
Happy Reading...
***
Queen kembali dengan ekspresi datar dan memandang setiap orang dengan tatapan tajam. Queen bukan cewek lemah yang ditindas hanya diam. Queen pemberani, ia tak akan lemah. Terlebih Lagi Queen telah bertemu dengannya 'kan?
Queen menghembuskan nafasnya kasar ketika tau Naomi mendapat pelatihan khusus bersama Nick. Dan sekarang Queen harus mengantarkan buku sejarah tebal kepunyaan Mr. Naoko pada Nick dan Naomi. Ia berkali-kali mengucapkan doa agar terjauh dari sikap kasar Nick. Ia tak boleh seperti ini.
Langkah kakinya terus menggema disetiap koridor yang agak sepi. Maklum, sudah mau masuk. Ia sampai di depan pintu besar dengan ukiran bulan sabit berwarna silver. Ia menghela nafas pelan lalu mengetuk pintu.
"Masuk." Queen masuk setelah mendapat arahan dari dalam. Ia terpaku ketika melihat Nick dan Naomi bercanda ria. Lalu ketika Naomi cemberut ...
Nick mengecup keningnya.
Tidak-tidak! Queen harus mengontrol kan emosinya untuk saat ini. Ia berdeham untuk menyadarkan kedua insan itu bahwa Queen ada disitu. Masa iya Queen datang hanya untuk menjadi nyamuk? Ogah!
Nick dan Naomi menoleh datar.
"Buku dari Mr. Naoko." Queen berucap dingin. Nick berdiri dan berjalan datar menuju ke arah Queen. Ia menatap tajam manik sapphire milik Queen.
"Kenapa Mr. Naoko menyuruh wanita sialan sepertimu? Cuih!" Queen tersentak ke belakang. Apa katanya?
"Lagi pula dengan adanya dirimu hanya membawa masalah saja." Nick maju sedangkan Queen mundur ketakutan. Tatapan itu ... sungguh menyeramkan. Nick tertawa renyah.
"Cuih! Pergi sana! Aku muak melihat wajahmu! Kau benar-benar wanita yang paling tak berguna dan Paling kubenci!" bentak Nick. Queen menunduk, Air matanya berhasil lolos. Kenapa ia tak bisa menahan tangisan itu? Mengapa?
Queen mendongak dengan air mata yang terus jatuh lalu Queen tersenyum hampa.
"Kau tahu Nick ... sepertinya kata-katamu benar. Ka–kau dan hiks semua murid disini sama saja! Tidak berfikir tentang perasaanku?! A–aku kecewa Nick! Kau hiks pikir bisa memainkan perasaanku seperti ini?" Nick tertawa lalu menyunggingkan senyum sinisnya.
"Kau pikir aku peduli? Tidak!" sahut Nick tak terduga. Queen menatap Nick tajam lalu menghapus air matanya.
"Dan satu hal yang perlu kau ketahui ... kau membenciku kan? Jika kau membenciku maka ... AKU JUGA MEMBENCIMU NICK!"
***
Queen berlari terus-menerus melewati koridor yang begitu sepi. Tujuannya sekarang adalah ruangan tersembunyi di bawah tanah. Hanya Eveline yang bisa ia jadikan sandaran. Veera dan Atea pasti sedang belajar, dan Queen tak enak masa datang-datang dengan keadaan kacau seperti ini? Bisa gawat jika ia dihujat lagi.
Queen sampai dan secara otomatis lorong itu kembali muncul lalu menuntun Queen menuju Eveline. Terlihat Eveline yang sedang membaca buku di kursi goyang miliknya. Queen berlari kearah Eveline dan langsung berhambur kepelukannya.
Eveline terkejut tapi ia segera menetralkan ekpresinya. Ia paham, dan ia mengusap rambut Queen perlahan. Queen terus terisak dipelukan Eveline.
"Ada apa sayang?" tanya Eveline. Queen mendongak dengan mata, hidung, dan pipi yang merah. Ia menarik nafasnya dalam sebelum bercerita.
"Aku sesak ... entah kenapa ketika melihat Nick dengan Naomi aku sangat kesal, dan ketika Mick membentakku rasanya menyakitkan." Eveline tersenyum tulus lalu mencubit hidung merah Queen.
"Itu tandanya kau cemburu!" sahut Eveline membuat Queen terdiam. Masa iya sih dia cemburu? Tapi benar juga, rasanya sakit ketika melihat Nick dengan Naomi.
"Dan ... cemburu itu tanda cinta! Hayo anak mama sudah main cinta-cintaan nih?" goda Eveline. Queen mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Aku tak mungkin jatuh cinta pada manusia semacam Nick! Aku membencinya titik!" kesal Queen, dan lagi-lagi Eveline tersenyum menggoda.
"Really?" Queen mengangguk mantap. Queen tak mungkin jatuh cinta pada Nick. Toh Nick membencinya dan Queen pun akan membalasnya dengan benci juga.
"Kalau gitu kenapa kamu cemburu?" Queen berkedip.
"I–tu .... " Queen mendadak gugup begini. Eveline tertawa renyah karena tanggapan Queen. Dengan sikapnya yang seperti ini sudah terlihat jelas kika Queen menyukai Nick.
"Tapi mama ... dia jahat." dan sekarang Queen malah kembali menangis mengingat kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Nick. Eveline kembali memeluk Queen.
