Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
Bab 7 : Pemilihan senjata


__ADS_3

Happy Reading...


***


Pagi-pagi sekali Queen dan kedua temannya sudah berada di dalam kelas. Mereka tak sempat sarapan karena terlalu antusias untuk mendapatkan senjata.


"Kira-kira aku dapat apa ya?" Queen berfikir keras.


"Mungkin kau akan mendapatkan panah dewa! Uhh aku menyukai panah itu, tapi kayaknya Nick juga bakal punya kesempatan untuk mendapatkan panah itu," ujar Atea seraya cemberut tak suka.


"Hmm, kita lihat saja nanti. Tapi aku menginginkan pedang Flores. Pedang beracun! Aku menyukainya! Sangat-sangat menyukainya!" Veera berucap senang.


"Hm aku ... tidak tahu, aku ingin sekali sih yang berbentuk tongkat gitu," ungkap Queen.


Bel masuk berbunyi, semua murid masuk kedalam kelasnya masing-masing. Mr. Atiza memasuki kelas.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa Mr. Atiza.


"Pagi Mr. Atiza!" jawab semua murid. Mr. Atiza menatap semua mata yang mengarah keapada dirinya.


"Sepertinya kalian sudah tak sabar kan? Oke, ikuti saya!" seru Mr. Atiza kepada semua muridnya. Mereka semua mengikuti Mr. Atiza. Selang beberapa menit, mereka sampai di depan pintu emas yang sangat besar. Terlihat Mr. Atiza merapalkan mantra, mulutnya terus berkomat-kamit. Perlahan-lahan, pintu emas besar itu terbuka.


"Mari masuk," titah Mr. Atiza. Mereka segera mengikuti Mr. Atiza kedalam ruangan itu dan sampailah mereka di depan lorong-lorong penuh senjata.


"Baiklah, sihlakan cari senjata kalian. Lalu nanti saya akan mengetesnya!" teriak Mr. Atiza dan semua murid hanya mengangguk. Mereka berpencar ke berbagai lorong. Queen pergi ke lorong ke enam, hanya sendirian tentunya. Ia terus berjalan lebih dalam. Semakin dalam ia memasuki lorong, semakin kuat pula aura kekuatannya.


Queen terus berjalan, hingga akhirnya ia sampai di ujung lorong. Sesuatu bersinar disana. Cahaya itu ada tiga, nampak berputar-putar mengelilingi Queen. Dan cahaya itu pun masuk kedalan tubuh Queen.


"Mungkin yang tadi itu senjata ya?" tanya Queen pada dirinya sendiri.


Queen pun kembali ketempat Mr. Atiza menggunakan teleportasi.


***


"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Mr. Atiza. Semuanya hanya mengangguk sebagai tanggapan. Mereka semua kembali menuju kelasnya.


"Bagaimana? Senang bukan? Saya akan memilih beberapa siswa untuk menunjukan senjatanya. Yang di panggil harap maju. Delano , Ardolf , Fath, Nick, Veera, Atea, dan Queen!" Mr. Atiza berteriak kencang. Mereka semua maju kedepan.


"Delano tunjukan," titahnya dan Delano mengangguk, ia merapalkan sebuah mantra dan tiba-tiba satu cahaya muncul didepannya. Sebuah panah es legendaris dan panah aheria legendaris, itulah senjatanya. Semua orang hanya terbelak kaget melihat hal tersebut. Mr. Atiza nampaknya tersenyum senang.


"Oke, sekarang Veera!" Veera mengangguk senang. Ia merapalkan mantra dengan sangat teliti. Satu cahaya hijau terang muncul di depannya. Itu pedang yang diinginkannya. Ya, Pedang Folres. Semua murid pun nampak ngeri melihat pedang beracun itu.


"Oke, Atea gilaranmu!" Atea mengangguk. Ia membaca mantra yang ada diotaknya. Satu cahaya biru muncul di depannya. Trisula Aheria, itulah senjatanya. Senjata ini sangat hebat, senjata ini bisa membuat orang terkurung dalam penjara air selamanya, kecuali Atea sendiri yang melepaskannya. Mr. Atiza sangat takjub dengan senjata milik Atea.


"Fath, sihlakan!" Mulut Fath berkomat-kamit membaca mantra. Dua cahaya muncul didepannya. Pedang bayangan, dan Panah api hitam, itulah senjatanya. Semua murid memandang takjub kedua senjata itu.


"Wah hebat! Dua senjata! Baiklah giliranmu Ardolf!" Ardolf mengangguk. Ia membaca mantranya dengan sangat hati-hati. Dua cahaya merah dan biru muncul didepannya. Pedang Geond dan Panah lava legendaris adalah senjatanya. Mr. Atiza nampaknya sangat terkejut melihat pemandangan ini.


"Queen giliranmu!" Mr. Atiza tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"A-aku? Baiklah," Queen menutup matanya, ia membaca mantranya dalam hati. Tiga cahaya berbeda warna muncul didepannya. Silver, emas, dan biru. Tongkat bulan warna silver, tiga bola bulan berwarna emas, dan cambuk kristal biru, itu adalah anggotanya.


"Wow! Kita tunggu bulan purnama ya .... " Mr. Atiza tersenyum genit.


"SUDAH KUBILANG AKU BUKAN KETURUNAN DEWI BULAN!!" ketus Queen garang. Queen melotot tak suka.


"Baiklah-baiklah, Nick sekarang giliranmu!" Nick tersenyum, semua kaum hawa berteriak histeris melihatnya. Ya kecuali Queen, Veera, dan Atea sih.


