Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
Bab 19 : Kristal Hati Pengganti


__ADS_3

Happy Reading...


***


00.00 -


Semuanya sudah berada di depan gerbang gunung gelembung. Sendari tadi Atea hanya menunduk, dan sedangkan tim Galaxyan yang lain hanya menatap gerbang itu penasaran.


"Atea," panggil Ardolf. Atea pun menoleh dengan pandangan bingung ke arah Ardolf.


"Ada apa?" sahutnya. Ardolf menghela nafas gusar.


"Cara masuk kesananya bagaimana? Dan dari tadi kau kami panggil beberapa kali tidak menyahut. Jika kau ragu bilang saja pada kami Atea." Atea menatap Ardolf lalu teman-teman yang lainnya.


"Tidak, aku tidak ragu. Cara masuknya kita cari dulu mekanismenya soalnya gelembung ini dilapisi sihir pelindung lagi," ujar Atea menjelaskan.


"Oke, aku dan Nick akan mencari mekanismenya. Sementara Ardolf menjaga para gadis," usul Fath dan diangguki oleh yang lainnya. Mereka pun mulai berpencar.


Kenapa aku jadi ragu?


Atea terus membatin seperti itu, tapi keinginannya dengan rasa keraguannya lebih besar rasa keinginannya. Atea bingung harus melakukan apa. Bisa jadi kan pihak aheria sedang mengawasinga sekarang?


"Hey! Kami sudah menemukan mekanismenya!" teriak Fath. Tapi tiba-tiba ada suara kaki melangkah menuju tempat mereka.


"HEY?! Sedang apa kalian disini?!" sarkas salah seorang pria yang baru datang. Mereka melotot lalu saling pandang.


"A-ah! Itu anu!" sahut Veera gelagapan. Queen hanya menatap garang pria itu.


"Jangan-jangan kalian mau–" sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah tumbang duluan entah karena apa.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya pria yang telah menyelamatkan mereka berenam. Atea memicingkan matanya lalu iya memekik terkejut, "Kak Kris?!" Lalu Kris hanya tersenyum menanggapi itu.


"Kakak khawatir dengan adik kecil kakak," ucap Kris sembari menghampiri mereka berenam.


"Yo! Fath dan Nick. Cepat geser tuasnya!" seru Kris diangguki oleh Fath dan Nick. Gerbang itu perlahan terbuka, anehnya tanpa suara.


Mereka mulai masuk dan mendapati pemandangan yang begitu indah. Banyak tumbuhan disini, dari tumbuban biasa saja sampai tumbuhan terlangka sekalipun. Veera menjadi kegirangan karena ia sangat menyukai tumbuhan.


"Jadi dimana pohon suci itu?" tanya Queen pada Atea. Atea hanya mengangkat bahu lalu melirik Kris. Kris yang di pandang pun hanya meringis, dia lagi?


"Oke-oke! Jangan menatapku seperti itu. Ikuti aku!" kesal Kris.


Mereka hanya mengikuti Kris, Kris menunjukan arah menuju goa besar berwarna emas. Bahkan goa saja berwarna emas, apalagi pohon sucinya? Mereka mulai memasuki goa itu, berbeda dengan warnanya justru di dalamnya sangat lembab.


***


Kini mereka sampai di depan pohon itu. Tidak seperti luar gua, pohon suci ini lebih seram. Pohon ini terlihat kerempeng dengan kristal biru yang memutar-mutar di depannya juga dilengkapi dengan ukiran mermaid dan merman di batang pohon itu.


"Pohonnya kok kerempeng gini?" tanya Queen heran lalu dipelototi oleh teman-temannya. Serempak mereka meletakan telunjuknya di mulut mereka.


"Stttt!"


Queen hanya nyengir dengan tampang tak berdosanya.


"Beraninya kau mengataiku kerempeng!" Suara itu menggema di dalam goa. Queen terbelak seraya menatap pohon yang sudah memiliki mata dam mulut itu.


"Bercanda! Kamu montok kok!" sahut Queen tak ingin diamuk oleh sebuah pohon suci. Bisa mati konyol dia nantinya. Namun bukan kedamaian yang didapati mereka, justru geraman marah yang semakin menjadi.