"Mau mama nyanyikan sebuah lagu?" Queen menggangguk masih dengan keadaan terisak.
Ku mengadu pada bulan, disetiap kehangatan malam.
Lagi-lagi lagu itu kembali dialunkan .... namun oleh Eveline. Queen pun menatap Eveline seraya menghayati setiap liriknya.
*Dalam sunyi kukubur himpitan, menahan ribuan kepedihan.
Merenungi segala impian*
Eveline memejamkan matanya lalu kembali melanjutkan lirik itu.
*Darah biru menjadi penopang, mencoba menaruh harapan.
Tatkala pergi meninggalkan angan*
*Melapuk dinding berduri
Tiada satu pun yang mengobati
Menelisik pengkhianat cahaya, siapa pencipta kegelapan?
Mengimbangi langkah penguasa, berlari kencang ke arah sinar terang*.
Eveline manarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan lirik terakhir.
Menerpa sang keagungan jiwa ....
Eveline membuka matanya lalu menatap mata Queen lekat.
"Mama tahu darimana lagu itu?" tanya Queen heran.
Eveline tersenyum lalu berkata, "Itu lagu yang mama ciptakan. Kau suka?" Queen mengagguk senang.
"Dan ketika aku sedih ... lagu itu seolah datang difikiranku lalu mulutku bergerak otomatis mengalunkannya!" ujar Queen. Eveline hanya tersenyum sebagai tanggapan.
"Iya ... kau sangat mirip dengan mama. Dulu mama menciptakan lagu itu untuk menenangkan mama. Dan kisah cintamu sama persis dengan mama dan papa."
"Tapi mama ... aku juga benar-benar ingin bertemu dengan papa. Aku ingin keluarga ini utuh dan bisa bahagia, dan aku benar-benar tak mengerti dengan identitasku, mama, ataupun papa," ujar Queen sedih. Eveline tersenyum getir melihat anaknya tumbuh dengan kurang perhatian dari orangtua kandung.
__ADS_1
Kenapa Queen begitu tegar? Tapi lemah jika sudah berurusan dengan Nick. Mengapa? Apakah ada yang salah?
"Queen sayang ... mama tau di Academy ini para murid selalu menghujatmu. Kau jangan menunjukan bahwa dirumu sedih, sakit hati, dan patah semangat. Tunjukan ke mereka semua bahwa kau bisa bahagia, bahwa kau itu hebat! Buktikan dengan senyuman, angkat tengkukmu lalu tampakkan senyum indahmu!"
****
19.25 WXX
Sinar rembulan menerangi siluet seorang gadis yang sedang berdiri di genteng academy. Ia terus menatap bulan dengan sendu. Dia Queen, gadis itu hanya merenung dan terus mengadu kepada bulan. Kenapa hidupnya harus seperti ini? Kenapa ia harus dilahirkan? Kenapa ia harus memiliki kekuatan ini? Kenapa ia tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya? Kapan ia akan utuh bersama keluarganya? Itulah pertanyaan yang terus terlontar dari mulut kecil sang gadis.
Queen menghela nafasnya gusar lalu ia memeluk lututnya. Jika ia mekihat bintang pikirannya menjadi tidak fokus. Ia terus mengingat kenangannya bersama Nick. Disaat Nick ... menyebutnya bintang yang paling terang dan mungkin sekarang Queen adalah bintang yang paling redup.
Queen tersenyum hambar meratapi nasibnya yang seperti ini. Tapi Queen masih bersyukur karena diluar sana masih banyak yang lebih menderita darinya.
Queen berdiri lalu mnepuk-nepuki roknya agak kotor. Ini sudah malam dan sebentar lagi jam tidur. Queen juga melewatkan jam makan malam karena hari ini Queen benar-benar tak memiliki nafsu makan sama sekali.
Namun hal yang tak terduga terjadi. Saat kakinya ingin melangkah, ia tak sengaja tergelincir dan tubuhnga jatuh melayang menuju tanah. Queen menggeleng cepat, tidak-tidak! Tubuhnya akan terjatuh, dan ketinggianya sungguh tak terkira.
Akh sial! Sial! Kenapa mode sayapku tak muncul saat seperti ini?! Kenapa sihirku tak berfungsi!! Siapapun tolong aku.
Queen menutup matanya takut. Telah berakhir hidupnya, kenapa kematiannya sungguh cepat? Queen sungguh putus asa. Ia tak akan selamat dalam ketinggian seperti ini.
Namun setelah beberapa saat tidak terjadi apa-apa padanya. Ia pun membuka mata, jantungnya berpacu kencang. Saat ini dirinya diselamatkan oleh seorang pria dengan sayap hitam.
Cahaya rembulan bersinar terang dan Queen melihat jelas wajah pria itu. Jantungnya tambah berpacu kencang. Dia ....
.
.
.
Nick.
Queen diturunkan dipermukaan tanah. Beberapa kali ia menelan salivanya, tadi itu benar-benar sangat membuat jantungnya bekerja cepat. Nick menatap Queen datar.
"Sama-sama dan sampai jumpa." Baru saja Queen ingin mengucapkan terimakasih ... si pria menyebalkan itu telah duluan menyebutkan 'sama-sama' dan pergi begitu saja.
Meski begitu, tadi adalah pengalaman yang sangat ....
.
.
.
Mendebarkan.
-¤-
__ADS_1