
Happy Reading ...
***
"Nah, rajanya datang .... "
Mereka menatap Rez dengan pandangan takut-takut. Tiba-tiba tanah mulai bergetar hebat. Pohon-pohon pun sama dan itu menyebabkan banyak daun berguguran. Mereka berenam kini tangah siap dengan posisi bertarung masing-masing.
Bersiap menghadapi apapun itu.
Semak-semak di depan mereka perlahan mulai terbuka lebar, menampakan monster berbentuk sotong jumbo dilengkapi dengan 3 mata. Itulang The King Soccoro.
"Bersiap! Usahakan serang mata tengahnya!" Rez memberi yang lainnya aba-aba. Yang lainnya mengangguk sebagai tanggapan. Soccoro itu menembakan beberapa tembakan sihir.
Astaga! Kenapa para monster bisa menggunakan sihir dan sedangkan kami tidak bisa walaupun itu hanya secuil?!
Queen membatin kesal.
Soccoro itu menembakan beberapa ledakan sihir dan dapat dihindari oleh Queen bersama yang lainnya. Queen menebas soccoro itu dari berbagai arah dengan cepat. Rez terus menerus menembakan surikennya. Atea terus berlari, membuat dirinya sendiri sebagai umpan. Delano dengan senjatanya terus menyerang bertubi-tubi dari sisi kiri. Sedangkan Veera dan Villia sedang melakukan kolaborasi serangan untuk melemahkan sisi kanan.
Mereka berjuang begitu keras. Soccoro saja sudah susah apalagi dengan monster kelas tinggi lainnya.
"Hiaaa!!" Queen menusuk tepat di pupil mata Raja Soccoro itu. Sontak hal itu membuat sang monster mengerang kesakitan. Rez dengan sekali serangan menembakan suriken yang tepat menusuk mata Raja Soccoro. Tak puas dengan itu, Dalano berlari sekuat mungkin dan menusukan pedangnya sedalam-dalamnya. Dan pada detik itu pula sang Soccoro memekik.
"NGUUIIKKK!"
BLUSH!
Soccoro itu berubah menjadi abu berwarna pink. Delano mengatur nafasnya yang memburu. Queen mengehela nafas lega karena mereka dapat berkerjasama dengan baik dan lancar.
"Yeah! Mari lanjutkan perjalanan. Sudah jam empat pagi nih!" seru Delano yang sudah mulai membaik.
"Ah! Staminamu sangat banyak pangeran!" puji Atea kagum. Delano menoleh lalu menampakan cengiran khasnya.
"Panggil nama saja, tidak usah pake pangeran segala," kekeh Delano. Atea mengangguk lalu berlari menghampiri Queen yang sedang duduk meluruskan kakinya.
"Pegal ya Queen?" tanya Atea. Queen mendelik kesal sebagai tanggapan.
"Yaiyalah! Udah tau pake nanya," gerutu Queen kesal. Atea nyegir lalu mengulurkan tangannya dan Queen pun menggapai tangan Atea untuk membantu dirinya berdiri.
"Ayo berangkat!" seru Veera semangat. Mereka mengangguk lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Sepanjang jalan hanya diiringi dengan senandungan indah Veera dan candaan dari Delano. Mereka semua nampak sangat akrab. Queen dan Atea sendari tadi hanya membahas tentang sejarah, sedangkan Rez dan Vilia ikut bercanda bersama Delano dan Veera.
"Ya begitulah diriku semasa kecil. Tapi hal itu mebuatku merindukan beliau," ujar Delano tersenyum sedih.
__ADS_1
"Ya aku juga merindukan mendiang ayahku. Dulu dia selalu mengajariku membuat ramuan penyembuh," sahut Vilia.
"Ya aku juga," ucap Rez dan Veera kompak. Queen serta Atea menoleh penasaran dengan apa yang sedang dibahas oleh teman-temanbyang lainnya.
"Kalian sedang membahas mendiang ayah kalian? Yeah, ayahku juga sudah tiada," timpal Atea miris. Queen menunduk lalu membatin.
Bahkan aku yang mempunyai ayah pun harus berusaha sekeras ini hanya untuk menemuinya.
"Sudah ah jangan membahas hal sensitif seperti ini! Mari kita lanjutkan perjalanan kita saja," usul Veera karena merasa percakapan ini begitu sensitif.
"Yeah, ayo dan bersiap menghadapi monster berikutnya!" seru Vilia semangat.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan melupakan hal sensitif yang barusan mereka bahas. Beberapa tanaman hidup yang menyerang mereka berhasil dilumpuhkan oleh Delano dan Rez.
"Ah! Banyak tanaman yang hidup! Membuatku merinding aja!" gerutu Veera seraya mengusap-ngusap lengannya.
"Iya nih! Tak ada yang bisa dimakan juga! Bagaimana cara kita untuk bertahan hidup?" tanya Vilia khawatir.
"Ya maklumi aja lah, namanya juga hutan larangan ya pasti berbahayalah!" kekeh Delano gemas. Queen mengangguk menyetujui pendapat Delano.
