
Happy Reading
****
"HENTIKAN!"
.
.
.
Mereka yang sedang melakukan ritual pembangkitan beralih menoleh kearah sumber suara itu. Queen dan Veera, mereka datang tepat waktu.
"HENTIKAN SEMUA INI!" Queen berteriak dengan nafas tersengal-sengal.
"Kumohon hentikan! Jangan seperti ini!" Kini Veera yang angkat bicara. Nick tersenyum sinis lalu tertawa remeh.
"Kau bilang apa? Menghentikan ritual pembangkitan satan? Tentu saja tidak bisa. Aku akan mengambil seluruh kekuatan satan dan menguasai area kingdom, neraka, ataupun bisa jadi surga ada di tanganku hahahaha!" sahut Nick.
"Sebaiknya kalian jangan mengganggu!" bentak Ardolf kesal. Veera menatap manik Ardolf dengan mata berkaca-kaca.
"Kemana si bodoh Atea itu he? Dia tak datang?" tanya Fath tersenyum layaknya psikopat.
"Dia mengantar Rez yang terluka parah! Dan hanya kita berdua yang diizinkan kemari untuk membawa kalian kembali!" jawab Veera. Fath mendelik lalu berusaha tidak peduli.
"Hey Fath? Kau seperti ini karena kecewa pada Atea kan? Kau kecewa saat dia hilang ingatan kan?" tanya Queen seraya tersenyum sinis.
"Ck, apa maksudmu sialan?!" sahut Fath kesal.
"Saat di perjalanan menuju Aheria Kingdom ... kau mengajak Atea pacaran kan? Tapi Atea bilang akan memberikan jawabannya saat pulang ke Academy ... namun nyatanya dia keburu hilang ingatan ya?" ujar Queen dengan satu halis terangkat.
Terlihat Fath mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Jangan mengganggu kita! Fath, Ardolf kalian bawa Queen kepenjara bawah tanah! Kunci rapat dengan sihir kalian. Naomi kau gantung Veera dekat perapian!" sarkas Nick.
"He-he?! Tu-tunggu?! Apa maksudmu menggantung Veera?! He-hei lepaskan! Jangan gantung Veera!" teriak Queen memberontak.
Queen dan Veera berusaha menggunakan sihir namun sihir mereka tiba-tiba tidak bisa di gunakan.
"He-i! Jangan gantung Veera! Lepaskan aku! Nick keparat kenapa kau seperti ini?! Heii!!" Queen digusur layaknya karung beras.
"QUEEN!!" teriak Veera ketakutan.
Namun apa daya? Queen telah diseret menuju penjara bawah tanah.
"Naomi ... cepat gantung dia di perapian! Mungkin kita bisa menggunakannya sebagai tumbal untuk Satan." Nick menyeringai.
"Dan lepaskan semua pakaiannya!" usul Sena berteriak kesenangan. Veera melotot lalu menggeleng-geleng ketakutan.
"Tidak-tidak! Jangan lakukan! Jangan lakukan kumohon!" tangisan Veera pecah. Ini tidak boleh terjadi, anak seorang dewi di perlakukan seperti ini? Sungguh perlakuan yang biadab!
"Ya ... tunggu sampai Ardolf dan Fath kemari. Mungkin mereka juga akan senang melihatnya seperti wanita murahan yang dilucuti pakaiannya?" ujar Naomi tambah senang.
"JUSTRU KAU YANG MURAHAN NAOMI! AKU BERJANJI AKAN MEMBUNUH KALIAN BERTIGA! WANITA ******!" Veera terus memberontak dan mengumpati Naomi, Sena, dan Lolita.
__ADS_1
***
Disisi lain ....
Queen? Kau bisa mendengarku?
Queen tersentak ketika mendengar suara Atea. Apakah yang tadi itu Atea mentelepatinya? Tapi mana mungkin? Sihirnya saja sudah di blokade kambali.
Aku menggunakan ramuan telepati, jangan heran ya! Aku sebenarnya mengikuti kalian dari belakang! Dewi Hera mengijinkanku megikuti kalian kok! Aku sudah melihat kejadain ini!
Aku ingat saat Fath mengajaku pacaran! Oh ya, aku akan membebaskanmu Queen. Aku akan menemuimu, keadaannya sekarang darurat. Veera akan ditelanjangi dan ditaruh di atas perapian lalu dijadikan tumbal untuk Satan! Tunggu aku Queen!
Deg.
Queen menitikan air matanya. Setidaknya masih ada setitik harapan 'kan?
Fath dan Ardolf mendorong Queen ke dalam penjara sihir itu. Queen mengaduh kesakitan ketika kepalanya terbentur ke tembok.
"Arhh," pekik Queen. Ardolf dan Fath memandang Queen datar lalu menutup penjara itu.
Atea terkekeh geli ketika Ardolf dan Fath tidak menyadarinya, padahal sendari tadi Atea juga menggunakan ramuan transparan. Ketika Ardolf dan Fath berbelok Atea pun berseru kegirangan karena merasa sudah aman.
Atea menghilangkan efek ramuan transparannya lalu mendekat ke sel dimana Queen berada.
"Hey, Queen." Queen mendongak lalu melotot kaget ketika melihat Atea yang sedang melambai-lambaikan tangannya.
"Atea?! Astaga kau sangat cepat! Tolong bantu aku!" ujar Queen. Atea mengangguk lalu membuka ransel ramuannya.
"Tunggu, sepertinya aku harus mencari ramuannya terlebih dahulu. Aduh dimana ya?" Atea nampak mengubrak-abrik isi ranselnya.
