
...✪✪✪...
Yudha mendengar suara berisik dari kamar mandi. Kursi yang terdengar dihentak-hentak. Itu jelas adalah ulah Elisha. Gadis tersebut telah siuman.
Ceklek...
Pintu kamar mandi dibuka Yudha dengan pelan. Tatapan getir dari Elisha langsung menyambutnya. Tubuh gadis itu mulai dibanjiri oleh keringat. Perasaan takut mendominasi.
"Kamu pasti sangat kaget karena diperlakukan begini. Maaf sayang, aku terpaksa melakukannya, agar kau mau mengaku." Yudha memegang erat dagu Elisha. Sehingga gadis tersebut mendongakkan kepala dan bertatapan dengannya.
"Mmmphhh! Mmmpphh!" Elisha berniat bicara. Akan tetapi kain yang menyumpal mulutnya membuatnya tak mampu bertutur kata. Yudha yang mengerti segera melepaskan kain dimulut Elisha.
"Apa yang akan kau lakukan kepadaku?! Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepadamu!" Elisha melakukan pembelaan diri.
"Kalau begitu, jelaskan hubunganmu dengan orang-orang bertopeng itu!" tegas Yudha. Matanya menyalang kesal.
"A-apa? maksudmu?" Elisha menampakkan raut wajah bingung. Dia benar-benar tidak mengerti terhadap apa yang dibicarakan oleh Yudha.
"Kau tidak tahu?" Yudha mengamati Elisha yang langsung menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya. Mimik gadis tersebut memang terlihat jujur. Namun Yudha tidak mau percaya begitu saja.
Yudha membuang nafas berat. Lalu kembali berkata, "Terus, kenapa kau pergi dari pesta lebih dahulu malam itu? kau bahkan pergi bersama dengan Anton? bukankah berarti kau mengetahui tentang adanya penyerangan di rumahku?"
"Pe-penyerangan? bukankah rumahmu hanya terbakar?" bukannya menjawab Elisha malah berbalik tanya. Akibatnya Yudha tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia kini menarik ribuan helai rambut milik Elisha dengan kasar. Hingga berhasil membuat Elisha meringis kesakitan.
"Jawab saja pertanyaanku..." Yudha berbicara pelan sambil mengeratkan rahang kesal. Kesabarannya telah habis. Dia semakin sebal ketika menyaksikan Elisha mulai merengek.
"Cepat jawab!!" bentak Yudha lantang. Hembusan nafas penuh amarahnya menghantam wajah Elisha. Gadis itu reflek memejamkan mata. Dia tidak percaya Yudha bisa berubah menjadi sangat kasar sekarang.
__ADS_1
"Aku akan menceritakan semuanya, jika kau menjauhkan tanganmu dari rambutku!" ujar Elisha memberanikan diri. Suaranya terdengar bergetar karena masih setengah merengek. Yudha lantas melepaskan cengkeramannya. Menyebabkan Elisha mendengus lega, kemudian langsung menceritakan semuanya.
Elisha mengatakan apa yang di alaminya setelah didandani ibunya Yudha. Tepatnya saat Dea dan teman-temannya mengajaknya ke ruangan yang ada di salah satu rumah Yudha. Dia mendapatkan perundungan lagi. Dea dan kedua temannya merampas sepatu pemberian Rena dari Elisha.
"Dea juga membuat seluruh badanku basah... Makanya aku tidak kembali lagi ke ruang utama. Tetapi memilih kembali pulang. Aku mencoba mencari pintu belakang rumahmu, dan saat itulah aku menemukan Anton." Elisha menceritakan panjang lebar. Dia perlahan memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan Yudha. Lelaki tersebut tampak masih ragu.
"Ke-kenapa kau begini Yud? a-aku tidak mau melihatmu jadi begini..." lirih Elisha.
Yudha yang mendengar hanya merespon dengan decakan kesal. Dia kembali menyumpal mulut Elisha dengan kain. Lalu beranjak pergi keluar dari kamar mandi.
Satu hari berlalu. Sekarang Yudha berada di kamarnya. Dia mengambil briefcase yang telah diberikan Deny kepadanya beberapa bulan lalu. Yudha mencoba memeriksa baik-baik berkas yang ada di dalam briefcase. Mungkin saja ada petunjuk atau bantuan yang membuat pencariannya menjadi lebih mudah.
Setelah mencari dengan teliti, Yudha berhasil menemukan sesuatu. Yaitu secarik kertas kecil yang didalamnya terdapat tulisan tangan Ferdi. Bunyi dari isi kertas tersebut adalah, 'I always remember The Gold Lion.'
Ponsel Yudha mendadak berdering. Yudha segera memeriksa, dan menyaksikan nama Deny tertera dilayar ponselnya. Dia mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?" tanya Yudha.
