Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
Bab 32 : Kebenaran Dan Persahabatan


__ADS_3

Happy Reading


***


"Kau adalah—keturunan goddes sebenarnya."


.


.


.


"Ha?" Queen berkedip beberapa kali. Apa katanya tadi? King hanya terkekeh geli melihat Queen yang sedang kebingungan.


"Yap! Dan Eveline adalah goddes. Kau sama sekali tak menyadarinya ya? Dan orang-orang di Academy ini sangatlah bodoh dengan mengejekmu," ujar King kecewa. Queen menunduk, berusaha untuk mencerna pernyataan yang baru saja diungkapkan oleh King.


"A-aku masih tidak paham dengan ini semua! Yang jelas dong," gerutu Queen kesal.


King menghembuskan nafasnya lalu berkata, "Ya, terserah. Akan kutunjukan beberapa kilasan ingatan yang ku punya."


King mendekat kearah Queen dan langsung menempelkan telapak tangannya di kening milik Queen.


Queen tersentak saat pandangannya mulai menggelap. Ia kembali sadar dan melihat perang besar yang sedang terjadi di hadapannya.


"Scarlett? Dan pria tampan dengan rambut silver itu siapa?" Tiba-tiba kepala Queen kembali pusing lalu seperti tadi ... pusingnya kembali hilang.


Ia mengerjap saat melihat Eveline sedang menitipkan bayi perempuan ke seorang pasangan suami istri yang kira-kira adalah ayah dan ibu angkatnya.


Lalu kepalanya pusing dan setelah itu sakitnya hilang lagi. Kini ia nampak sedang melihat Eveline, pria tadi, dan Scarlett sedang berhadapan.


"EVELINE! SATAN! KALIAN BEDEBAH! KAU TAK PERNAH MENERIMA CINTAKU DAN KAU LEBIH MEMILIH DEWI LACUR ITU HAH?!" umpat Scarlett dengan amarah yang meledak-ledak.


Queen mengerjap, Satan ya?


"Papa kah?" tanya Queen pada dirinya sendiri. Queen menunduk dalam lalu kembali menatap pertengkaran hebat itu, sampai-sampai perang sebesar ini.


Scarlett nampak memejamkan matanya dan kebali membuka matanya namun tiba-tiba keningnya tertempel pola yang sangat rumit.


"JIKA SATAN TIDAK BISA DIMILIKI OLEH DIRIKU MAKA ... TAK ADA YANG BISA MEMILIKINYA JUGA!" Angin berhembus kencang, menerbangkan para prajurit yang sedang bertarung.


Ia mengangkat tangannya lalu cahaya besar keluar dari sana. Cahaya itu semakin terang dan membuat siapapun berpaling karena tidak kuat.


Cahaya itu perlahan redup ... bersamaan dengan menghilangnya Eveline dan Satan. Scarlett tersenyum puas lalu tertawa layaknya seorang psikopat. Medan perang itu mendadak hening karena menghilangnya sang penguasa neraka dan dewi agung.


Kepala Queen kembali pusing dan kini ia berada di sebuah ruangan bernuansa putih. Ia melihat lima orang malikat dengan sayap indahnya.


"Scarlett telah di segel oleh kudeta suci itu ya ... tetapi pengkhianatan Eveline benar-benar tak terduga!" umpat salah satu dari mereka.


"Jangan berbicara seperti itu ah! Bagaimana pun goddes lebih tinggi dari kita! Jadi kita akan mencari anaknya atau bagaimana?" tanya malaikat dengan manik hijau itu.


"Ya kita kirim saja anak Hera ke bumi untuk menemani anak goddes. Bagaimana pun anaknya sangatlah kuat, dan kemungkinan besar anak ramalan itu dia! Aku juga tak yakin kalau Scarlett akan bertahan lama di segel itu. Tapi sebelum itu kita hapus ingatan bayi milik Hera. Biarlah mereka tahu sendiri nantinya!"


Queen menunduk, jadi kelahiran Queen dimanfaatkan untuk senjata penyerang Scarlett? Kepalanya tiba-tiba pusing kembali.


Kini Queen berada di kediaman yang sangat besar. Dihadapannya terdapat keranjang bayi mewah. Queen memperhatikan bayi itu baik-baik. Rambut dan wajahnya—


Astaga mirip Veera!


"Hera seperti yang kita bicarakan tadi ... jadi kau mau kan?" tanya malaikat bermanik hijau yang ia lihat tadi.


