
...✪✪✪...
"Aku pikir, tadi aku sudah membunuh salah satu anak buahmu!" celetukan Yudha berhasil menghentikan kegiatan makan Andi. Lelaki paruh baya itu perlahan meletakkan makanannya ke atas meja.
"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya, karena dia tadi mencoba melecehkan Erika. Aku hanya menegaskan, bahwa ucapanku di awal itu serius. Aku benar-benar akan membunuh seseorang, jika dia berani menyentuh--"
"Siapa yang kau bunuh?" tanya Andi sembari mengangkat dagunya sekali. Dia sengaja menjeda ucapan Yudha.
"Entahlah, ciri-ciri orangnya berkulit sawo matang, kurus dan--"
"Itu pasti Dion. Ah, tidak apa-apa. Dia salah satu anak buahku yang memang sudah lama ingin kubunuh. Aku malah berterima kasih kepadamu." Sekali lagi Andi memotong ucapan Yudha. Dia terlihat santai. Apalagi ketika salah satu bawahannya mendadak datang. Memberitahukan kalau memang Dion-lah yang telah meninggal.
"Buang dia ke laut!" titah Andi. Kemudian kembali menikmati masakan yang dibuat Elisha. Sedangkan Yudha dan Elisha segera mengikuti Jim untuk pergi ke kamar masing-masing.
Jim menghentikan langkahnya, ketika sudah tiba di kamar yang akan diberikan kepada Yudha dan Elisha. Dia berbalik dan segera menunjukkan dua kamar tersebut.
"Ini kamar untukmu, Yudha. Dan--"
"Kami hanya perlu satu kamar!" potong Yudha. Membuat Elisha sontak menoleh ke arahnya. Dahi gadis itu mengerut penuh tanya.
Kedua alis Jim terangkat. Dia memasang tatapan selidik. "Hmm... aku kira kalian hanya rekan kerja. Tetapi sepertinya dugaanku salah. Ya sudah, selamat beristirahat!"
"Tapi--" Elisha urung berkata, saat Yudha menggenggam tangannya dengan pelan. Tidak sakit, namun Elisha sangat paham kalau Yudha memang sengaja menyuruhnya berhenti bicara.
Jim otomatis beranjak dan mengabaikan Elisha. Sebab dia berkesimpulan, kalau Yudha dan Elisha butuh waktu untuk berbicara berdua.
__ADS_1
"Apa-apaan itu, Yud!" Elisha menarik tangannya cepat-cepat dari cengkeraman Yudha.
"Aku tidak mau membiarkanmu tidur sendirian di tempat ini!" tegas Yudha. Memberitahukan alasannya.
"Terserah apa katamu, tetapi aku akan tidur sendiri." Elisha berjalan ke kamar yang memang diberikan untuknya. Meninggalkan Yudha sendirian begitu saja.
Kini Elisha juga sendirian. Dia mencoba membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Kala dirinya hampir terpejam untuk tidur, seseorang tiba-tiba membuka pintu kamarnya. Elisha tentu merasa kaget. Dia langsung beringsut mundur dan waspada terhadap serangan.
"Eh, ini bukan kamarku! Maaf ya, nona... hehehe." Seorang lelaki dengan perawakan berisi cengengesan saat masuk ke kamar Elisha tanpa permisi.
"Bagaimana kau masuk?! Padahal aku sudah menguncinya!" balas Elisha seraya mengernyitkan kening.
"Kebetulan aku memegang kunci kamar serba guna, hehehe... ya sudah," sahut lelaki berbadan berisi tersebut. Lalu menutup pintunya kembali.
Elisha merasa kaget dengan penuturan lelaki yang tidak sengaja masuk ke kamarnya tadi. Bagaimana jika dia memang sengaja masuk? Andai Elisha tidak bangun, mungkinkah hal buruk akan terjadi? Elisha mendadak dirundung perasaan khawatir. Dia akhirnya membenarkan apa yang dikatakan Yudha tadi kepadanya.
Elisha bangkit dari kasur sembari membawa tasnya keluar kamar. Dia berjalan ke depan pintu kamar Yudha. Mencoba kunci kamarnya, untuk dimasukkan ke pintu kamar Yudha. Benar saja, kunci itu bisa dipakai. Akan tetapi, anehnya Elisha tidak mampu membuka pintu kamar Yudha dengan mudah.
"Aku sudah bilang--"
"Menyingkirlah! Aku tidak mau membahasnya!" ucap Elisha. Dia melingus begitu saja masuk ke kamar Yudha. Kemudian merebahkan diri langsung ke kasur.
Yudha mendengus kasar. Sebelum bergabung bersama Elisha, dirinya menutup pintu terlebih dahulu. Menjadikan sebuah kursi sebagai penahan pintu. Yudha melakukannya, agar tidak ada orang yang menerobos masuk ke kamarnya.
