Psikopat Tampan, & Kaya Raya

Psikopat Tampan, & Kaya Raya
Bab 33 - Api Dendam & Amarah


__ADS_3

...༻❀༺...


Elisha menunggu kesempatan Tika lengah. Dia tetap diam di tempat, sambil sesekali mencuri pandang kepada wanita paruh baya tersebut. Ketika Tika berbalik dan mencuci piring di wastafel, saat itulah Elisha berlari memasuki pintu ruang rahasia.


Proses menyelinap Elisha berjalan mulus, bahkan dia mampu melewati dua lelaki yang berjaga. Karena dua penjaga tersebut beranggapan, kalau orang yang sudah berhasil masuk, berarti telah mendapat persetujuan dari Tika.


Kini Elisha masuk ke dalam ruang rahasia. Sebuah klub malam lebih gelap dari biasanya. Mata gadis itu sontak terbelalak. Dia merasa sangat asing dengan suasana yang ada. Matanya segera meliar untuk mencari-cari keberadaan Yudha.


Dari kejauhan, Elisha dapat menyaksikan Yudha tengah berbicara dengan dua wanita. Namun sebelum dirinya sempat menghampiri, Deny sudah lebih dahulu melakukan teguran.


"Elisha? Kau sedang apa di sini?!" Deny bertanya dalam keadaan pupil mata yang membesar. Dia jelas mengkhawatirkan Elisha. Sebab gadis itu berada di tempat yang terbilang berbahaya.


"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kalian lakukan di sini?" balas Elisha. Dia menuntut jawaban. Pandangannya segera dialihkan ke arah Yudha. Lelaki itu terlihat sudah menyadari kehadirannya. Yudha bergegas mendatangi Elisha.


"El! Apa-apaan! Kenapa kau ke sini?! Kau mengikutiku?!" timpal Yudha. Tangannya mencengkeram erat lengan Elisha.


"Iya, terus kenapa?! Kau menyembunyikan sesuatu dariku! Aku tahu itu!" sahut Elisha dengan dahi yang mengerut dalam.


Yudha memegangi jidatnya. Dia mencoba menahan amarah. Lelaki tersebut segera menyuruh Deny untuk melanjutkan rencana penyekapan. Sementara dirinya akan mengurus Elisha.


Yudha menarik tangan Elisha. Berniat membawa gadis itu keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Yud, lepasin nggak! Setidaknya beri aku penjelasan. Apa yang kau lakukan di tempat itu?" Elisha menarik paksa tangannya dari Yudha. Keduanya telah berada di luar ruangan. Mereka sudah keluar dari kedai. Saling berdebat di bawah air hujan yang berjatuhan ke tanah.


"El, seperti yang pernah aku bilang sebelumnya. Kalau aku akan melakukan balas dendam. Aku akan membalas perbuatan orang-orang yang telah membunuh kedua orang tuaku." Yudha memberi tahu Elisha sambil mengeratkan rahang. Dia berucap dengan nada pelan, namun penuh akan penekanan.


"Berapa banyak orang yang akan kau bunuh? Apa polisi yang meninggal baru-baru ini juga terlibat? Kau kan pelaku--" kalimat Elisha terpotong, saat Yudha membekap mulut gadis itu dengan tangan. Yudha takut seseorang akan mendengar pernyataan Elisha.


"Iya, aku pelakunya. Dari mana kau tahu? Apa ayahmu yang memberitahu?" Yudha menyalangkan mata.


Elisha menjauhkan tangan Yudha dari mulutnya, lalu berkata, "Tidak! Aku sendiri yang mencari tahu."


"Kenapa kau jadi marah-marah begini? Bukankah kau sudah memutuskan akan terus berada di sampingku? Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?" timpal Yudha. Tak percaya.


"Aku tidak peduli, El. Aku hanya menuruti apa yang diajarkan ayah dan ibu kepadaku. Jika kau tidak suka, lebih baik kau pergi saja. Hubungan kita berakhir di sini. Jangan berlagak mengenalku lagi mulai sekarang!" ujar Yudha. Nafasnya mulai bergerak naik turun dalam tempo cepat. Pertanda bahwa pitamnya sudah memuncak.


Elisha terdiam sejenak. Dia telah lelah menghadapi Yudha. Lagi pula Elisha tidak akan mampu memaksakan diri untuk berubah. Meskipun dia mencintai Yudha dan sempat dipengaruhi rasa cemburu, namun tetap saja, sebagai orang normal Elisha masih mempunyai rasa iba. Untuk yang pertama kalinya, Elisha akan menantang perasaannya.


Sebenarnya di awal, Elisha lebih memilih berada dipihak Yudha dibanding sang ayah tiri. Akan tetapi, setelah melihat sikap Yudha terhadapnya, Elisha yakin memutuskan untuk memihak Yanto adalah hal terbaik. Dirinya juga berpikir, orang yang menghibur dan membuatnya bangkit dari keterpurukan adalah Yanto dan Mirna. Bukan Yudha.


