
Happy Reading...
****
"REZZZZ!!"
Ledakan yang tadi itu benar-benar sangat dahsyat. Yang lainnya pun terpental jauh beberapa meter.
Queen berlari kearah Rez yang sudah terkapar ...
Tanpa kaki.
"Astaga Rez!" Veera berteriak histeris ketika melihat keadaan Rez yang begitu mengenaskan.
"Rez? Are you okay?" tanya Queen yang melihat Rez menutup matanya rapat-rapat.
Hening.
Tidak ada jawaban sepatah kata apapun. Villia mendekat dan mengecek nafas serta bagian tubuh Rez yang masih utuh.
"Nafasnya melambat, detak jantungnya kian melemah! Bagaimana ini?" Villia nampaknya sangat khawatir dengan keadaan ini.
Queen berbalik, melotot marah kearah Zacheus. Zacheus mengangkat salah satu halisnya lalu tertawa kesenangan.
"Kau tidak akan bisa melawanku, bocah!" tukas Zacheus tersenyum remeh. Queen mengepalkan tangannya kuat-kuat. Aki-aki tampan itu harus diberi pelajaran saat ini.
"Aku akan menggunakan sihir dan berbagai elemen untuk menyerangnya!" kesal Queen. Amarahnya kini kian menjadi-jadi.
"Keparat Kau! Aku tak akan memaafkanmu!" teriak Queen murka. Ia melesat jauh dengan pedang bersimbol bulan sabit yang entah sejak kapan ada ditangannya.
***TRAANGG!!
STTTT!
WUSHH***!!
Tongkat sabit milik Zacheus terlempar jauh karena serangan Queen. Queen tersenyum sinis lalu melesat menangkap tongkat sabit milik Zacheus. Dipatahkannya tongkat itu oleh Queen.
Zacheus menggeram marah karena tongkatnya sudah dipatahkan. Tetapi ... dia tersenyum remeh kembali. Bukankah sihirnya juga sangat besar?
"Kau tidak akan PERNAH mengalahkan ku!" teriak Zacheus seraya melemparkan berbagai bola api hitam kearah Queen. Queen dengan lihai menghindar.
Namun ia lengah sesaat dan salah satu bola api hitam itu mengenai bahunya.
"Aakhh!" Queen memekik kesakitan dikala api hitam itu terus merambat kelehernya.
"Tak bisa kubiarkan!" Delano berlari dan melemparkan bola air suci kearah Queen. Seketika ... api hitam itu padam.
Queen mengusap-usap bahunya yang masih agak sakit lalu kembali bangkit.
"Kita harus menyerangnya bersama-sama. Para gadis sedang mengobati Rez disana. Ayo, Queen!" Delano berucap semangat. Queen mengangguk lalu menggunakan serangan kombinasi bersama Devano.
Satu kilatan cahaya melesat jauh dan mengenai bahu Zacheus. Lalu tidak hanya itu, kilatan cahaya lain kian berdatangan dan membuat Zacheus agak kewalahan.
"Tak akan kubiarkan kau hidup tenang! Akan kubuat tubuhmu hancur sebagaimana kau membuat tubuh temanku hancur! Zacheus keparat!" Queen terus mengumpat kesal seraya menembakan berbagai kilatan cahaya.
"Kupastikan kau kalah!" Kini Delano yang berteriak. Delano dengan lincah membuat gerakan lambang aheria. Cahaya muncul dan bola-bola air yang diciptakan dari lambang aheria milik Delano. Bola air itu terus melesat dan mengejar Zacheush tanpa henti.
Queen mengubah senjatanya menjadi panah cahaya dan mulai menembakan anak panah itu kearah dimana Zachrus berlari.
Stt!!
Satu anak panah berhasil mengenai kakinya sehingga membuat Zacheus terjatuh dan tertembak banyaknya bola-bola air.
"Akhh!! Bocah ingusan, akan kubunuh kalian semua." Zacheus berdiri dan mengeluarkan aura gelapnya. Queen dan Delano mundur beberapa langkah, bersiap untuk serangan yang akan diluncurkan Zacheus.
"Terima ini!" Sambaran petir hitam merambat ke segala arah. Queen tersentak lalu tersambar beberapa kilatan petir kecil. Delano menghindar dan bersembunyi dibalik batu besar.
