Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
Bab 10 : Naomi


__ADS_3

Happy Reading...


****


Queen bersama teman-temannya telah berlatih. Mereka kini sedang berjalan beriringan di koridor. Dan sesekali mereka bercanda untuk memecah keheningan.


Nampaklah tiga gadis yang tengah berlari menuju mereka. Tepatnya mengarah pada Nick, Ardolf, dan Fath.


Queen mengerjap beberapa kali.


"Naomi, Sena, Lolita?" tanya Queen.


"Hai Queen!" sapa Naomi.


Queen nampak berbincang-bincang dengan Naomi tanpa mempedulikan tatapan heran dari teman-temannya. Mereka bertanya-tanya 'Mengapa Queen bisa menghadapi Naomi yang begitu menyebalkan?'


Naomi melihat kearah Veera dan Atea, Setelah itu Naomi tersenyum meremehkan.


"Queen, mengapa kau berteman dengan dua gadis payah seperti mereka?" tanya Naomi dengan nada mengejek. Queen menyergit.


Ardolf nampak tak suka.


"Kau bicara apa?!" Ardolf menarik tangan Veera dan membuat ia terlonjak kaget.


"Bahkan kau dan dua temanmu lebih payah dari pada Veera dan Atea. Derajat mereka jauh lebih tinggi dibandingkan dirimu!" Semua orang kaget mendengar ucapan Ardolf.


"Ardolf? Bukankah dihatimu hanya ada diriku?" Sena bertanya.


"Dihatiku tidak ada siapa-siapa, aku tidak menyukai siapapun," jawab Ardolf. Tanpa ia sadari Veera melepaskan cekalan Ardolf lalu menunduk.


'Pupus sudah harapanku!' Veera terus menunduk.


"Hai Nick." Naomi mendekat kearah Nick. Queen terbelak, ia baru menyadari bahwa pakaian Naomi hmm agak terbuka? Ya, Naomi berubah.


"Naomi .... " gumam Queen pelan.


Lolita juga menghampiri Fath. Sedangkan Fath hanya diam tak berkutip.


'Dadanya ... sangat besar' batin Fath menjerit.


Veera yang sudah tidak kuat berteriak dan menangis sejadi-jadinya entah kenapa.


"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Teriakanya yang membuat memekikan telinga. Tumbuhan di sekitarnya layu total. Dia terus menangis. Semuanya menatap Veera aneh.


"Aku bencii KYAAAAAA!" Dia berlari dengan kencang. Queen tersentak ketika dadanya terasa sakit, ia tak tahu bahkan matanya pun terasa sakit.


"Aku ke toilet dulu." Queen segera berlari menuju toilet dengan memegangi matanya yang tiba-tiba berubah-ubah warna.


Sedangkan Atea hanya diam membeku. Dia melihat pemandangan ketika gadis yang sedang menggoda pria? Oh ayolah ini tidak menyenangkan.


"Aku juga pergi, ini sangat menjijikan." Atea segera berlari menyusul Queen dan Veera.


"Jijik ih!" tubuhnya merinding.


****


Queen menatap dirinya didepan cermin, "Mataku kenapa?" tanyanya pada diri sendiri. Queen tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Sekarang matanya berwarna kuning keputih-putihan seperti cahaya bulan.


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa keluar dengan keadaan mata seperti ini!" Queen sungguh resah, jika matanya seperti ini bagaimana ia bisa keluar? Pasti orang-orang akan menganggapnya orang aneh. Pikirnya.


Disisi lain ....

__ADS_1


"Veera kau kenapa? Mengapa kau terus menangis seperti ini?" Atea sedang beres-beres sambil menyempatkan bertanya pada Veera yang sendari tadi menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut.


Sendari tadi Veera terus terisak. Atea juga sekali-kali menatap pintu kamar, berharap Queen akan datang.


"Queen kau kemana? Mengapa kau sangat lama?" keluh Atea.


Pintu kamar mereka dibuka. Atea menoleh kearah pintu kamar. Atea terbelak.


"Fath, Nick, Ardolf, mengapa kalian bisa kemari?" tanya Atea.


"Dan kenapa ada lipstik berbentuk bibir di pipi kalian?" tanya Atea lagi, ia sangat penasaran.


"Kami kesini menggunakan teleportasi, kabur dari tiga cewek gila itu. Dan kemana Queen?" Tanya Ardolf.


"Boleh kami menumpang untuk beberapa saat?" timpal Fath


"Queen entah kemana, dari tadi ia belum kembali. Aku sangat khawatir. Boleh saja, asal jangan merusak novel dan album Queen! Nanti dia bisa marah besar," jawab Atea. Mereka bertiga hanya mangut-mangut.


"Kalau Veera?" tanya Ardolf kembali. Atea menunjuk dengan matanya. Ardolf melihat tubuh yang dibaluti selimut tebal. Dan terdengar isak tangis disana.