"Aku berhasil menangkap salah satu polisi yang terlibat!" balas Deny dari seberang telepon. "Tetapi tidak mungkin aku membawanya ke apartemenmu, kau harus ke sini. Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu," tambahnya.
"Baiklah!" Yudha setuju saja dengan usulan Deny. Toh orang terpercayanya itu berkata benar. Jika dia nekat membawa tawanan lagi ke apartemen Yudha, mungkin akan banyak orang yang curiga.
Deny sudah mengirimkan alamat melalui pesan teks. Yudha segera bersiap-siap. Dia mendadak terpikir untuk membawa Elisha ikut. Yudha punya ide cemerlang agar bisa membuktikan kejujuran dari Elisha.
Bruk!
__ADS_1
Yudha membuka pintu secara tiba-tiba. Membuat Elisha tersentak kaget.
"Aku akan melepaskanmu dari tali ini untuk sementara, dan jika kau berusaha melarikan diri, maka kau akan mendapatkan pelajaran!" ucap Yudha sembari melepaskan tali yang menjerat badan Elisha.
"Cepat bersihkan dirimu dulu!" titah Yudha. Namun Elisha masih mematung dan menundukkan kepala. Gadis itu memegangi area perutnya. Dia kelaparan.
"Cepat! kau ingin aku yang membersihkan badanmu?!" desak Yudha dengan dahi mengernyit. Dia menunggu di depan pintu.
Elisha yang sudah merasa lemah memaksakan diri untuk bangkit dari kursi. Kemudian membasuh wajahnya. Setelah selesai, Yudha bergegas menyisir rambut Elisha yang tampak sangat berantakan. Dia tentu melakukannya dengan kasar.
"Aaa!" Elisha mengerang kesakitan. Dia reflek menatap sebal ke arah Yudha. Namun Yudha malah mengecup singkat bibirnya, lalu mengukir senyuman tak berdosa. Perbuatan lelaki itu tentu semakin membuat Elisha merasa risih. Dia tak tahan lagi. Terlintas dalam benak Elisha untuk kabur dari Yudha jika ada kesempatan.
Yudha sudah merapikan dirinya dan juga Elisha. Mereka kini siap untuk keluar dari apartemen. Yudha menggenggam erat tangan Elisha. Dia tentu melakukannya agar gadis tersebut tidak melarikan diri.
"Jika ada orang di dalam lift, kau lebih baik diam, dan jangan bicara satu patah kata pun!" perintah Yudha tegas, seraya melangkah berbarengan dengan Elisha. Keduanya memasuki lift. Kebetulan sekali ada dua orang lainnya juga di sana. Salah satunya merupakan orang yang sempat menyapa Yudha kemarin. Dia adalah seorang wanita paruh baya yang ekspresinya terkesan palsu.
"Wah, pacarnya baru pulang hari ini ya?" tanya si wanita paruh baya. Raut wajahnya tampak sinis saat berpaling dari Yudha. Membuktikan kalau keramah-tamahannya hanya kepura-puraan.
Yudha menganggukkan kepala dan tersenyum tipis, untuk menjawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut. Dari lubuk hatinya dia sebenarnya merasa geram.
"Emangnya orang tuamu nanti nggak marah neng, kalau kamu bermalam di rumah pacar?" sang wanita paruh baya itu sekarang menoleh ke arah Elisha. Menuntut jawaban.
Yudha lekas-lekas mencengkeram kuat jari-jemari Elisha. Sebagai ancaman, agar gadis itu tetap membungkam mulut. Elisha hanya memejamkan mata untuk menahan sakit ditangannya. Akan tetapi sang wanita paruh baya tampak terus menatap ke arah Yudha dan Elisha. Seakan masih menantikan jawaban dari kedua orang yang dipandanginya.
Pitam Yudha sebenarnya sedikit melonjak akibat tatapan wanita paruh baya tersebut. Namun dia mencoba menahan emosinya sebisa mungkin. Yudha mendadak terpikir akan sesuatu hal, untuk membuat si wanita paruh baya tidak memandanginya dan Elisha lagi.
Yudha memposisikan tangan Elisha di depan wajahnya. Kemudian menciuminya secara lembut beberapa kali. Benar saja, kegiatannya itu membuat sang wanita paruh baya merasa canggung, dan langsung mengalihkan pandangan ke depan. Yudha sontak berseringai sambil menatap tajam wanita paruh baya itu dengan ujung matanya. Sedangkan Elisha yang ada di sampingnya, hanya bisa diam dan memancarkan binar nanar dimatanya. Dia merasa miris terhadap sikap yang dimiliki Yudha.
__ADS_1