Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 61 - Season 2 [Pengacara Baru]


__ADS_3

...✪✪✪...


Yudha berseringai saat mendengar pernyataan dari Rian. Dia sebenarnya agak risih dengan kehadiran Rian. Akan tetapi Yudha berusaha bersikap baik secara maksimal. Mungkin nanti keberadaan Rian bisa berguna.


Setelah ikut membantu membersihkan lapangan, Yudha beranjak ke toilet. Di sana dia buang air kecil, lalu membasuh tangan di wastafel.


Tiba-tiba muncul seorang lelaki berkepala pelontos dari bilik toilet. Dia langsung memandangi Yudha dari ujung kaki hingga kepala. Namanya adalah Dimas. Dikenal sering membuat ulah dengan penghuni lapas lain. Sebab itulah Dimas tidak kunjung keluar dari penjara. Dimas tidak berkelakuan baik.


"Ganteng-ganteng ternyata psiko ya. Aku mau lihat separah apa sih psikopat kamu!" seru Dimas sembari berjalan ke hadapan Yudha. Matanya jelalatan saat melihat Yudha. Dia bersikap seperti menyaksikan seorang wanita seksi.


Yudha meringiskan wajah. Dia ingin cepat-cepat pergi dari toilet. Namun Dimas justru menghalangi pintu. Badan lelaki itu besar dan kekar. Bak seorang atlit pegulat.


Tanpa diduga, tangan nakal Dimas mencolek dagu Yudha. Sedangkan tangan yang satunya sibuk mengunci pintu toilet. Yudha sekarang dapat memahami tujuan Dimas terhadapnya.


"Nggak ada perempuan, jadi begini ya cara puasin naf*su di penjara. Wah... menarik." Yudha sama sekali tidak takut.


"Kalau udah tahu kenapa banyak bacot. Cepat buka celanamu!" perintah Dimas.


Bukannya menuruti, Yudha justru tertawa pecah. Sampai menampakkan deretan gigi-giginya yang rapi. Dia bahkan tertawa sambil memegangi perut.


"Hei! Kenapa kau tertawa?! Tidak ada yang lucu!" geram Dimas. Memekik lantang. Dia segera turun tangan.


Dengan cepat Dimas memojokkan Yudha ke dinding. Seolah gairah sudah di ubun-ubun, Dimas bergegas membuka celana Yudha. Tetapi usahanya tidak berhasil, karena Yudha mencekik leher Dimas secara tiba-tiba.

__ADS_1


Sebagai orang yang pernah menempuh ilmu kedokteran, Yudha tahu bagian leher mana yang ampuh untuk menyebarkan rasa tercekat.


"Sialan!" umpat Dimas seraya mencoba melayangkan sebuah perlawanan. Sayang, upayanya harus gagal kembali. Karena Yudha lebih dulu menendang area vitalnya.


Dimas otomatis mengaduh kesakitan sembari memegangi bagian organ intim. Saat itulah Yudha memanfaatkan peluang untuk menjedotkan kepala botak Dimas ke dinding.


Bruk!


Bruk!


Setelah dua kali menghantamkan kepala ke dinding, Yudha segera membawa Dimas ke bilik toilet. Di sana Yudha sengaja memasukkan kepala Dimas ke dalam closet.


"Makan tuh tai!" geram Yudha seraya menginjak bokong Dimas yang menungging. Dimas tampak lemah akibat luka kepala yang diberikan Yudha. Kini Yudha dapat keluar dari toilet dengan tenang.


Beberapa hari berlalu. Yudha mendapat kunjungan dari Yanto. Ayah tiri Elisha itu ingin membicarakan perihal serius. Namun Yudha menolak untuk bertemu. Menyaksikan wajah Yanto, hanya akan membuat amarahnya meluap. Alhasil Yanto nekat mendatangi penjara dimana Yudha berada.


"Yudha!" panggil Yanto dalam keadaan rahang yang mengerat. Sama seperti Yudha, dia juga tidak kuasa menahan amarah, saat melihat lelaki yang dianggapnya sudah mencuci otak Elisha.


Yudha menyunggingkan mulut ke kanan. Karena Yanto telah mengetahui kedoknya, Yudha berniat tidak akan menutupi jati dirinya lagi.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Elisha? Bagaimana kamu bisa merubahnya secara drastis begitu?!" tanya Yanto dengan pelototan tajam.


Yudha berjalan ke hadapan Yanto. Posisi keduanya di halangi oleh sekat jeruji besi. Yudha tidak menjawab apapun. Dia mengangkat salah satu tangannya, lalu melemparkan jari tengah ke depan wajah Yanto.

__ADS_1


"Dasar keparat!" rutuk Yanto. Dia langsung mencengkeram kerah baju Yudha. Lalu mengomel perihal Elisha.


Tanpa sepengetahuan Yanto, tangan Yudha bergerak masuk ke saku celana. Yudha berniat mengambil ponsel milik Yanto.


"Aku akan pastikan kau akan dapat hukuman mati! Aku pastikan itu, sialan!" pekik Yanto. Rekan-rekan polisinya yang mendengar, bergegas mendekat. Mereka mencoba menenangkan Yanto agar bisa mengendalikan diri.


"Sabarlah, kawan. Orang sepertinya tidak perlu diladeni," ujar salah satu rekan Yanto. Dia segera membawa Yanto pergi dari penjara Yudha.


Setelah Yanto pergi, Yudha lekas-lekas mengambil ponsel curiannya. Dia sengaja menyimpan di bawah kasur yang lesehan.


Baru mendapat kunjungan dari Yanto, Yudha kembali didatangi tamu. Tetapi kali ini tamu Yudha spesial. Karena katanya berasal dari Sydney. Siapa lagi kalau bukan Roy.


Ketika bertemu, Yudha memperhatikan penampilan Roy dari ujung kaki sampai kepala. Roy terlihat mengenakan setelan jas rapi. Lelaki itu bahkan memakai kacamata. Persis seperti seorang pengacara asli.


"Kau luar biasa. Terima kasih sudah mau membantuku, Roy!" Yudha menyalami Roy sembari mengembangkan senyum.


"Sama-sama." Roy membalas senyuman Yudha. Mereka berlagak seolah baru mengenal. Hal itu dikarenakan ada dua polisi yang menjaga di dekat pintu. Jadi mereka harus sangat berhati-hati.


"Apa kau merindukan Elisha?" tanya Roy.


"Sangat. Dia mungkin lebih menggila dari pada aku sekarang!" jawab Yudha menebak.


Benar tebakan Yudha. Elisha memang sedang menggila. Dia berusaha membuat rencana untuk melarikan diri dari kamar. Sekarang Elisha tengah sibuk membuka kunci pintu dengan sebuah pengait.

__ADS_1


__ADS_2