Princess Of The Moon Goddes

Princess Of The Moon Goddes
Bab 16 : Antara Hidup Dan Mati


__ADS_3

Happy Reading...


"Aku dimana?" Queen melihat sekitarnya bingung. Ia berada di kebun bunga yang sangat indah.


"Hahahaha." Queen tersentak dikala mendengar tawa anak kecil. Ia dengan siaga melihat keadaan sekitar. Siapa tahu orang itu jahat kan?


"Tidak perlu takut." Queen terpaku melihat anak yang sekiranya 10 tahun berdiri di depannya. Secepat itu kah gadis kecil aneh ini ketika berpindah tempat? Bukannya tadi tidak ada anak kecil ya.


"Siapa kamu?!" ketus Queen Sarkas. Ia sangat tidak suka dengan kehadiran anak itu secara tiba-tiba.


"Perkenalkan, nama aku Shine." Gadis itu mengulurkan tanganya. Queen dengan hati-hati membalas uluran itu.


"Queen." Shine tersenyum sebagai tanggapan. "Aku sudah tahu itu." ungkap Shine pada Queen.


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Queen seraya memicingkan matanya curiga. "Karena aku tahu." Queen berdecak dikala mendengar jawaban yang sangat murahan baginya.


"Sudahlah jangan membuatku kesal?! Sekarang kau harus menjawab pertanyaanku!" tegas Queen.


"Dimana ini?!" Shine tersenyum menanggapi pertanyaan Queen.


"Kayangan," jawab Shine.


"Hah?Apa?"


"Kayangan." Queen terdiam mendengar jawaban dari Shine? Apakah Shine tak salah? Queen berada di kayangan?


"Bohong!" ketus Queen.


"Iya," balas gadis itu yang membuat Queen melongo. "Kau ini memang menyebalkan!" Queen menggeram marah. Masa ia seorang Queen dipermainkan.


"Jangan melawan. Cepat ikut aku!" Kini giliran Shine yang menggeram. Shine membawa Queen berteleportasi ke sebuah gubuk kecil di tengah padang rumput.


"Eyy .... " protes Queen saat telah sampai.


"Kau ini siapa sebenarnya? dan mengapa kau membawa ku ke gubuk ini?" kesal Queen.


"Aku..yang akan menentukan pantas atau tidak. Anggap saja aku adalah antara hidup dan matimu. Kau akan ku serahkan diantara Hera si dewi kehidupan dan Hiro si dewa kematian." Queen tertawa renyah.


"Ha? Apakau duta drama?"


***


Queen mengerti sekarang, ternyata dirinya telah dianggap mati di dunia sana. Artinya? Ini kesempatan Queen untuk kembali ke dunia sana. Ia merindukan sikap kekanak-kanakan Veera dan sikap bijaksana Atea. Ia merindukan semua itu.

__ADS_1


"Ah, Shine!" Queen menangkap Shine yang sedang berlarian. "Aku capek! Kita berteduh disana saja!" Mereka berteduh di antara pohon yabg sangat asri dan rindang.


"Ah disini sangat menyenangkan, tapi aku merindukan dunia sana," murung Queen. Shine menatap Queen seraya tersenyum.


"Ini belum saatnya, pikiran mu masih mengarah kesatu hal." Queen menatap Shine bingung.


"Apa?" Queen bertanya bingung. Shine menampakan senyum teramahnya.


"Kau memikirkan antara hidup dan mati."


***


Hari kedua


"Queen kenapa kau selalu murung?" tanya Shine bingung.


"Aku merindukan semuanya. Ayah, Ibu, Alva, Veera, Atea, dan yang lainnya." Queen menatap sendu sungai di hadapannya.


"Aku ingin kembali kesana." Setelah itu Queen menatap Shine dengan tatapan yang berharap.


"Tekad mu belum cukup Queen." Queen menyergit heran.


"Ini belum saatnya." Ucap Shine serius lalu setelah itu Shine berkata.


***


Hari ketiga.


"Aku lelah!" Queen duduk di bawah pohon, tepat dimana mereka sering berteduh setelah bermain.


"Kau selalu saja seperti ini." Shine berucap. "Sekali saja bermain denganku dengan semangat!"


