
Happy Reading....
****
Pertarungannya sungguh membuat Queen kelelahan. Naomi juga terlihat sangat lelah dengan ini. Queen terus mengepalkan tangannya. Ia belum bisa menerima kenyataan tentang Naomi dan Nick yang telah menikah.
Nick ... bukankah kau ditakdirkan untuk diriku? Pasangan abadi dengan keharmonisan? Permintaanku hanya itu. Jika aku bisa menawar, bolehkah aku mati sekarang? Dan nyawaku di tukarkan dengan orang-orang tak bersalah yang telah tumbang. Dan jika boleh ... nyawaku juga ditukarkan dengan kedamaian negeri ini. Kumohon, aku lebih pantas mati. Walaupun tujuanku membunuh Naomi namun ... rasanya itu tidak bisa. Aku susah untuk membunuhnya karena aku dan dirinya pernah menjalani susah senang bersama dalam rangkulan persahabatan.
"Kenapa Queen? Kau takut dengan kekuatanku hm? Ayolah ini akan menjadi hari yang sangat ditunggu!" Naomi terus berceloteh dan Queen hanya terus menunduk.
Disisi lain ....
"Dewi Hera? Apakah Rez akan benar-benar sembuh?" tanya Villia yang terus menemani Rez di ruang perawatan.
"Tentu saja Rez akan sembuh, dia sangat kuat. Saya yakin dia akan bangun tak lama lagi," balas Dewi Hera seraya tersenyum hangat.
Villia memandang sedih tubuh seorang lelaki di hadapannya. Rez seperti pangeran yang tertidur pulas. Villia selalu menunggu. Ia akan terus menunggu sampai mata biru tua milik Rez bisa ia lihat lagi.
"Aku tahu Rez, kau menyukai Queen kan? Aku selalu melihat kalian dekat. Kalian partner yang sangat cocok. Tetapi aku iri melihat itu, aku tidak bisa berhenti untuk memperhatikanmu. Aku sudah menyukaimu disaat aku dan kau masih di Fancy Junior Academy. Dan sekarang ... setelah kita berdua tumbuh besar pun ... aku masih menyukaimu. Tetapi jika kau ingin bersama Queen aku akan senang mendengar hal itu, karena Queen seorang perempuan yang cantik dan sangat kuat," ujarnya seraya tersenyum simpul.
Semua orang selalu percaya bahwa ...
Rez akan kembali.
***
"Hey? Kau diam saja Queen? Kalau begitu sebaiknya aku membunuh Atea dan Veera saja deh! Biar lebih seru!" Naomi berlari kegirangan menuju Veera dan Atea.
Queen melotot lalu menunjuk Naomi dengan telunjuknya. Setelah itu muncul setitik cahaya hitam dari telunjuknya dan menembak Naomi sehingga Naomi terpental jauh.
"Jangan coba-coba menyentuh temanku," sarkas Queen dengan tatapan tajamnya. Ia mengangkat tangannya lalu merapalkan mantra. Munculah pedang dengan lambang bulan hitam di genggaman tangannya.
Atea yang sedang mengobati Veera pun menoleh karena merasa aneh dengan pedang yang di pegang Queen.
"Astaga!" pekik Atea terkejut.
"Jangan bilang ... pedang itu adalah pedang gabungan antara kekuatan elemen cahaya dan elemen kegelapan?! Itu berarti percampuran kekuatan dewi dan iblis!" kagetnya tak karuan.
"Tidak kungkin," gunam Atea takjub. Ia berusaha untuk fokus kembali mengobati Veera.
Naomi menganga melihat pedang itu.
"Baiklah akan aku ladeni! Senjata itu tidak ada apa-apanya di bandingkan kekuatan milikku!" ujar Naomi sombong.
Queen benar-benar harus bisa membunuh Naomi. Lupakan hubungan persahabatan mereka dulu. Lupakan. Naomi melesat dengan api merah di tangannya. Saat api itu hampir mengenai Queen ... tiba-tiba Queen menghilang dan muncul di belakang Naomi. Queen menendang punggung Naomi sehingga pipinya menyentuh lantai dengan sangat keras.
