
Happy Reading...
****
"Yosh! Aheria Kingdom!" girang Atea. Mereka berlima menatap Atea heran.
"Dimana?" tanya Veera. Yang dilihatnya hanyalah lautan yang lepas. "Kalian benar-benar belum kesini? Teman kalian yang bernama Delano itu pangeran Aheria Kigdom kau tahu? Masa kalian tak tahu bentuk Aheria Kingdom?" Atea bertanya datar.
Lalu mereka kecuali Nick hanya menggeleng. "Aheria Kingdom adalah kerajaan bawah laut." Pernyataan yang diberikan Nick membuat Atea tersenyum.
"Yup! Benar sekali! Kita akan berubah menjadi mermaid dan merman yeeay!" girang Atea. Lalu Queen dengan cepat mencelupkan diri.
Wushh!! Air itu membuncar kemana-mana.
"Tapi Queen! Kalian harus memakan daun aheria yang kubawa!" Seketika mereka semua menatap lautan yang tak muncul Queen.
"Bagaimana ini?!" Khawatir mereka semua. Lalu Atea selaku mermaid ia memberikan daun aheria itu ke taman-temannya. Tanpa memakan daun itu pun toh dia akan berubah.
Namun tiba-tiba Atea muncul kedaratan dengan ekor warna birunya. "Astaga cepat makan itu dan kemarilah! Lihat Queen!" Seketika mereka semua dengan gesit memakan daun itu dan segera mencelupkan diri ke dalam lautan.
Lalu mereka menatap Atea heran dengan pipi mengembung, kecuali Nick tentunya. "Blup blup blup?"
"Hei! Tak apa, kita bisa berbicara di dalam air," ucap Atea datar. Seketika Veera, Ardolf, dan Fath tertawa terbahak-bahak.
"Dimana Queen?" tanya Nick pada Atea. Lalu telunjuknya menunjuk kearah lumba-lumba yang sedang dinaiki seorang perempuan. Itu Queen....
Namun dengan ekor.
"Bagaimana bisa?!" kaget Ardolf.
"Dia kan ras penyihir, waktu tes sama Mr. Atiza dia punya sayap malaikat, terus waktu itu peri,Dan sekarang punya ekor." Pernyataan yang dilontarkan Fath membuat mereka semua terdiam. Queen memang penuh misteri.
"Heii!" Queen melambaikan tangannya. Tim Galaxyan menghampirinya dengan wajah yang sangat bingung. Ekor Queen sangat indah dengan warnanya yang seperti pelangi. Mereka terus melamun sampai-sampai melupakan misi mereka untuk mencari inti kristal itu.
"Hei!! Ayo cepat! Kita gaboleh diem terus," kesal Atea. Karena disini yang paling semangat adalah dirinya. Siapa yang tidak akan semangat kembali ketempat asalnya?
"Eh iya, Nick?" Semua mata melirik Nick dan Nick hanya menghembuskan nafasnya kesal seraya mendelik. Dengan perlahan Nick membuka peta yang berada di tagannya setiap saat, lalu ia kembali menatap teman setimnya.
__ADS_1
"Pohon suci aheria? Dimana?" tanya Nick pada Atea. Atea terbelak saat pendengar pertanyaan dari Nick, sepertinya tempat itu di jaga ketat.
"Itu di arah selatan desa, gunung gelembung yang melindungi pohon itu. Kita harus menanyakan ini pada ibuku! Ayo cepat ikut aku," titah Atea dan semuanya mengikuti Atea dengan lihai.
"Berenang dengan ekor itu menyenangkan," ujar Veera dengan senyuman mengembang.
***
"Sampai!" seru Atea, yang pertama dilihat mereka adalah sebuah mansion yang sangat besar. Saat mereka memasuki mansion itu ekor mereka kembali berubah menjadi kaki.
"Rumahmu sangat besar Atea!" puji Veera. Ya rumahnya sebesar rumah Queen di kota Hazel.
"Mama!" teriak Atea, lalu wanita dengan balutan gaun itu berbalik sembari tersenyum. Ibunya tidak terlihat tua sekalipun.
"Ma-? Wow Atea!" Tiba-tiba seorang pria tampan berlari dan memeluk Atea dengan erat. Lalu ibunya pun ikut menghampiri.
"Nah Mama, kenalin itu temen-temen Tea! Queen ini Mama, Mama ini Queen, Veera ini Mama, Mama ini Veera, Fath ini Mama, Mama ini fath, Ardolf ini mama, mama ini Ardolf, Nick ini Mama, Mama ini Nick .... " ia menggantung kalimat panjangnya.
"Kak Kris ini Queen, Queen ini kak Kris. Kak Kris ini Veera, Veera ini kak Khris. Kak Kris ini Fath, Fath ini kak Kris. Kak Kris ini Ardolf, Ardolf ini kak Kris. Kak Kris ini Nick, Nick ini kak Kris," ucapnya panjang lebar.
"Yo," sapa Kris sembari tersenyum manis. Caren, Ibu Atea juga tersenyum.
