
Happy Reading...
****
Mereka semua telah siap untuk melanjukan perjalanan mereka.
"Veera dan Ardolf kemarin tukeran kasur ya?" kekeh Atea.
Veera tersenyum malu. "Kemarin cuman minjem selimut kok! Cuman ketiduran di ranjang Ardolf." Veera berucap gugup.
"Dan aku terpaksa tidur di ranjang Veera," sambung Ardolf. "Baiklah!" Atea hanya bisa tertawa geli.
Seperti biasa Queen dan Nick sedang berdiskusi tentang perjalanan menuju kuil di rawa racun biru.
"Bukankah disana banyak monster penyerap kekuatan elemen kita? Disana ada monster yang bernama Azigi. Monster itu akan menyerap elemen yang kita gunakan untuk menyerang. Jadi kita harus bagaimana?" tanya Queen serius.
"Kita harus menggunakan senjata, panah, pedang, dan usahakan tidak menggunakan sihir atau elemen yang kita miliki. Jika tidak kita akan mati," sahut Nick tak kalah serius. Mereka pun menghampiri teman-teman mereka.
"Dengar dulu, kalian tahu tentang monster Azigi kan?" tanya Queen. Dan hanya Ardolf lah yang mengangguk.
"Oke aku akan menerangkannya, azigi adalah monster penghuni hutan Forester bagian selatan. Mereka adalah monster penyerap sihir dan elemen. Jadi jangan melawan mereka dengan sihir atau elemen yang kalian bisa! Salah satu cara membunuh mereka adalah dengan menggunakan senjata seperti, pedang, panah, trisula, dan sebaginya," jelas Nick panjang lebar.
Semuanya pun mengangguk. "Jadi siapkan senjata yang kalian punya," sambung Queen.
Veera dengan pedang Floresnya, Atea dengan trisula aheria, Fath dengan panah api hitamnya, Ardolf dengan pedang Geondnya, Queen dengan bola bulannya yang entah apa gunanya, dan Nick dengan pedang Xenophonnya.
"Kemarikan ransel kalian," ucap Queen. Queen memasukan ranselnya bersama ransel teman-temannya kedalam gulungan.
"Biar gak repot," kekeh Queen seraya tersenyum.
"Nick bikin strategi dulu," bisik Queen. Nick terbelak, bagaimana bisa ia sampai lupa dengan strategi?
"Oh iya soal strategi, Veera sebaiknya kau bersembunyi dibalik tumbuhan dan siapkan ramuan jikalau kami terluka." Veera pun mengangguk, seketika Pedang Floresnya menghilang.
"Fath, kau menyerang jarak jauh. Usahakan jangan jauh-jauh dari posisi Veera." Fath mengangguk.
"Atea kau penyerang dadakan, kau harus menggunakan tubuh transparan. Karena senjatamu sangat membantu." Atea mengangguk. Ia akan menggunakan ramuan transparan yang ia bawa.
__ADS_1
"Ardolf, kau aku dan Queen akan menyerang jarak dekat." Queen terbelak. Padahal Queen belum tahu menahu tentang senjatanya yang berbentuk bola bulan ini. Nick benar-benar akan membunuhnya.
"Ayo berangkat!" mereka semua melanjutkan perjalanannya pagi-pagi.
Dalam perjalan ini mereka sempat terganggu dengan hawa dingin hutan ini. Tapi bagi Ardolf ini biasa saja.
"Ini saatnya," ucap Ardolf sembari menampakan seringaian. Ucapannya itu membuat pandangan teralihkan padanya.
"Ada apa?" tanya Queen.
"Ini terlalu lama!" Tiba-tiba taring tumbuh, perlahan-lahan tubuhnya mulai berubah. Dia berubah menjadi serigala putih. Atau biasa disebut white wolf.
"Naiklah," ucap serigala- eh maksudnya Ardolf.
"Emang cukup dinaiki oleh lima orang?" tanya Atea.
"Tubuhku besar, cepatlah!" Mereka pun naik dengan posisi pertama dipaling depan adalah Nick, kedua Queen, ketiga Veera, keempat Atea, dan yang paling belakang adalah Fath.
Mereka semua melesat jauh dengan cepat. Membuat mereka saling berpelukan dengan erat. Kadang Atea risih dengan Fath yang memeluknya dari belakang. Beda dengan Nick yang sesekali meringis karena cubitan Queen.
****
"Wah, terimakasih!" Veera mengambil daun mint yang terbuat dari salju pink langka. Lalu ia menumbuk daun itu.
