Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
Bab 28 : Tabung


__ADS_3

Happy Reading...


***


Queen menginjakan kakinya di lantai paling bawah Academy namun yang didapatinya hanya jalan buntu. Queen menghela nafas gusar lalu bersender di dinding itu. Tubuhnya merosot lemas, sekarang apa yang harus ia lakukan?


Lagi-lagi lagu itu muncul di otaknya.


Ku mengadu pada bulan, disetiap kehangatan malam.


Lagi-lagi lagu itu mengalun dari bibirnya. Entah dari mana lagu ini ... namun ini sangat familliar di telinganya. Disetiap mimpinya Queen selalu mendengar alunan lagu ini juga.


*Merenungi segala impian


Dalam sunyi kukubur himpitan, menahan ribuan kepedihan*.


Lalu tiba-tiba dinding yang menjadi sandarannya terbuka dam membuat dirinya jatuh keras. Queen mengaduh kesakitan lalu segera berdiri. Ia menatap lorong di depannya heran. Perlahan kakinya melangkah menelusuri lorong itu. Ia menatap ukiran-ukiran keren di dinding.


Lalu mulut Queen kembali mengalunkan lagu itu.


*Ku mengadu pada bulan, disetiap kehangatan malam.


Merenungi segala impian


Dalam sunyi kukubur himpitan, menahan ribuan kepedihan*.


Mulutnya dengan lihai melantunkan setiap lirik dengan indah. Ia terus berjalan berusaha menggapai ujung lorong.


*Darah biru menjadi penopang, mencoba menaruh harapan.


Tatkala pergi meninggalkan angan


Melapuk dinding berduri


Tiada satu pun yang mengobati*


Lalu ia menatap cahaya di depannya berbinar. Sambil bernyanyi ia berlari kecil menuju cahaya yang sangat terang itu.


*Menelisik pengkhianat cahaya, siapa pencipta kegelapan?


Mengimbangi langkah penguasa, berlari kencang ke arah sinar terang*.


Ia terus berlari dan sampailah dilirik terakhir ....


Menerpa sang keagungan jiwa ....


Dan setelah menyelesaikan lagu itu Queen mendadak ada disebuah ruangan kuno. Berdebu, dan banyak jaring laba-laba. Ia menelusuri ruangan itu.


Langkahnya terhenti.


Matanya menatap lekat apa yang berada di depannya.

__ADS_1


Queen berdiam sejenak lalu air mata turun deras. Memangnya apa yang ia lihat sampai menangis seperti itu? Queen mendekati sebuah tabung besar yang menampung seorang wanita yang hanya terpejam ditemani selang-selang sebagai alat pernafasan.


"Mama .... "


.


.


.


Yang dilihatnya tak mungkin salah, wanita itu benar-benar mirip dengan yang di foto. Queen mengusap tabung itu perlahan dengan air mata berlinang. Ini bukan mimpi 'kan?


"Mama .... "


"Ini beneran mama hiks? Ke–kenapa mama ninggalin aku? Mama gak sayang aku? Mama gak ingin aku hidup? Mama malu punya anak sepertikku hiks sehingga mama membuangku?" Queen terus terisak dalam tangisnya.


Disaat semuanya mendapatkan kasih sayang dari orangtua kandung ... Queen tidak. Disaat semuanya bermain dengan orangtua kandung ... Queen juga tak mendapatkan itu.


"Mama tau hiks? Queen butuh sandaran dan mama hiks malah terpejam kaku disini? Kenapa hiks mama bisa disini? Kenapa hiks ma–mama gamau rawat aku? Ke–kenapa hiks?" Tangis Queen pecah. Disaat ia ingin merasakan pelukan hangat seorang ibu kandung tidak tercapai. Raganya seolah hilang ketika mengetahui bahwa mama dan papanya di Kota Hazel itu bukan orangtua kandungnya.


"Ma–mama kenapa merem terus hiks? Gak kangen hiks sama Queen? Mama tau? Mereka jahat sama Queen hiks ... kenapa Queen harus ngerasain ini? Kenapa hiks Queen harus merasakan ini? Hiks Queen hanya butuh sandaran ... Queen hanya butuh pelukan hangat seorang ibu. Queen pengen." Queen menggigit bibir bawahnya.


Hal tak terduga tiba-tiba terjadi padanya. Kalung kristal silvernya bersinar terang ... Queen menutup matanya tak tahan dengan cahaya silau itu. Lalu tabung di depannya pecah. Queen membuka matanya dan ....


Mendapatkan wanita itu terkulai lemah di lantai bersama serpihan-serpihan kaca tabung. Queen dengan cepat memindahkan wanita yang ia kira ibunya itu.


"Mama?" panggil Queen seraya menepuk-nepuk pipi wanita itu. Wanita itu seperti mendapatkan mimpi burukbdan terus mengigau.


Mata wanita itu terbuka lebar dan menatap Queen lekat-lekat.


"Mama?" panggil Queen sekali lagi. Mata wanita itu berkaca-kaca. Tangannya ia julurkan untuk menyentuh lembut wajah Queen. Wanita itu mengusap pelan lalu tersenyum sedih.


