
...✪✪✪...
Yudha tinggal di apartemen Zain untuk sementara. Di sana dia beristirahat sampai dirinya bisa kembali pulih sepenuhnya. Yudha juga tidak lupa berupaya keras untuk menghubungi Deny. Nihil, Deny tetap tidak menjawab panggilan teleponnya. Padahal bunyi dering terdengar ada, membuktikan kalau ponsel Deny masih aktif.
'Bagaimana kalau aku melacak posisi Deny,' batin Yudha sembari mengaktifkan alat GPS yang ada diponsel.
Pupil mata Yudha membesar, tatkala menyaksikan bahwa GPS Deny sedang aktif. Tanpa pikir panjang, Yudha bergegas melakukan pencarian. Dia meminjam mobil Zain, lalu beranjak pergi ke tempat tujuan.
Yudha mengemudikan mobil sambil diliputi perasaan tidak karuan. Dia semakin cemas ketika GPS mengarahkannya ke daerah hutan. Banyak pepohonan rindang baik di sisi kanan dan kiri jalan.
Mobil dihentikan pelan oleh Yudha. Dia sudah tiba di lokasi Deny berada. Dengan hanya bermodalkan petunjuk dari GPS, Yudha berusaha mencari.
"Paman?..." Yudha memanggil pelan.
Melihat GPS mengarah semakin dalam memasuki hutan, membuatnya kian gelisah. Yudha juga menyaksikan ada jejak mobil yang melaju direrumputan. Bahkan menghantam beberapa pohon yang ada. Yudha yakin mobil yang melaju itu adalah kendaraan yang dipakai oleh Deny.
Yudha kini menjadikan jejak mobil sebagai petunjuk. Detak jantungnya berdegub kencang. Nafasnya mulai naik turun dalam tempo cepat. Dia terus berharap Deny akan baik-baik saja.
Setelah masuk ke hutan dalam selang lima belas menit. Akhirnya Yudha dapat melihat kemunculan sebuah mobil. Dia langsung mendekati posisi mobil tersebut. Mata Yudha membelalak, saat menyaksikan mayat Deny tergeletak di depan pintu mobil. Terdapat luka tusukan memenuhi tubuhnya.
"PAMAN!!!" pekik Yudha histeris. Dia mengguncang-guncang badan Deny. Namun ketika merasakan tubuh Deny yang kaku dan dingin, Yudha tahu kalau Deny sudah mati.
"Tidak!!!" cairan bening lolos begitu saja dari mata Yudha. Untuk yang sekian kalinya, dia harus ditinggalkan orang yang disayanginya. Parahnya sekarang, Yudha tidak punya siapapun lagi selain Deny.
__ADS_1
Duka memang tak berdarah, namun rasanya begitu sakit. Mampu merubah tatapan yang tadinya ceria menjadi kosong. Bahkan membuat seseorang merasa putus asa.
"Aaaaaarrrkkhhhh!!!" Yudha berteriak keras. Perasaan kesal dan marah menggorogoti dirinya. Dia cukup lama meratap di samping jasad Deny.
Yudha sempat menyandarkan punggung ke pohon. Dia mendadak lelah dan lesu. Sesekali matanya akan melirik ke arah Deny. Masih mengharapkan adanya keajaiban.
Setelah terpaku cukup lama, Yudha bangkit dan berdiri. Dia mencari peralatan yang dapat membantunya membuat lubang di tanah. Lelaki tersebut berniat mengubur jasad Deny seorang diri. Untung saja, dalam bagasi mobil milik Zain, terdapat sebuah sekop.
Yudha segera melakukan penggalian. Dia tentu menggali di tempat yang tidak begitu jauh dari lokasi mayat Deny berada. Yudha memakan waktu yang lumayan lama. Sebab menggali lubang kuburan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan tenaga yang banyak. Apalagi Yudha melakukannya sendirian.
Disela-sela melakukan aktifitas penggalian, Yudha memikirkan orang-orang yang sudah membunuh Deny. Tidak! Bukan hanya Deny, tetapi juga kedua orang tuanya. Yudha bisa menyimpulkan kalau orang-orang itu adalah komplotan yang sama.
"Aku berjanji!" Yudha berucap sambil terus menggali tanah. Rahangnya yang tampak mengerat membuktikan betapa marahnya Yudha. Namun kemarahan yang dirasakannya cukup membantu, karena Yudha menjadi bertenaga saat melakukan penggalian.