"Aku perlu serbuk aheria," ucap Veera sedih. Serbuk itu sangat susah didapatkan. Snowy mendekat dan berkata, "ambilah satu buluku lalu sebutkan keinginanmu!" Veera tersenyum lalu mengangguk dan mencabut satu bulu snowy lalu mengucapkan keinginnanya dan munculah serbuk aheria. Veera menambahkan serbuk itu lalu menambahkan air emas dari sungai di tengah hutan yang dibawa Pokaru.
"Nahhh sekarang tinggal kumasukan dalam botol!" Veera memasukan ramuan itu kedalam botol. Ia membuat 6 botol ramuan penyembuh.
Nick sedang bertarung dengan hebatnya, Queen baru melihat kemampuan Nick yang luar biasa ini. Ia sangat tidak menyangka si iblis jelek itu mampu bertarung sehebat ini. Ardolf juga nampak berusaha sangat keras.
Mereka menghadpi mahkuk sialan itu, dan mahluk itu adalah Azigi.

Queen masih bersembunyi dibalik pohon. Ia tak tahu kegunaan dari tiga benda berbentuk bulan tersebut.
"Aku berharap benda bulat itu menyatu dan jadi pedang hebat." ketiga senjata itu bercahaya dan berubah menjadi pedang berwarna silver. Queen terbelak lalu mengambil pedang itu dan menghampiri medan pertempuran. Ia melihat Nick, Atea dan Ardolf yang sedang terpakar karena lelah sedangkan Azigi itu masih banyak dan akan menyerang Nick, Atea, dan Ardolf. Queen segera berlari dan bertarung dengan para Azigi itu. "Hiaaa!" teriak Queen dengan keras.
__ADS_1
Queen membuat para Azigi itu mati dan berubah menjadi gumpalan sihir dan lenyap begitu saja.
"Veera obati ATEA DAN NICK!" Veera segera keluar dari tempat persembunyiannya dan segera mengobati Atea dan Nick. Amarah mulai tumbuh pada diri Queen. Sedangkan Ardolf sendari tadi masih terjebak di kurungan sihir yang diciptakan Azigi.
"Ardolf!" Queen baru menyadari kalau Ardolf sendari tadi terkurung di dalam kurungan sihir milik Azigi. Lebih tepatnya raja Azigi. Amarah tumbuh pada diri Queen.
Queen menatap kesal kearah raja Azigi itu.

"HAAAA!" teriaknya sembari menancapkan pedang. Seketika bumi berguncang hebat dan para Azigi mulai menghilang satu-persatu bersamaan dengan bebasnya Ardolf. Ardolf kehabisan Oksigen dan tiba-tiba langsung kehilangan kesadarannya.
Kini mereka tinggal melewati jembatan yang menuju kuil di tengah-tengah rawa racun biru.
"Veera Ardolf pingsan! Kalian uruskan yang disini! Aku dan Nick akan pergi untuk mengambil inti kristal." Nick bangun dan berlari menyusul Queen. Sedangkan Fath kelas karena anak panahnya habis karena terlalu banyak memakainya sehingga harus menungu 1 jam untuk memulihkan jumlah anak panah itu.
Queen berlari dan tiba-tiba ....
"Ahkk!" Queen terlempar keluar jembatan, Queen berpegangan pada sisi jembatan.
"Ahkk!" Queen tak kuasa menahan tubuhnya hingga akhirnya tangganya melepaskan genggamannya. Namun seseorang menahannya dan menariknya dengan sepenuh tenaga. Queen jatuh diatas tubuh Nick. Queen berdiri. "Makasih, cepat!" Nick yang masih syok pun tersadar dan segera mengikuti Queen.
Mereka sampai di depan kuil itu. Nick menggendong Queen. "Apa yang kau lakukan?!" ketus Queen.
"Diam, atau monsternya akan terbangun," bisik Nick. Seketika Queen diam. Mereka memasuki kuil itu. Queen melingkarkan tangganya di leher Nick lalu mentelepatinya.
"Hati-hat." Queen terkejut karena ada suara aneh dari kegelapan sana. Kepala Queen bersembunyi dibalik leher Nick.
"Nick, aku takut."
"Tenang saja, tidak ada apa-apa."
Baru kali ini Queen merasa takut, kuil ini sangat menyeramkan.
***
Disinilah mereka berdua, masih dengan posisi Queen yang di gendong. Nick memejamkan matanya di depan inti kristal yang di kelilingi cahaya kejahatan. Nick menghilangkan sihir jahat itu lalu Inti Kristalnya terbang kearah Nick dan tiba-tiba berubah menjadi cayaha. Mereka pun segera keluar dari kuil menyeramkan tersebut.
__ADS_1
-¤-