"Que– uhuk! Uhuk!" Ia terbatuk-batuk dan membuat Queen panik. Queen membaringkan wanita itu di sampingnya.


"Ka–kau Queen?" tanya wanita itu memastikan seraya memandang Queen lekat. Ini bukan mimpi kan?


"Ini beneran mama kandungku kan? Kau sangat mirip .... " lirih Queen seraya menunduk. Wanita itu tersenyum.


"Namaku Eveline ... dan rahasiakan keberadaanku." Queen mengangguk. Lalu Queen menatap Eveline ragu-ragu.


"Kau benar-benar mamaku?" Lalu Eveline mengangguk.


"Sudah enambelas tahun mama terkurung dalam tabung itu dan hanya kau yang bisa mengeluarkan mama dari sana. Tapi mama tidak bisa keluar dari ruangan ini. Jadi sering-seringlah kemari dan ceritakan tentang kisah hidupmu." Queen mengangguk haru. Ia tak menyangka ruang bawah tanah ini menunjukan jalan menuju ibu kandungnya.


"Bagaimana cara mengeluarkan mama dari ruangan ini? Kupikir mama akan menyukai indahnya di luar sana. Disini gelap dan berusang!"


Eveline tersenyum lalu mengusap pipi Queen lembut dan mengecup keningnya. Queen diam membeku, kasih sayang seorang ibu kandung ....


Ia baru merasakannya.


"Hanya ada satu cara Queen." Eveline menunduk sedih dan itu membuat Queen khawatir. Pasti cara itu akan susah makannya Eveline terlihay sangat sedih.

__ADS_1


"Memangnya apa itu caranya? Kelihatannya susah ... wajah mama juga nampak sedih. Memangnya kenapa dengan cara itu? Kalau itu membuat mama keluar dari sini Queen akan melakukan cara apapun itu. Tapi bukankah mama punya kekuatan?" Queen menatap Eveline serius. Eveline menghembuskan nafasnya pelan lalu tersenyum sedih.


"Kau harus menemukan ayahmu ... dan mengeluarkannya dari tabung seperti mama. Tapi mama tidak tahu keberadaan ayahmu. Dan ... kekuatan mama tak aktif di ruangan non sihir ini." Queen menyergit heran.


"Tapi sihirku berfungsi," ujar Queen heran. Eveline menatap Queen lekat lalu terbelak kaget.


"Oh iya aku mengingat sesuatu! Sepertinya keuatan mama akan kembali jika papamu sudah ditemukan." Queen terbelak senang.


"Baiklah aku akan mencari keberadaan papa. Mama tunggu di sini, setiap hari aku akan datang kesini dan membawakan mama makanan. Jadi mama tenang saja ya!" Eveline mengangguk dan langsung memeluk Queen.


Lagi-lagi Queen menitikan air matanya.


Jadi seperti ini rasanya dipeluk seorang ibu?


***


Queen kembali menuju kelasnya karena pelajaran Mrs. Oliv sudah selesai. Gawat! Ia ketinggalan materi.


Tadi sudah bel pulang, kumohon timku masih ada disana! Kumohon!


Queen sampai di kelasnya dengan nafas memburu. Ia menatap timnya yang sedang bercakap ria lau ia menghela nafas lega. Untung masih ada beberapa tim yang masih nongkrong, syukurlah.


Queen berlari kecil menuju meja dimana tempat timnya berada. Mereka menatap Queen heran. Dari mana saja dia? Queen hanya tersenyum kikuk lalu duduk seraya senyum-senyum sendiri. Terkadang Queen menghentak-hentakan kakinya malu.


Veera dan Atea saling melirik lalu mengangkat bahu. Sebenarnya ada apa dengan Queen? Mengapa ia terlihat begitu senang? Ardolf memberanikam diri untuk bertanya kepada Queen.


"Kau kenapa Queen? Sepertinya kau sangat senang kali ini? Coba ceritakan," ujar Ardolf.


"Iya benar tuh! Aku juga kepo," sahut Naomi meyetujui.


"Ya benar aku juga ingin tahu."


"Aku juga."


"Aku juga!" seru Veera girang. Queen tersenyum malu-malu lalu menunduk mengingat pertemuanya dengan Eveline. Queen bukannya menjawab malah terus senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Veera menghela nafas kasar seraya menatap Queen gemas.


"Ayolah Queen ceritakan!" ujar Veera antusias. Queen mendongak lalu mengangguk. Mereka kira Queen akan dingin dan kejam tapi sikapnya kali ini sangat cerian, kira-kira siapa yang membuat Queen seceria ini? Pikir mereka.


"Aku menemukan orang yang aku sayangi!" Mereka tersentak kaget. Wajah mereka semua tak terkontrol kecuali wajah milik Nick yang tetap datar.


"Aku menyayanginya dan juga mencintainya!!" Seketika ... mereka semua diam membeku. Terlihat perubahan ekpresi dari tim galaxyan, termasuk ....


.


.


.


.


Nick.

__ADS_1


-¤-


__ADS_2