PRIA BRANDAL Itu TERNYATA SUAMIKU

PRIA BRANDAL Itu TERNYATA SUAMIKU
Ngambek


__ADS_3

Tania langsung naik ke atas motor nya yang lumayan tinggi "Pegangan"


"Enggak mau!!"


Tiba tiba tania teringat bahwa tomi tidak peka, masa istrinya terluka tomi malah berangkat kerja lebih awal? kenapa dirinya tidak bisa mengantar tania dan membuat orang yang bully tania itu takut.


"Kenapa?"


"Males sama kamu" ucap tania kesal ia melipat kedua tangan nya di dada.


"Pegangan sayang, kalo kamu jatuh aku bisa double gila" ucap tomi membuat tania menyerah ia tidak mau kalo suaminya gila karenanya, dia harus jadi pengobat buat tomi bukan malah luka.


Tangan mungil itu terulur memeluk melingkar di perut tomi dengan erat.


Tomi melajukan motornya menjauh dari perkarangan kampus.


"Maaf kalo tadi aku ninggalin kamu" ucap tomi tiba tiba dan masih bisa di dengar oleh tania


"Hm"


Jawaban tania seadanya membuat tomi memilih untuk melanjutkan jalan hingga motornya berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah


"Tangan kamu memang meluk aku, tapi badan kamu jauh banget. Deketan sayang" ucap tomi tangan nya mengelus lembut punggung tangan tania yang melingkar sempurna di perutnya


"Enggak mau!"


Tomi melepaskan helm yang tersemat di kepalanya lalu ia menyuruh tania untuk pegang helm miliknya itu.


"Kenapa di lepas? helm aku bau yaa?" tanya tania dengan bibir yang maju ke depan


"Enggak" tomi menyisir rambutnya menggunakan jari jari tangan menatap wajahnya di kaca spion dan sial nya tania yang dari tadi memperhatikan tomi terpampang jelas di kaca spion itu.


"Cantiknya istriku" ucapan tomi yang melihat pantulan wajah tania dengan memasang wajah jutek dari kaca


"Ihh ... mas nyebelin!" tania langsung menyembunyikan kepalanya di punggung besar milik tomi


Tanpa membalas ucapan tania, tomi segera melajukan motornya karena lampu berubah warna ke hijau, di dalam perjalanan tidak ada yang berbicara semuanya terdiam hingga tidak dirasa motor nya itu berhenti di kedai es krim.


"Mas mau apa?" tanya tania bingung sambil turun dari motornya


"Beli ikan gosong" ucap tomi menyeleneh


"Aku serius mas!" seru tania kesal menatap wajah suami nya itu.


Tomi tersenyum simpul lalu merangkul tubuh istrinya dan membawa masuk ke dalam kedai es krim tersebut.


"Mau rasa apa?" tanya tomi ketika mereka sudah dapat tempat duduk dan sedang memutar menu varian es krim.


Mata tania terbinar melihat beberapa gambar es krim yang membuatnya menengguk ludah sehingga menjilat bibirnya


"Aku mau rasa coffe milk" setelah bilang itu tomi melambaikan tangan nya dan tiba lah seorang waiter menghampiri nya.


"Baik mas ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan membawa kertas kecil di tangan nya.


"Mau satu yang kaya gini, rasa coffe milk" ucapan tomi di catat oleh wanita itu namun bukan nya pergi wanita itu mengeluarkan ponsel nya dan mengajak tomi untuk berfoto.


"Mas, boleh tidak kalo kita foto berdua"


Tomi mengerutkan keningnya, saling diam ...


Ekhemm!


"Lalalalala .... istrinya ada disini" tania meregangkan otot otot tubuhnya lalu memberikan tatapan tidak suka kepada wanita itu.


"Maaf, saya kira temen nya"


Setelah mengucap wanita tersebut langsung menghindari meja tomi dan tania.


"Bukan nya nolak, malah diem aja. Pasti mas mau genit genit sama cewe tadi kan? oh tadi kalo enggak ada aku pasti mas mau di ajak foto kaya gitu, iya kan, mas?" cerocos tania dengan emosi


"Kalo ngomong itu pelan pelan, nanti lidah nya kegigit" ujar tomi mengusap rambut tania lalu mencium pipi istrinya itu.


"Mas!!!"


"Kenapa?"


"Tempat umum, kalo ada yang ngeliatin gimana?" ucap tania celingak celingukan melihat sekeliling kedai yang cukup ramai pelanggan yang datang kesini ada yang lanjut usia, anak muda, bahkan anak berseragam smp pun datang bersama pacarnya.


"Mereka juga punya mata, jadi bisa lihat"


Tidak lama pesanan tomi datang bukan wanita itu yang antar melainkan seorang pria dengan seragam sama dengan wanita tadi.


"Makasih"


Tania menatap kagum ke arah semangkuk es krim yang sangat menggoda dirinya untuk melahap es krim itu.


