
Happy Reading..
***
Tubuh Queen ambruk seketika, semua tim terkejut dengan ambruknya seorang Queen. Queen terlalu banyak bertarung, sekarang mereka sudah sampai di desa Floresteel yang dikenal suci. Bahkan mereka harus melaksanakan upacara kesucian dulu saat masuk.
"Queen! Bagaimana ini? Kita harus melaksanakan upacara suci, tapi Queen pingsan," cemas Veera.
"Aku punya ide!" Mereka semua menatap Nick yang sedang menopang tubuh Queen.
"Kita lewat pinggir saja." Nick tersenyum sinis. "Ma-maksudmu?" Atea melotot.
"Iya atau tidak?" Nick mengangkat salah satu halisnya dan masih dengan senyum liciknya.
"Jika kita dikira penyusup bagaimana? Kau tahu kan betapa suci dan ketatnya desa ini!" sahut Atea ketakutan. Veera menatap Ardolf yang berfikir keras.
"Aku setuju dengan Nick! Jika kita melaksanakan upacara suci terlebih dahulu maka itu akan membutuhkan waktu lama. Keadaan Queen juga tidak memungkinkan, dan kau tahu tentang berita-berita tentang upacara suci? Katanya itu tak pantas disebut upacara suci. Kau tahu kenapa?" Gantung Ardolf. Atea menggeleng.
"Karena mereka akan memilih salah satu dari kita yang akan dijadikan tumbal untuk dewa telaga suci." Atea melotot, ia baru tahu tentang info ini.
Veera tertunduk ketakutan, ia memegang lengan Ardolf dengan kencang. Veera sangat takut, desa ini tak bisa disebut desa suci. Tapi desa kutukan, pikirnya.
"Ayo kita berjalan ke perbatasan di utara, disana tidak terlalu ketat karena daerahnya kebanyakan tebing dan hutan yang tak terlalu lebat. Di perbatasan utara juga tidak ada penduduk yang menetap. Ayo!" Nick menggendong Queen dan langsung berjalan memimpin.
Mereka berjalan menuju perbatasan utara."Jika kita masuk ke sana, kita bakal jadi peri bukan?" tanya Atea.
"Aku ras peri!" Veera tersenyum. "Ya, kita pasti akan menjadi seperti peri," jawab Nick.
Mereka berjalan menuju perbatasan utara yang renggang penjaga itu. Tak memakam waktu lama mereka sampai di danau yang sangat besar.
"Kita akan masuk kesana lalu keluar dengan penampilan seperti peri! Ini adalah danau floresteel bagian utara," jelas Ardolf.
"Jadi kita mulai dari siapa terlebih dahulu?" tanya Atea. Veera dengan semangat mengacungkan tangannya. "Aku saja! Aku!" soraknya antusias. Dia berjalan dengan riangnya lalu menyeburkan diri di danau suci itu.
Perlahan tubuhnya kembali keluar dengan penampilan yang sangat berbeda, burung-burung menghampirinya dengan antusias. Tim Galaxyan terbelak melihat penampilan Veera yang begitu menakjubkan.

"Wow Veera kau sangat cantik dan menakjubkan!" puji Atea. "Nah sekarang siapa?" tanya Ardolf. Mereka tak menyadari Queen yang telah sadar dan pergi ke sisi danau yang satunya.
"Aku ! Aku!" Atea segera maju, ia tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seperti peri! Biasanya di tempat lahirnya dulu dia hanya mempunyai ekor.
Ia dengan perlahan masuk kedalam danau itu. Tim Galaxyan menatap danau itu penasaran, penasaran dengan dengan penampilan Atea.
Perlahan kepalanya mulai terlihat sampai semua badannya keluar dari danau itu. Mereka semua tak berkutip melihat perubahan drastis dari Atea.

"Atea? Ini benar-benar kau?" tanya Veera sembari melongo takjub lalu Atea hanya mengangguk lemah.
"Astaga kau sangat cantik!" puji Ardolf.
"Kita masuk bertiga saja!" usul Nick. "Agar lebih cepat," lanjutnya. Mereka mengangguk setuju. Ketiga pria tampan itu masuk kedalam danau itu. Dan setelahnya mereka keluar dengan penampilan yang tak kalah menakjubkan.
__ADS_1
(Ardolf)
Rambutnya berwarna merah dan biru sesuai kekuatan yang dimilikinya.

(Fath)
Fath berbeda dengan yang lain, ia memiliki rambut yang panjang layaknya para penghuni Desa Floresteel.

(Nick)
Penampilan Nick sangat berbeda, matanya berubah menjadi warna biru.

"Dan? Dimana Queen?" Pertanyaan yang dilontarkan Fath seolah menusuk jantung mereka. Benar! Queen dimana? Dia belum merendamkan diro di danau suci! Gawat.
Tiba-tiba mereka mendengar suara orang tertawa dari sebrang danau. Dengan sigap mereka berlari terbirit-birit menuju sisi danau yang satunya. Semoga saja itu queen, semoga.
Mereka sampai dan melihat siluet yang sedang tertawa sembari berputar-putar dikelilingi para burung dan hewan-hewan lainnya.

"QUEEN!" teriak Veera karena yakin itu pasti Queen. Dan yup, dia menoleh membuat semua orang membeku ditempatnya.

