemandangan yang sangat membuat hatinya sakit ia memilih untuk terdiam, seolah mengerti perasaan ilham, jadi alika membawa Ilham pergi dengan cara seperti itu.
"Kamu ngagetin aja!" ucap tania cemberut ia mencium punggung tangan tomi dengan sopan.
"Kamu kesini naik apa mas?" tanya tania mereka berjalan bergandengan hingga sampai di parkiran motor nya terparkir
"Jalan kaki, aku tau kamu bawa motor jadi aku jalan kaki" ucap tomi membuat mata tania terbelalak sempurna
"Ngaco kamu, jauh lho kampus aku sama tempat kerja kamu"
"Sejauh apapun itu kalo ngejar kamu rasanya deket, sayang" ucap tomi ia mengusap pipi tania dengan lembut
Tania mencubit pinggang tomi malu, bisa bisa nya ia malah gombal "Mass!!! malu" ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan
Tomi hanya terkekeh lalu menarik tangan tangan "Kunci fufu nya mana, biar aku aja yang bawa" ucap tomi menengadahkan tangan di depan tania seperti seorang anak meminta duit kepada ibunya, dengan senang hati tania memberikan kunci motor nya itu kepada tomi
__ADS_1
Setelah dapat tomi menyalahkan motor sport milik istrinya lalu ia memundurkan motornya "Ayo sayang"
...- bersambung - ...