"Dan jangan berfikir antara hidup dan mati lagi! Jangan fikirkan mereka saja! Kau seolah-olah ingin pulang dan jalan pulang dengan pemikiranmu itu membuatmu tidak bisa pulang!" Selalu saja, Shine berucap seperti itu. Sangat aneh bukan?


"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu." Queen membalas kesal.


"Terkadang manusia itu memang bodoh. Hanya mengunakan hati saja, dan tak menggunakan logika. Dan manusia juga kadang hanya menggunakan logika tanpa memakai hati. Otak dan hati itu diciptakan untuk saling melengkapi."


Queen terdiam sejenak. Ia tahu maksudnya. Keterpurukan yang hanya memikirkan teman-teman dan keluarga itu menggunakan hati saja bukan? Di dunia nyata semakin lama kita kesepian semakin lama kita stres dan kesehatan akan menurun. Sama halnya disini, semakin terpuruk kita semakin dekat kita dengan kematian yang artinya kita harus ceria dan tidak memikirkan orang lain saja dan diri sendiri juga harus dipikirkan.


Benar saja, jalan keluar tidak akan ditemukan kalau hanya memakai antara hati dan otak. Kita harus mencari jalan keluar tidak dengan menggunakan hati saja, namun logika. Misal, ketika adikmu dibunuh dan tidak mungkin ibumu sendiri yang membunuh kan? Berarti kau berfikir hanya memakai hati dan tidak memakai logika. Dan bagaimana kalau ibumu yang benar-benar telah membunuh adikmu? Pasti kau masih belum percaya bukan? Dan kau masih saja memakai hati. Ketika seseorang memakai hati maka orang itu akan lupa untuk menggunakan logika.


Maka dari itu belajarlah menggunakan otak dan hati secara bersamaan agar saling melengkapi. Seperti dirimu dengan diriku.

__ADS_1


***


Queen dengan riang bermain dengan Shine, sampai akhirnya Queen terhenti karena tubuh kecil didepannya terhenti duluan.


"Ada apa Shine?" tanya Queen heran


Shine berbalik sembari tersenyum. "Ini sudah saatnya!" seru Shine dan seketika tubuh Queen mematung.


"Tapi jika aku merindukanmu bagaimana, Shine?" tanya Queen. "Suatu saat kita akan bertemu, ini untukmu!" Shine merogoh sakunya dan memberikan kristal biru yang sangat kecil disertai dengan sebuah cermin.


"Kristal ini akan berguna, dan cermin ini bisa kau gunakan untuk memanggilku disaat keadaan terdesak saja." Queen tak bisa berkata-kata. Matanya berkaca-kaca.


"Terimakasih, Shine."


"Mari ku bawa kau ke Dewi Hera!" Shine menutup matanya dan seketika muncul portal disana.


"Pergilah." Queen mengangguk, ia melambaikan tangannya lalu berlari masuk.


Ia sampai di ruangan serba putih dan seketika portal tadi menghilang. Queen melihat seorang perempuan berpenampilan layaknya dewi sedang membelakanginya.


"Halo?" sapa Queen. Perempuan itu berbalik.


"Ah ternyata, Shine telah mengantarmu. Kau memang sangat mirip 'denganya." Queen menyergit.


"Siapa?" Namun perempuan itu hanya tersenyum.


"Baiklah jika kau takan memberi tahuku. Tapi siapa namamu?" tanya Queen.


"Hera, Dewi Hera." Queen terbelak.


"Maafkan aku Dewi, aku sudah berucap lancang!" Queen meminta maaf.


"Tak apa. Mari ku antar kau menuju gerbang kehidupan." Dewi Hera berjalan duluan. Dan Queen hanya mengekor.


Queen terbelak dikala melihat gerbang terbuat dari awan dengan cahaya di sana. "Mengagumkan," gumamnya.


Dewi Hera mengangkat tangannya dan seketika gerbang itu terbuka. "Pergilah, mulailah kehidupanmu lagi." Queen berbinar. Queen berlari dan saat ia mencapai ujung gerbang tubuhnya berbalik seraya melambaikan tangan haru.


"Terimakasih Dewi! Terimakasih!" Dan Dewi Hera membalas lambaian itu dengan senyuman kebahagiaan. Queen menerobos gerbang awan itu dengan air mata terharu.


Dewi Hera tersenyum senang. "Ah...dia sangat mirip denganya!"


-¤-

__ADS_1


__ADS_2