Ate maju lau berkata, "Maafkan kami tuan, kami tidak bermaksud untuk mengejek tuan," ucap Atea dengan ketulusan. Pohon itu melihat Atea lalu tersenyum.

__ADS_1


"Atea?" panggil pohon itu.


Lalu Atea menyergit, kenapa pohon itu mengetahui namanya? Perasaan ia belum pernah kemari.


"Iya? Kenapa tuan mengetahui namaku?" tanya Atea kebingungan. Lalu pohon itu kembali tersenyum.


"Baiklah akan kuceritan. Dulu kau pernah kesini .... " pohon itu hanya menggantungkan kalimatnya.


"Ceritakan semuanya padaku!"


"Sebelumnya perkenalkan dulu namaku adalah Orlando si pohon suci. Aku akan menceritakannya, Saat itu aku masih menjadi manusia dan bukan pohon seperti ini .... "


Flashback on


Suara lonceng pagi menggema di mana-mana. Aheria city memang selalu menyalakan lonceng setiap paginya. Kala itu kota ini belum semaju sekarang. Seorang pria menghampiri para pelayan.


"Kamu! Siapkan sarapan ya. Saya tidak mau menunggu lama," ujarnya.


"Baik tuan muda." Pria itu meninggalkan si pelayan dan ia pergi menuju singasana sang ayahanda.


"Ayah!" serunya seraya tersenyum. Ayahnya pun menoleh dan membalas senyuman itu.


"Ada apa Orlando? Kau harus siap ya, ayah sudah memutuskan kau menjadi raja Aheria setelah ayah." Orlando hanya megangguk.


"Dan ingat, kristal hatimu harus kau jaga baik-baik." Orlando kembali mengangguk. Ya, Orlando adalah satu-satunya orang yang memiliki kristal hati.


"Ayah? Kenapa Alfarel tidak ada?" tanya Orlando yang penasaran dengan keberadaan adiknya. Ayahnya menoleh lalu tersenyum.


"Dia pasti sedang menunggangi lumba-lumba di lautan lepas," sahut sang Ayah diangguki oleh Orlando. Orlando pergi meninggalkan ruangan singgasana sang Ayah. Ia berjalan menuju halaman istana untuk bersantai.


***


"Perasaan tadi aku dihalaman istana lalu–" Orlando terbelak kaget ketika menyadari kejadian saat pagi. Dan sekarang sudah malam? Seberapa lama ia tak sadar? Mengapa ia ada di padang rumput?


"Jika aku tahu siapa yang memukul kepalaku pasti sudahku tendang dia!" geramnya kesal.


"Hey." Orlando menoleh dan mendapati seorang pria disana. Ia memicingkan matanya lalu terbelak kaget.


"Alfarel?! Kenapa kau ada disini? Apa kau tau siapa orang yang memukulku tadi pagi?!" tanya Orlando. Alfarel hanya menyeringai.


"Aku."


"Ha?"


"Aku."


Orlando terdiam sekejap.


"Kau? Tapi kenapa?!! Dan dimana ini?!" kesal Orlando. Alfarel hanya tersenyum lalu berkata, "Karena kakak me–re–pot–kan!" Orlando terbelak saat Alfarel mendekatinya dengan sebelah pisau.


"Kau telah merebut kebahagianku kak! Harusnya aku yang jadi raja dan bukan kau!" Orlando merangkak mundur.


"Kau akan memjadi sebuah pohon dan hatimu akan kumakan! Pasti aku akan bertambah kuat dan menjadi raja! Hahahaha!" Ia tertawa renyah.


"Ini dimana Alfarel! Kenapa aku memiliki kaki dan bukan ekor?!" Disaat seperti ini Orlando masih sempat bertanya.


"Inilah gelembung yang dibuatku! Aku lebih pintar darimu kak! Dan kau akan menjadi pohon suci sebagai pengganti nya!" teriak Alfarel.


Apa katanya? Adikku sendiri menjadikanku sebuah tumbal hanya untuk membuat para mermaid dan merman bisa memiliki kaki?

__ADS_1


Orlando membatin lalu ia menatap Alfarel sendu. Alfarel semakin mendekat.


"Mati kau kak!" Alfarel merobek perut Orlando. Orlando memekik keras karena kesakitan. Adiknya memang keterlaluan. Lalu sebuah gumpalan warna warni dicabutnya dan dimakan dengan rakus. Orlando menatapnya tajam.


