Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
23. Pemanggilan Roh


__ADS_3

Happy Reading...


***


Queen menatap seksama pelajaran Mrs. Nafa, sedangkan Nick saat ini juga sama. Ia sungguh bersemangat dalam pelajaran ini.


"Jadi roh terdiri dari 10 level dan roh level 10 hanya bisa dipanggil oleh clan shadow .... " seketika Queen langsung menatap Nick dengan mata berbinar tapi setelah itu ia kembali menatap Mrs. Nafa.


"Dan roh hanya bisa dipanggil dengan simbol-simbol rumit. Lalu bisa jadi roh itu adalah diri kita yang lain, tapi itu biasanya hanya berlaku dalam sebuah segel. Jadi sekarang kalian buka buku pemanggil roh halaman 576 dan disitu ada mantra pemanggilan roh mungkin salah satu dari clan shadow akan mempraktikan? Oh ya! Nick kemari." Nick menatap Mrs. Nafa lalu mengangguk, ia maju kedepan dengan percaya diri.


"Oke perlihatkan roh yang bisa kamu panggil," ujar Mrs. Nafa.


Nick memejamkan matanya, mulutnya terus berkomat-kamit merapalkan mantra dengan seksama. Menurutnya ini sangat mudah, sejak kecil ia sering diajarkan mantra pemanggil oleh mendiang orangtuanya. Di lantai tiba-tiba muncul sebuah pola yang sangat rumit dan asap muncul dimana-mana lalu 7 sosok dengan kekuatan level 10 keluar dari pola rumit tersebut.


Semua murid tercengang, mereka menatap Nick dengan takut-takut. Yang dipanggil Nick adalah roh penyihir hitam. Nick yang merasa janggal pun langsung menyadarinya sontak ia memutuskan kontak dengan para roh itu, dan pada detik itu pula semua roh menghilang. Ada yang aneh ....


Kenapa Nick bisa memanggil roh penyihir hitam? Padahal sangat beresiko tinggi mengingat mereka musuh dari para kingdom. Mrs. Nafa melihat Nick dengan was-was.


"Sepertinya kau kecakpean. Queen antarkan Nick ke ruang perawatan." Mata Queen membola saat Mrs. Nafa mengatakan kalimat itu.


"Nggak! Aku kan bukan healer!" Sergah Queen. Mrs. Nafa menghembuskan nafasnya kasar.


"Hanya mengantarnya. Cepat!" Queen pun akhirnya pasrah dan ia pergi menuju ruang perawatan bersama Nick disebelahnya.


"Sakit apanya? Sehat gitu kok! Mungkin sakit jiwa kali!" umpat Queen pelan namun Nick mendengarnya. Nick bersikap tak acuh pada Queen.


Tak memakan waktu lama mereka pun sampai di ruang perawatan. Queen mencoba berkali-kali memanggil Mrs. Rin namun nihil tak ada sautan. Dengan berat hati ia yang akan mengobati Nick.


"Sialan! Ini semua gara-garamu!" kesal Queen. Sedangkan Nick hanya mendelik.


"Baik, duduk di ranjang!" Perintah Queen garang. Nick pun hanya menurut dan duduk di ranjang perawatan itu. Queen mendekat lalu melipat kedua tangannya di depan dada


"Jadi mana yang sakit?" tanya Queen. Nick menunjuk dadanya.


"Jangan bercanda! Sakit hati?!" Nick menggeleng masih dengan wajah yang amat datar. Queen menghembuskan nafasnya perlahan. Kini ia harus mencoba untuk lembut!


"Baiklah, dimana yang sakit?" tanya Queen lembut. Nick kembali menunjuk dadanya lagi.


"Sesak." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Queen menyentuh dada Nick perlahan.


"Disini?" Lalu Nick hanya berdeham bertanda iya. Queen menarik tangannya kembali lalu menatap manik milik Nick.


"Punya riwayat sakit asma?" Astaga, pertanyaan macam apa ini. Nick menggeleng membuat amarah Queen tersulut.


"Patah hati? Ada apa?" Nick kembali berdehem. Queen menyergit, Nick patah hati?

__ADS_1


"Teringat."


"Maksudnya?"


"Orangtua." Seketika seolah ada petir yang menyambarnya. Queen hanya terdiam, Nick merindukan orangtuanya?


"Kenapa?" Tanya Queen sekali lagi.


"Mereka yang mengajariku pemanggilan roh." Queen pun menunduk mengingat dirinya belum pernah bertemu dengan orangtua kandungnya. Queen mendongak dengan mata yang berkaca-kaca dan itu membuat Nick terkejut walau masih dengan wajah datar.


"Tenang, masih ada kami! Aku juga belum pernah bertemu dengan orangtua kandungku." Queen mengusap kasar air matanya.


"Kenapa?" tanya Nick dan Queen hanya menggeleng. Air mata terus mengalir deras. Hidungnya dan pipinya kini berwarna merah. Queen terus terisak karena mengingat surat itu.


"Mana gua tau sialan!" balas Queen masih dengan keadaan menangis.