"Jadi kenapa kamu datang kesini?" tanya Caren. Atea pun memandang timnya satu persatu lalu mengangguk mantap.
"Aku mau nanya tentang pohon suci Aheria," ucap Atea mantap. Caren terkejut lalu ia menyuruh mereka semua duduk di sofa yang terbuat dari gelembung air namun sangat empuk. Caren nampak mengambil nafas sebanyak-banyaknya sebelum ia menghembuskan nafasnya.
"Pohon suci aheria terletak di bagian selatan desa ini. Pohon itu dilindungi oleh gunung gelembung, gunung itu bukan berarti gunung sungguhan tetapi itu adalah lapisan gelembung air yang sangat besar. Tepat didalamnya ada satu pohon besar berwarna biru dengan buah kristal yang sangat banyak. Di depan pohon itu ada sebuah inti kristal yang berputar-putar dan menjaga kesuburan pohon itu karena jika inti kristal itu tak ada maka semua gelembung yang melindungi Aheria City akan meledak dan kalian pasti tau apa yang akan terjadi setelah itu," jelas Caren dengan wajah yang sangat serius.
"Tapi mama kami perlu inti kristal itu untuk menjalani misi, inti kristal itu akan digabungkan dan menjadi satu elemen yaitu elemen cahaya. Elemen terkuat," sahut Atea tak kalah serius.
"Inti kristal itu bisa dipakai untuk mengetahui keadaan keturunan dewi bulan. Mama tau kan keturunan yang sekarang adalah keturunan asli alias anak dari Goddes. Berarti keturunan ini bukan keturunan sembarangan, keturunan ini akan lebih kuat dari keturunan lainnya. Keturunan itu akan memberantas kejahatan di planet ini!" seru Atea lagi karena misi ini sangat penting, jika ramalan itu datang dan mereka belum menemukan keturunan dewi bulan pasti akan gawat. Dari mana Atea mengetahui hal itu? Karena dirinya sempat menguping pembicaraan Mr. Atiza dan Mr. Naoko.
Semuanya menatap Atea dengan terkejut. Mereka tak tahu kalau tujuan misi ini adalah untuk itu.
"Kalau begitu kita terpaksa akan melakukan hal berbahaya," sahut Caren tenang. Caren menunduk sebentar lalu ia menatap Atea.
"Atea? Jika kalian benar-benar ingin mengambil inti kristal itu maka Atea apakah kamu bersedia mengorbankan satu kristal hatimu?" Setelah mendengar pertanyaan itu mereka semua terdiam. Seolah tersengat aliran listrik. Atea menatap Caren dengan penuh keberanian.
__ADS_1
"Ya, aku bersedia."
***
"Atea apakau yakin?" tanya Queen pada Atea. Lalu Atea menunduk dan setelah itu Atea memandang teman-temannya seraya tersenyum.
"Apapun itu demi melindungi semua orang," ucapnya masih dengan senyuman mengembang.
"Tapi-" ucapan Veera terpotong.
"Aku berbeda dengan kalian, aku memiliki kristal hati di dalam tubuhku. Makannya pihak Aheria selalu mengawasiku karena ada kemungkinan kristal hatiku dipakai sebagai pengganti. Dan beruntungnya aku memiliki dua kristal hati," ujarnya seraya menenangkan Veera.
"Tapi bagaimana cara kita mengambil kristal hatimu? Mana mungkin dengan bedah hah?!" sahut Fath yang terlihat sangat khawatir.
"Tenang, aku akan membaca mantra," ucap Atea.
"Oke, kapan kita akan berangkat?" tanya Ardolf.
"Sekarang, saat tengah malam."
Mereka semua serentak menatap Nick seolah-olah ingin mencabiknya hidup-hidup.
"Tapi Nick benar, tengah malam adalah waktu yang bagus!" sahut Atea.
***
Atea menatap batu nisan yang berlambang Aheria Kingdom didepannya. Lalu Atea berjongkok dengan tatapan sendu.
"Papa, Atea dateng buat jenguk papa," lirihnya. Atea menyimpan bunga lyly putih di depan batu nisan itu.
"Papa, Tea bakal ngelakuin hal ini. Mungkin kalau papa tau pasti papa marah banget sama Tea," ujarnya sedih. Setetes air bening jatuh membasahi wajahnya.
"Tapi papa juga bakal seneng kalau Tea ngelakuin ini demi keselamatan banyak orang. Katanya ramalan akan adanya peperangan besar itu bakal terjadi pa," tuturnya menjelaskan.
"Jadi Tea mohon kali ini papa merestui Tea ya! Doain dari sana kalau Tea bakal baik-baik aja, kristal hati Tea berguna bagi semua orang kan pa? Jadi ini saatnya untuk nujukin kalau Tea berguna bagi semua orang." Atea tersenyum.
"Semoga semua yang dilakuin Tea ini bener ya pa?" tanyanya pada batu nisan itu.
__ADS_1
"Ya, semoga," ulangnya lagi dengan nada yang lemah. Lantas ia pun pergi dari pemakaman itu.
-¤-