"Maafkan aku, Paman. Aku tidak bisa menguburmu dengan cara yang layak. Karena aku tidak ingin lagi mendengar tentang reputasi kita yang tercoreng. Aku tidak mau lagi mendengar banyak orang mengejek kita, seperti yang mereka lakukan setelah mengetahui insiden kebakaran di rumahku. Aku berjanji, akan menuntaskan dendamku!" Yudha berkata panjang lebar. Dia berdiri tegap menghadap kuburan Deny.
Dua jam berlalu, barulah Yudha beranjak pergi menuju mobil. Hari yang mendadak gerimis seakan menemani kesedihannya. Yudha kini mulai menyusun ulang rencananya.
Yudha telah memasukkan semua pakaian ke dalam koper. Semalam dia berani menyelinap masuk ke rumahnya yang telah dikelilingi police line. Banyak barang-barang yang berhasil diambilnya. Yudha berniat meneruskan kuliah ke luar negeri. Dirinya mendadak terpikir untuk mencari Elisha ke Perancis.
"Yud, maaf aku tidak sempat mengurusmu selama kau tinggal di sini." Zain yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya bersuara.
__ADS_1
Yudha tersenyum tipis. "Justru aku yang harus meminta maaf, karena sudah merepotkanmu. Aku sangat paham, bagaimana sibuknya menjadi seorang dokter," balas Yudha. Untuk yang pertama kalinya, dia mengatakan kalimat tulus. Jujur saja, Yudha sangat berterima kasih kepada Zain. Walaupun begitu, dirinya merasa belum bisa mengatakan segalanya kepada Zain. Yudha sekarang bertekad melakukan semuanya sendiri.
"Aku senang, Yud. Dengan apa yang sudah terjadi kepadamu, kau mau menjalani kehidupan yang normal sepertiku." Zain menepuk pelan pundak Yudha. Dia yang tidak mengetahui apa-apa. Menganggap Yudha hanya sebagai korban, bahkan ketika insiden jurit malam terjadi.
Yudha lagi-lagi hanya dapat merespon dengan senyuman. Selanjutnya, dia berpamitan dan pergi menggunakan taksi. Kebetulan Zain ada jadwal operasi dalam satu jam ke depan.
"Maaf tidak bisa mengantarmu ke bandara. Semoga kuliahmu lancar dan jangan lupa hubungi aku," ucap Zain yang baru saja melepaskan pelukan dari Yudha.
"Tentu saja. Terima kasih banyak, Zain. Jika ada sesuatu, jangan lupa untuk menghubungiku juga," balas Yudha.
"Jangan lupa untuk memacari gadis Perancis, Yud. Mereka pasti cantik dan seksi!" goda Zain. Bermaksud bercanda. Satu tangannya melambai ke atas.
Yudha tergelak kecil dan segera masuk ke dalam taksi. Dia langsung dalam perjalanan menuju bandara. Memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Sesampainya di bandara, Yudha duduk terlebih dahulu di ruang tunggu. Seperti biasa, dia selalu menggunakan topi dan masker. Duduk dalam keadaan kepala menunduk. Saat itulah seorang wanita tiba-tiba duduk di sampingnya. Sosok wanita yang tidak asing bagi Yudha. Mirna, ibu tiri dari Elisha. Mirna terlihat sedang sibuk berbicara melalui ponsel. Yudha lantas membuka telinganya lebar-lebar.
"Kau menanyakan Elisha?" ujar Mirna. Entah bicara dengan siapa di seberang telepon.
"Elisha sekarang sangat mandiri. Dia meneruskan pendidikannya dibidang kuliner. Aku sangat bangga kepadanya." Mirna menjelaskan sembari memegangi area dadanya. Dia memang tampak seperti orang tua yang membanggakan putrinya.
"Dia memilih kampus yang ada di Sydney, Vit. Kebetulan ada saudara Yanto bekerja di sana. Jadi, Elisha tidak kesulitan mengenali lingkungannya." Mirna kembali berucap.
Deg!
__ADS_1
Yudha membulatkan mata. Dia sadar kalau selama ini dirinya dibohongi oleh Yanto. Ukiran seringai langsung terukir diwajahnya. Yudha menggenggam erat tiket pesawat tujuannya ke Perancis. Menjatuhkannya ke lantai, lalu menginjaknya. Dia bergegas memesan tiket untuk pergi ke Sydney, Australia.