"Mas beli nya cuma satu?" tanya tania bimbang.


Tomi mengangkat mangkuk es krim itu ke tangan nya kemudian ia menyendok minuman beku tersebut dan mengarahkannya ke tania "Aku enggak suka es krim" ucap tomi saat es krim tadi berhasil masuk kedalam mulut tania

__ADS_1


"Kenapa? padahal es krim itu enak banget tauu" ujar tania antusias.


"Karena aku suka nya kamu"


Uhuk! uhuk! uhuk.


Tania tersedak dengan suapan ke dua yang di berikan tomi


"Mas mah! kalo mau gombal tuh bilang bilang dong keselek kan aku" omel tania


"Aku beneran, masa kaya gitu di bilang gombal?"


-


"Tante afifah!!" teriak gadis yang baru saja masuk kedalam rumah tantenya dengan nafas terengah engah


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Afifah bingung menatap keponakan nya itu yang sudah di penuhi keringat dingin


"Di kejar bencong tadi tan, takut bangettt" jelas ara sambil nyengir kuda


"Kamu ini!! tante kira kamu kenapa napa!!?" omel afifah membuat sang empu menggaruk pipinya yang tak gatal


"Maaf, soalnya tadi aku panik banget tan, takut tiba tiba ke tangkep ... hap!!"


Afifah menoyor kepala keponakan itu "Kasian sih kelamaan jomblo bukan nya cowo tulen yang deketin ini malah cowo gemulai yang ngejar ngejar" ujar afifah dengan nada meledek, wanita berkepala empat itu malah meranjak pergi meninggalkan Ara yang sedang ketakutan.


"Asem, punya tante kaya tante afifah" ucap ara kesal ia membanting dirinya di sofa seragam masih melekat namun dirinya enggan untuk menganti baju nya.


"Mau punya pacar, padahal gue enggak jelek jelek banget!!" gumam nya kesal ia menatap dirinya lewat kaca kecil yang selalu ia bawa pergi ke sekolah.


Ara memilih untuk membuka handphone nya ternyata banyak bangat notif dari teman teman nya itu lewat grub yang ia buat, padahal Ara baru saja pindah namun ia sudah bisa bergaul hingga ia mempunyai sahabat.


...Cessadi ( Princess Abadi )...


Ika(n) mermet


sapa yg gabut? saya saya


Hanni


jalan jalan yuu


Ika(n) mermet


kmna han? udah malam anjaii gue mau jalan jalan bareng ayang


Hanni


Ika(n) mermet


punya , lo tnya ara ara kimocii deh


Hanni


alah paling ayang lo gepeng


Ika(n) mermet


@ara raaa liat ra gue di bully


Cipa


Berisik deh, gw lagi mandi ke gangguan


Ika(n) mermet


Coba pap babihh?


Hanni


virus lesbong menyebar di tubuh kalo kata ara ikan mermet


Cipa


WKWKWK


@ara


^^^Tag pens? pens kan lo sama gue^^^


Dora kepo


Ara ara kimocii rawrrr


Ika(n) mermet


ra aku di buli raaa hueeekkk!!


^^^Stres deh lo ikan jadi jadian^^^

__ADS_1


AWAS AWAS ADA DORA NANTI DI SURUH KATAKAN PETA KATAKAN PETA.


Dora kepo


Apasiii ara ara kimociii


Hanni


bubar bubar.


Ara menutup kembali handphone nya ia tidak bisa membayangkan wajah dora saat ini.


-


Tania dan tomi sekarang telah berada di rumah, mereka berdua baru selesai menunaikan ibadahnya sebagai muslim


"Mas, tau enggak sih tadi tuh vanya minta maaf ke aku" ucap tania sambil melipat mukena nya


"Bagus dong"


"Iya, tapi aku bingung kenapa ya tiba tiba vanya minta maaf gitu? padahal ya mas, dia tuh orangnya enggan mau minta maaf sama orang yang ia bully" jelas tania tidak menyangka hal yang tadi bisa di lakukan oleh seorang vanya bahkan sampai berlekuk lutut seperti tadi


"Bagus dong kalo gitu"


Merasa jawaban tomi tidak sesuai yang tania inginkan membuat tania kesal.


"Mas tomi enggak peka!" gerutu tania sambil menaruh mukena yang ia lipat kedalam rak kecil yang berisi mukenah dan peralatan sholat lain nya.


Tanpa menghiraukan tomi yang sedang membaca Al Qur'an tania langsung naik ke ranjang dan pura pura tertidur.


"Sini, hafalan kamu yang seminggu lalu aku kasih gimana udah hafal belum?" tanya tomi ia menyudahi kegiatan nya karena melihat tania yang langsung tertidur.