Nick pun dengan sigap memeluk tubuh mungil Queen seraya berkata, "Jangan menangis." Queen pun membalas pelukan Nick dan ia masih terua terisak dalam tangisnya.


"Seorang putri tidak boleh menangis, karena air mata mu adalah mahkotamu," ujar Nick seraya mengusap puncuk kepala Queen. Tidak biasanya Nick seperti ini. Jauh dalam hati ia berkata.


Padahal aku yang sedih, kok jadi aku yang menenangkannya?!


***


Queen berjalan beriringan dengan Nick, mata Queen masih sembab mebuat para murid menatap heran kearah mereka. Kebetulan tadi bel pulang berbunyi keras dan Mr. Naoko menyuruh para murid untuk ke aula. Hari ini Dr. Anston Danely akan datang untuk mengenalkan alat Vanceli Sword pada para murid Fancy Academy.


Nick duduk di kursi tengah-tengah bersama Queen. Queen sempat mencari keberadaan teman-temanya namun nihil. Ia menatap Nick masih dengan mata yang sembab. Nick menghela nafasnya perlahan.


"Sudah jagan menagis lagi," kesal Nick. Menurutnya tadi adalah adegan yang merepotkan. Ia harus memeluk seorang 'Queen' untuk menenangkan gadis itu. Queen mengangguk lalu menatap kedepan podium yang sudah dihadiri oleh Mr. Naoko dan Dr. Anston.


"Queen?" panggil Nick di sela-sela pidato Dr. Anston. Queen menoleh seraya memiringkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Queen. Nick menatap manik ruby di depannya ini lalu mengangguk mantap.


"Dua hari lagi penobatanku." Queen terus menyimak apa yag diucapkan oleh Nick. Dua hari lagi memang penobatan Nick namun Queen bingung apa hubungannya dengan Queen? Apakah Nick ragu?


"Dan ada pesta dansa setelahnya." Queen menelan salivanya kuat-kuat. Ia tau apa yang akan dilakukan Nick sekarang. Pasti Nick akan mengajaknya berdansa kan?


"Pada saat itu aku akan mengajak Naomi berdansa. Tidak salah kan?" Queen terdiam, hatinya terasa teriris-iris oleh pisau tajam entah kenapa. Matanya mulai memanas namun sekuat mungkin ia coba untuk tak menangis. Sebenarnya ada apa dengan Queen? Mengapa dadanya sesak?


"Aku pikir kau menyukaiku," gumam Queen seraya menunduk. Nick memandang Queen keheranan.


"Menyukaimu? oh ayolah tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyukai wanita sepertimu kan? jadi bagaimana pendapatmu tentang rencanaku?" ujar Nick.


Queen terdiam lalu mendongak perlahan. Dadanya sangat sesak kali ini.

__ADS_1


"Ya-ya tidak salah kok!" sahut Queen gelagapan. Nick pun mengangguk dan mencoba fokus ke penjelasan Dr. Anston. Queen menunduk seraya meremas tangannya. Saat ini dadanya semakin sesak. Tapi apalah daya ... sebutir air mata lolos ke pipinya.


****


19.00 WXX


Queen merenung di depan sebuah danau. Cahaya bulan bersinar terang dan memantul di danau. Suara jankrik menambah suasana hangat malam ini. Queen sendiri bingung dengan apa yang dirasakannya.


Queen tadi siang bilang apa pada Nick? kata 'menyukaiku' langsung terlontar dari mulutnya.


Kenapa saat mendengar Nick yang akan berdansa dengan Naomi dadanya sangat sesak? Ada yang aneh dengannya akhir-akhir ini.


Kenapa tuhan menakdirkan dirinya untuk memasuki academy ini?


Queen tak dapat berfikir jernih sekarang. Entah dari mana seolah ada alunan musik di kepala Queen yang membuatnya bernyanyi. Mulut Queen mengalunkan musik yang menyayat hati.


Ku mengadu pada bulan, disetiap kehangatan malam.


Suaranya terdengar merdu dilengkapi dengan suasana malam hari. Ia juga bingung, dari mana ia mengetahui lagu ini?


***Merenungi segala impian


Dalam sunyi kukubur himpitan, menahan ribuan kepedihan***.


Matanya berkaca-kaca saat membacakan lirik demi lirik.


***Darah biru menjadi penopang, mencoba menaruh harapan.


Tatkala pergi meninggalkan angan


Melapuk dinding berduri


Tiada satu pun yang mengobati***


Queen mengusap air matanya lalu kembali melanjutkan lirik itu.


***Menelisik pengkhianat cahaya, siapa pencipta kegelapan?


Mengimbangi langkah penguasa, berlari kencang ke arah sinar terang***.


Queen menarik nafas sebelum melanjutkan satu lirik terakhir.


Menerpa sang keagungan jiwa ....


Setelah itu Queen menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan danau indah itu. Seseorang diam di atas pohon, dia menikmati setiap alunan lirik Queen seraya termenung.

__ADS_1


"Aku ... menyakitinya?"


-¤-


__ADS_2