"Akh!" Atea memekik kesakitan. Bahkan para gadis yang sedang mengobati Rez pun terkena imbas dari serangan yang mulus diluncurkan Zacheus.
Queen memegangi tubuhnya yang kesakitan. Tangannya mengepal kuat, bersiap untuk melawan Zacheus dengan tenaga yang tersisa.
"BIADAB! AKAN KUBUNUH KAU ZACHEUS!" Queen tersentak karena mendengar teriakan seseorang. Ia mendongak dan menyipitkan matanya ketika seorang gadis meluncurkan ribuan tanaman beracun berwarna hitam pekat.
Astaga!
Itu ... Veera.
"VEERA!" Queen melotot kaget karena Veera nampak kehilangan kendali. Queen menoleh dan mendapati Villia yang sedang terisak. Queen berlari kecil menghampiri Villia, Atea, dan tubuh Rez yang terkapar. Ia membiarkan Veera dan Delano yang menyerang Zacheus.
Queen terhenti dan menatap sendu tubuh Rez. Sepertinya ... tubuh Rez terkena sambaran petir.
"Rez?" Queen bertanya dengan nada yang amat lemah. Ia mendekat lalu berjongkok didekat Rez.
"Rez?" Ia memanggil Rez lagi dan lagi.
Queen menatap Atea dan Vilia dengan tatapan meminta penjelasan. Kenapa Rez tidak bergerak? Vilia menggeleng lalu memeluk Atea seraya terisak.
"REZ! Tidak-tidak-tidak!" Butiran air mata keluar membasahi pipi Queen.
"Rez! Buka matamu!" Queen semakin menjadi-jadi. Ia menggoncangkan tubuh tanpa kaki itu.
"Rez bangun! Bangun! Please bangun! Kita adalah sahabat! Kita adalah sahabat! Kita harus berhasil dan harus utuh! Kita akan mengalahkan kejahatan bersama-sama! Rez ayo bangun! Bangun!!" Queen terus menggoncangkan tubuh Queen.
__ADS_1
"HIAA! KAU HARUS MATI ZACHEUS KEPARAT! MATI-MATI-MATI! KEMATIAN DIBALAS KEMATIAN!" Disisi lain ... Veera terus mengumpat seraya melontarkan berbagai tumbuhan beracun.
"MATI SAJA KAU!" Delano menghunuskan pedangnya.
Trangg!!!
Suara pedang saling beradu. Dari mana munculnya pedang itu? Kenapa Zacheus memiliki pedang?
"Kau meremehkan sihirku ya, bocah?" Zacheus tersenyum sinis lalu menendang Delano sehingga tubuhnya terlempar jauh.
"Sial!" Delano mengumpat lalu membuang ludahnya sembarang.
"ZACHEUS HARUS MATI!" Veera memukul tepat di wajah Zacheus. Pedangnya ia tendang sehingga pedang milik Zacheus itu melambung dan jatuh ke tanah.
"Mati! Mati! Mati!" Veera melempar berbagai duri hitam beracun. Penampilan Veera juga sudah berubah seperti saat ia mengamuk di Floresteel.
Delano tersenyum senang lalu membantu Veera untuk melawan Zacheus. Tidak ada kata ampun baginya. Rez telah tiada dan pembunuh Rez juga harus tiada. Bukan begitu?
Delano membaca mantra dan mulai melakukan sihir andalannya.
"Aheria Fortex Dragon." Tanah tiba-tiba berguncang. Air menyembur kemana-mana dan membentuk sebuah monster besar seperti naga air.
"Inilah yang disebut ... pengawal seorang pangeran." Senyum sinis terukir di wajah tampannya. Ia berjalan maju dengan naga air dibelakangnya.
"Ayo Fortex! Serang aki-aki sialan itu tanpa ampun!"
Fortex tersenyum sinis lalu bergumam, "Yeah, tanpa ampun."
Fortex menyemburkan nafas air beracunnya. Zacheus memekik kesakitan dikala nafas beracun itu mengenai pergelangan tangannya.
"Bocah keparat!! Akhh!!" Ia terus memekik kesakitan karena nafas beracun itu.
"Terpaksa aku akan memanggil patnerku!" Zacheus memejamkan matanya lalu angin berhembus kencang.
Queen tersentak dikala pipinya berdarah karena ... goresan angin.