"Auch-" Naomi meringis perih.
Queen menginjak kepala Naomi berkali-kali. Sepertinya kekuatan Queen mulai kian meningkat. Queen benar-benar terlihat di luar kendali. Ia tak akan membiarkan teman-temannya terluka karena Naomi, Sena, dan Lolita.
Dan sepertinya ... Sena dan Lolita telah sekarat karena sihir Queen.
"Aku tidak akan membiarkanmu merebut suamiku Queen! Dan aku tak akan membiarkanmu mengembalikan kedamaian!" ujar Naomi yang masih terjebak dalam injakan kaki Queen.
"Berisik! Jangan mimpi terlalu tinggi!" balas Queen ketus. Ia mundur beberapa langkah setelah puas menginjak Naomi.
Naomi berdiri dan menggeram marah seraya menatap Queen. Penampilan Naomi sungguh hancur, benar-benar hancur. Tidak ada lagi wajah cantiknya. Queen benar-benar puas karena ia juga mewakili seluruh readers yang menginginkan Naomi mati.
"Sialan! Kau telah merusak kecantikanku! Dan rambutku menjadi kasar seperti ini gara-garamu Queen!" kesal Naomi dengan amarah yang telah meledak-ledak.
Nick, Ardolf, dan Fath menahan tawa karena melihat Naomi yang begitu ... hm jelek?
"Hey ... ini bukan pertunjukan komedi," kekeh Fath.
"Yeah Naomi seperti gembel sekarang, kasihan sekali haha," ujar Ardolf tertawa kecil. Nick pun tertawa ketika melihat penampilan Naomi.
"Hm aku yakin jika Queen menjadi penata rias, pelanggannya pasti pulang dengan air mata berlinang. Melihat begitu jeleknya riasan yang diberi Queen. Yang ingin menjadi duta model eh malah menjadi duta gembel," ucap Nick menyetujui perkataan kedua temannya.
Sungguh. Ini benar-benar bukan pertunjukan komedi!
"Aakhh QUEENN!" kesal Naomi. Matanya berkilat merah ... menatap Queen dengan tajam. Tangannya ia rentangkan. Bersamaan dengan lonceng pertanda fajar telah tiba. Namun di hutan larangan ini tentu saja tetap gelap.
Astaga ... sudah fajar?! Berarti perangnya ... akan dimulai?
***
"Mr. Naoko? Bagaimana ini? Mereka belum juga kembali dari hutan larangan itu," ujar Mr. Atiza khawatir.
Mr. Naoko, master tertinggi itu terus mundar-mandir tidak jelas. Memikirkan cara bagaimana mereka memulai peperangan tanpa tim Galaxyan.
"Sepertinya ini akan sangat sulit, Atiza. Jika mereka tidak berhasil maka kita terpaksa membunuh Nick. Dan untuk sekarang—" Mr. Naoko menunda apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.
"Kita akan memulai perang ... tanpa mereka."
***
Naomi tersenyum kegirangan lalu melemparkan berbagai bola api kearah Queen. Queen terus menghindar dengan perasaan campur aduk. Memikirkan bagaimana keadaan rakyat para Kingdom, apakah mereka semua telah bersiap-siap?
"Kau khawatir tentang perang Queen?" Naomi terkekeh. Ia tak henti-hentinya menyerang Queen. Apakah mereka tidak lelah? Tentu saja lelah. Namun ... demi tujuan mereka masing-masing akhirnya mereka terus berjuang.
"Sepertinya ini akan membutuhkan waktu lama. Tapi ada sesuatu mantra yang ada di pikiranku. Sebenarnya ini mantra apa? apa salahnya untuk dicoba?" gumam Queen bertanya pada dirinya sendiri.
Ia agak menjauh dari Naomi dan mulai berkomat-kamit mengucapkan mantra yang ada di pikirannya. Semoga saja ini berhasil.