"Oh ayolah! Ramuannya dimana!" Atea mulai frustasi dan mengeluarkan seluruh jenis ramuan dari ranselnya.
"Bagaimana? Ada tidak?" tanya Queen khawatir. Atea menoleh lalu memgangkat bahu. Ia mencoba mengingat-ingat di mana ia meletakan ramuan penghancur sihir itu.
"Akh! Aku tidak tahu Queen! Aku takut ramuannya tertinggal di tempat pengobatan Rez!" Atea menatap Queen dengan mata yang berkaca-kaca. Jika ramuan itu tertinggal lalu bagaimana? Mereka juga harus cepat sebelum Veera di telanjangi.
"Piu piu piu!" Mereka menoleh dan mendapati gumpalan Aheria yang melesat cepat.
"Astaga! Moca, apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau ada di tempat pengobatan Rez?" tanya Atea keheranan.
Namun ... bukannya menjawab, Moca malah turun dari rata-rata terbangnya menuju pangkuan Atea. Ia memberikan satu botol ramuan berwarna hijau tua. Atea melotot kegirangan.
"Astaga! Ternyata ramuannya tertinggal di tempat pengobatan Rez! Ah terimakasih Tuhan, kau telah mengirim Moca untuk mengantarkan ramuan ini!" seru Atea senang. Queen tersenyum lau menghela nafas lega, akhirnya ramuan penghancur sihir itu sudah ada. Artinya ... Queen akan segera bebas kan?!
"Queen kau agak mundur sedikit! Takut ramuan ini malah terciprat kearahmu!" Queen mengangguk lalu mulai mundur untuk menghindari cipratan ramuan itu.
"Dalam hitungan ketiga aku akan melemparnya! Tutup matamu Queen!" Queen mengangguk lalu menutup matanya. Atea mulai berhitung dari bilangan pertama.
"Satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
TRANG!
__ADS_1
Ramuan itu pecah dan cipratannya mengenai sel milik Queen. Perlahan sel itu bergetar hebat. Atea mulai mundur saat merasa akan ada sebuah ledakan asap tanpa suara.
"Tetap tutup matamu Queen dan jangan lupa tutup hidungmu juga! Tahan nafas untuk beberapa saat!" ujar Atea. Queen kembali mengangguk paham dan terus menutup matanya seraya menahan dirinya untuk bernafas.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
WUSH!
Asap abu-abu keluar dari sel Queen, bersamaan dengan gerbang sihirnya yang terbuka. Atea meloncat-loncat kegirangan karena bisa membuka sel itu dengan ramuan. Kini hanya tinggal menggunakan ramuan pengembali sihir untuk mendapatkan sihir mereka kembali. Mereka harus menggunakam sihir untuk melawan Nick dan yang lainnya. Kalian pasti tahu kan seberapa hebatnya mereka dalam menguasai sihir?
"Nah Queen! Asapnya sudah memudar, ayo keluar dari sel biadab itu!" ujar Atea tak sabaran.
"Ya, ya, ya baiklah!" sahut Queen seraya keluar dari sel itu. Ia menepuk-nepuk bajunya yang penuh dengan debu. Ia menatap Atea bingung.
"Lalu apa selanjutnya?" tanya Queen. Atea menyeringai lalu meraih ranselnya dan mencari salah satu ramuan pengembali sihir.
"Kita akan menggunakan ramuan pengembali sihir! " seru Atea seraya mengangkat salah satu ramuan ke tas menggunakan tangan kanannya.
"Ramuan pengembali sihir?" tanya Queen kebingungan.
"Yup, kau benar." Atea tersenyum. Ia membuka tutup botol ramuan itu. Wangi bunga lavender masuk kedalam penciuman Queen.
"Ramuan ini sangat wangi!" Queen berseru. Atea terkekeh lalu meminum ramuan itu dan dilanjutkan oleh Queen.
"Seperti ada yang bergejolak di dalam diriku. Ada apa ini?" tanya Queen kebingungan.
"Itu efek dari ramuan ini, bersabarlah! Sebantar lagi pasti sihir kita akan bekerja!" sahut Atea sembari tersenyum senang. Sebentar lagi ... mereka akan menyelamatkan Veera.
Lalu Queen dan Atea merasa tubuh mereka bugar kembali, sangat bugar.
"Yosh! Sihir kita telah kembali dan mana kita terisi penuh! Ayo kita pergi sebelum terlambat!" usul Atea. Queen mengangguk lalu berlari menuju ruangan di mana Nick berada.
"Kita harus cepat!"
Mereka terus berlari menaiki banyaknya tangga.
"TIDAK TIDAK JANGAN LAKUKAN INI! KUMOHON JANGAN KYAA!!"
Dari sini mereka bisa mendengar teriakan Veera.
"HEI BIADAB HENTIKAN!" teriak Queen murka yang melihat baju Veera sudah robek. Untung saja mereka sempat datang.
Kegiatan Naomi, Sena, dan Lolita menelanjangi Veera terhenti. Mereka yang ada di ruangan itu menoleh kearah Queen.
"Kalian telah melakukan perbuatan salah! Dan kalian bertiga akan mendapatkan hal setimpal karena telah berusaha menelanjangi sahabatku Veera! Aku benci kalian bertiga! ******! Kalian hanya diperalat saja! Jangan terlalu berharap pada Nick, Fath, dan Ardolf!" teriak Atea. Semua kecuali Queen dan Atea yang ada di ruangan itu terkejut melihat kehadiran Atea.
Mata Queen bersinar biru. Amarahnya sudah memuncak.
"Akan ku mulai pertarungannya."
-¤-
__ADS_1