Nick nampak berkomat-kamit merapalkan mantra. Bibirnya yang merah dan kadang pink itu menambah pesonanya. Lima cahaya hitam muncul di depannya. Panah Dewa, Pedang Kegelapan, Pedang Xenophon, Panah Xenophon, dan Bola Bayangan. Itu adalah senjatanya. Mr. Atiza terbelak.


"Wah hebat! 5 senjata sekaligus. Aku menyukaimu Nick!" girang Mr. Atiza. Queen menatao Mr. Atiza horor.


"Dasar homo!" ketus Queen kesal. Setelah mengucapkan itu Queen pergi menuju kursinya. Mr. Atiza hanya mendelik mendengarnya.


"Oke, kalian bisa kembali ketempat kalian!" ujar Mr. Atiza dan mereka segera duduk di bangkunya masing-masing.


"Sebelum istirahat, saya akan membagikan kelompok!" ucapan Mr. Atiza membuat semua murid ricuh dan beribisik-bisik.


Pembagian kelompok terus berlanjut, sampai akhirnya ....


"Kelompok Galaxyan, yaitu


-Nickole Ainsley Xenophon


-Ardolf Edwin Salvador


-Queen Natto Clara Moonela


-Veera Floresia Tavarie


-Atea Geofry," ujar Mr. Atiza dan Queen terbelak mendengar hal itu, mana mungkin ia satu kelompok dengan si iblis jelek?


"Oke, semua kelompok sudah terbagi, LONTSEFLOREN!" Mereka semua nampak duduk sesuai kelompoknya masing-masing. Dengan kursi yang bulat tentunya.


"Oh ya, dan besok juga nampaknya ada pemilihan lagi," ucap Mr. Atiza serius. Semua murid menatap Mr. Atiza terkejut.


"Pemilihan hewan pendamping, semoga berhasil!" Mr. Atiza pun menghilang misterius. Satu kelas ricuh karena hal tersebut.


"Mengapa aku harus bernasib sial seperti ini!" Queen menghembuskan nafasnya kasar.


"Eh apa kalian berfikir akan melaksanakan misi?" tanya Atea serius. Satu kelompok menatap Atea.


"Biasanya jika sudah dibagikan kelompok, kita akan diberi misi. Dan tentunya akan mendapatkan nilai tambahan," jelas Atea. Semua anggota mengangguk-ngangguk karena mulai sefemikiran.


"Nah, maka dari itu kita harus berlatih!" usul Veera sambil tersenyum.


"Hm, bagaimana jika hari libur kita berlatih? Tapi dimana?" tanya Ardolf bingung.


"Aku tahu dimana, liat saja nanti hehe. Kalian akan terkejut!" sahut Veera bersemangat.

__ADS_1


"Lebih baik aku makan." Queen berucap datar.


"Dasar perut karet, ngomong-ngomong soal perut..aku jadi ingat kejadian kemarin, mana mungkin aku itu disebut bantet! Dekil! Gila memang," kesal Veera seraya cemberut.


"Siapa yang mengataimu?" tanya Fath mulai penasaran.


"Naomi, kau tahu kan Fath, waktu di SMA Hazel dia selalu bersamaku dan Queen, tapi sekarang dia berubah. Dia mengataiku dengan kata-kata kotornya!" jelas Veera pada Fath.


"Anak itu memang aneh!" sahut Fath. Lalu Ardolf menatap Fath.


"Dan sedikit tidak sadar diri," timpal Ardolf berkata jujur membuat Veera tertawa terbahak-bahak.


"Dan dia tergila-gila pada Nick!" Queen menunjuk Nick. Nick terbelak kaget.


"Maksudmu?" tanya Nick.


"Dia berpenampilan seperti itu demi dirimu, begitupun Sena dan Lolita, tapi Sena dan Lolita melakukan hal seperti itu demi memikat Fath dan Ardolf. Aku bisa membaca auranya. Dia selalu memberitahuku lewat sms. Katanya kau memojokan Naomi ke tembok, dia bilang kau memberi tahu namamu padanya, dan dia juga bilang bahwa dia menyukaimu," jelas Queen Panjang lebar.


"Hah? Yang benar saja? Tapi body-Nya oke juga," kekeh Nick.


"Yang seperti apa?" Veera bertanya.


"Seksi," Ucap Nick dengan wajah tanpa dosa.


"Dasar mesum!" ucap Veera, Atea, dan Queen.


"Hei Queen, kau mengatainya mesum. Bukankah kau kemarin kembaca artikel yang matap-mantap," ungkap Veera polos.


"Mana ada! Aku kemarin membaca buku!" kesal Queen dan ia menatap Veera tak suka.


"Oh, mungkin itu Atea!" seru Veera dan Atea yang sedang makan diam-diam pun tersedak.


"Yang benar saja! Kemarin aku menyelesaikan proyek sejarahku!!" sergah Atea tak terima lalu Veera mengerucutkan bibirnya.


"Oh, mungkin saja aku!" serunya bersemangat dan Veera mengangguk-anggukan kepalanya.


Para lelaki terbelak kaget mendengarnya.


"Tapi kan kemarin aku baca buku dongeng, terus siapa yang meninggalkan artikel yang mantap-mantap itu?" tanyanya kembali. Semuanya kembali tenang.


"Tupai bercula satu," ucap Queen dengan mendelik.


"Ataupun buaya berbulu domba!" Veera mengangguk-angguk.


Semua anggota hanya menatap datar Veera. Veera ini memang sangat polos.


"Aneh!" gumam semua anggota kecuali Veera.


"Hm, besok..kalau bisa kalian bawa photo kalian pas masih kecil, bagaimana?" tawar Veera.

__ADS_1


"APA?! TIDAK!" sergah semuanya kecuali Veera.


-¤-


__ADS_2