
...✪✪✪...
Sebagai pengacara Yudha yang palsu, Roy banyak sekali membantu. Dia membawakan Yudha banyak sekali barang kebutuhan. Roy juga berjasa dalam hal menipu para polisi.
Sementara di dalam penjara, Yudha mencoba menggunakan ponsel curiannya untuk menghubungi Elisha. Untung saja, nomor yang dia hubungi masih aktif. Hingga suara Elisha dapat terdengar dari seberang telepon.
"Elisha... ini aku, Yudha! Kau--"
"Yudha! Kau dimana? Mereka tidak menyakitimu bukan? Aku sangat mencemaskanmu!" potong Elisha yang sudah tidak sabaran. Dia hanya merasa bersemangat saat mendengar suara Yudha.
"Aku tidak baik-baik saja, El. Mereka mengurungku di penjara. Lalu bagaimana denganmu?"
"Ayah dan ibu mengurungku di kamar. Mereka juga terus berusaha mempertemukanku dengan seorang psikiater," ungkap Elisha.
"Tenanglah, El. Aku akan secepatnya menjemputmu! Sekarang aku dan Roy sedang mempersiapkan cara untuk kabur dari penjara," ujar Yudha. Dia berbicara dengan pelan di salah satu bilik toilet. Berharap tidak ada orang yang mendengar.
"Benarkah? Aku juga sedang mencoba melarikan diri, Yud!"
"Jika kau berhasil, tunggulah aku di tempat rahasia kita. Nanti aku akan mencarimu ke sana, oke?" saran Yudha, yang langsung mendapat persetujuan dari Elisha. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Selanjutnya, Yudha segera menyimpan ponsel ke saluran udara dekat toilet.
Kini Yudha beraksi. Dia bertekad mengajak para penghuni penjara untuk bekerjasama. Orang yang pertama kali di ajak Yudha bicara adalah Rian.
__ADS_1
"Apa idemu untuk melarikan diri dari sini? Coba beritahu aku." Rian duduk sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Kita semua hanya perlu bekerjasama. Itu saja. Aku sarankan, kita semua beraksi pada malam hari. Tepat saat polisi sedang kelelahan dan tertidur." Yudha menjelaskan rencananya secara rinci.
"Ide bagus. Tapi kita butuh kunci untuk membuka semua pintu penjara," kata Rian sembari memasukkan dua tangan ke saku celana.
"Itu mudah. Nanti pengacaraku yang akan melakukannya." Yudha tersenyum remeh. Dia yakin rencananya akan berhasil. "Beritahu aku, pembunuh-pembunuh hebat lain selain kita berdua!" sambungnya. Rian yang mendengar berseringai. Kemudian mengajak Yudha untuk berkenalan dengan para pembunuh hebat lain.
Pertama ada Madi. Dia merupakan orang yang sering melakukan pembunuhan karena ajian sesat. Madi bahkan dikabarkan pernah memakan daging manusia.
Tubuh Madi agak berisi. Dia memiliki kumis. Tatapannya tidak bisa ditebak. Orang-orang sering tertipu akan hal itu.
"Kau memakan daging manusia?" Yudha menggeleng tak percaya. Dia mungkin psikopat. Tetapi tidak pernah melakukan hal seburuk itu.
Yudha memutar bola mata jengah. Dia berusaha memaklumi sikap aneh Madi. Sebab Yudha tahu kalau setiap pembunuh berantai pasti selalu punya keanehan tersendiri.
"Jadi, kau bersedia untuk bekerjasama?" Yudha memastikan.
"Ya, aku setuju. Ada seseorang di luar sana yang ingin aku temui," ungkap Madi.
Yudha menganggukkan kepala. Kini dia menoleh ke arah Rian. Bermaksud mencari psikopat yang lain.
__ADS_1
Orang kedua yang ditemui Yudha adalah Dimas. Orang yang sempat Yudha beri pelajaran saat di toilet. Dimas merupakan pembunuh berantai seperti Rian. Dia seorang penyuka sesama jenis, dan akan membunuh setiap lelaki yang berkhianat kepadanya. Sudah jelas akan banyak pria yang tidak setia dengan Dimas. Tidak heran, korbannya ada banyak.
Melihat Yudha datang, Dimas justru ketakutan. Padahal badannya sudah jelas lebih besar dibanding Yudha.
"Kau tidak usah takut. Aku tidak akan menyakitimu lagi, bila kau berjanji untuk membantu," imbuh Yudha. Rian lantas segera menceritakan rencana yang disiapkan Yudha kepada Dimas.
"Jadi kalian berniat melarikan diri dari sini?" Dimas mengembangkan senyuman licik. Dia sempat berpikir. Namun pada akhirnya Dimas setuju untuk ikut.
"Aku sudah tidak sabar!" seru Dimas.
"Sabarlah... sebelum beraksi, kita harus membuat prajurit terlebih dahulu," ujar Yudha.
Sekarang Yudha tidak hanya bersama Rian. Madi dan Dimas juga ikut membantu mencarikan kubu. Mereka hanya mengajak orang-orang kuat dan bisa dipercaya. Sementara sisanya, kemungkinan akan dijadikan korban untuk dibunuh.
...***...
Di sisi lain, Elisha tengah berupaya keras membuka pintu. Dia sudah mengutak-atik selama tiga jam lebih.
'Ternyata cara yang ada di film-film tidak semudah kenyataan,' batin Elisha sembari menghempaskan diri untuk duduk ke lantai. Elisha mendengus kasar. Ia beristirahat sejenak. Bukannya memikirkan cara lain untuk kabur, pikiran Elisha justru bergumul dengan Yudha.
Elisha sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Yudha lagi. Mungkin sudah hampir satu bulan lamanya.
__ADS_1
Obsesi Elisha semakin kuat ketika berpisah dengan Yudha. Dia merasa seolah sangat bergantung dengan lelaki itu.
Elisha akhirnya berdiri. Lalu mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia mencoba masuk ke kamar mandi. Mencari jalan keluar lain selain pintu. Benar saja, ada jalan menuju atap di kamar mandi. Terdapat ventilasi berbentuk persegi yang sepertinya bisa dibuka. Tanpa pikir panjang, Elisha langsung memanjat untuk menggapai langit pelafon.