Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
Bab 21 : Remember


__ADS_3

Happy Reading...


***


"Byee! Tea pergi dulu ya Ma, Kak Kris!" Setelah mereka berpamitan, mereka pun segera pergi meninggalkan Aheria city dengan ekor mereka.


Sepanjang jalan mereka hanya bercanda dan terus tertawa, apalagi dengan lelucon garing dan sikap polos Veera. Sungguh menggelikan. Terkadang Fath agak kesusahan berenang dengan ekornya karena ia masih syok dengan tubuhnya yang setengah ikan.


Tapi tak menunggu waktu lama akhirnya mereka sampai di depan portal antar dimensi itu. Tanpa ba-bi-bu mereka segera masuk dan muncul di depan gerbang Fancy Academy.


***


Queen berbaring di kasurnya, rasanya sudah lama ia tak merasakan kasur yang empuknya super haqiqi ini. Lalu ia terbelak mengingat suatu hal yang darurat genting. Ia pun mengubrak-abrik tasnya lalu mengambil surat dari keluarganya yang belum sempat ia baca. Dengan perlahan ia membuka kop surat itu dan segera membaca dengan seksama.


**Halo Queen? Ini Papa dan Mama mu. Sebenarnya ada sesuatu yang akan kami ungkapkan kepadamu, sesuatu tentang dirimu yang sebenarnya. Sebenarnya kau bukan anak kandung kami, hari itu ada seorang wanita layaknya dewi datang dan memberikan kami seorang bayi cantik. Dan dia menjajikan bayi laki-laki jika kami mau merawatmu, karena mama mu mandul akhirnya kami menyetujuinya dan kami merawatnya hingga sebesar ini. Mungkin foto wanita itu akan membuatmu sedikit mengerti.


Pertanda Athena & Anantha


Mama-Papa**


Tak sangka sebutir air mata lolos ke pipinya. Queen menangis. Ia tak menyangka kalau dirinya bukan anak kandung dari Athena dan Anantha. Lalu siapa dia sebenarnya? Siapa orangtuanya? Mengapa dengan tega membuangnya? Air mata terus mengalir deras. Coba kalian fikirkan perasaanya, seorang anak yang tidak mengetahui orangtua kandungnya? Mencari orangtuanya mungkin bagaikan mencari sebutir jerami di tumpukan jarum. Sangat menyakitkan.


Lalu dengan tangan yang gemetaran ia membalik surat itu dan menemukan sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita yang sedang memegang tongkat.



Dilihat dari rambut dan lekuk wajah memang sangat mirip dirinya, tapi dimana dia bisa menemukan orangtuanya? Dan seperti apa ayahnya?


Queen menyimpan kembali surat itu dan tak sengaja dirinya melihat buku tanpa sampul yang waktu itu tak sengaja dibawanya dari perpus tergeletak di lantai. Ia mengambil buku itu dan membukanya penasaran.


Hâqūáđhžør Łèghůèhwe žhæbæķhœ mhëňžhqæ bîķmœh§hœ þ§úœņ żhæbkåžhêęæř


"Ini mantra?" Kening Queen berkerut heran. Apakah ini sejenis mantra? Atau apa? Queen mendelik lalu menatap jam wekernya. Masih jam 19.00 ada waktu untuk keperpustakaan bukan? Rasanya lebih baik membaca disana dan mencaritahu tentang mantra ini.


Queen memaikai sepatunya lalu pergi meninggalkan kamarnya tanpa mempedulikan tatapan bingung dari Atea dan Veera. Kakinya melangkah begitu cepat menuju perpustakaan, sesampainya ia disana ia tak melihat siapun. Queen hanya mengangkat bahu tidak tahu.

__ADS_1


Ia mengambil kursi lalu duduk dengan tenang. Ia kembali membaca buku itu lalu ada suatu hal yang menarik dari buku tak bersampul ini.


Rak ujung, pojok kanan.


Apa maksudnya tulisan ini?


Queen pun penasaran dan ia mencoba menghampiri tempat yang dimaksud buku ini. Ia sampai di depan rak buku paling ujung ini. Lalu dengan iseng ia membaca mantra yang pertama kali ia lihat di buku itu.