"Ayo lanjutkan perjalanan!" Namun teman-temannya hanya bisa diam dengan ekpresi wajah terkagum-kagum kecuali Nick yang sudah normal kembali.
***
Seorang prajurit daun disertai Elf temannya berlari menuju ruangan pelatihan yang sangat besar. Dia menunduk dihadapan seseorang.
"Panglima Virgin, ada penyusup yang menggunakan danau suci bagian utara tanpa sepengetahuan kita," lapor prajurit itu.
"Betul panglima!" Elf dengan rambut terirai panjang itu menimpali.
"Sialan! Dasar tidak becus! Bagaimana jika baginda raja tahu?! Kau mau jabatanku di turunkan hah?!" bentak Panglima Virgin.
"Sang Baginda raja memang sudah tahu," jawab Elf itu. Panglima Virgin melotot garang, perasaannya antara marah dan cemas.
Tiba-tiba seorang pelayan datang dan langsung menunduk, "Mohon maaf panglima. Baginda raja memanggil anda untuk segera kehalaman belakang kerajaan." Pelayan itu mundur setelah mengucapkan itu.
"Ya! Saya akan kesana," balas Panglima Virgin judes. Pelayan itu mengangguk. "Hamba izin undur diri panglima." Pelayan itu segera pergi meninggalkan panglima Virgin.
"Arrghh!" Panglima Virgin berteriak frustasi. Dia pun pergi dengan perasaan agak takut. Ia melewati berbagai lorong sampai akhirnya ia sampai di depan pintu gerbang itu. Pintu besar itu terbuka lebar memaparkan halaman yang amat luas.
Ia mentap ngeri sang baginda raja yang tengah membelakanginya. Panglima Virgin berlutut dengan cepat. "Hamba mohon ampun baginda." Mohon panglima Virgin. Si panglima dengan luka robek di pipinya dan panglima yang terkenal bengis itu mampu tunduk dihadapan sang baginda raja.
"Virgin! Saya kecewa!" Baginda Raja Tira memandang sendu panglima virgin. Namun pandangan itu berubah bengis saat teringat kembali kejadian penyusupan.
__ADS_1
"Kenapa?! Kan saya sudah bilang perketat lah penjagaan di hutan Floresteel bagian utara?! Kamu ini budek apa tuli sih?!" Baginda Raja Tira melotot garang. Ia sangat tak suka.
"Maafkan hamba, hamba janji tak akan mengulanginya lagi baginda!" Panglima Virgin terus meminta maaf dan tubuhnya bergetar hebat.
"Pokoknya saya tidak mau tahu! Kamu harus menangkap mereka semua! Bawa kehadapan saya! Lalu kau juga harus memperbaiki pertahanan hutan floresteel bagian utara! Kau tahu peluang besar bagi penyusup disana kan?! Cepat lakukan itu! Kalau perlu kerahkan semua prajurit untuk menangkap mereka! Cepat saya tak mau tahu!" Panglima Virgin mengangguk lalu ia membungkuk.
"Baik yang mulia." Panglima Virgin pergi keruangan pelatihan dengan perasaan yang campur aduk. Kali ini iya harus menangkap para penyusup itu.
****
"Semuanyaa!" Para prajurit daun, Elf pemanah, dan Para Peri Healer menatap panglima Virgin dengan tatapan kebingungan.
"Baginda raja Tira menyuruh kita untuk menangkap para penyusup itu! Semuanya ayo semua! Ikuti saya! Prajurit daun kalain membawa kuda! Sebagian dengan tameng dan pedang! Elf kalian menaiki burung elang Froresteel! Para peri bersiap untuk mengobati semuanya! Kira harus hati-hati karena kita tidak tahu berapa banyak dan seberapa hebat para penyusup itu!" jelas Panglima Virgin disahuti teriakan para prajurit.
"YHAAAA!"
***
"Tinggal ke hutan floresteel bagian barat kita akan sampai di kota fire blow menggunakan portal antar dimensi," ujar Ardolf.
"Tak kusangka kita dengan mudah telah mengambil kristal itu! Hahaha." Veera berucap girang.
"Tidak," sahut Nick misterius.
"Ada apa Nick?" tanya Queen. Nick tak menjawab lalu mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Pakai topeng kalian, dalam hitungan ketiga kita lari!" arah Nick. Mereka semua kebingungan namun hanya menurut.
"Satu .... "
Terdengar suara deruan kuda dan orang-orang berlari dari belakang.
"Dua .... "
Suara itu semakin mendekat disertai teriakan yang meneriaki mere 'PENYUSUP'.
"Tiga!" Mereka berlari sangat kencang tanpa mempedulikan tatapan orang desa yang kebingungan karena mereka berenam dikejar prajurit istana.
"Cepat! Go! Go! Go!" Mereka terus berlari.
***
Gawat! Mereka terkepung! Mereka tak menyadari kehadiran pasukan Elf yang menghadang mereka.
"Saatnya para wanita yang melawan," ucap Nick terang-terangan membuat ketiga wanita itu tercengang.
Sebelum para wanita memprotes, Nick, Ardolf, dan Fath keburu pergi menghilang.
Veera dengan rasa ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Queen dan Atea.
"Queen bagaimana ini?" Khawatir Veera.
"Kau bersembunyi saja di balik pohon itu. Serahkan ini semua pada diriku dan Atea." Veera mengangguk lalu bersembunyi di balik pohon dengan rasa takut-takut ia hanya bisa mengintip.
__ADS_1
"Saatnya dimulai," gumam Queen dengan seringaian.
***