__ADS_1
Tanah mulai bergetar. Suara burung puyuh—ralat maksudnya burung gagak terdengar di mana-mana. Keluar dari berbagai pohon hitam mengitari bangunan megah ini. Sebuah gerbang besar muncul di depan Queen. Setelah selesai merapalkan mantra, ia membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat gerbang jurang neraka di hadapannya.
"Sepertinya ini tempat yang cocok untuk Naomi?" ujar Queen. Ia mengangguk lalu menatap Naomi tajam. Dilihat dari raut wajahnya, Naomi nampak ketakutan.
"Wahai gerbang, bawalah perempuan bersalah ini ke dalam jurang yang dalam itu. Bawalah Naomi, Sena, dan Lolita ke dalam sana. Hukum lah mereka seberat-berartnya sampai mati dan jangan biarkan roh mereka berkeliaran. Saya putri moon goddes mengijinkan hal itu. Bawalah mereka bertiga!" teriak Queen lantang.
Angin berhembus kencang. Semua yang ada di ruangan itu menatap Queen was-was. Kecuali Sena dan Lolita yang jelas-jelas sudah sekarat. Veera dengan keadaannya yang lemah pun menoleh dengan senyuman tipis. Nampaknya Queen akan berhasil.
Rantai melesat keluar melilit Naomi, Sena, dan lolita. Naomi menjerit-jerit meminta pertolongan ke arah Nick. Namun Nick tidak peduli.
"Sialan kau Queen! Aku akan membalasmu! Aku akan membalasmu!" teriak Naomi sebelum benar-benar masuk kedalam gerbang itu.
***KLEEKK
BUGH***!
Gerbang itu tertutup rapat dan perlahan mulai menghilang. Queen mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
Lalu Queen menatap Veera yang sudah sekarat. Atea membopong Veera menuju ke arah Queen. Queen tak kuasa menahan tangisnya karena melihat Veera menderita. Lalu pandangannya beralih menatap Nick.
"Kumohon Nick ... ikutlah bersama kami! Kumohon!" teriak Queen dengan isak tangisnya.
"Kumohon kalian sadarlah! Tidak ada gunanya kalian mengambil kekuatan Satan! Itu hanya akan menambah kegelapan di negeri para kingdom ini! Tolong ... kumohon sadarlah. Kita bisa bersama-sama membangun keseimbangan di negeri ini! Kumohon aku ingin tim kita bersatu lagi!" ujar Queen.
Nick menunduk dan mengepalkan tangannya. Benar juga ...
Tim Galaxyan, begitu banyak kenangan di tim itu. Dimana mereka bersama-sama menjalankan misi, dimana mereka semua bersama-sama dalam senang maupun duka. Bukankah jika mereka bersatu akan lebih baik? Membangun keseimbangan bersama-sama. Menjalin ikatan persahabatan dalam rangkulan keceriaan.
Tidak ada lagi kegelapan yang menguasai.
Tidak ada pula kebajikan yang terlalu tinggi.
Namun ... hanya ada keseimbangan di negeri ini. Itu saja.
"Kumohon kalian sadarlah! Perbuatan kalian ini tidak ada gunanya! Ayo kita kembali ke academy dan menanggani perang ini. Kumohon! Waktu berjalan sangat cepat. Malan ini perang akan terjadi dan mereka membutuhkan kita!"
"Kumohon kalian sadarlah agar kita juga segera membawa Veera untuk diobati. Kumohon," Atea menunduk dengan air mata yang terus mengalir.
Veera mengusap air mata Atea. Tubuh yang lemah itu tengah di pangku Atea yang sedang berjongkok.
"Tidak usah repot-repot. Aku hanya beban bagi kalian. Aku lebih baik mati, kalian bisa bersatu tanpa adanya aku di dalam tim ini. Lagi pula sudah tidak mungkin aku diselamatkan," ujar Veera seraya tersenyum. Padahal tubuhnya begitu dipenuhi oleh darah kental berwarna merah.
"Aku juga sudah tidak kuat lagi, sepertinya sebentar lagi aku mati ya?" tanya Veera yang masih mengembangkan senyumannya.