"Baiklah, selamat tinggal, Yud!" Elisha berbalik dan melangkah menuju mobil. Dia beranjak pergi dalam keadaan badan yang basah kuyup. Sedangkan Yudha mematung di tempatnya. Lelaki tersebut memegangi kedua lutut sembari mengerang kesal. Entah akibat merasa patah hati, atau karena marah dengan keputusan Elisha. Sebab selama ini Yudha berpikir, kalau Elisha akan selalu berada disisinya. Tetapi pada kenyataannya tidak.


Sekarang Yudha hanya bisa menyaksikan mobil Elisha melaju jauh. Rasa amarahnya yang sempat menggorogoti, perlahan berubah menjadi tekad. Terlintas dalam pikiran Yudha sebuah rencana.

__ADS_1


"Yud, Agung dan Norman sudah berhasil mengurung lima orang target kita ke dalam ruangan!" Deny tiba-tiba datang. Langsung membuyarkan pikiran Yudha dari Elisha.


"Benarkah? Cepat sekali," komentar Yudha. "Bius lima orang itu terlebih dahulu, baru kita akan bawa mereka ke suatu tempat!" lanjutnya, memberikan perintah. Deny sontak mengangguk, dan melaksanakan tugasnya.


"Penari striptease itu melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia hanya perlu mengirimkan secarik kertas untuk merayu kelima orang itu." Deny memberitahukan sembari menyamakan langkahnya dengan Yudha. Keduanya sama-sama berjalan menuju ruangan dimana tawanan mereka disekap. Selanjutnya kelima tawanan tersebut segera dimasukkan ke dalam mobil. Kemudian dibawa ke sebuah bangunan terbengkalai di pinggiran kota. Lokasi paling sepi dan sangat terisolir.



Salah satu tawanan Yudha membuka matanya secara perlahan. Dia dan ke-empat temannya sama-sama di ikat dengan tali tambang. Baik kaki maupun tangannya. Mulutnya bahkan juga dibekap dengan menggunakan lakban. Penglihatannya segera disambut dengan kehadiran Yudha.


"Oh, satu orang telah sadar. Lebih baik kita tunggu teman-temanmu yang lain siuman, baru kita mulai acaranya, oke?" Yudha berbicara sambil membungkukkan badan. Dia menatap tawanannya dalam keadaan kepala yang memiring ke kanan. Ekspresinya tampak licik dan penuh aura mengancam.


Beberapa saat kemudian, satu per satu tawanan Yudha semuanya sadar. Atensi dari kelimanya langsung tertuju ke arah Yudha. Persis seperti yang di inginkan lelaki itu sedari awal. Dia memang berniat menjadikan dirinya pusat perhatian kelima tawanannya. Tidak heran, dirinya menyuruh Deny, Agung dan Norman, untuk menunggu di luar.


"Mmmph! Mmmph!" salah satu tawanan Yudha mencoba memberontak. Dia berupaya melepaskan diri, tetapi sama sekali tak mampu. Membuat Yudha yang menyaksikan lantas tergelak kecil.


Yudha terlihat memainkan alat pemantik. Sebenarnya sebelum kelima tawanan dimasukkan ke dalam ruangan, Yudha telah menyiram minyak tanah ke dinding. Pokoknya dia akan membuat tawanannya merasakan apa yang dirasakan oleh kedua orang tuanya. Yaitu mengetahui betapa panasnya sang jago merah.


"Aku tidak tahu, apakah kalian mengenalku atau tidak. Dan aku sama sekali tak peduli. Yang paling aku pedulikan adalah, kalian akan mendapat pembalasan setimpal." Yudha yang tadinya sempat membungkukkan badan, kini berdiri tegak. Dia melangkah menuju pintu. Sebelum itu, dirinya berbalik sejenak. "Dan juga... maafkan aku. Aku tidak mau mendengar kalimat terakhir kalian. Selamat tinggal!" ujarnya. Kemudian melempar pemantik yang menyala ke genangan kecil minyak tanah di lantai. Setelahnya Yudha benar-benar beranjak pergi. Dia bahkan tidak lupa untuk mengunci pintu.


"Ayo kita pulang!" ajak Yudha, kepada Deny dan dua bawahannya. Dia melangkah tanpa menoleh ke arah bangunan yang terbakar. Suara teriakan kesakitan kelima orang dari bangunan tersebut bagaikan angin lalu bagi Yudha. Sepertinya mereka semua telah berhasil saling melepaskan diri dari tali. Itulah alasan Yudha sengaja mengunci pintu. Agar kelimanya terjebak di ruangan dan merasakan api yang berkobar ganas.

__ADS_1


__ADS_2