"Baiklah ... demi sahabatku Eveline, dan dengan ini semoga Satan dan Eveline cepat ditemukan. Kau sudah tahu lokasi anak Eve?" tanya wanita bernama Hera itu. Queen melotot girang.


Astaga itu dewi Hera!!!


"Sudah, jadi sekarang kita mulai ritual ini?" Hera mengangguk mantap lalu mengusap pipi anaknya.


"Anakku Veera ... dengan usia yang sekecil ini ... kau sudah menjalankan tugas besar! Semoga Tuhan memberkatimu." Lalu setelah itu mereka memulai ritualnya.


Ja-jadi Veera? Sepertinya ada yang belum aku ketahui!

__ADS_1


Kepala Queen kebali pusing dan sekarang ia berada di ruangan para malaikat itu lagi.


"Dan sekarang kita tutup gerbang menuju neraka! Kita tak akan memperbolehkan para demon berkeliaran di area Kingdom lagi!"


Dan pernyataan itu disambut dengan sorak ramai para malaikat lainnya.


Kepalanya kembali pusing lalu tiba-tiba sudah berada di tempat King.


"Nah? Sudah tahu kan? Saatnya pelepasan kekuatan!" King meregangkan badannya lalu menatap Queen dengan semangat. Queen mundur selangkah karena ketakutan.


"Eh? Tak usah takut!! Kita akan menjadi satu!" Queen menelan salivanya lau ia mentangguk mantap. Queen tak boleh takut, Queen harus berani! King membuat pola lingkaran lalu menyuruh Queen untuk diam di tengah lingkaran itu. King membuat satu lingkaran lagi untuk ditempati dirinya sendiri.


King memejamkan matanya lalu penampilannya berubah drastis. Rambutnya pendek dan banyak rantai yang melilit tubuhnya. Queen yang melihat itupun agak ngeri.


"Georgious fecustro." Tubuh Queen terpental kebelekang dan perlahan pandangannya mulai memudar.


***


Queen terbangun dan mendapati dirinya yang masih terbaring di lantai perpustakaan. Queen bangkit lalu memeriksa arloji di pergelangan tangannya.


17.00


"Astaga! Aku pingsan seberapa lama?! Aku harus cepat menemui mama untuk berpamitan!!" Queen berlari keluar perpuastakaan dengan tergesa-gesa. Sialnya ia tak punya banyak waktu uh!


Queen sampai di ruangan Eveline dengan nafas tersenggal. Eveline yang melihat Queen kecakpean pun menyergit bingung. Ada apa dengan anaknya?


"Queen? Ada apa? Kau nampak sangat lelah?" tanya Eveline. Queen berlari kearahnya dengan tiba-tiba ia juga memeluk Eveline sangat erat.


"Eh? Kenapa? Kok tiba-tiba begini?" Eveline semakin bingung dengan sikap Queen sekarang.


"Aku tahu siapa Mama dan papa. Aku tahu semuanya!" Queen terisak dalam dekapan Eveline. Ia tak kuasa membendung seluruh air matanya.


Eveline tersenyum lalu meletakan dagunya di kepala Queen.


"Yasudah jika kau sudah tahu baguslah ... kau bisa melakukan pengendalian kekuatankan? Nah gunakan kekuatan itu untuk membawa pria yang kau cintai itu pulang. Jangan kau salah gunakan kekuatan itu dan ... bebaskan papamu karena Mama sangat rindu padanya," ujar Eveline sedih. Queen mendongak dan melihat Eveline mengeluarkan air matanya, cepqt-cepat Queen menghapus air mata Eveline.


Queen pergi seraya melambaikan tangannya. Ia berjalan menuju asrama untuk mengecek apakah Veera dan Atea sudah menyiapkan peralatan untuknya atau belum.


Queen membuka pintu asrama itu perlahan lalu ia disambut dengan pelototan Atea dan amarah Veera.


"Queen?! Dari mana saja kau, ish?! Aku mencarimu tahu!" gerutu Veera kesal dan Queen hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal setelah itu meminta maaf kepada Veera dan Atea karena telah membuat mereka berdua khawatir.


"Loh kok ada tiga tas? Kalian juga mau ikut sama aku?" tanya Queen heran sebab melihat tiga tas diatas meja dekat tv, dan bukankah Atea bilang ini terlalu berbahaya?