Ardolf, Nick, dan Fath mulai mendongak. Mungkin hati mereka telah terbuka? Akankah mereka kembali?
"Pesanku hanya satu. Kalian harus tetap bersama-sama. Dan Nick, Ardolf, Fath ... kalian sadarlah dan segera pergi ke peperangan itu. Ini sudah hampir siang, waktu berjalan sangat cepat dan kalian membutuhkan waktu berjam-jam lamanya jika kembali ke academy. Jadi ... sadarlah!"
"Dan untuk Ardolf.. aku ingin mengungkapkan sesuatu untukmu," ujar Veera. Ia terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar.
"Berkali-kali aku merapalkan doa pada tuhan agar aku dapat lebih mengenalmu. Namun itu semua mungkin tidak bisa ya? Padahal aku sangat menginkan hal itu," lanjutnya. Walaupun semakin banyak darah yang terciprat tetapi ... Veera tetap berceloteh.
"Dan kau tahu Ardolf? Arti dari semua ini huft hah," tanyanya. Nafas Veera tiba-tiba tersenggal.
Tubuhnya kian mengejang namun ia berusaha untuk mengungkapkan kata selanjutnya. Atea menggenggam tangan Veera sekuat-kuatnya. Queen menahan tangisnya dan memalingkan wajahnya ketakutan.
"Artinya hah hah-" nampaknya Veera sangat menderita. Ia harus tersenyum saat mengucapkan kata selanjutnya.
"Artinya aku hah hah-"
"A-aku ... a-aku."
"A-aku mencintaimu!"
Deg.
Veera memekik untuk terakhir kalinya. Dan setelah itu gengaman tangan Atea mulai melonggar. Tubuh Veera tidak bergerak lagi.
Tidak ada kehidupan sama sekali.
Ia sudah mengungkapkan perasaannya namun setelah itu ... dia mati.
"*Hei lihat! Itu Ardolf!"
"Oh hai namaku Veera."
"Hmm, kita lihat saja nanti. Tapi aku menginginkan pedang Flores. Pedang beracun! Aku menyukainya! Sangat-sangat menyukainya!"
"Soal kasur emm aku hanya bisa membuatnya dari dedaunan. Tapi lembut kok!"
"Aku ras peri!"
"Rumahmu sangat besar Atea!"
"Ah! Banyak tanaman yang hidup! Membuatku merinding aja!"
"Oh ya! Jadi kangen Naomi yang dulu ... dia sekarang begitu berbeda dan semoga saja kita bisa menyadarkannya juga."
"Ah—itu ya ... aku memakai celana dalammu."
"Aku memakan cup cake milik Atea, aku mencabut satu rambut Ardolf untuk dikoleksi. Aku berhutang permen pada Ardolf, aku ngompol dicelana saat tubuhku mau jatuh kejurang—"
"Emangnya kenapa? Di sini mana ada toilet umum!"
__ADS_1
"Aku seorang peri! Tralala!"
"Pesanku hanya satu. Kalian harus tetap bersama-sama. Dan Nick, Ardolf, Fath ... kalian sadarlah dan segera pergi ke peperangan itu. Ini sudah hampir siang, waktu berjalan sangat cepat dan kalian membutuhkan waktu berjam-jam lamanya jika kembali ke academy. Jadi ... sadarlah*!"
Ucapan itu terus terngiang di pikiran mereka. Ardolf terus menunduk. Mengingat perkataan terakhir Veera.
"*A-aku mencintaimu!"
"A-aku mencintaimu!"
"A-aku mencintaimu!"
"A-aku mencintaimu*!"
Ia mengepalkan matanya, perlahan air matanya mengalir. Veera ... kenapa harus dia? Kenapa? Apakah setelah ini tidak ada keceriaannya lagi?
Tidak ada lagi Veera yang cerewet?
Tidak ada lagi Veera yang malu-malu kucing?
Veera ... telah pergi.
Untuk selamanya.
"A-aku mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu, Veera."