"Hei Veera, kau kenapa?" tanya Ardolf.


Selimut itu terbuka, mereka semua terkejut melihat mata Veera yang bengkak.


"Ter-se-rah!" ucapnya penuh dengan penekanan. Ia pergi menuju kamar mandi.


BRAAKK!


Pintu kamar mandi itu tertutup keras. Ketiga lelaki itu hanya bisa heran lalu mereka bertiga duduk di lantai sembari melihat Atea yang sedang membereskan kamar.


"Kau rajin juga ya," ujar Fath yang membuat Atea menoleh.


"Ya, ini jadwalku." Atea meletakan komik-komiknya di rak bukunya.


Queen mengambil kotak di nakasnya.


"Akhirnya datang juga!" seru Queen.


Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa Queen bisa kembali?


Flashback on


Queen hanya bisa mondar-mandir sedari tadi. Ia sedang memikirkan caranya untuk segera keluar dari kamar mandi ini.


Queen berhenti, ia diam.


"Teleportasi, mengapa aku tidak kepikiran?!" Queen menggerutu.


"Baiklah, tapi mana ku tidak terlalu banyak. Biarin deh!" Queen segera berteleportasi.


Ia tersenyum, lalu ia membuka matanya. Queen tidak bisa berkata-kata saat mengetahui dimana ia berada.


Queen terbelak, ia segera berlari. Tempat itu, kamar mandi pria. Jika para master mengetahuinya pasti ia akan dihukum.


Queen segera berlari secepat kilat, semua murid menatapnya aneh.


"Queen!" Queen berhenti. Ia menoleh kebelakangnya. Ternyata Mr. Seno, Pengurus pengiriman dan penerimaan surat. Queen menghampiri Mr. Seno.


"Ada apa Mr?" tanya Queen.


"Oh, tidak ada. Tadi Mr telah menteleportasikan surat dari keluargamu menuju kamar asramamu," ujarnya.

__ADS_1


Mata Queen membola saat mendengar ucapan dari Mr. Seno. "Terimakasih Mr!" sahut Queen.


Queen mempercepat larinya, ia sudah tidak sabar sampai di kamarnya.


Flashback off


Queen membuka kotak yang berisi surat dan foto ayah, ibu, dan adiknya. Ia mengeluarkan foto itu ke kasurnya. Nick mengambil foto itu.


"Ini siapa?" tanyanya menunjuk anak kecil yang ada di foto.


"Oh itu adalah adiku, lucu bukan? Sepertiku," ujar Queen seraya terkekeh. Ia menyimpan surat itu di nakasnya.


"Nanti saja ku bacanya," ucapnya.


"Mengapa kau mengetahui kalau ada surat dari keluargamu?" tanya Fath.


"Tadi aku bertemu Pak Seno, ituloh yang mengurus pengiriman dan penerimaan surat, dia mengatakan bahwa dia sudah menteleportasikan surat dari keluargaku menuju kamar ini. Jadi aku berlari kesini," jelasnya.


Semua temannya hanya mangut-mangut.


"Bagaimana jika kita menunjukan foto masa kecil? Sepertinya akan seru!" Fath, Nick, Ardolf, dan Queen memandang Atea.


"Tidak mau!" sergah Ardolf.


"Oke, baiklah!" Atea cemberut.


Pintu kamar mandi terbuka, dengan keadaan Veera yang sudah membaik.


"Veera, kau kenapa?" tanya Queen.


"Ter-se-rah!" Ia berjalan menuju kasurnya lalu tertidur dengan pulas. Mereka semua hanya mengangkat bahu tak tahu.


"Dia kira-kira kenapa ya?" tanya Fath.


Queen mengingat-ingat kejadian tidak mengenakan itu. Queen terbelak. Pasti karena itu. Pikirnya.


"Kau tahu sesuatu Queen?" tanya Atea.


"Ah—tidak-tidak!" Queen menggaruk kepalanya tang tak gatal.


"Besok misi pertama kita dimulai bukan?" tanya Ardolf.


"Tim kita akan menang," ucap Nick santai seraya bersandar di tembok.


"Kita belum memilih ketuanya bukan?" tanya Fath.


"Baiklah sekarang kita pilih!" Mereka semua mengangguk.


"Oke, Nick kau ketuanya," ucap Queen, Atea, Fath, dan Ardolf. Nick hanya mengangguk. Queen mencatatnya.


"Kau mau jadi sekretaris Queen?" tanya Fath.


"Kenapa diriku?" tanya Queen.


"Itu!" Fath menunjuk buku catatan Queen.


"Aku hanya mencatat!" Queen mendelik.


"Sudahlah, kau sekretarisnya. Tidak menerima penolakan!" Atea melotot kearah Queen.


"Baiklah." Queen hanya bisa pasrah.

__ADS_1


-¤-


__ADS_2