"Terkadang kita harus pergi ketempat yang berbahaya karena di tempat berbahaya pasti ada harta," ujar Queen bijak.
"Tumben otakmu berjalan Queen?" gurau Veera yang dipelototi oleh Queen. Veera hanya nyengir ketika menyadari Queen yang semakin membelakan matanya.
"Gini-gini aku juara kelas semasa di Kota Hazel! Kalian juga sering nyontek," kesal Queen.
"Yah benar ... tapi dia telah menyakiti Queen. Dia juga telah menipu kita soal identitasnya!" kesal Atea seraya mengepalkan tangannya.
"Tidak apa-apa," sahut Queen menenangkan Atea.
"Aku jadi penasaran dengan keturunan Moon Goddes sebenarnya. Sampai sekarang masih belum diketahui. Oh ya bukanya tim kalian mencari inti kristal yang bisa menemukan keturunannya?" tanya Delano. Veera mengangguk gusar.
"Ya, benar. Tetapi kita keburu dipulangkan padahal tinggal inti kristal Darkness saja. Juga katanya inti kristal darkness selalu ada dengan kita, dan kita belum memecahkan teka-teki itu," sahut Veera. Delano mengangguk mengerti.
"Mengingat pertemuanku dengan Scarlett sekaligus membuatku ngeri juga loh," ucap Delano. Vilia mengangguk menyetujui ucapan Delano.
"Apakah Scarlett itu cantik?" Tanya Veera penasaran.
"Cantik apanya! Dia nenek-nenek tua dan memakan gadis perempuan untut kembali muda! Itu sangat mengerikan kau tahu?" Delano menggelengkan kepalanya berusaha tak mengingat kejadian kelam itu. Ya mau bagaimana lagi ... pertemuan mereka dengan Scarlett saat Scarlett memakan daging manusia.
"Sangat menjijikan! Pantas saja Satan tak mau dengan dirinya!" umpat Vilia kesal. Benar juga, sikap Scarlett pun sangat buruk. Pantas saja Satan tak mau menikahinya.
"Ah keadaan papa gimana ya?" gumam Queen sangat pelan segingga tak dapat diketahui oleh yang lainnya.
"Scarlett itu warna rambutnya pink ya?" tanya Veera semakin tertarik untuk membahas tentang Scarlett.
__ADS_1
"Rambutnya berwarna hitam dengan lambang bintang di keningnya," sahut Rez yang sendari tadi hanya diam.
"Kau tahu Rez?" tanya Delano tak percaya.
"Sejarah," jawab Rez singkat. Delano mengangguk paham lalu kembali memulai candaannya. Mereka semua terus berjalan tanpa hambatan. Tidak menyadari bahwa sendari tadi ada yang sedang mengawasi mereka.
"Ayo kita laporkan ini," ucap gadis bersurai pink.
"Iya ayo, Naomi."
***
"HAH, APA?! Soccoro dapat mereka kalahkan?! Padahal sihir mereka aku blokade!" Frustasi seorang dengan jubah merah seraya mendorong makanan yang berada di meja makan.
"Itu benar, Nick." Naomi berucap meyakinkan. Dua orang pria dan satu orang wanita berlari menghampiri mereka.
"Kita harus segera mengirim monster yang lebih kuat Nick! Nampaknya mereka hampir sampai kesini. Kemungkinan besar nanti malam mereka datang kemari!" seru Ardolf dengan nafas memburu.
"Sebenarnga siapa mereka?" tanya Nick.
"Tidak tahu, mereka semua memakai topeng." Nick menatap Lolita sinis.
"Tapi dari suaranya itu mirip Queen, Veera, dan Atea. Selebihnya kami tak tahu menahu," ujar Naomi. Nick terdiam.
"Queen?"
"Veera?"
"Atea?"
Tanya Nick, Ardolf, dan Fath secara bersamaan.
"Ya benar, dan sempat ku dengar mereka membicarakan mendiang ayah mereka, Scarlett, dan pencarian inti kristal yang pernah tim kalian lakukan," sahut Sena.
"Tapi mengapa mereka ingin menolong kita?" tanya Fath seraya mengepalkan tangannya.
"Tidak tahu. Aku tak terlalu mendengar percakapan mereka saat Veera terperosok ke jurang." Sontak ucapan itu membuat Nick, Ardolf, dan Fath kaget bukan main.
"Atea juga sempat terluka saat menjadi umpan Soccoro. Kalau Queen dia tak tumbang sama sekali, dia nampak lebih kuat." Naomi menyimpulkan.
"Baiklah jika begitu siapkan monster dengan kelas paling tinggi karena aku yakin mereka akan sampai kesini dengan cepat. Mengingat mereka sangatlah kuat." Nick memberi aba-aba pada semuanya.
Nick berjalan menuju singgasananya. Sebelum semuanya bubar dan menjalankan tugas masing-masing ... Nick mengatakan sesuatu.
"Upacara pembangkitan Satan akan kita mulai sebelum malam tiba."
__ADS_1
-¤-