Seekor elang besar dengan lambang petir ungu di lehernya perlahan turun ke tanah. Zacheus tersenyum lalu mengelus-ngelus patnernya itu.
"Bagaimana? Punyaku pasti lebih kuat!" Zacheus nampak membanggakan patner atau hewan pendampingnya itu.
"Hm? Justru lebih kuat punyaku!" Devano mencoba untuk menyulut emosi Zacheus.
"Punyaku! Lihat saja! Ayo serang mereka, Cairo!" Cairo memekik pertanda 'baiklah'.
Pertarungan antara Fortex dan Cairo sangat sengit. Mereka bisa dibilang imbang. Delano menggeleng tak ingin menyerah. Ia membaca mantra dan seketika tubuh Fortex membesar.
Disisi lain...
"Sudah," balas Ardolf seraya tersenyum senang.
***Brukk
Bughh
Rwarrr***
"Suara apa itu?" tanya Fath yang baru saja datang. Ia celingukan keheranan. Nick dan Ardolf menoleh kearah Fath.
"Hm, sepertinya ... ayo cepat ikuti aku!" Ardolf berucap panik. Mereka bertiga berlari menyusuri berbagai koridor di bangunan besar ini.
"Astaga!" Ardolf menganga seraya menatap kaca besar di depannya.
"Itu adalah naga legendaris milik kerajaan Aheria dan yang satunya adalah hewan pendamping milik Zacheus si anak buah Scarlett," ujar Ardolf terkaget-kaget.
"Kita harus cepat melakukan upacara pembangkitan satan! Mereka akan sampai kemari lebih cepat. Ayo semuanya bersiap! Panggil Naomi dan yang lainnya juga," kata Nick sarkas. Ia berjalan terburu-buru menuju ruangan rahasia di tengah bangunan ini.
"Akan kupastikan aku mendapatkan kekuatan besar itu! Pasti."
****
***DUAGHH!!
DUAARR!!
BOAMM***!!
Cairo tumbang karena serangan Fortex yang bertubi-tubi. Zacheus mengacak-ngacak rambutnya bingung.
"Sialan! Akan kubunuh kalian semua!" Zacheus membalas serangan dari Delano dan Veera. Fortex tak diam saja, ia juga terus menyemburkan nafas beracun miliknya.
"Akhh!" Zacheus terpental beberapa meter. Veera berlari dengan posisi siap menusuk jantung milik Zacheus.
Jlebb!!
Tidak.
Pedang itu tak mengenai jantung Zacheus namun malah mengenai burung gagak.
"ASTAGA!" Veera benar-benar terkejut dikala seseorang menendang punggungnya.
"Kau pikir aku lemah? Sama sekali tidak!" Saat Zacheus akan melontarkan petir kegelapan ... ia malah terpental jauh karena pelindung di tubuh Veera.
"Kau tak akan bisa melukai anakku!" Seorang wanita bak dewi hadir. Matanya menyala terang dengan tongkat bunga di tangannya.
__ADS_1
"Matilah kau dan kumasukan kau kedalam jurang neraka!"
Seketika Zacheus berteriak histeris. Ia meronta-ronta kesakitan. "Tidak! Ampunilah saya Dewi Hera! Tidak!" Zacheus terus menggeliat bagaikan ulat panggang.
"Tidak! Saya tidak ingin mati! Jangan kirim saya ke jurang neraka! Tidak! Jangan bunuh saya arghh!!" Perlahan tubuhnya memudar menjadi abu.
Angin berhembus membawa abu itu. Zacheus ...
Telah mati.
Veera mengontrol nafasnya yang memburu. Ia sangat kaget akan serangan mendadak tadi.
"Hei? Ayolah bangun," ucap Dewi Hera seraya mengulurkan tanganya untuk membantu Veera.
"Terimakasih. Kau siapa?" Veera bertanya heran pada Dewi Hera.
"Aku? Ibumu," balas Dewi Hera seraya tersenyum simpul. Veera berkedip beberapa kali. Apa katanya? Ibu?
"Oh ... jadi Dewi Hera itu yang ini ya?" Veera memiringkan wajahnya lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Maaf," ucap Dewi Hera sembari menunduk sedih.
"E-eh?"
"Maaf baru menemui dirimu nak." Dewi Hera langsung memeluk Veera dengan erat. Queen tersenyum dari kejauhan, Queen tau perasaan Veera sekarang.
