
...✪✪✪...
Pagi telah tiba. Yudha sudah menyibukkan diri mengemas pakaiannya ke dalam koper. Sementara Roy dan Elisha baru saja selesai membereskan dua jasad tawanan yang telah mati. Kali ini mereka tidak menjualnya, melainkan membuangnya di sebuah jurang yang tinggi. Dimana tidak ada seorang pun bisa menemukan.
"Apa Yudha benar-benar akan pergi?" tanya Elisha sembari menatap lurus ke depan. Tepat pada cakrawala yang ada di atas pegunungan. Dia dan Roy masih berdiri di atas jurang.
"Apa kau mencemaskannya?..." bukannya menjawab, Roy malah berbalik tanya.
Elisha menggelengkan kepala. Dia menghembuskan nafas melalui mulutnya. "Aku rasa Yudha tidak akan bisa melakukan rencananya jika pergi sendirian," ungkapnya. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Roy.
"Maksudmu kita harus ikut dengannya?" Roy bertanya untuk memastikan.
"Tapi kalau kau tidak mau, biar aku saja yang ikut dengannya," sahut Elisha. Dia berjalan menuju mobil lebih dahulu. Roy lantas berlari kecil untuk mengejar.
"El, aku tidak bisa ikut. Karena aku tidak mau meninggalkan Sydney. Tetapi aku berjanji akan membantumu dan Yudha dari sini," jelas Roy seraya menyamakan langkahnya dengan Elisha.
"Baiklah, kalau begitu." Elisha mencoba memahami Roy. Selanjutnya, mereka segera kembali ke rumah Yudha.
Setelah memakan waktu dua puluh menitan, Elisha dan Roy sampai ke rumah Yudha. Elisha bergegas menemui Yudha. Memeriksa ruangan demi ruangan yang ada. Dia merasa dirundung rasa panik ketika tidak berhasil menemukan Yudha.
__ADS_1
"El, aku di sini," tegur Yudha. Ternyata sedari tadi dia memang sengaja bersembunyi dibalik dinding. Tersenyum senang saat menyaksikan kepedulian Elisha terhadapnya.
Elisha langsung berjalan ke hadapan Yudha. Disertai dengan ekspresi masamnya. Akan tetapi Yudha justru tersenyum dan berkata, "Aku pikir lebih baik kau kembali kepada orang tuamu El, aku tidak yakin aku bisa kembali dengan--"
"Aku akan ikut denganmu!" potong Elisha. Dia tak peduli Yudha akan menolak atau tidak.
"Itu berbahaya, El. Aku tidak akan membiarkanmu--"
"Jika berbahaya, kenapa kau nekat pergi. Aku hanya lelah dengan hidupku, Yud. Orang-orang tidak pernah memperlakukanku dengan baik. Bahkan saat aku bersikap baik sekali pun. Hanya kau yang..." Elisha tidak mampu mengungkapkan kalimat akhirnya. Dia sebenarnya mau mengatakan, hanya Yudha-lah yang selalu peduli kepadanya. Bahkan sedari awal.
"Bekerjasamalah denganku, Yud. Aku yakin kita berdua akan menjadi tim yang hebat. Aku juga ingin belajar banyak hal darimu," imbuh Elisha. Dia perlahan tersenyum tipis. "Tetapi aku ingin menegaskan, hubungan kita tetap sebagai teman. Tidak lebih." Elisha menambahkan.
Yudha mengangguk pelan. Dia tidak punya pilihan selain menyetujui keinginan Elisha. "Tetapi, bagaimana dengan nasib kedua orang tuamu. Aku yakin mereka sangat mengkhawatirkanmu," tuturnya.
"Ya sudah kalau begitu. Apa kau perlu berkemas dahulu?" ujar Yudha.
"Tentu saja. Antar aku ke apartemen!" balas Elisha. Dia, Yudha dan Roy beranjak pergi. Sebelum ke apartemen Elisha, Yudha mengantarkan Roy terlebih dahulu. Ke tempat rahasia, yang menurut Roy aman dari polisi dan kecurigaan orang-orang.
"Sampai jumpa lagi, Yud, El. Hubungi aku jika kalian butuh bantuan. Tapi prediksi-ku itu tidak akan terjadi, karena kalian pasti bisa menjalankan rencananya dengan baik," ucap Roy. Salah satu tangannya menepuk pelan pundak Yudha. Sedangkan kepada Elisha, dia hanya melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
__ADS_1
Setelah mengemas semua barang dan bersiap. Yudha dan Elisha langsung menaiki pesawat menuju kota Bima Jaya.
Setibanya di kota Bima Jaya, Yudha dan Elisha bermalam terlebih dahulu di sebuah hotel. Mereka memesan satu kamar untuk ditempati. Meskipun begitu, tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Nampaknya Yudha memang sedang berupaya serius terhadap rencananya.
"Kita harus bersiap besok. El, aku tidak ingin kau takut saat berhadapan dengan mereka nanti. Kau bisa melakukannya bukan?" Yudha menatap serius Elisha yang sedang duduk d hadapannya.
"Aku akan berusaha!" Elisha mengangguk yakin.
Yudha segera merebahkan dirinya ke kasur. Elisha yang menyasikan, sontak melakukan protes. Sebab kebetulan kamar dengan dua kasur sedang penuh di hotel yang mereka datangi. Jadi Yudha dan Elisha terpaksa mengambil kamar kosong yang tersedia.
"Yud, kau tidur disofa saja!" titah Elisha. Dia bangkit dari tempat duduknya. Keningnya tampak mengernyit.
"Aah... kau kenapa berlebihan sekali, telentang saja di sampingku. Bukankah kita sudah beberapa kali tidur bersama?" balas Yudha sambil memejamkan rapat matanya. Dia merasa malas sekaligus lelah.
"A-aku tidak bisa dengan mudahnya menpercayaimu, Yud. Aku tahu betapa mesumnya dirimu!" tukas Elisha. Dia melangkah lebih dekat. Menarik Yudha untuk pergi dari kasur.
"Pergilah Yud!" Elisha mencoba mendorong Yudha pergi dari kasur. Perlakuannya tersebut sukses membuat Yudha memecahkan tawa. Dia menarik Elisha dengan tenaga kuatnya. Hingga menyebabkan gadis itu telentang di sampingnya.
Elisha sontak terkejut. Matanya membulat sempurna. Kedua tangannya otomatis menutup erat area dadanya. Dia menjaga jarak dari Yudha. Menatap lelaki tersebut sembari meringiskan wajah. Namun Yudha tidak melakukan apapun kepadanya. Yudha malah kembali memejamkan matanya santai. Menjadikan tangan sebagai bantalan kepala.
__ADS_1
"Kau tahu, El. Sekarang aku benar-benar akan memperlakukanmu seperti seorang teman atau sahabat. Aku akan melupakan apa yang telah terjadi kepada kita sebelumnya. Bukankah itu yang kau inginkan?" Yudha perlahan membuka mata, kemudian menatap Elisha.
"Baguslah kalau kau mengerti," Elisha lekas-lekas membuang muka. Entah kenapa pipinya mendadak memerah malu. Perasaan istimewanya perlahan muncul lagi untuk Yudha. Elisha kesal dengan dirinya sendiri, kenapa dia selalu mudah luluh terhadap hal kecil yang dilakukan Yudha?