Mulutnya terus berkomat-kamit merapalkan mantra. Mantra ini nampaknya sangat sulit, namun anehnya dia sangat fasih melafalkan mantra tersebut.


Sesuatu terjadi.


Seketika tubuh dan kalungnya bersinar, rak buku itu perlahan terbuka dan menampakan sebuah dinding dengan simbol yang sangat rumit. Perlahan ia tempelkan tanganya di dinding itu lalu cahaya muncul dan seketika pandangan Queen gelap.


***


"Veera?" panggil Atea. Veera menoleh seraya tersenyum.


"Iya? Ada apa? Kau sudah merasa baikan?" sahut Veera. Atea pun mengangguk lalu ia duduk di sebelah Veera yang sedang menonton televisi.


Sepertinya dia mempunyai ide yang bagus.


"Sebaiknya kita minta bantuan Nick, Ardolf, dan Fath!" Girang Veera yang diangguki oleh Atea. Seketika tubuh mereka menghilang dan muncul di dalam asrama milik Nick, Ardolf dan Fath. Terlihat Nick yang sedang berbaring malas di sofa, sedangkan Ardolf dan Fath sedang memainkam video game.


"Ekhem." Dehaman itu membuat mereka semua menoleh dan terkejut mendapati keberadaan para gadis di kamar mereka. Ardolf melempar stik ps miliknya dan segera menghampiri Veera dan Atea dengan tatapan bingung.


"Ada apa ini? Kenapa kalian datang malam-malam? Kalian tak takut dimarahi prnjaga asrama?" tanya Ardolf heran. Atea menatap satu-persatu teman-temannya dengan sedih.


"Bantu kami cari Queen! Sudah dari 1 jam tadi dia tak kembali ke asrama!"


"APA?!"


***


Sementara itu, Queen menstabilkan penglihatannya lalu melotot kaget saat ia menyadari dirinya sedang berada di tempat terang dengan nuansa putih. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, ia dengan sigap menoleh seraya menampakan posisi bertarung andalannya. Matanya menatap tajam seorang wanita yang berada di hadapannya ini. Wanita itu tersenyum lalu berkata, "Tidak usah takut."

__ADS_1


Queen masih siaga dengan kuda-kudanya. Siapa tau wanita itu berniat jahat kan?


Queen berusaha bersikap tenang namun wajah wanita itu sangat menyebalkan.


"Kau siapa? Cuih!" tanya Queen tak ramah. Wanita itu hanya menatap Queen dan ia masih mempertahankan senyumannya.


Terus tersenyum? tidak berguna bagi Queen.


"Aku? Siapa? Aku adalah dirimu." Dilihat secara baik-baik sih memang mirip. Tapi apakah benar dia adalah diri Queen? Queen kembali ke posisi normal dengan ekpresi wajahnya yang terbilang sangat datar seperti jalan aspal di depan komplek.


"Ini dimana?! Dan jelaskan kenapa aku ada disini!" ketus Queen tak suka bertele-tele. Wanita itu kembali tersenyum.


"Ini bukan saatnya, kembalilah besok! Dan sampai jumpa!"


Apa maksud dari wanita ini? sangat aneh.


"Hey––" belum sempat Queen menyelesaikan kalimatnya, kepalanya mendadak pusing dan pandangannya kembali gelap.


Sepertinya setelah ini akan ada rahasia yang harus dibongkar Queen. Dan yang pasti rahasia itu sangat berharga.


***


"Hei! Queen sadar! Kau kenapa?" tanya Atea seraya menepuk-nepuki pipi Queen agar Queen sadar. Lalu Queen membuka matanya dan ia bangun dilengkapi dengan nafas yang memburu. Ia menatap teman-temannya satu-persatu lalu ia hanya termenung.


"Kau kenapa Queen? Kenapa kau pingsan?" tanya Veera khawatir. Queen tetap tak bergeming. Samar-samar Queen berkata.


"Aku ... kenapa?"


"Yang tadi itu beneran? atau hanya sebuah ilusinasiku? dan mengapa aku pingsan di sini?"


"Aku ada dua?"


Queen terus berceloteh tidak jelas. Teman-temannya pun saling memandang aneh, Queen kenapa?


-¤-

__ADS_1


__ADS_2