Queen tak kuasa membendung air matanya. Setelah ini Veera tidak akan ada lagi. Seorang anak Dewi ketika mati ... tubuhnya akan menjadi cahaya dan menjadi bintang diatas sana. Bersinar di malam hari.
Seperti sekarang, tubuh Veera perlahan memudar. Atea terus meneriaki namanya namun nihil ... senyuman ceria Veera tak akan ia lihat lagi.
"Kumohon Veera jangan pergi! Kumohon! Aku juga mencintaimu, Veera!" Ardolf berlari kearah tubuh Veera yang kian memudar. Tidak ada gunanya mereka berbicara dengan tubuh yang sudah tidak ada jiwanya.
Nick, dan Fath terkejut ketika melihat Ardolf yang menangis histeris. Fath juga pernah merasakan ini. Disaat Atea berkorban, dan itu sangat menyakitkan.
"Kumohon bangunlah! Aku ingin terus bersamamu! Kumohon bangun. Veera, maafkan aku! Veera kumohon bangun! Kumohon," lirih Ardolf seraya memeluk tubuh yang hampir transparan itu.
"Kita akan bersama! Aku dan kau, bersatu menjadi sepasang kekasih! Veera hey kumohon bangun dan berikan senyumanmu padaku!"
"Veera cepatlah! Kumohon ... Oh Tuhan berikan dia kehidupan. Dewi Hera, kau Dewi kehidupan bukan? Tolong berikan setitik harapan. Aku masih menginginkan senyuman indahnya!" Ardolf semakin lepas kembali.
Tubuh Veera benar-benar akan menjadi cahaya sekarang.
"Tidak! Tidak! Tidak! VEEERAAAAA!" Ardolf berteriak disaat tubuh Veera sudah tak ia rasakan lagi.
Veera ... benar-benar telah pergi meninggalkan mereka.
Tetapi ... mengapa harus Veera yang pergi? Sepertinya dari semua teman Queen yang telah berkorban, hanya Veera yang tidak akan pernah kembali.
Ardolf dan Atea masih menangisi kepergian Veera.
"Nick ... kumohon sadarlah. Kau tahu? Alasan aku kesini juga bukan hanya menyadarkanmu. Tetapi mengejar orang yang aku cintai. Aku baru sadar akan hal itu, dan orang itu adalah kau, Nickhole Ainsley Xenophon," ujar Queen masih dengan mata berkaca-kaca.
"JADI KUMOHON SADARLAH DAN IKUT BERSAMA KAMI!"
Nick terdiam. Atmosfernya terhenti saat mendengar Queen yang juga mengucapkan pengakuan padanya.
Queen benar ... aku sudah keterlaluan.
Air mata Nick mengalir deras. Nick ... benar-benar menangis.
"Maafkan aku hiks," ujar Nick seraya berlutut. Fath yang tak mau menganggu pun menghampiri Ardolf dan Atea.
Queen mendekat kearah Nick lalu ia berjongkok.
"Nick? Kau tahu? Manusia memang tak lepas dari kesalahan. Tapi kita bukan manusia, jadi gimana dong—tapi yah mahluk hidup memang tak lepas dari kesalahan. Jadi sekarang kembali ya? Kita harus segera pergi dari sini sebelum peperangan," ujar Queen. Nick mendongak dan mendapati Queen yang sedang menatapnya.
"Maafkan aku," ucapnya sekali lagi.
"Ya aku memaafkanmu, dan kau bisa menjelaskan semua ini saat perjalanan menuju academy, eh atau langsung ke arena perang?" tanya Queen.
"Terserah kau saja. Terimakasih, Queen." Nick memeluk erat Queen. Queen tersenyum dan balas memeluknya haru.
Akhirnya ... ia bisa menyadarkan Nick dengan susah payah. Namun ... kepergian Veera masih membekas di dalam hatinya.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan itu mengalihkan mereka. Munculah seorang pria dengan rambut putih terang dari kegelapan.
"Kau sangat hebat Queen, kau memang putriku yang patut ku acungi jempol."
Astaga ...
Itu adalah ...
.
.
.
Satan?
__ADS_1
-¤-