Elisha melihat apa yang dilakukan Yudha sejenak, lalu berpaling ke lain arah. Dia telentang dalam keadaan memiring. Membelakangi Yudha, seperti posisi sebelumnya ketika tidur di kamar hotel.
Elisha bisa saja kembali ke kamarnya. Kemudian melakukan cara seperti Yudha. Namun dia merasa enggan untuk pergi. Sebab dia tidak yakin bisa menghadapi orang-orang dari mafia Mata Ular. Bagaimana jika mereka mendobrak pintu dan menyerang? Elisha berpikir, mungkin satu kamar bersama Yudha lebih baik. Tetapi justru itulah yang harus dia cemaskan, bila dia mampu lari dari perangkap naf*su seseorang, apakah dia dapat lari dari naf*sunya sendiri?
__ADS_1
Yudha mulai merebahkan diri ke kasur. Dia menjaga jarak dari Elisha. Menutup rapat matanya. Entah benar-benar tertidur atau tidak.
Elisha perlahan telentang. Dia sudah tidak berminat lagi untuk tidur. Perlahan bola matanya melirik ke arah Yudha. Elisha terpaku sejenak. Jantungnya mendadak berdebar lebih cepat. Menyebabkan tangannya harus memegangi dada kirinya, agar detak jantungnya tidak berlebihan. Elisha lantas kembali membelakangi Yudha. Memaksakan diri untuk tidur.
Helaan nafas panjang kembali dilakukan Elisha. Dia terus bosan dengan posisi tidur apapun. Apalagi pikirannya tentang Yudha mulai berlari ke lain arah, dan Elisha mencoba menepis jauh-jauh pikiran kotornya. Tanpa sengaja dia berbalik menghadap Yudha lagi, saat itulah jantungnya serasa mau meledak. Bagaimana tidak? Wajah Yudha persis berada di hadapannya. Sangat dekat. Lelaki itu bahkan membuka matanya. Menatap Elisha dengan perasaan heran.
"Astaga, kau membuatku kaget!" protes Elisha. Sedikit menjaga jarak dari Yudha. Wajahnya memerah padam.
"Apa kau tidak bisa tidur?" timpal Yudha.
"Aku hanya merasa tidak nyaman dengan tempat ini," jelas Elisha.
"Hmmmh... aku tahu. Aku juga merasa begitu." Yudha merubah posisi menjadi telentang. Menatap ke arah langit-langit pelafon. Hal serupa juga dilakukan Elisha.
"Aku punya ide brilian untuk membalaskan dendamku. Tetapi aku memerlukan bantuanmu." Yudha kembali memandangi Elisha.
"Apa itu?" tanya Elisha. Membalas tatapan Yudha.
Yudha otomatis mendekat. Dia berbisik untuk menjelaskan rencananya ke telinga Elisha. Setelah selesai, Yudha kembali merebahkan diri. Namun kali ini, dia rebahan miring menghadap Elisha. Menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala.
"Itu jenius, Yud. Tapi kita butuh waktu yang cukup lama, agar mereka bisa percaya kepada kita sepenuhnya." Elisha merubah posisi menghadap Yudha. Entah kenapa dia terpaku ke arah bibir lelaki tersebut. Perubahan tingkah laku Yudha yang kini menghargainya, telah membuat Elisha luluh.
"Aku tahu..." jawab Yudha. Dia sukses memergoki Elisha memandang ke arah bibirnya. Yudha lantas beringsut mendekati gadis tersebut.
Wajah Elisha sontak bersemu merah. Dia tidak bisa menyembunyikan respon alami tubuhnya tersebut. Elisha mematung dan seakan terhipnotis.
"Aku pikir, aku tidak bisa menahannya lagi... Oh, maksudku kita!" ujar Yudha. Dia bisa memahami gelagat yang dilakukan Elisha sedari tadi. Yudha menelan salivanya sekali, lalu segera memadukan bibirnya dengan mulut Elisha.
__ADS_1
Elisha tidak mampu menolak. Dia membiarkan Yudha mencium bibirnya. Memainkan mulut, hingga indera pengecapnya. Menyebabkan debaran jantung Elisha semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika Yudha mulai merubah posisi ke atas badan Elisha.
Lama-kelamaan, Yudha dan Elisha mulai tidak bisa mengontrol nafas. Elisha berpegangan erat ke punggung Yudha. Dia beberapa kali harus memiringkan kepalanya, agar lebih leluasa berciuman dengan Yudha. Suara kecup-mengecup memecah keheningan di dalam kamar. Membuat Elisha menggeliatkan kedua kakinya tidak karuan.