"Ihhh, nanti dulu sih kan belum sempet aku hafalin" ucap tania dengan nada bicara jutek


"Enggak ada nanti nanti, malam ini harus hafal!" titah tomi tanpa bantah terpaksa tania harus bangun dari tidurnya menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam tetapi tatapan itu tidak berangsur lama sekarang berganti dengan tatapan sendu


"Mas, seminggu waktunya cepet bangett, kamu gila ya ngasih waktu sesingkat itu buat aku hafalin ayat yang lumayan banyak?" ujar tania lirih


"Kasih aku waktu lagi, nanti bakal aku hafal" lanjut tania ia tersenyum menunjukan deretan gigi rapi dan putihnya kedua jari berbentuk v.


"Tiga hari aku rasa cukup"


"MASSS TOMIIIIIIIII ENGGAK USAH BELAJAR GILA DEH!"


"Mulut kamu lama lama aku jahit ya, berisik banget"


Tania membaringkan tubuhnya dengan kasar, sedangkan tomi membuka baju kokoh serta sarung yang tadi melekat di tubuhnya berganti dengan telanjang dada dan celana boxer, suaminya ini memang mempunyai badan bagus sixpack di perutnya dengan sedikit bulu bulu halus yang berada di dada bidangnya membuat tubuh tomi terlihat perkasa.


"Kenapa liatin aku begitu, aku ganteng kan?" ucap tomi dengan kepedean nya yang sangat pede tetapi emang bener sih yang Tomi bilang.


"Enggak tau, percuma ganteng kalo enggak peka" sindir tania dirinya langsung menarik selimut hingga leher dan memeluk guling


"Kamu dari tadi ngomong enggak peka, enggak peka terus. Aku letak enggak peka nya dimana?" tanya tomi yang sudah berhasil menyingkirkan guling itu dari pelukan tania berganti dengan tomi yang memeluk tania seperti guling.


"Pikir lah" jawab tania ketus


"Ngapain capek-capek mikir guna nya mulut kamu untuk apa?"


"Untuk ngomong"


"Yaudah cepet bilang dimana kurang pekanya aku?" tanya tomi ia membalikan tubuh tania agar menghadap ke arahnya sekarang mereka berdua saling bertatapan.


"Ihhh! nyebelin banget sih jadi suami, kamu mikir dong aku abis di bully kamu malah berangkat ke kantor lebih awal, harusnya kamu ada di samping aku tunjukin sama si pembully kalo aku punya kamu, punya tameng yang bakal lindungin aku" jelas tania sambil tertawa meledek lebih tepatnya tawa itu ia tunjukan kepada dirinya sendiri


" ... Kamu pikir tadi mahasiswi enggak nyinyir aku? mereka semua pada ngatain aku murahan, pelacur, ******, wanita malam, simpenan bara, ini lah itu. aku itu berharap ada kamu yang nemenin ternyata enggak, aku hadapi itu sendirian!" Lanjut tania tanpa di rasa seseorang cowo yang ada di sampingnya sudah mengepalkan tangan nya kesal


"Siapa yang bilang begitu?" tanya tomi mengintimidasi


"Siipi yini biling bigiti?" ucap tania mengulang kalimat tomi sambil menggerakkan mulutnya ke kanan dan ke kiri


"Kemarin juga kamu bilang gitu ke aku, kamu tanya biodata vanya, aku kira mah mau di kasih hukuman, eh ternyata sekedar datang aja kaga"


Tomi menghela nafas kasar, ia menarik sebelah sudut bibirnya ke atas "Luka kaki Vanya sama dengan luka di kaki kamu, bahkan aku bisa buat lebih dalam lagi atau bahkan aku potong kaki dia, hukuman segitu kurang? Atau gimana kalo aku bunuh vanya di depan mata kamu?" Ucap tomi dengan nada bicara terdengar halus namun memanipulasi, tapi tunggu bagaimana tomi tau jika dengkul vanya juga luka? atau memang itu perbuatan tomi? tania menutup mulutnya rapat rapat ia tidak mau melanjutkan bicaranya.


"Abis sholat, abis baca Al Qur'an tapi setan dalam tubuh kamu nyerang mas, sumpah aura positif nya hilang" ujar tania menatap wajah Tomi yang sangat menyeramkan bagi tania


Tomi mengerucut bibirnya ia mendusel di leher tania "Kalo gini kembali lagi enggak aura positif nya" ucap tomi menatap tania dengan jarak yang lumayan dekat


"E-eh ini mah aura bayi yang memancar, mas"


Tomi kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher tania "Cuma kamu doang yang berani bilang aku bayi"


"Yailah, orang lain bilang kamu bayi? enggak mungkin orang kamu nyeremin" ucap tania dengan sedikit kekehan


"Tapi kalo lagi sama kamu, aku ngegemesin kan?" tanya tomi dengan mimik wajah yang sangat lucu. Padahal baru beberapa saat tadi tomi menunjukan ekspresi elang sekarang sudah berubah seperti ekspresi bayi.


"Iya mas bayi"


-

__ADS_1


__ADS_2