"Yeah, kami ikut denganmu. Seperti katamu Queen ... kita harus mengembalikan tim kita! Dan kami juga khawatir karena kau pergi sendirian," ujar Atea dengan senyumannya.


"Yap betul!" Veera mengangguk setuju.


"Yo! Kita harus cepat pergi ke gerbang karena Mr. Atiza dan Mr. Naoko telah menunggu kita sendari tadi," seru Atea yang diangguki oleh Queen dan Veera.


Mereka menenteng tas mereka masing-masing dan pergi menuju gerbang Fancy Academy. Rasanya seperti mimpi ... mereka menjalani misi yang lebih bahaya.


***


Queen dan kedua temannya sampai di gerbang lalu mereka menghampiri Mr. Atiza dan Mr. Naoko dengan ceria.


"Wah sepertinya kalian sangat bersemangat? Kalian memang orang yang tepat untuk menjalani misi ini!" puji Mr. Atiza kagum.


"OI TUNGGU—" Mereka berlima menoleh kearah sumber suara dan mendapati Rez, Delano, dan Vilia yang sedang berlari kearah mereka.


Queen menyergit bingung lalu bertanya, "Ada apa? Kalian kenapa ada disini?" Delalo seperti biasanya langsung mengacungkan jempol karema bisa dibilang Delano tipe cowok yang sangat ceria.


"Tentu saja kami akan ikut dengan kalian!" sahut Delano semangat. Queen menatap Delano, Rez, dan Vilia terharu.


"Ya! Kami akan membantu, terimakasih waktu itu timmu bersedia membantu tim kami dan maaf juga tidak semua tim kami membantu karena sebagian harus mengikuti pelatihan untuk membantu pertempuran melawan pasukan Scarlett nanti,'" ujar Vilia seraya tersenyum hangat. Kini Queen menatap Rez dengan mata yang bersinar terang.


"Tidak usah menatapku begitu, ah. Tentu saja aku kan selalu membantumu!" Queen membenarkan kacamatanya lalu tersenyum tulus.


"Kenapa kalian repot-repot membantuku yang di cap sebagai anak berbahaya oleh murid-murid disini?" tanya Queen yang sudah berlinang air mata.

__ADS_1


"Ya karena kita semua adalah teman!" seru mereka bertiga kompak. Queen tersenyum bahagia lalu bekata, "yeah, temqn ... kita adalah teman!"


"Sungguh persahabatan yang mengharukan. Tapi sampai kapan kalian semua akan seperti itu dan mengabaikan kami berdua?!" kesal Mr. Atiza.


Queen menoleh dengan tatapan marah. Ia mendekati Mr. Atiza dilengkapi tangan kanan yang mengepal kesal ... bersiap untuk menghajar siapapun yang menghalanginya.


CTAAAK!!


"Aduh—aduh! Sakit sialan!" umpat Mr. Atiza seraya mengusap-ngusap kepalanya yang habis dijitak oleh Queen. Queen benar-benar kejam dan galak.


"Menggangu saja dasar Master homo!" umpat Queen kesal. Mr. Atizq menatap Queen horor begitupun sebaliknya.


"Sampai kapan kau menyebutku homo hah?!" sahut Mr. Atiza sebal. Mungkin hanya Queen satu-satunya murid yang berani mengejek seorang Master hebat dengan embel-embel homo.


"Mau sampai dugong berevolusi jadi ikan duyung pun aku akan tetap memanggilmu homo!" Queen menjulurkan lidahnya.


"Ikan duyungkan memang dugong!" sahut Mr. Atiza dengan nada yang sangat amat ketus.


"Iya sih tapi bodo amat!" sarkas Queen seraya tersenyum sinis.


"Jadi kalian samakan kami dengan dugong?" Mr. Atiza dan Queen menoleh kesumber suara lalu mendapati Atea dan Delano yang sedang menunduk dengan muka masam. Jangan lupakan tangan mereka berdua yang sudah mengepal kuat.


"Sudahhh!!" teriak Mr. Naoko yang sudah muak dengan pertengkaran tidak berfaedah ini. Queen dan yang lainnya pun langsung saling meminta maaf. Mereka ditaklukan oleh Mr. Naoko.


"Nah jadi sekarang kalian akan pergi menuju hutan larangan itu. Berusaha tidak tersesat ya dan jangan menggunakan sihir sembarangan! Kalian pergi saja ke utara dan kalian akan menemukan hutan bernuansa hitam pekat—"


"Astaga itu me—" Queen menutup mulut Veera dan memperingati agar Veera tidak memotong penjelasan dari Mr. Naoko.