"INGATLAH INI! SUATU SAAT NANTI AKAN ADA ANAK YANG LAHIR DENGAN KRISTAL HATI SEPERTIKU DAN AKAN MENCIPTAKAN KEDAMAIAN!"


Alrafel menelan hati kristal itu dengan cepat lalu tersenyum. Bersamaan dengan reaksi Orlando yang  perlahan menjadi sebua pohon, Alfarel juga perlahan mendapatkan reaksi.


Namun bukan kekuatan yang di dapatnya, tapi dirinya berubah menjadi ....


.


.


.


Sebuah kristal yang berputar-putar.


Falashback off


"Jadi inti kristal ini adalah adikmu?" tanya Atea. Orlando hanya tersenyum sebagai tanggapan.


"Kami perlu megambil kristal itu," lirih Atea. Orlando menatap Atea dengan bingung. Atea pun menghela nafas dan menjelaskan tentang ramalan peperangan yang akan terjadi.


"Baiklah Atea, kau duduk bersilalah di depan kristal itu. Tapi jangan salahkan aku jika kau tidak selamat," ujar Orlando dan diangguki oleh Atea. Teman-teman serta kakaknya hanya memandang sendu. Bagaimana pun ini adalah keinginannya untuk menyelamatkan semua orang.


Ritual itu dimulai. Mulut Atea dan Orlando berkomat-kamit merapalkan sebuah mantra. Inti kristal itu hanya merputar putar saat matra dibacakan. Semuanya hanya menutup mata tak ingin melihat.


"Mephissa zhumani livera rainbow out," perlahan kristal hati itu keluar tanpa pembedahan. Atea hanya menggigit bibirnya menahan sakit yang mejalar perlahan dari ujung kaki hingga kepala. Nafasnya terasa tersenggal namun dirinya hanya mencoba untuk tenang. Hati kristal pengganti itu berputar dan perlahan mengantikan inti kristal sebelumnya. Inti kristal itu terlempar dan segera ditangkap oleh Kris.


Meskipun Atea memiliki dua kristal hati namun itu tak memungkinkan membuat dirinya selamat. Keuntungan selemat Atea hanya sekitar 20%.


Atea menoleh kearah Kris. Mulutnya perlahan mengucapkan sepatah kata.


"Ber–ha–sil." Namun setelah itu darah warna-warni keluar dari hidung dan mulutnya.


"ATEA!" pekikan itu mebuat semuanya membuka mata. Atea tumbang seketika. Sebutir air bening keluar dari mata Kris. Ia tak mampu berkata-kata lagi.


Lutut Queen lemas bagaikan jeli. Fath hanya terdiam di pojok dekat batu besar, ia hanya menenggelamkan kepalanya. Veera sudah basah dengan air mata sejak tadi. Ardolf hanya menunduk. Sedangkan Nick hanya menatap Queen. Mungkin disini yang paling terpukul adalah Kris.


"Nick, telepati Mr. Atiza .... " ucap Queen pelan dan diangguki oleh Nick. Queen menghampiri Atea yang sedang terpakar lemas.


"Atea?" Queen memeluk tubuh mungil yang sudah tidak bergerak. Queen menangis sejadi-jadinya, tak ada lagi seoramg gadis rajin, tak ada lagi nasehat-nasehatnya, dan tak ada lagi Atea yang selalu marah ketika buku sejarahnya hilang.


Mereka hanya menatap kedua gadis itu. Mereka juga baru melihat Queen yang menangis separah ini.


"Ateeaaa!" teriak Queen tak terima. Orlando semenjak tadi hanya diam tak berkutip. Air matanya terus mengalir dan jatuh tepat di ulu hati milik Atea.


Semakin banyak air mata yang terjatuh, lalu sebuah cahaya muncul perlahan di tubuh Atea dan Queen.


Semakin Queen mengeratkan pelukannya, semakin besar pula cahaya itu. Mereka semua menutup mata tak tahan dengan cahaya yang bersinar terang tersebut. Ada apa ini sebenarnya?


Perlahan cahaya itu pudar bersamaan dengan tangan Atea yang bergerak. Queen melepaskan pelukannya lalu terbelak kaget.


"Atea?"


"Queen?"


-¤-

__ADS_1


__ADS_2