Delano berjalan kearah Queen.
"Jadi ... Veera adalah putri Dewi Hera yang ditugaskan menjaga keturunan goddes? Aku curiga kalau—" Sebelum Delano mengatakan kata selanjutnya, Queen langsung menginjak kakinya kencang.
"A-aw! Sakit tahu! Iya aku mengerti. Tapi bagaimana dengan Rez sekarang? Bulan purnama itu besok kan?" Delano bertanya sedih.
"Kalian bisa menghidupkannya kembali." Mereka berempat tersentak lalu menoleh ke sumber suara.
"Tapi ... dengan berarti hanya ada dua orang saja yang boleh pergi ketempat Nick berada."
"Queen dan Veera. Karena kalian adalah anak dari Dewi ... maka kalianlah yang pergi. Jikalau Delano ikut itu akan membahayakan, mengingat Delano adalah pewaris tahta dari Aheria Kingdom," ujar Dewi Hera serius.
Vilia menyergit heran.
"Loh? Dewi?" Sebetulnya Vilia tidak mengerti apapun.
"Yap, nanti kalian tahu sendiri. Sekarang ... Atea, Vilia, dan Delano bawa Rez. Kalian ikuti saya, Queen dan Veera ... kalian harus pergi sekarang. Ini sudah hampir malam, tepatnya jam lima sore." Queen dan Veera mengangguk lalu berlari menjauh dari kerumunan.
"Perkiraanmu ... kita sampai disana jam berapa?" tanya Queen. Veera menoleh.
"Setengah tujuh!"
"Kita harus cepat, aku takut mereka sedang melakukan upacara pembangkitan sekarang!"
"Ya kau benar, Queen! Ayo." Mereka melesat bagaikan ninja. Mereka harus sampai ke tempat Nick tepat waktu. Mereka tak ingin Satan bangkit sebelum mereka sampai.
"Kita pakai pelindung sihir agar tidak terkena serangan monster kelas bawah! Itu kan mempercepat kita menuju tempat Nick!" Queen berusul bijak. Veera mengangguk dan mengikuti usulan dari Queen.
Mereka membentuk pelindung agar aman. Queen tersenyum senang karena sebentar lagi mereka akan menyadarkan Nick dari kesesatan dan kembali ke jalan yang benar.
Veera terus melesat dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apakah hari ini saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku pada Ardolf? Sudah lama rasanya aku memendam perasaan ini," gumam Veera sedih. Ia tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya pada Ardolf. Ia tahu ... Ardolf tak mungkin menyukai perempuan seperti dirinya.
***
Nick berdiri di depan sebuah perapian. Api hitam-merah itu terus berkobar sebagai tanda kehormatan bagi Satan.
Nick terus menaburkan darah monster kedalam api besar itu. Berharap ... peti coklat di depan perapiannya terbuka. Mulutnya berkomat-kamit merapalkan mantra pembangkitan.
Ardolf, Fath, Naomi, Sena, dan Lolita berjejer mengelilingi perapian disertai lilin di setiap tangan mereka.
"Bangkitlah, bangkitlah, ciptakan dunia dengan penuh kegelapan dan keabadian. Bangkitlah dengan kehancuran dimana-mana, bangkitlah dengan kekuatan dasyat. Bangkitlah, bangkitlah, hancurkan kedamaian, bantailah seluruh kingdom."
"Bangkitlah, bangkitlah, ciptakan dunia dengan penuh kegelapan dan keabadian. Bangkitlah dengan kehancuran dimana-mana, bangkitlah dengan kekuatan dasyat. Bangkitlah, bangkitlah, hancurkan kedamaian, bantailah seluruh kingdom."
Nick terus mengulang kata-kata itu.
"Bangkitlah! Bangkitlah! Kegelapan bangkit dan kedamaian lenyap!" Ia menyayat tangannya lalu tetesan darah miliknya ia tuangkan kedalam api besar itu.
Lilin yang sebelumnya mati mendadak menyala denga api hitam.
Satu detik ...
Dua detik ...
Tiga detik ...
Hening.
Tidak terjadi apa-apa.
Suara langkah kaki menggema di koridor bangunan besar itu.
"HENTIKAN!"
-¤-
__ADS_1