"Baik, saya akan lanjutkan. Jadi disana penuh dengan mahluk yang aneh jadi kalian harus berhati-hati. Untuk yang bisa membuat ramuan usahakan jangan menyerang di garis depan, okay? Dan jika kalian sudah sampai di tempat Nick ... kalian jangan terburu-buru untuk masuk kesana dan malah mengacau. Kalian harus buat strategi dulu dan usahakan mencoba membuat dia sadar dengan berbicara dari hati kehati! Jangan langsung menggunakan kekerasan," jelas Mr. Naoko panjang kali lebar kali tinggi.


"Dan ini untuk kalian. Makan pil ini dan tubuh kalian akan terhindar dari asap racun," Mr. Atiza memberikan mereka satu-persatu pil berwarna biru murni.


"Dan sekarang kalian boleh pergi! Hati-hatilah dijalan! Jangan sampai tidak pulang ya!!" ucap Mr. Atiza.


"Ayo semangat! Sampai jumpa, lusa sebelum purnama kalian harus sudah berada disini ya!" Kini Mr. Naoko menyemangati. Queen dan teman-temannya pun mengangguk mantap lalu berjalan menjauh dari Fancy Academy. Sepanjang jalan menuju perbatasan, mereka hanya bercanda dan tertawa lepas. Sejenak melupakan kesusahan yang menimpa para Kingdom. Inilah awal mereka menuju petualangan sebenarnya, berbeda dengan misi-misi yang lainnya.


Queen mendekati Atea karena Queen ingin menanyakan banyak hal padanya. Atea pun menoleh karena merasa didekati.


"Yo, Queen! Ada apa?" tanya Atea heran. Queen hanya nyengir kuda dan memulai pembicaraan.


"Kehidupan di neraka itu bagaimana? Dan nasib para demon gimana saat ini? Padahalkan udah gaboleh berkeliaran di area para Kingdom?" tanya Queen.


Atea memandang Queen ragu lalu ia tertawa terbahak-bahak. Atea menepuki pundak Queen beberapa kali.


"Yang benar saja? Kau sama sekali tidak tahu?" tanya Atea untuk memastikan. Queen menggeleng dengan muka polos dan itu membuat Atea tertawa kencang sontak yang lainnya pun menoleh karena tawa Atea.


"Eh tidak apa-apa kok!" seru Atea yang merasa di perhatikan. Lalu Atea menatap Queen dengan pandangan tidak percaya.


"Emang kenapa? Aku kan hanya bertanya, huh!" kesal Queen karena merasa direndahkan dengan tawa Atea itu.


"Tidak sih ... hanya aneh saja kau tidak tahu tentang keadaan di neraka sekarang! Bahkan disana lebih maju dan teknologinya lebih canggih dibandingkan kota Hazel! Apalagi di Daemon City disana sangat penuh teknologi. Para demon itu sangat tampan katanya! Dan juga kau tahu? Disana ada kerta terbang menggunakan sayap! Jalan raya juga ada di udara," jelas Atea. Queen melongo kaget karena penjelasan Atea. Itu neraka atau apa?


"Yang benar saja?!" sahut Queen terkejut. Atea mengangguk sebagai tanggapan.


"Ya, para demon bekerja keras setelah menghilangnya Satan. Mereka yakin raja mereka akan kembali jadi mereka mengembangkan teknologi, pendidikan, arsitektur, dan sebagainya sebagai unjuk bakti pada Satan," sela Atea. Queen mengangguk paham. Ternyata ayahnya sangat hebat dan diakui disana. Inu benar-benar menganggumkan.


"Mereka juga sering membuat aplikasi, dan game menarik. Katqnya sih ada satu aplikasi yang hampir dipakai oleh seluruh ras demon!" seru Atea semangat. Queen menoleh penasaran.


"Apa tuh?" tanya Queen. Atea menoleh lalu menampilkan wajah misterius.


"Hanya bisa di instal dari Demon Store loh!"


"De-demon Store?!"


"Yup benar sekali! Nama aplikasinya adalah DemonsApp dan Demongram!" Queen melotot kaget.


"DE–DEMONSAPP?!! DE–DE–DEMONGRAM?!"


-«-

__ADS_1


__ADS_2